
Di rumah sakit tempat mama dan Raka.
Raka sedang menunggu dokter keluar dari ruangannya untuk menanyakan kabar mamanya itu. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya itu dengan kasar karena tengah memikirkan keadaan mamanya.
Dia yang semula duduk di kursi duduk rumah sakit lalu berdiri berjalan mondar-mandir dengan fikiran tidak tenang.
Semoga mama baik-baik saja ya Allah.
Kemudian Raka menghela nafasnya yang mulai memburu.
Lalu tak lama setelah itu, dokter keluar dari ruangan itu dan Raka langsung menghampirinya.
" bagaimana dengan keadaan mama saya dok? " dengan khawatir akan keadaan mamanya itu.
Dokter itu menghela nafasnya.
" Alhamdulillah, tidak apa-apa mas. Cuma ada sedikit luka di bagian kepala, luka benturan. " ujarnya dokter itu.
" tapi mama saya tidak apa-apa kan dok? dia akan segera sadar kan? "
" iya mas. Mungkin beberapa jam lagi dia akan sadar, semoga Allah memudahkan semuanya. "
" aamiin. " menghela nafasnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya itu.
" terimakasih banyak dok. "
" iya sama-sama mas, kalau begitu saya permisi dulu. "
" iya silahkan. "
Lalu kemudian dokter itu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Raka melihatnya sejenak, lalu kemudian melihat ke arah ruangan mamanya itu. Dia mengintip keadaan mamanya yang sedang berada di dalam ruangan itu dari jendela pintu. Dia menangisi mamanya itu, ada perasaan bersalah yang menghantui dirinya. Andai saja, waktu itu dia yang membeli minuman itu. Andai saja waktu bisa diputar kembali. Andai saja, Raka berandai-andai.
Kemudian Raka teringat sesuatu. Seketika itu dia langsung menghubungi Deni Savero, asistennya itu.
__ADS_1
" Hallo, selamat siang pak. "
" iya siang den, kamu saat ini ada dimana? "
" saya saat ini sedang berada di kantor pak, memangnya ada apa? "
" saya ingin meminta tolong sama kamu den. " ujarnya Raka, lalu Raka memberitahu semuanya yang sudah terjadi kepada Deni dan meminta tolong kepadanya untuk mencari seseorang yang sudah menabraknya tadi.
" siapa yang melakukan itu pak? "
" dewa. "
" dewa? " Deni terkejut mendengar nama itu.
" iya den. Dia yang melakukan itu. " lalu Raka memberitahu plat nomor mobilnya yang dikendarai oleh Dewa itu. " sepertinya dia sedang mabuk pada saat itu. "
Deni Savero pun menghela nafasnya dalam-dalam.
" baik pak. "
" kemungkinan dia saat ini masih ada disana. "
" iya pak. "
Kemudian Raka menutup panggilan teleponnya itu, dan langsung mengirimkan lokasinya. Deni kemudian membuka isi pesan dari Raka, dan kemudian menuju ke tempat lokasi itu.
.
.
Disisi lain.
Wira dan juga yang lainnya kini bersiap-siap untuk menampilkan performanya di depan juri. Semuanya tengah berkumpul, namun ada pembatas diantara mereka antara laki-laki dan perempuan. Mereka kini saling melihat satu sama lain.
__ADS_1
" Bagaimana kamu sudah siap? " tanya ustadzah kepada Wira.
Wira tersenyum lalu menghela nafasnya.
" insyaallah siap ustadzah. "
" bagus. " sambil mengacungkan jari jempolnya kearah Wira.
" semangat ya. " ujarnya kemudian.
" iya terimakasih ustadzah. " dengan tersenyum membalasnya.
Sementara itu, Angel sudah memperhatikannya dari tadi.
" kamu sudah siap? " tanyanya Angel kepada Wira, kemudian Wira melihat kearahnya.
" insyaallah, kamu? "
" insyaallah juga. "
" yang semangat ya.. " ujarnya Wira.
" iya terima kasih, kamu juga. "
" jangan nervous. "
" kamu tu yang nervous. "
" iihh kamu tu. "
" yang ada kamu yang nervous, aku enggak. "
" yaudah iya, saya yang nervous. " ujarnya Wira mengalah kepada Angel, karena tidak mau panjang lebar membahas tentang itu. Karena dirinya harus mempersiapkan diri untuk menampilkan performa terbaiknya.
__ADS_1