Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Ibu tiri


__ADS_3

" Kamu sudah makan? kalau belum mari makan dulu. Mama sudah memasaknya tadi. "


" Aku sudah kenyang. " sahutnya sambil berjalan menuju ke kamarnya.


" Tunggu dulu nak, " ujarnya menghentikan langkah kaki Zein.


Seketika langkah kaki Zein terhenti dan membalikkan badannya kearah Mama tirinya itu.


" Ada apa? " jawab Zein sambil memasang muka datar.


" Apa kamu tidak merindukan mama? Apa kamu tidak mau berterimakasih kepada mama karena sudah membebaskan kamu dari kantor polisi? "


Zein melangkahkan kakinya untuk mendekati mama tirinya itu.


" Mama? Rindu? Terimakasih? " ujarnya sambil mendekati.


" Iya. Bagaimana pun juga aku ini istri dari almarhum papamu. Kamu juga harus memanggilku mama. " sahut Mama tirinya itu.

__ADS_1


" Aku tidak mau memanggilmu mama, karena mamaku hanya satu. Yaitu mama kandungku yang sudah melahirkanku. Rindu? aku tidak merindukanmu. Sama sekali tidak. Bagaimana bisa aku merindukan wanita yang sudah membuat papa dan mamaku berpisah? " ujar Zein kepada Mama tirinya itu.


Mama terdiam mendengar perkataan itu seakan hatinya dilempari oleh batu panas. Dia mendengar dengan jelas setiap perkataan dari Zein.


" Dan satu lagi, kalau bukan wasiat papa, aku juga tidak akan mau tinggal disini bersamamu. Lebih baik aku tinggal di Bali bersama mama kandungku. Dan juga terimakasih sudah membebaskanku dari kantor polisi. Terimakasih tante. " ujar Zein lanjutnya lagi.


Mama tirinya terdiam menunduk.


Setelah selesai berbicara, Zein lalu kembali membalikkan badan untuk melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


" Apa kamu mau aku berubah fikiran supaya semua aset kekayaan warisan almarhum papamu itu jatuh semua ke tanganku? " ujar Mama tirinya itu membuat langkah kaki Zein terhenti.


" Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang? " ujar Zein seakan takut dengan ancaman mama tirinya itu.


" Kalau begitu mari makan dulu, setelah selesai makan kita akan membahasnya lagi. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya ke meja makan.


Zein melihat kearah Mama tirinya itu.

__ADS_1


Nino, apa kamu merasakannya juga? bertahun-tahun kamu hidup dengan dia dan kamu menikmatinya? Dasar ibu tiri. Bisanya cuma memaksa.


gerutu dalam hati Zein mengingat almarhum saudara kembarnya itu.


Kemudian Zein mengikuti langkah mama tirinya itu dan duduk di meja makan. Mama tirinya itu merawatnya dengan baik. Dia merawat Zein dengan setulus hati, namun Zein tidak mempercayainya. Karena Zein teringat kisah temannya pada waktu sekolah dulu, dia sering mendengar curhatan temannya itu saat hidup bersama ibu tiri. Ibu tirinya itu selalu memaksanya dan harus menurutinya, jika tidak menuruti ya kena cubit di pahanya sampai memerah. Dan itu pun terjadi juga pada dirinya, dia harus menuruti semua perkataan ibu tirinya. Namun ibu tiri Zein tidak mencubitnya melainkan mengancam akan merebut semua aset kekayaan almarhum ayahnya untuk menjadi miliknya.


Dalam hati dan pikiran Zein, selama itu baik ya dituruti saja apa kemauannya. Namun jika tidak, maka saat itu juga Zein akan membantahnya.


Mereka makan bersama di meja makan. Keduanya saling fokus pada piringnya masing-masing.


" Tante, semenjak papa meninggal tante tinggal sendirian disini? " ujar Zein seakan mencairkan suasana di tempat itu.


" Iya. " sahutnya sambil melahap makanan demi makanan yang ada di piringnya itu.


" Loh kenapa kok tinggal sendiri? kan tante bisa membayar pembantu rumah tangga untuk membantu dan menemani tante disini? "


" Aku tidak mau memakai uang papamu hanya untuk dihabiskan untuk hal yang kurang bermanfaat. Selagi aku bisa melakukannya, aku tidak akan membayar pembantu dan tidak akan meminta bantuan kepada orang lain. "

__ADS_1


Zein terdiam.


Omong kosong. Pasti dia cuma mau mengambil hati supaya aku mengasihaninya. Dasar ibu tiri


__ADS_2