
Setelah selesai membeli minuman Ais dan Cantika lalu membawanya ke ruang kelas tadi.
"Ini minumannya" ujar Ais seraya memberikan minuman ke semuanya.
"Terimakasih" sahut ustadzah seraya tersenyum.
Disisi lain
"Mengapa hanya Wira yang selalu dicari oleh Dinda? Mengapa bukan yang lainnya? Apa Dinda dulu pernah mempunyai hubungan dengan Wira? Atau jangan-jangan Wira itu masa lalu Dinda?" Gumam Dewa dalam hati.
Kemudian Fahrul dan Firman dari toilet melihat Dewa lalu menghampirinya.
"Mas Dewa"
Dewa membuyarkan lamunannya dan menoleh kearah panggilan itu.
"Iya, ada apa? Mengapa kalian memanggilku?
"Mengapa mas dewa melamun? Sedang ngelamunin apa?" Tanya Fahrul.
"Tidak ada." Dewa seraya mengusap wajahnya dengan kasar dan membuang pandangannya ke segala arah.
"Baiklah tidak apa-apa kalau mas dewa tidak ingin memberi tahu kepada kami. Kami juga tidak akan memaksa" sahutnya.
Disisi lain dikelas latihan Tartil. Semua sudah melaksanakan latihan perdananya. Lalu Ais, Angel, Cantika, dan juga ustadzah keluar terlebih dahulu. Kemudian ustadz muda juga keluar dan Wira mengikuti nya keluar.
Wira keluar dari kelas latihan sambil kepikiran tentang kata-kata Angel tadi.
Tak dirasa sudah waktunya sholat dhuhur, semua santri bergegas ke masjid termasuk Wira.
Tanpa disengaja Wira bertemu dengan Dewa, Fahrul dan Firman.
"Bagaimana latihannya?" Tanya Dewa.
"Ya, begitulah"
"Sukses?"
Wira mengangguk
"Tadi Dinda kesini, mencari mu"
"Mencari ku? Ada perlu apa Dinda mencari ku?"
"Ntah lah, tadi dia bawa makanan. Ku kira itu untuk siapa, ternyata untukmu"
Wira hanya tersenyum lalu pergi ke tempat wudhu untuk segera menunaikan ibadah shalat dhuhur.
Dinda pun juga pergi ke masjid itu untuk mengikuti ibadah shalat dhuhur berjamaah tanpa sepengetahuan Wira dan temannya.
...****************...
Setelah selesai beribadah tanpa disengaja Dinda bertemu dengan Wira.
"Wira, kamu ada waktu?"
"Untuk?"
"Aku ingin bicara sebentar. Sekalian aku bawain makanan buat kamu. Ini" seraya memberikan tempat makanan kepada Wira
"Terimakasih. Mau bicara apa? Kita duduk disitu dulu" seraya menunjuk ke tempat duduk dibawah pohon yang sejuk.
Wira dan Dinda duduk dibawah pohon itu lalu tanpa sengaja Dewa melihatnya lalu mengintipnya dibalik tembok seraya mendengarkan pembicaraan mereka.
"Wira"
"Hmmm?"
"Kamu masih marah sama aku?"
Wira menggeleng-gelengkan kepalanya
"Terus? Mengapa sikap mu ini seolah-olah ingin menghindari ku?"
Wira terdiam.
"Aku minta maaf" ujar Wira.
__ADS_1
"Untuk?"
"Atas sikap ku yang kemarin. Kamu pasti marah kan?"
"Tidak, aku tidak marah."
"Lalu?"
"Sedih iya, bagaimana bisa aku marah terhadap orang yang aku cintai?"
"Hmm?" Wira terkejut.
Disisi lain ketika mendengar perkataan itu Dewa sedih dan meneteskan air mata.
"Aku rasa itu bukan cinta. tetapi obsesi. Cinta dan obsesi itu bedanya tipis" ujar Wira.
"Tidak Wira, aku sangat mencintaimu"
Wira terdiam
"Mas Dewa itu suka sama kamu" ujar Wira.
"Masa?"
Wira mengangguk
"Mengapa kamu tidak membuka hati untuk dia? Dia sudah lama menyukai mu" ujar Wira
"Tapi cintaku hanya untukmu Wira"
"Selama ini tidak ada laki-laki lain yang bisa menggantikan kamu di hati aku"
"Mengapa kamu tidak mencoba untuk menerima ku lagi? Aku berjanji akan setia kepadamu" sambungnya.
"Jangan berjanji, jika tak bisa ditepati"
"Lalu apa aku harus bersumpah atas nama Allah, bahwa aku sangat mencintaimu dan biar kamu percaya?" Seraya menunjuk ke atas.
"Tidak perlu. Aku tidak perlu itu"
Dinda bersedih hati dan meneteskan air mata lalu pergi meninggalkan Wira
Wira pun dengan sigap memegang tangan Dinda.
"Tunggu. Maaf. Aku lancang" sambil melepas tangan Dinda
Dinda hanya terdiam dan menangis se jadi-jadinya.
"Mari aku antar kerumahmu. Kamu sendirian kan?"
Dinda sempat menolak
"Kamu mau aku tidak peduli lagi denganmu?"
Dinda terdiam dan akhirnya mau diantar oleh Wira.
.
.
Disisi lain
Dibalik tembok Dewa menangis. Dia terus menatap kearah Dinda seraya memukul-mukul tembok.
"jadi selama ini engkau adalah masa lalu dari adikku? Pantas saja Wira selalu menghindar disaat kau dan aku bersama" gerutu Dewa.
......................
Dinda akhirnya kembali kerumahnya diantar Wira.
"Kamu gak mau mampir dulu? Mau minum mungkin?" Tanya Dinda.
"Tidak, terimakasih. Kalau begitu aku balik dulu ke pesantren. Mari, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah selesai mengantar Dinda kerumahnya. Wira melamun memikirkan kata-kata yang ia ucapkan kepada Dinda
__ADS_1
Tiba-tiba diperjalanan..
Gubbrraakkkk.....
Wira tertabrak mobil mewah dan terjatuh jauh sampai kepalanya membentur pembatas jalan. dan tak sengaja dia melihat plat nomor yang ada di mobil itu lalu pingsan.
...****************...
Dewa berjalan sambil melamun mengingat semua tentang kejadian tadi.
Angel yang tak sengaja melintas melihat Dewa seraya menghampiri nya.
"Assalamualaikum"
Dewa membuyarkan lamunannya
"Ehh waalaikumsalam dek"
"Mas dewa kenapa? Kok kayaknya lagi banyak pikiran?"
"Tidak apa-apa dek"
"Mungkin hanya kecapean saja" sambungnya.
"Oohh.. ya sudah. Hati-hati jangan melamun, nanti kesambet loh mas.." ujar Angel.
"Ahh tenang aja. Insyaallah mas tidak akan lagi melamun"
"Baik, kalau begitu saya izin pamit dulu ya mas? Mau kembali ke kelas, karena saya harus menghandle guru yang tidak masuk kelas atau ada kepentingan"
"Monggo, silahkan" ujar Dewa seraya mengiyakan perkataan itu.
.
.
.
.
Disisi lain
"Woy tolong woy tolong, ada korban kecelakaan nih, sepertinya dia korban tabrak lari" ucap warga berdatangan membantunya
Seorang warga melihat denyut nadinya
"Alhamdulillah ternyata dia masih hidup"
"Mari kita tolong bawa ke klinik terdekat"
"Pake mobil saya aja pak, saya kebetulan bawa mobil" seorang pria tak dikenal menawarkan bantuan
"Baiklah, mari bantu kita mengangkat anak ini kedalam mobil"
"Mari"
Warga membawa Wira ke klinik terdekat dan tenaga medis langsung datang membantunya untuk dibawa ke ruang UGD. Perawat menutup pintu UGD dan yang lainnya dilarang masuk.
"Wira kemana? Kok dari tadi gue nggak keliatan si Wira nih" tanya Fahrul dan firman seraya berbincang-bincang
"Kan elu tadi udah ngeliat sendiri kalo si Wira lagi latihan Tartil Qur'an di kelas bersama ustadz muda dan juga ustadzah?"
"Ya tapi kan mereka semua sudah selesai, dan kembali mengajar di kelas masing-masing. Kok Wira belum balik juga?"
"Iya juga sih, kemana ya si Wira?"
Keduanya sama-sama tengah memikirkan Wira.
"kok perasaan gue tiba-tiba kagak enak ya Rul?" Celetuk Firman.
"Kagak enak bagaimana? Ahh elu mah jangan mikir yang negatif dulu. Mungkin si Wira masih makan kali di kantin, kan dia tadi pagi langsung dipanggil untuk latihan Tartil Qur'an. Mungkin sekarang Wira masih ada di kantin untuk mengisi perutnya itu"
"Bisa jadi sih.."
"jangan mikir yang nggak-nggak dulu makanya"
"hehe" firman tertawa kecil.
__ADS_1