
Mereka kembali kemobil, kearah jalan pulang,setibanya dirumah.
"sayang mau masak apa hari ini?."
"bikin rebusan saja ya.."
"sini aku bantu.."
" bantu ngeribetin?."
" iya lah ,iseng saja kalau tidak gangguin kamu sehari saja seperti ada yang kurang gitu."ucap Tanaka Sambil tersenyum menggoda Laura
"tidak perlu, kamu tunggu saja diruang tengah atau siapin meja sama kompor listrik disana itu.
Tanaka sambil memeluk erat tubuh Laura dari belakang.
"nanti saja sayang,aku masih mau berdua sama kamu."
"dasar mesum?."
"kalau aku tidak mesum,kamu tidak akan luluhkan hatinya, Pasti masih sama seperti dulu selalu menghindar , Kabur dari aku , Sampai-sampai, aku minta semua karyawan untuk laporan setiap saat kamu ada dimana."
"iya aku sudah tahu."
"tahu dari mana?."
"tahu saja tidak mesti dari mana-mana,kamukan bos yang paling ditakuti disana."
"itu tahu, kok kamu bisa tidak takut sama aku,Itu yang membuat aku penasaran,Sayang."
"untuk apa takut sama orang yang sama-sama makan nasi,aku memang tidak takut tapi aku menghormati kamu,karena bagaimanapun ngeselinnya kamu itu bos aku,kalau aku mati ditangan kamu juga ya sudah takdir."
Tanaka ,dia langsung menghentikan kegiatan yang laura lakukan dan menatapnya tajam.
"siapa yang sudah bicara terlalu banyak sama kamu?."
"kalau aku bilang tidak ada apakah kamu percaya?."
"tidak mungkin."
"kamu saja tidak percaya padaku untuk apa kamu mau memulai hubungan ini."
Tanaka hanya diam dan masih memandangi Laura
"sudah berapa banyak orang yang sudah kamu bunuh dengan pedang yang ada dimeja kerjamu."
"cukup Ra ,kamu tau dari siapa?."
"kamu percaya kalau aku bilang pedangmu yang berbicara padaku?."
"cukup omong kosong ini Ra,siapa yang beritahu kamu?."
"kamu saja tidak percaya padaku bukan?."
Tanaka hanya diam dengan tangannya mencengkram erat tangan Laura, sampai Laura meringis kesakitan lalu dia melepaskan cengkraman tangannya dari tangan laura,dia langsung memeluknya erat sambil bergumam ditelinga Laura
"apa kamu membenciku sayang?."
" benci,aku tidak benci!."
Tanaka langsung melihat kearah Wajah laura
"aku sudah tahu dari awal kita bertemu saat interview ,belum lama kamu memakai pedang yang ada diatas meja masih membekas darah kering dan itu darah manusia, Itu yang sudah membuat 10 wanita itu takut."
__ADS_1
"kamu bisa membedakan?."
" iya, dulu saat diamerika aku bekerja dan sering melihat darah,tapi aku tidak ingat dulu aku bekerja dimana."
"kamu ahli forensik?."
"auw."tiba-tiba kepala Laura mulai sakit saat ingin mengingatnya.
"jangan terlalu diingat nanti kamu sakit."
"iya."
Tanaka langsung mencium bibirnya dan Laura langsung merespon ciumannya .
"jangan membenciku ya sayang."Pinta tanaka
Laura hanya menganggukan kepalanya dan mereka melanjutkan ciuman panas itu.
"sudah kita siap-siap makan, yang pasti sudah pada kelaparan."
Tanaka hanya mengangguk dan tersenyum,Tapi dia meminta Ichiro untuk mengetahui latar belakang semua yang bersangkutan dengan laura dan semua informasi dari Amerika apa pekerjaannya,mereka hanya melakukan jalan buntu karena atasan dan negara sudah memblokir dan menganggap kalau laura sudah mati, karena itu permintaan bibi saat melihatnya koma, Supaya Laura bisa hidup normal seperti wanita pada umumnya, mereka duduk bertiga sambil menyantap hidangan yang tadi sudah disiapkan.
Tanaka dan Kak Steven tampak akrab makan bersama, sepertinya Tanaka sangat bisa menerima keterbatasan Steven,dia sangat memaklumi kondisi kakak,Sudah selesai makan Laura melanjutkan istirahat sambil nonton televisi dan Tanaka ikutan juga, Dia berusaha duduk disofa dibelakangnya
"sayang, duduknya majukan sedikit." Pintanya
"kamu mau duduk, disini masih lega disamping aku."Jawab Laura
"aku mau duduk dibelakang kamu sambil peluk kamu dari belakang sayang,masa tidak paham juga sih."
Akhirnya Tanaka duduk disofa lalu menarik mundur tubuh Laura untuk duduk dipangkuannya.
"nah aku maunya duduk seperti ini."
"nanti kamu tidak mau dan tinggalin aku pergi, Kamu dulu suka begitu sayang."
Laura berfikir dan memang benar juga tapi entah kenapa belakangan ini Laura sangat senang berada didekat tanaka,Tapi tetap Laura menyembunyikan perasaan itu, karena malu .
"sayang,tidak membenciku?."
"kalau kamu mau memulai sesuatu hubungan dan tidak ada rasa percaya satu samalain lebih baik tidak usah."
"ih jangan gitu dong,aku percaya sama kamu sayang,Jadi hari ini kita sudah resmi pacaran."
"kata siapa?."
"kamu barusan bilang kalau mau memulai hubungan harus saling percaya Gitu ,berarti kita sudah berhubungan itu artinya kita pacaran."
" ya tidak begitu juga,aku tidak mau pacaran."
"terus maunya langsung nikah,Hayu besok kita nikah."
"kamu ya sembarangan banget kalau bicara,memang nikah itu gampang nikah itu cuma satu sampai dua hari,aku maunya satu untuk selamanya,Memang kamu bisa, cewek saja dimana-mana."
"kamu cemburu sayang,Hayu kita nikah."
"siapa juga yang cemburu? Wanita yang mengejar kamu itu tidak selevel denganku."
"iya, aku paham kamu cemburu,sumpah sayang aku tidak punya wanitalain semenjak ada kamu dihatiku,cuma kamu sayang, percaya sama aku."
"Gombalnya langsung keluar, aku masih ragu,sama kamu."
"Jagan ragukan cintaku ini sayang,harus percaya."ucap Tanaka sambil berciuman
__ADS_1
"iya aku percaya ya sama kamu, tapi lihat saja besok kalau sampai aku lihat ada wanita yang mencari-cari kamu lagi awas ya."
"iya aku janji sayang."
"taruhannya apa?."
"Hem, jangan pakai taruhan dong, kamukan kalau taruhan ujung-ujungnya minta tidak ketemuan seperti waktu itu yang dikantor aku."
Flash back, saat Tanaka mencoba menjebak Laura dengan sebuah permainan
Hari itu,Laura diminta keruangan kerja Tanaka.
"iya tuan ada apa panggil aku?."
"sini masuk, Kamu bisa main permainan apa sayang?."
"bisa,kalau panggil tidak perlu pakai sayang segala."
"haahahhaaha sudah menjadi kebiasaan,kamu bisa main apa?."
"poker, mungkin."
"Ichiro kamu dengar dia, ambilkan kartunya."
"ini tuan."
"silahkan duduk."
"disini banyak orang, kok malah main sama aku?."tanya Laura dengan wajah binggung
"kita main tapi ada hadiahnya?."
"apa hadiahnya?."
"siapa yang menang akan menerima satu permintaan apapun itu."
"Tidak jadi, aku mau pergi saja."
"eh tidak bisa, kamu sudah memilih sendiri permainannya, tidak boleh kabur."
"tapi aku dijebak,tadi kamu yang tanya, Dasar licik."
Tanaka hanya bisa tertawa puas karena laura sudah tahu maksudnya.
"Hayo Ichiro bagi kartunya."
"ye tuan."
"dasar bos nyebelin."
"bodo, yang penting aku sudah berhasil."
"awas ya akan aku balas perbuatan kamu ini tuan."
"iya, aku tunggu tapi sebelum itu kita selesaikan dulu taruhan kita ini,Ingat yang menang dapat satu permintaan apapun."
"dasar bos otak mesum ,pasti kamu akan meminta keperawananku,awas saja kalau berani menyentuhku,satu helai rambut saja aku patahkan tangan dan kaki mu."ucap Laura sambil memegang bagian dadanya
Mendengar itu Tanaka hanya tertawa .
______________________________________________
bersambung
__ADS_1
(^∆^)