
Sean masih menunggu Sifya untuk melepas pelukannya dari pinggang Sean. Setelah beberapa menit berlalu, Sifya pun mengangkat kepalanya dan tidak mau melepas pelukannya dari pinggang Sean. Terlihat wajahnya masih basah akibat air matanya sedari tadi tidak mau berhenti sehingga jaket yang dikenakan Sean basah oleh airmatanya.
"Gue takut" lirih Sifya
"Lo sudah aman. Tenang saja" ucap Sean lembut menggenggam tangan Sifya yang berada di pinggangnya
Sifya merasa sedikit tenang setelah Sean menggenggam tangannya. Lalu tiba-tiba Sifya sadar kala ia sedang memeluk Sean seketika ia melepas pelukannya dan turun dari motor.
"Maaf" lirih Sifya
"Maaf?" Sean heran kenapa gadis itu tiba-tiba meminta maaf
"Maaf karena gue udah meluk lo tanpa seijin lo"
"Kalau lo nggak meluk gue yang ada lo bakalan jatuh. Nggak usah minta maaf kan gue juga yang suruh lo pegangan kuat" Sean membuka helmnya dan hendak berjalan menuju lift
"Em, makasih ya lo sudah nolongin gue. Gue nggak bisa bayangin kalau mereka sempat membawaku dan menculikku" ucap Sifya dengan wajah sendu menahan tangan Sean
"Ayo. kita kedalam dulu entar lo jelasin sama gue kenapa lo bisa berurusan sama preman-preman tadi" Sean meraih tangan Sifya
"Gue mau langsung pulang saja, Lo bisa kan anterin gue" ucap Sifya berharap Sean bersedia mengantarnya
"Kita kedalam dulu. Gue antar lo setelah gue ganti baju. Kamu juga nggak mungkin balik dalam keadaan begini" Sifya memang terlihat berantakan karena tadi Sean membawa motornya dengan sangat cepat sehingga rambut dan penampilan Sifya agak berantakan.
Kemudian mereka menaiki lift dan masuk ke apartemen Sean.
"Gue mau ganti baju. Di sebelah situ ada kamar mandi lo bisa ngerapihin penampilan lo disana." Ucap Sean
Sifya mengangguk kemudian ia teringat kalau ia belum menghubungi orangtuanya.
Sifya memilih menghubungi papinya karena ia tahu kalau papinya sekarang mencemaskannya.
"Halo papi" Sifya menahan isaknya tiba-tiba ia kembali merasa sedih karena ingat kejadian tadi
"Halo sayang. Kamu dimana kenapa dari tadi papi hubungi nomor kamu susah sekali nak" Ucap Arya diseberang telfon
"Sifya baik-baik saja pi. Tadi ada temen Sifya yang sudah nolongin aku pi" masih dengan suara serak sehabis menangis
__ADS_1
"Syukurlah sayang. Papi khawatir banget sama kamu. Sekarang kamu dimana sayang?" Arya merasa lega setelah mendengar suara putrinya
"Em.. Di Apartemen yang udah nolongin Sifya pi" jawab Sifya sambil menggigit bibir bawahnya karena takut papinya bakal marah karena ia lagi berduaan dengan seorang pria
"Kamu berduaan aja sama dia nak?" tanya Arya
"Em i-ya pi" jawab Sifya gugup
"Sebentar lagi akan ada suruhan papi yang bakal jemput kamu nak. Kamu tunggu disana jangan kemana-mana."
"Oke Pi"
Sifya berdiri dari Sofa hendak ke kamar mandi, tiba-tiba Sean menghampirinya.
"Nih ambil, mana tau lo butuh" Sean memberikan handuk kecil dan kaos oblongnya untuk Sifya
"Eh, gue emang butuh ini. Thanks ya" senyum Sifya meraih handuk dan kaos yang diberikan Sean
Tak lama kemudian, Sifya keluar dari kamar mandi dengan kaos oblong Sean yang ia gunakan terlihat kebesaran di tubuhnya yang langsing dipadu dengan rok sekolahnya yang masih ia kenakan dan rambut yang ia kuncir tinggi sehingga memperlihatkan jenjang lehernya. Tampak sederhana tapi menawan. Kemudian ia berjalan menuju sofa sembari menunggu jemputan dari suruhan papinya.
"Lo udah selesai?" Sean kemudian duduk di sofa sebelah Sifya
"Lo gue antar aja. Tapi sebelum itu kita makan siang dulu. Bentar gue bakal pesen makanannya" Sean berdiri dan langsung berjalan kekamarnya untuk mengambil ponsel miliknya
"Nggak usah, ntar lagi orang yang mau jemput gue tadi bakalan nyampek" teriak Sifya agar Sean mendengarnya yang telah berada didalam kamar
Sementara dikantor Dirgantara, Arya dan Simon sedang berbincang mengenai anak-anak mereka.
"Syukurlah putriku aman bersama putramu Sean"
"Dia persis sepertiku" desis Simon
"Hah, tingkat percaya dirimu terlalu tinggi"
"Hei, dia putraku jelas dia mirip denganku"
"Ya ya baiklah. Sekarang yang terpenting secepatnya kita harus menyelidiki siapa dalang yang mencoba menculik putriku"
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Orangku pasti segera membereskannya" Simon meyakinkan Arya
"Akan kupastikan kalau mereka tidak akan pernah menyentuh calon menantu Simon Adiguna. Itu janjiku"
"Aku percaya. Kamu memang yang terbaik" Arya merasa lega karena sahabatnya yang merupakan orang nomor 1 telah menjamin keselamatan putrinya
Di apartemen Sean, Sifya dan Sean sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sembari menunggu pesanan mereka datang tanpa berbicara apa-apa. Mereka hanya sibuk dengan ponsel masing-masing sesekali mereka saling melirik entah apa yang mereka pikirkan.
Kemudian terdengar bel pintu berbunyi, Sean segera berdiri. Sebelum Sean tiba di pintu, pintu telah terbuka lebar.
"Lo pakai nekan bel segala San. Kayak Lo orang lain aja nggak tau password apartemen Sean" ketus Rey
"Ya kan setidaknya basa-basi gitu biar terkesan sopan" bantah Sandy
Sean terkejut melihat Sandy dan Rey masuk ke apartemennya tiba-tiba.
"Kenapa wajah lo yan, terkejut lo lihat kita berdua?" tanya Rey
"Em, nggak biasa aja. Ngapain lo berdua langsung main masuk aja kemari??" Sean berusaha menutupi keterkejutannya
"Biasa juga begitu" sanggah Sandy
"Lain kali lo berdua kalau mau masuk tekan bel dulu, tunggu sampai gue buka baru lo berdua boleh masuk" jelas sean
"Kenapa lo jadi rempong gini Se? Lo lagi nyembunyiin sesuatu dari kita makanya kita nggak boleh bebas keluar masuk kemari? " Sandy merasa curiga
"Gue nggak butuh bantahan" tegas Sean
"Ya terserah" ucap Rey
Sandy mengangguk
Lalu Rey dan Sandy langsung masuk meninggalkan Sean masih berada di dekat pintu. Seketika Sean sadar bahwa Sifya berada di apartemennya lalu mengejar kedua temannya agar segera pergi keluar dari apartemennya. Namun Sean telat untuk mencegah mereka bertemu Sifya, hingga...
"Sifyaaa" ucap Rey dan Sandy bersamaan
_ __ _ __ __ _ _ __ _ __
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen guys 🙂