Takdir Cinta Yang Rumit

Takdir Cinta Yang Rumit
sudah saatnya


__ADS_3

Ditempat lain dilantai lima puluh satu, mitsuya sedang berlatih dengan pedangnya,lalu pengawal bergegas pergi menghampiri,pengawal itu membisikan sesuatu,


"Benarkah,."ucap mitsuya sambil melirik kearah bawahannya itu.


"Ya,tuan,dia kakak dari nona Laura yang bernama Steven."ucap pengawalnya lagi.


"Menarik."


Setelah selesai berbincang mitsuya kembali melakukan latihannya.


Sedangkan ditempat lain, dilantai dua puluh Steven sudah memasuki ruangan milik Tanaka,


Tanaka yang melihat kakak iparnya datang, langsung bergegas mendekati Steven.


"Kakak ipar."


"Laura dimana."ucap Steven tanpa basa-basi


Tanaka yang melihat wajah tegang sang kakak iparnya itupun langsung mengerti dan membawa dia pergi menemui Laura yang sedang duduk didalam kamar rahasia milik Tanaka.


Saat Steven masuk kedalam kamar itu, dia melihat sang adik tengah tertidur lelap.


Steven melangkah mendekati Laura dan Langsung tersenyum kecil.


"Adik nakal,hah."ucap Steven sambil menyelimuti tubuh laura.


Tanaka yang melihat interaksi antara kakak beradik itu hanya diam sambil tersenyum.


"Apa Laura sudah membuat paman mitsuya marah?."ucap Steven sambil menatap kearah Tanaka


"Iya begitu lah kak,apa kakak juga mengenal paman mitsuya."


"Tentu saja."ucap


Setelah waktu berjalan, sekarang sudah memasuki waktunya pertarungan.


Laura sudah bersiap dengan pedangnya, saat Tanaka melihat kearah istrinya yang kini bagaikan seorang samurai,dia sangat takjub,dia bahagia karena bisa memiliki istri seperti Laura.


"Sayang,."ucap Tanaka sambil mendekati Laura


"Iya sayang ku,kenapa?,apa penampilan aku sekarang terasa aneh untuk kamu?."ucap Laura sambil tersenyum


Tanaka mengenggam tangan Laura lalu mencium punggung tangannya.


"Bukan begitu sayang,hanya saja kamu terlihat luar biasa."


Steven terlihat biasa saja saat melihat penampilan Laura karena itu hal biasa untuk dirinya.


"Kakak."ucap Laura sambil melihat kearah Steven


"Kamu sudah siap?."

__ADS_1


"Tentu saja,dan aku pasti akan menang."ucap Laura dengan sedikit tersenyum


Steven sangat mengerti,kalau adiknya sudah berkata seperti itu,dia akan baik-baik saja.


Sudah waktunya Laura pergi keatas gedung untuk melakukan duel dengan mitsuya.


Bersama dengan beberapa orang yang ikut termasuk Steven dan juga tanaka, setelah sampai disana,Laura sudah melihat keberadaan mitsuya beserta beberapa anak buahnya.


"Anak muda zaman sekarang sudah tidak punya sopan santun, yang tua dibiarkan menunggu,Ais."ucap mitsuya dengan nada sinis


Laura dan Steven hanya melemparkan senyumannya.


"Maaf, kalau yang muda ini sudah membuat paman mitsuya terlalu lama menunggu." Ucap Steven yang maju dan berdiri didepan Laura.


Mitsuya sangat intens memandang kearah Steven,pria muda ini walaupun terlihat seperti orang yang memiliki penyakit autisme tetapi,dia bisa melihat jelas potensi yang dimiliki oleh Steven.


"Kamu Steven,benar."


"Iya ,paman mitsuya senang bisa bertemu dengan mu."


"Apa kamu kesini ingin menantangku juga?."


"Tidak paman,aku hanya ingin memastikan kalau adikku akan menang melawan paman."ucap Steven sambil tersenyum


Semua orang yang berada disana langsung tertegun sejenak, sedangkan dari pihak mitsuya hanya tertawa lepas, mendengar kedua bersaudara itu sangat terlalu percaya diri.


Steven melihat kearah kebelakang,terlihat Laura sudah tersenyum kecil,lalu dia maju untuk berada disamping kakaknya itu.


"Ya,kakak."


"Jangan sampai lengah dan kalah."


"Yokay."


Setelah Laura maju untuk bertanding, Steven membawa Tanaka untuk duduk, sangat jelas diwajah Tanaka kalau dia sangat mencemaskan istrinya itu, bagaimana tidak,lawan yang Laura hadapi itu sudah memenangkan setiap kejuaraan pedang seantero Jepang.


Laura dan mitsuya sudah saling berhadapan dengan memberikan hormat kepada satu sama lain,mereka mengeluarkan pedang andalan masing-masing,saat melihat pedang yang akan dipakai oleh Laura, mitsuya sangat mengenali pedang itu.


"Pedang yang sangat bagus seperti itu, diturunkan kepada seorang wanita."


"Iya,dulu kakek sangat menentang dikala aku ingin ikut berlatih ilmu pedang, hanya kak Steven yang dibolehkan,tapi karena aku anak yang berkeinginan kuat jadi kakek menyerah untuk melarang ku."


Mitsuya memasang wajah biasa,lalu mereka mulai berduel,suara denting pedang beradu mulai terdengar sangat keras.


Laura dan mitsuya sama-sama memiliki gerak lincah dan tenang, sampai-sampai mitsuya sempat berfikir kalau dia tidak sedang melawan orang lain,tapi melainkan dirinya sendiri.


Semua pengawal mitsuya sangat merasa heran,saat mereka semua melihat tuannya terlihat kuwalahan menghadapi wanita itu, anak dari cinta sejatinya.


Laura dari luar sangat mirip dengan pria saingannya itu,tapi perasaan,sifat tenang dalam menghadapi musuh,permainan pedang yang sangat handal,Laura begitu mirip dengan dirinya sendiri.


Saat Steven melihat kearah wajah mitsuya yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Paman mitsuya,apa kamu tidak penasaran dengan semua gerakan yang dilakukan oleh Laura,ada yang bilang musuh yang sangat berat untuk dilawan itu adalah diri sendiri bukan,,,jadi saat kamu melawan adikku,apa kamu merasa sedang melawan diri kamu sendiri."


Mitsuya terkejut dengan ucapan Steven,


Anak ini,dia sangat tahu apa yang sedang aku fikirkan,fikir mitsuya


"Aku memang mendengar rumor kalau Laura adalah seorang mantan agen mata-mata hebat saat diamerika,tapi tidak ku tahu kalau permainan pedangnya sangat mengagumkan."


Ucapan dari mitsuya sontak membuat siapapun yang berada disana menjadi sangat takjub,karena sudah lama sekali mitsuya tidak memuji kehebatan orang lain, apa lagi ini cuma seorang wanita.


Laura melanjutkan pertarungan dan dengan gerakan cepat dia mematahkan serangan mitsuya sehingga pedang yang tadinya berada digenggaman tangan mitsuya terpental jauh,lalu Laura menjulurkan pedagang tepat didepan wajah mitsuya.


"Paman kalah."ucap Laura


Setelah mengucapkan kalimat itu Laura memasukkan pedangnya lalu mengulurkan tangannya kearah mitsuya,itu membuat mitsuya tertegun sejenak,apa yang dimaksud dengan uluran tangan ini.


"Untuk apa kamu mengulurkan tangan kepadaku,apa untuk membuat aku mengaku kalah kesemua orang."


Laura hanya menggelengkan kepalanya dengan pipi yang sedikit mengembung.


"Semua ucapan mami memang benar, paman mitsuya sangat sombong,huh."


Ucapan Laura membuat mitsuya salah tingkah.


"Hey,apa yang sudah mami kamu katakan tentang aku kepada kalian,hah, wanita itu."


"Mami bilang kalau paman mitsuya adalah pria sombong,keras kepala dan menyebalkan,tapi,,,,."


Saat mendengar semua yang Laura ucapkan,wajah mitsuya sudah berubah sangat merah,tapi saat mendengar ucapan Laura terpotong,dia sangat antusias untuk mendengarkan kelanjutannya.


"Apa katakan,mami kamu itu mengatai apa lagi."


"Mami hanya bilang kalau paman memang terlihat keras dari luar,tapi hati paman mitsuya sangat lembut,itu saja,dan dia juga bilang kalau sifatku sangat mirip dengan paman mitsuya,."ucap Laura sambil tersenyum


Laura lalu berbalik arah ke Steven yang ada dibelakangnya.


"Kakak,aku memang yey, apakah kakak bangga kepada ku?."ucap Laura dengan sangat manja kearah Steven.


"Tentu ,adikku memang sangat luar biasa." Ucap Steven sambil mengelus lembut pucuk kepala Laura.


Laura sangat senang saat dipuji oleh kakaknya sendiri.


Laura beralih kearah Tanaka untuk memeluk suaminya itu.


"Sayang,aku menang."


"Iya sayangku memang hebat."


___________________________________


bersambung

__ADS_1


(^∆^)


__ADS_2