
Sementara itu Zein mulai memasuki asrama santriwan, dan melihat Fahrul dan Firman.
" Assalamualaikum. " ujarnya Zein.
Seketika itu keduanya menoleh kearahnya.
" Waalaikumsalam. " jawab serentak.
" Apa benar disini asramanya? " tanya Zein kepada keduanya.
" Iya benar. Silahkan masuk. " Ujar Firman dengan senyuman mempersilahkan masuk.
Zein melangkahkan kakinya mendekati keduanya sambil melihat-lihat ke segala arah di ruangan itu.
" Ruangannya luas juga. " sambil terus menelusuri segala arah dari ruangan itu.
Firman menghela nafasnya, sementara Fahrul hanya terdiam melihat kearah Zein.
" Yah, begitulah. "
Kemudian langkah kaki Zein terhenti tepat didepan keduanya.
Fahrul melihat Zein dari bawah sampai atas, dia merasa heran terhadap diri Zein.
" Kenapa ngeliatin saya seperti itu? " ujar Zein yang mulai menyadari karena sudah dari tadi diperhatikan oleh Fahrul, sementara firman melihat kearah Fahrul.
" Tas kamu mana? katanya kamu santri baru tapi kok tidak membawa barang kesini? " ujar Fahrul kemudian.
" Iya juga ya, dia tidak membawa barang kesini. " celetuk Firman.
Zein tersenyum menghela nafas
" Barang saya ada di mobil. Masih belum saya ambil, nanti saya akan mengambilnya dan menaruhnya disini. " ujarnya Zein kemudian.
__ADS_1
" Ohh.. " keduanya mengangguk mendengar perkataan itu.
" By the way, dimana kasur yang kosong? "
" Mm? " keduanya saling melihat, lalu melihat ke segala arah dan menemukan kasur dan lemari yang kosong yang kebetulan tidak ada penghuninya.
" Itu tuh, disitu. " ujarnya Firman sambil menunjuk kearah kasur dan lemari yang kosong.
Zein menoleh mengikuti arah yang ditunjuk oleh firman
" Baiklah, aku akan segera kesana. Terimakasih. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat itu.
" Iya sama-sama. " ujar keduanya sambil melihat kearah Zein. Namun langkah kaki Zein terhenti dan membalikkan badannya kembali.
" Oh iya, apa kamu kenal dengan Wira? " tanya Zein kemudian.
Keduanya pun terkejut melihatnya.
" Iya, Wira. Apa kalian mengenalinya? "
Kemudian Fahrul dan Firman saling melihat satu sama lain.
" Memangnya kenapa? " tanya Fahrul.
" Kamu kok bisa mengenali Wira? " sahut Firman
" Tidak apa-apa sih, hanya bertanya saja. Apa kalian mengenalinya atau tidak. "
" Mmmm, iya kami kenal. Memangnya kenapa? " tanya Firman kepadanya, sementara itu Fahrul hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.
" Tidak apa-apa. Apa dia juga tinggal di pesantren ini? "
" Ya iyalah, kan dia juga santri sini. Masa tinggal di atas genteng kan tidak mungkin. " ujar Firman dengan nada sewot.
__ADS_1
Zein hanya tersenyum melihatnya
" Jadi kita bakal satu asrama nih ceritanya? "
" Maksudnya? " tanya Firman kepadanya karena tidak mengerti maksud dari Zein itu.
Zein menghela nafasnya
" Kalau dia tinggal di pesantren ini, berarti dia juga bakal satu asrama dong sama saya? " ujarnya kemudian.
" Emang iya. Kan asrama santriwan disini hanya satu, satunya lagi kan dipakai santri wati. " masih dengan nada sewotnya.
" Yasudah tidak apa-apa. Aku akan tinggal dengan sainganku disini. "
Mendengar itu fahrul dan firman terkejut
" Mm? saingan? maksudmu? " tanya Firman kepadanya dengan nada serius.
" Iya, saingan cinta. "
Kemudian Fahrul dan Firman saling melihat kembali
" Maksud kamu, kamu menyukai Angel? " tanya Firman kepadanya seakan mengerti dengan yang dimaksud oleh Zein.
" Iya, bukan hanya suka. Tapi dia juga cinta pertamaku. " ujar Zein dengan pasti.
Fahrul yang mendengar itu seketika mau tertawa lepas namun memilih untuk ditahan, karena masih menghargai keberadaannya dan masih menjaga perasaannya takut terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Sementara firman menoleh kearah Fahrul.
" Memangnya kamu yakin bisa bersaing dengan Wira? " tanya Firman kembali.
Zein menatap kearahnya dengan tajam.
" Kenapa tidak? aku bisa mengalahkannya. " jawab Zein dengan pasti. Lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu dan langsung menaiki kasurnya untuk merebahkan badannya itu. Sementara Fahrul dan Firman hanya terdiam melihat kearahnya.
__ADS_1