
Laura sedang mengerjakan tugasnya sebagai manajer bar,saat ini didalam bar sangat ramai, karena ada kabar kalau ada seorang pelanggan penting,dia ingin menikmati hiburan diruangan vip karaoke.
Saat Laura mengecek kedalam dapur ada beberapa pesanan yang belum sempat terbawa oleh beberapa pelayan.
Laura melihat kertas pesanan dan langsung menyiapkan yang sudah tertulis didalam kertas.
"Minuman untuk ruangan xx aku yang antar saja ya."
"Oh, baiklah."
Laura melangkahkan kakinya menuju tempat pemesan minuman xx itu berada, saat sudah berada didepan pintu masuk Laura bertanya kepada penjaga dipintu.
"Aku ingin mengantar minuman."
"Silahkan masuk."ucap penjaga sambil membukakan pintu.
Didalam sangat ramai ada sekitar lima orang memakai pakaian serba hitam sedang tertawa sambil menyanyikan lagu-lagu.
Laura tidak begitu mengurusinya dan saat sudah sampai didepan meja,dia menaruh minuman yang dia bawa itu diatas sana.
Ada seorang pria seusia ayahnya tapi masih terlihat tampan dan gagah duduk di bangku paling pojong yang hanya muat satu orang dengan ditemani beberapa pengawal.
Pria itu sedari tadi memandangi Laura dengan tatapan yang rumit,
Saat Laura ingin memindahkan botol kosong keatas nampan ,pria itu menatap kearah pergelangan tangan Laura.
"Tunggu nona."
"Ya,ada yang bisa saya bantu tuan."
"Aku ingin bertanya,tapi aku ingin jawaban jujur."
"Apa yang ingin tuan tanyakan?."
"Dari mana asal kamu."
"Aku dari Amerika tuan."
"Oh,boleh aku melihat gelang yang sedang kamu pakai itu."
Gelang ini,fikir Laura
Saat kembali menginap kemarin,Laura membuka beberapa barang lama miliknya, dia menemukan suatu barang peninggalan ibunya.
Laura berusaha untuk tenang, tidak boleh merubah ekspresi wajah terkejut.
"Tentu saja tuan."Laura bergegas melepaskan gelang itu.
Setelah terlepas,Laura memberikannya kepada orang itu,pria itu menerimanya dengan sedikit rasa tidak percaya.
"Kamu dapat benda ini dari siapa?."
Laura mencoba tetap tenang
"Jangan bilang kalau kamu membelinya karena benda ini tidak dijual diamerika."
Sial,siapa sebenarnya pria ini,atau jangan-jangan dia mitsuya,fikir Laura.
"Tentu tidak tuan,itu bang pemberian dari seorang wanita walaupun dia memiliki umur yang sudah tidak muda lagi tapi dia masih tetap sangat cantik."
"Re'iko,,,,."ucap pria itu
Laura masih berusaha tenang saat pria itu menyebut nama ibunya.
Astaga,dunia ini sempit sekali bu.fikir Laura
"Apa kamu tahu ini apa?."
"Tidak tuan,apa tuan tahu."
"Benda ini bukan gelang,tapi sebuah jimat dari kuil disalah satu daerah dijepang ini, dulu aku pernah memberikan jimat yang sama seperti ini, untuk seorang wanita yang spesial,tapi,,,dia tidak menganggap aku sama."
Laura langsung mengalihkan pembicaraan dengan pria itu.
"Maaf tuan , aku tidak bisa berlama-lama disini jadi harus segera pergi."
"Ya,ini aku kembalikan."
__ADS_1
"Terimakasih."
Laura bergegas untuk pergi tapi sebelum membalikkan badannya,
"Tunggu nona,apa wanita yang telah memberikan benda itu kepada kamu,apa dia,,Hem maksud ku kamu punya alamat rumahnya?."
"Aku tahu ,tapi apa tuan ingin pergi kesana untuk menemui wanita itu, kemungkinan besar tuan tidak akan bertemu dengannya karena wanita sudah meninggal,jadi saya permisi dulu tuan."
Wajah dan hati pria itu bertambah rumit.
Laura meninggalkan ruangan itu dan segera pergi menuju ruangan kerjanya,saat sudah didalam dia langsung menutup pintunya dengan sangat rapat.
Dia langsung melihat jimat yang diberikan oleh ibunya itu dengan tatapan rumit.
Ibu,maaf aku sudah ceroboh sampai-sampai orang itu mengetahui tentang kepergian mu.fikir laura
Ditempat lain,diruangan vip karaoke tadi pria itu sedang melakukan panggilan telepon,
"Halo,apa kamu sibuk Tanaka?."
"Tidak paman,aku sedang berada diruangan pribadiku dilantai dua puluh."
"Aku akan mampir sebentar,ada yang ingin aku tanyakan."
Sedangkan Tanaka yang menerima panggilan telepon dari pria itu sedikit terkejut karena tidak biasanya orang itu ingin menemuinya.
"Ya tentu saja paman,aku tunggu kedatangan paman diruang kerja lu."
"Baiklah, terimakasih."ucap pria itu langsung menutup panggilan telepon.
Sedangkan diruangan Tanaka.
"Apa itu dari paman mitsuya tuan."
"Iya dia ingin mampir kesini."
"Ada perlu apa tuan,apa kita sudah menyinggungnya."
"Tidak,dia hanya bilang ingin pergi untuk menanyakan sesuatu."
"Sangat jarang tuan mitsuya ingin bertemu dengan seseorang,apa dia sedang dalam masalah."
Laura masih duduk didalam ruangannya,dia termenung sambil mengingat kejadian dulu saat ibunya re'iko masih hidup.
Saat itu Laura masih berumur dua belas tahun .
"Mami,sedang apa?." Ucap Laura yang sedang melihat ibunya membuka sebuah kotak dari lemari saat sedang membersihkan ruangan.
"Laura sudah pulang?,mami Sedang bersih-bersih rumah sayang,"
"Iya mami,itu kotak apa mami."
"Oh ini jimat keberuntungan,coba Laura pakai."
"Pakai dimana mami."
Re'iko membantu Laura memakai jimat itu dipergelangan tangannya seperti memakai gelang,dan gelang itu jugalah yang menjadi saksi bisu kecelakaan yang menimpa Laura sampai menyebabkan dia koma selama satu tahun.
"Wah,bagus sekali mami,apa boleh ini untuk Ra,mami."
"Boleh dong sayang."
"Terimakasih mami."
Kembali ke Laura yang masih menatap jimat itu,
Setelah waktunya pulang,Laura bergegas pergi menuju ruangan Tanaka.
Setelah tiba didepan pintu ruangan Tanaka.
Tok,tok
"Silahkan masuk nyonya."
"Iya terimakasih Ichiro."
"Sayang,kalau mau pulang lebih dulu aku tidak apa-apa."ucap Tanaka sambil memeluk laura
__ADS_1
"Tidak,aku mau menunggu kamu saja sayang."
Laura melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada didalam ruangan itu.
"Sayang, kamu sudah makan,apa mau pesan camilan."
"Aku mau kripik kentang saja sayang."
Tanaka meminta salah satu pengawalnya untuk membelikan kripik kentang.
"Sayang,apa tadi kamu bertemu dengan seseorang."
"Siapa?."
"Tadi seorang kenalan aku melihat gelang yang kamu pakai katanya mirip sekali dengan jimat yang dia berikan untuk seorang wanita yang dia cintai."
"Iya dia juga sudah mengucapkan itu kepadaku tadi diruang karaoke."
"Jadi wanita itu sudah meninggal?."
"Ya, sayang."
"Jadi kamu tahu wanita itu sudah meninggal dunia,dapat informasi dari siapa?."
"Wanita itu adalah ibu mertua kamu sayang, ibuku."
Tanaka sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Laura,
"Apa yang dia tanyakan kepada kamu, sayang."ucap Laura sambil memakan keripik kentang dan melihat kearah Tanaka
"Dia hanya bertanya dari mana kamu berasal dan aku menjawab.
Kembali kesaat mitsuya menemui Tanaka.
"Paman."
"Hem."
"Silahkan duduk,ada apa paman datang kesini apa yang ingin paman tanyakan."
Mitsuya duduk sambil menyilang kan kakinya.
"Wanita yang dibar, yang berambut pirang siapa namanya?."
Tanaka tertegun sejenak ternyata paman mitsuya tertarik dengan Laura, istrinya
"Namanya Laura, memangnya ada apa?."
"Apa dia berasal dari Amerika?."
"Ya tentu saja paman ,dia memiliki dua warganegara Jepang Amerika, dia juga sudah menikah tentunya."
"Menikah?."ucap mitsuya dengan alis terangkat satu
"Iya dan kalau paman mau tahu ,pria beruntung yang sudah bisa membuat Laura menikahinya,itu adalah aku,Laura itu istriku."
Mitsuya langsung menggebrak meja kerja Tanaka.
"Tidak bisa,kalau memang wanita itu adalah anak dari wanita yang aku cintai seharusnya dia menikah dengan anak ku,apa kamu mengerti."
Tanaka langsung wajahnya berubah gelap.
"Dia istri ku dan tetap akan menjadi istriku selamanya,perjanjian lama yang paman lakukan dengan kakek tua itu tidak ada hubungannya dengan Laura, dan jangan pernah sekalipun paman menyentuh tubuhnya,."ucap Tanaka dengan sedikit mengancam
"Oh,jadi seperti ini balasanmu untuk semua yang telah aku lakukan."
"Apapun akan aku lakukan untuk menjaga Laura,bahkan harus menjaganya dari paman."
Mitsuya berdiri dari duduknya dan langsung bergegas pergi,tapi sebelum dia keluar dari pintu.
"Cuma karena seorang wanita kamu berani menentang ku , Tanaka?."
"Bahkan paman lebih memalukan, hanya karena seorang wanita,paman tidak bisa membuka hati untuk wanita lain dan lebih memilih untuk tidak menikah sampai sekarang hanya demi wanita yang sudah pergi dengan kekasihnya."
Mitsuya hanya memejamkan matanya sebentar lalu bergegas pergi.
______________________________________________
__ADS_1
bersambung
(^∆^)