Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Rumah Fahrul


__ADS_3

Setelah keduanya berjalan dan Raka mengikuti ancer-ancer yang diberikan Fahrul untuk menuju ke rumahnya. Kemudian mereka sampai di depan rumah Fahrul dan mobil Raka berhenti disitu.


Kemudian Fahrul turun dari mobil dan diikuti oleh Raka.


" Mari, silahkan masuk mas. " ujar Fahrul kepada Raka mempersilahkan masuk.


" Iya, terimakasih. " sahutnya Raka sambil menoleh ke segala arah dan melihat rumah Fahrul.


Rumah yang sederhana dan tidak terlalu besar dan mewah ketimbang rumah miliknya yang berada di kawasan perumahan elite. Raka hanya melihatnya.


Ya Allah, ternyata diluar sana masih banyak yang bisa bersyukur dan hidup bahagia daripada hidup bahagia namun tidak pernah bersyukur.


.


Kemudian Fahrul berjalan masuk menuju kedalam rumahnya, sementara Raka hanya duduk menunggunya diluar menikmati udara yang sejuk dan melihat di sekeliling rumah itu yang disekelilingnya dipenuhi sawah.


Lalu tak lama kemudian Fahrul datang membawa camilan sepiring ubi rebus dan segelas teh hangat yang akan disuguhkan kepada Raka. Melihat itu Raka menjadi tak enak hati karena merasa merepotkan temannya itu.


" Waduh, kok repot-repot mas? " ujar Raka kepada Fahrul.


" Tidak repot kok mas, kebetulan ada. " sahutnya sambil meletakkan makanan dan minuman itu dimeja.

__ADS_1


" Mari, silahkan dinikmati mas. Maaf ya, adanya cuma ini. " sambungnya lagi.


" Yah, tidak apa-apa mas. Ini aja sudah alhamdulilah buat saya. "


Fahrul kemudian mengangguk.


" Oh ya, apa boleh saya menjenguk nenek mas? saya penasaran dengan nenek bagaimana keadaannya. " ujarnya Raka lanjutnya lagi.


" Oh iya tidak apa-apa mas, silahkan. Kebetulan nenek saya ada di kamar. Mari saya antarkan. " ucap Fahrul kemudian berjalan menuju ke arah kamar neneknya dan didampingi oleh Raka.


Kemudian keduanya terhenti dan mengintip dibalik korden. Kebetulan pada saat itu neneknya sedang tertidur.


" Itu nenek saya mas. " ujar Fahrul.


" Kata dokter cuma stroke ringan, ya biasalah namanya juga orang tua, rentan terhadap penyakit. "


" Kenapa tidak dirawat dirumah sakit mas? "


" Nenek minta dirawat disini, lagipula kalau berlama-lama dirumah sakit kan kasian juga mas. Kata nenek masakan rumah sakit itu terlalu hambar. Jadinya nenek tidak mau dirawat disana. "


Raka hanya mengangguk dan melihat kearah neneknya Fahrul itu.

__ADS_1


" Mungkin neneknya mas baru istirahat, sudah tidak usah diganggu dulu. Biarkan nenek mas istirahat. Mari, kita berbicara diruang tamu biar tidak mengganggunya. " ujar Raka seraya berjalan meninggalkan Fahrul.


" Iya mari. "


Kemudian Fahrul menutup korden itu dan berjalan mengikuti Raka.


Lalu keduanya duduk di kursi ruang tamu itu, tempatnya tidak terlalu besar, tidak terlalu mewah. Bila dibandingkan dengan ruang tamu rumah Raka jauh lebih besar, lebih lebar, dan lebih mewah dari rumah Raka.


" Mas, hanya tinggal berdua bersama neneknya disini? " tanya Raka kepada Fahrul.


" Iya mas, kami hanya tinggal berdua disini. "


" Untung saja mobilku masuk ya tadi kesini. " ujarnya Raka sambil bercanda.


Fahrul hanya tersenyum.


" Memang sengaja dibuat jalan mobil mas, kan nanti kalau sawah disamping rumah ini sudah panen kan harus diangkut pakai pickup atau truk. "


" Oh iya iya. "


" Aku akan mencoba memakan ubi rebus ini. " lanjutnya lagi.

__ADS_1


" Iya mari, silahkan dimakan mas. Maaf ya, adanya ya cuma gini ini. Diterima ya mas ya? "


" Iya tidak apa-apa kok mas. Ini saja sudah lebih dari cukup buat saya. " ujar Raka yang kemudian memakan ubi rebus itu.


__ADS_2