
Wira, Raka dan juga mamanya sedang berkumpul diruang tamu.
" Wira. " ujar Raka kepada Wira.
" Mm? " sahutnya sambil melihat kearah Raka.
" Dengar-dengar kau Hafizh Qur'an ya? "
Wira tersenyum
" Kata siapa? " ujar Wira.
" Kataku. "
Kemudian Wira menghela nafas
" Memangnya kakak tau itu semua dari siapa? "
" Ya, tidak tau ya. Aku hanya menebak-nebak saja. "
Wira tersenyum menunduk, sementara mamanya dan Raka terus melihat kearahnya sedari tadi.
" Benarkan Wira? " tanya Raka yang pandangannya seakan mendekat namun tetap pada posisi duduknya semula.
__ADS_1
Kemudian Wira melihat kearah Raka dan tersenyum lalu mengangguk.
Mamanya itu kemudian tersenyum, karena sudah mengetahui itu namun memilih untuk diam karena ingin mendengar perkataan itu secara langsung dari Wira.
" Alhamdulillah. " ujarnya Raka sambil menghela nafas kemudian menyenderkan dirinya kepada kursi.
" Mama senang mendengar itu. " sahut mamanya.
Kemudian Wira melihat kearah mamanya dan tersenyum.
" Sebenarnya mama dan Raka sudah mengetahui ini sudah lama. Tapi mama dan Raka ingin mendengarnya secara langsung dari kamu. " ujar mamanya lanjutnya lagi.
" Wahh.. ceritanya aku lagi dikerjain nih. " ujarnya Wira sambil bercanda.
" Tidak apa-apa Wira. " ujar Raka. Kemudian Wira menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
" Wira, apa kau sudah memiliki pacar? " tanya Raka, kemudian semuanya terdiam.
" Tidak kak, aku tidak berpacaran. " jawab Wira dengan simpel.
" Loh, memangnya kenapa? bukannya di pesantren itu banyak wanita yang cantik yang kecantikannya bak bidadari surga? "
" isshh.. sok tau bidadari surga. Memangnya bidadari surga itu seperti apa? " celetuk mamanya itu.
__ADS_1
" Hehehe tidak tau ya ma. " ujarnya Raka.
" Ya aku tidak mau saja berpacaran. " ujar Wira. kemudian semuanya melihat kearah Wira.
" Kenapa? " tanya mamanya itu seakan penasaran dengan alasannya.
" Ya tidak mau saja ma. "
" Iya kenapa Wira? kan secara fisik, kau ini kan tampan, Hafizh Qur'an lagi. Pasti kau ini banyak digandrungi oleh santriwati di pesantrennya bukan? " ujar Raka.
" Kak.. " ujar Wira kemudian menghela nafas. " Dalam syariat itu, yang benar nikah dulu baru pacaran. Bukan pacaran dulu baru nikah. "
Kemudian semuanya terdiam melihat kearah Wira.
" Mohon maaf sebelumnya, aku bukannya sok suci atau apa. Aku sama seperti kakak dan juga mama, masih sama-sama belajar menjadi orang baik. Kita ini semuanya pendosa. Tidak ada seorang pun yang luput dari dosa. Tapi kan seenggaknya kita ini belajar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Belajar menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. " ujar Wira kepada kakaknya itu. Sementara mereka terus terdiam melihat kearah Wira.
" Namanya masih proses pembelajaran ya tidak langsung bisa. Masih banyak ujiannya, masih banyak prosesnya. Sama halnya dengan rasa sabar. Terus terang aku masih belum bisa untuk bersabar, karena sabar ini tidak mudah kak. Sabar ini banyak cobaannya, sabar ini banyak ujiannya. Tapi aku masih belajar untuk bersabar, namanya masih belajar dan masih proses pembelajaran ya tidak langsung bisa kak. Semua ada prosesnya, semuanya butuh proses. Memang kita tidak langsung bisa, tapi kan seenggaknya kita belajar dan berproses ingin menjadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. " ujar Wira lanjutnya lagi. Raka kemudian mengangguk, sementara mamanya itu terdiam dan tersenyum kearahnya.
Wira, umurmu masih begitu muda. Namun kamu sudah bisa menjadi sedewasa ini.
Raka terus melihat kearahnya Wira.
Mama bangga kepadamu nak, teruslah belajar menjadi orang baik. Semoga kelak kamu bisa menjadi penolong untuk kedua orang tuamu diakhirat nanti.
__ADS_1