
Ustadzah beserta rombongan yang lainnya sudah melanjutkan perjalanannya menuju ke arah rumah sakit tempat mamanya Wira dirawat.
Kini, mobilnya pun telah memasuki area parkir di tempat itu. Setelah menemukan tempat untuk parkir, semuanya pun membuka pintu mobilnya untuk keluar. Angel menoleh ke segala sisi, dilihatnya rumah sakit yang begitu besar seperti rumah sakit VVIP yang kelasnya orang-orang elite.
Kemudian setelah semuanya keluar dari mobil, mereka pun bergegas untuk masuk kedalam.
" kami masuk dulu ya pak. Bapak mau ikut atau disini? " tanyanya ustadzah kepada supirnya.
" saya disini saja neng, lagi pula tadi kan saya sudah masuk kedalam menjenguk mamanya Wira. "
" ohh.. " sambil mengangguk. " oke baiklah, kalau begitu kami masuk dulu ya? " ujarnya lagi.
" iya silahkan. "
Ustadzah pun masuk kedalam rumah sakit itu bersama rombongan para santriwati dengan membawa buah tangan yang sudah dibelinya tadi. Mereka sejenak ingin bertanya kepada receptionis, namun tanpa sengaja Cantika bertabrakan dengan seseorang yang baru saja menebus obat dari apotik, sehingga beberapa obat yang dibawanya tersebut jatuh ke lantai.
Dduuugggg
Beberapa obat yang dibawanya jatuh ke lantai.
"astaghfirullah hal adzim, kalau jalan lihat-lihat dong. Enggak punya mata apa?" ujarnya sambil mengendak membantu mengumpulkan obat itu, kemudian orang itu pun juga ikut membantunya.
" eh, maaf maaf. Saya tidak sengaja. " jawabnya.
Kemudian semuanya melihat kearah orang itu.
" loh, ustadz muda? " ucap ustadzah. Sejenak ustadz muda menoleh kearahnya, dan juga beserta menoleh kearah temannya yang lain.
" loh, kalian? " sambil menunjuk satu persatu. " sedang apa kalian disini? "
" harusnya kami yang bertanya kepada ustadz muda, ustadz muda sendiri sedang apa disini? " timpal ustadzah.
" saya.. " ustadz muda tidak ingin memberi tahu yang lainnya. " aaaa, pasti kalian datang kesini untuk menjenguk mamanya Wira kan? " ujarnya ustadz muda mengalihkan topik pembicaraan.
" iya, memangnya ustadz muda tau dimana kamarnya? " sahut Angel yang sudah tidak sabar dari tadi ingin bertemu dengan mamanya Wira.
" tau, mari saya antar. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar tersebut. Kemudian tanpa menjawab, Angel pun sudah mengikuti langkah kakinya.
__ADS_1
Sejenak, ustadzah beserta santriwati yang lainnya terdiam melihat kearah siluet keduanya.
" ada apa dengan ustadz muda, ustadzah? sepertinya ada yang sedang disembunyikan. " ujarnya Aisyah dengan menelisik tingkah laku ustadz muda.
" saya juga merasa seperti itu. " sejenak membenarkan perkataan Ais, namun dengan sigap ustadzah pun mengelaknya. " Sudahlah, tidak boleh su'udzon. Mungkin ustadz muda melakukan itu semua ada alasannya. " ujarnya lagi, kemudian mengikuti langkah Angel meninggalkan tempat itu.
Aisyah dan Cantika saling bersitatap, tanpa basa-basi lagi mereka pun melangkahkan kakinya mengikuti arah dari ustadzah.
Detik berikutnya pun, mereka semua sudah berada di depan kamar itu. Kemudian ustadz muda mempersilahkan masuk semuanya.
" silahkan masuk. " ujarnya ustadz muda yang mempersilahkan masuk yang lainnya. Sejenak Angel beserta yang lainnya terdiam
" ustadz muda juga tidak mau masuk? " tanyanya ustadzah.
" aaaa, saya masih ada kepentingan lain. Sebaiknya saya tunggu diluar sini. "
" baiklah. " sahut Angel yang kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan kamar dari mamanya Wira. Sejenak ustadzah dan juga yang lainnya melihat kearah ustadz muda, sementara itu ustadz muda hanya terdiam menunduk.
" kalian masuk saja terlebih dahulu. Saya masih ingin berbicara dengan ustadz muda sebentar. " perintah ustadzah kepada kedua santriwatinya itu, lalu keduanya pun mengikuti perintahnya.
Setelah semuanya masuk ke kamar mamanya Wira, kini hanya tinggal mereka berdua yang tersisa disitu. Ustadzah terus menatap kearah ustadz muda, sementara ustadz muda tidak berani melihat kearahnya.
" Ada apa ustadz muda? sepertinya ada yang sedang disembunyikan? " tanyanya ustadzah dengan menelisik.
" A-anu, tidak ada ustadzah. " ujarnya sambil terus berusaha menutupi semuanya yang sudah terjadi.
" tidak ada apa? " sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati ustadz muda. "sepertinya ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh ustadz. "
Ustadz muda pun memundurkan langkah kakinya secara perlahan dengan gugup. Sejenak, langkah kaki dari ustadzah terhenti.
" jawab ada apa ustadz muda? " ujarnya ustadzah yang terus menelisik ingin tahu kenapa ustadz muda bisa ada disini.
" A-anu ustadzah, saya permisi ke toilet dulu. " ujarnya sambil melangkahkan kaki menuju kearah toilet, namun dihentikan oleh ustadzah.
" tunggu. Saya masih belum selesai berbicara. " ujarnya, lalu langkah kaki ustadz muda pun terhenti.
Namun pintu kamar mamanya Wira itu pun terbuka, dan keduanya pun melihat kearah pintu itu.
__ADS_1
" kenapa tidak masuk? ada apa ini? " tanya Raka kepada keduanya.
sejenak ustadzah menoleh kearah ustadz muda, lalu kembali melihat kearah Raka.
" eh tidak ada apa-apa Raka. Kami hanya mengobrol sebentar. " kemudian melihat kearah ustadz muda lagi. " saya tunggu di pesantren. " ujarnya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam ruangan mamanya Wira.
Raka dan ustadz muda sama-sama melihat kearah siluet dari ustadzah yang masuk kedalam ruangan mamanya itu. Sejenak ustadz muda menghela nafasnya dalam-dalam.
" hhhhh. " ujarnya sambil menenangkan dirinya. Lalu Raka pun melihat kearahnya dan berjalan mendekatinya.
" Ada apa ustadz muda? " ujarnya Raka.
" mm? " ustadz muda pun seketika itu kebingungan untuk menjawab apa. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
" Melihat tingkah laku mu ini sepertinya ada yang sedang disembunyikan? " sambil tertawa kecil.
Ustadz muda terdiam sejenak.
" saya rasa kamu sudah tau jawabannya. " sahut ustadz muda.
" apa masalah ini ada hubungannya dengan Dinda? "
" mm? "
Sejenak ustadz muda mengingat Dinda, dan saat ini juga dia harus kembali ke kamar Dinda karena sudah pasti Dinda sudah menunggunya dari tadi karena obatnya belum ia minum.
" adduh, saya lupa lagi. " ujarnya ustadz muda sambil menepuk jidatnya itu.
" saya harus mengantarkan obat ini kepada Dinda. " sambil memberi tau bungkusan obat yang baru saja ia tebus di apotek. " Dia pasti sudah menunggu saya dari tadi, kalau begitu saya permisi dulu ya Raka. Assalamualaikum. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
" eh, mau kemana? saya masih belum selesai berbicara. " ujarnya untuk menghentikan langkah kaki dari ustadz muda.
" lain kali saja, bicaranya Raka. " tanpa menghiraukan perkataan temannya itu.
Sementara itu, Raka terdiam hanya melihat siluetnya dan menjawab salamnya itu. " waalaikumsalam. "
Setelah ustadz muda pergi, Raka pun kembali beranjak untuk masuk kedalam ruangan mamanya itu.
__ADS_1