
Fahrul dan Firman keluar dari asrama untuk mencari angin segar. Mereka berjalan menuju ke arah kantin sambil berbincang-bincang tentang kejadian tadi.
" Gila kali ya Rul ya dia itu. " ujar Firman kepada Fahrul.
" Maksudnya? "
Firman melihat ke arah Fahrul
" Kamu nggak ngerti maksud saya? "
Fahrul menggeleng-gelengkan kepalanya, dia begitu polosnya tidak mengerti maksud dari perkataan temannya itu yang sedang membicarakan tentang Zein sewaktu didalam asrama tadi.
" Ya Allah Rul, Rul. Serius kamu tidak ngerti maksud saya? "
" Nggak. "
" Ahh yang bener? "
" Iya, tidak mengerti ayang beb. Memangnya maksud kamu apa? "
Firman menghela nafas.
" Yasudah, jadi gini. Tadi kan dia bilang kalau dia mau bersaing dengan Wira. "
" Mm? " Fahrul terkejut mendengar itu dan mengangguk.
" Katanya dia bisa mengalahkan Wira supaya Angel mau menerima dia lagi sebagai kekasihnya. "
" Mengalahkan? "
Firman mengangguk.
" Mengalahkan dengan apa? " sambungnya kemudian.
Firman menghela nafas lagi
__ADS_1
" Ntahlah. Aku juga tidak tau. Yang pasti dia sangat ingin mengalahkan Wira. " ujarnya firman.
Kemudian mereka terus berbicara sambil membahas hal lain tentang keduanya semenjak pulang kerumah masing-masing. Setelah sampai di kantin, mereka memesan makanan dan minuman.
Firman langsung duduk di tempat duduk yang kosong, sementara Fahrul berjalan kearah penjualnya untuk memesan makanannya.
" Kamu mau pesan apa? " tanya Fahrul yang sedang menoleh kearah firman.
" Mmmm.. Kamu mau makan apa? " tanyanya firman kembali.
" Saya mau makan nasi pecel. "
" Samakan aja dah, tidak apa-apa. "
" Oke, minumnya? "
" Kamu mau minum apa? "
" Teh hangat. "
" Yasudah, aku juga mau teh hangat. "
" Iya. " Ujar Firman yang kemudian melihat ke sekelilingnya seperti sedang mencari sesuatu.
" Oke. "
" Bu, nasi pecel dua. Sama teh hangat dua. " ujarnya Fahrul lanjutnya lagi kepada penjual itu.
" Oke, ditunggu ya mas. Dimakan sini atau dibawa ke asrama? " tanya si penjual itu.
" Dimakan sini aja bu. Tidak apa-apa. "
" Baiklah ditunggu ya mas. "
" Siap. " ujar Fahrul yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kearah firman. Sementara si penjual sedang mempersiapkan pesanan dari Fahrul. Fahrul yang menyadari bahwa temannya sedang melihat kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu itu pun bertanya kepadanya.
__ADS_1
" Sedang mencari apa? " ujarnya Fahrul.
" Mm? " firman terkejut saat mendengar itu. " Tidak ada. Hanya melihat-lihat saja. "
" Melihat siapa? melihat santriwati ya? "
Seketika firman melihat kearah Fahrul
" Santriwati? "
" Iya. "
" Tidak, saya teh bukan kamu, yang kalo ada cewe bening dikit langsung i love you. " ujar Firman itu sambil tertawa.
Seketika raut muka fahrul berubah menjadi memerah karena malu mendengar itu.
" Tidak juga. Jangan melihat seseorang dari fisiknya, tapi lihatlah seseorang dari hatinya brow. " ujar Fahrul dengan nada lebay yang menutup-nutupi perasaannya.
Firman hanya menggelengkan kepalanya
" Masa? "
" Iya. Kita ini harus pandai memilih pasangan hidup yang baik, harus pandai memilih makmum yang baik, supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. " ujarnya fahrul yang berbicara seakan layaknya seorang pujangga yang ingin dilempari tabung gas elpiji tiga kilo.
" Eaeaeaea. Mat kirul mulai berceramah bung. "
" Bukan begitu brow. "
" Bukan begitu apanya? kamu sok nasehatin saya, lah wong kamu aja selalu gagal dalam setiap hubungan. "
" Pelatih tidak ikut bermain. Pelatih hanya memberikan instruksi. "
" Pelatih cinta? "
" Pelatih sepakbola, mana ada pelatih cinta. "
__ADS_1
" Kirain pelatih cinta. "
Keduanya sedang bercanda, namun nada bicaranya seakan seperti membahas sesuatu yang sangat serius. Begitulah jikalau anak laki-laki sedang bercanda, mereka bercanda lepas satu sama lain tanpa menghiraukan perasaan yang lainnya. Namun sesudah itu mereka meminta maaf satu sama lain, dan menyadari jikalau pembicaraan tadi itu hanya candaan semata.