
" Iya tidak apa-apa kok mas. Ini saja sudah lebih dari cukup buat saya. " ujar Raka yang kemudian memakan ubi rebus itu.
" Enak loh ternyata ubi nya ini. " ujar Raka sambil memegang sisa ubi yang digigitnya.
" Alhamdulillah mas, itu nenek saya yang buat. "
" Ternyata neneknya pandai juga buat camilan yang enak ya. " ujar Raka memuji neneknya Fahrul itu.
" Hehehe.. ya camilan yang sangat sederhana. "
Kemudian sesudah memakan ubi rebus nya, Raka lalu meminum teh hangat yang sudah disuguhkan tadi oleh Fahrul.
" Apa aku boleh bertanya sesuatu kepada mu? " tanya Raka kepada Fahrul.
" Mau bertanya apa mas? "
" Kau sudah berteman lama dengan Wira? "
Lalu Fahrul melihat kearah Raka.
" Kalau berteman lama sih tidak mas, dia juga bisa dibilang murid baru di pesantren kami ini. Memangnya kenapa mas? " ujar Fahrul.
" Tidak apa-apa. Cuma bertanya saja. "
" Apa kamu sendiri pernah melihat kedua orang tua Wira? " sambungnya.
" Tidak pernah mas. Saya juga kurang tau tentang informasi Wira secara detail. Semenjak dia berada di pesantren itu lalu kami ya berteman biasa saja. Lalu setelah beberapa hari kedatangan Wira di pesantren itu, kemudian Dewa datang menyusulnya. Lalu Wira memperkenalkannya kepada kami kalau Dewa itu kakaknya. Kebetulan kami satu asrama, jadi ya saling kenal. "
" Ohh.. " ujar Raka yang sambil mengangguk.
" Apa kau pernah merasa curiga kepada Dewa? " ujar Raka lanjutnya lagi seakan mengorek informasi tentang Wira.
__ADS_1
" Maksudnya mas? "
" Ya mungkin saja kau curiga kepada Dewa, kalau dia itu bukan kakaknya. "
" Saya juga kurang tau betul sih mas permasalahannya seperti apa. Cuma ya saya rasa ada yang ditutup-tutupi oleh Dewa. Logikanya gini, Dewa datang menyusul Wira ke pesantren. Dia datang mengaku sebagai kakak kandungnya, dia bilang kalau dia itu saudara kandung. Tapi kok baru saat itu dia mengakuinya? Yang dulu-dulu itu kemana aja? "
Yang dikatakan Fahrul ini ada benarnya juga. Yang sebenarnya kan Dewa tidak memiliki adik.
" Lalu kalau masalah uang bagaimana? "
" Maksudnya? "
" Maksudnya, kalau masalah uang jajan itu kan pasti setiap santri dikirimi oleh orang tuanya. Lalu bagaimana dengan Wira? "
" Yang saya tau sih, Wira ini kebutuhannya selalu tercukupi mas. Kalau masalah uang jajan itu sepertinya dia tidak suka berjajan sembarangan diluar. Dan jikalau makan, ya kami patungan seasrama dan makan bersama di asrama. "
" Oh.. iya iya. Kebersamaan kalian ternyata kuat ya? "
" Alhamdulillah. "
.
.
Disisi lain.
Di pesantren Pakubumi yang pada saat itu semuanya sedang bercanda kemudian melanjutkan latihan Tartil Qur'an.
Wira yang pada saat itu membacakan Al-Qur'an yang begitu indah dan suara yang merdu.
" Audzubillahhiminas syaitonirrojim.. "
__ADS_1
" Bismillahirrahmanirrahim.. " suara Wira yang begitu indah dan merdu yang membuat siapa yang mendengar nya pasti bulu kuduknya berdiri seakan teringat dosa dan mati saat itu juga.
Semuanya tersenyum melihat kearah Wira yang sedang membaca ayat-ayat Allah SWT yang begitu indah.
Angel terkagum-kagum dengan bacaan Wira yang fasih. Setelah mereka selesai latihan, lalu ustadzah menghampiri Wira.
" Wira. " ujar ustadzah kepada Wira.
" Iya ustadzah? " jawab Wira dan melihat kearah ustadzah.
" Persiapkan dirimu baik-baik ya? eventnya sudah beberapa hari lagi. Jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit. "
" Siap ustadzah. "
" Satu lagi, jaga hati untuk seseorang. Jangan sampai kamu mengecewakan orang itu. " ujarnya sambil melihat kearah Angel.
" Jaga hati untuk siapa ustadzah? "
" Tidak tau ya. Yang pasti hamba Allah. "
" Laki-laki atau perempuan ustadzah? "
" Ya perempuan lah, memangnya kamu mau sama laki-laki? " sahut Cantika.
Seketika Wira menoleh kearah Cantika.
" Orangnya ada disini? " tanya Wira.
Cantika hanya menoleh kearah Angel. Dan diikuti oleh Wira, kemudian Angel menundukkan kepalanya.
Wira yang seakan faham dan mengerti maksud Cantika lalu hanya tersenyum kepada Angel.
__ADS_1
" Jika tidak diungkapkan bagaimana aku bisa tahu kalau ada seseorang yang menyukaiku. " ujar Wira yang menyindir Angel dan membuang muka ke segala arah.