Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
10 BUKAN LAMARAN IMPIAN


__ADS_3

Dalam perjalanan mengantarkan aku pulang, kami masih terdiam. Adit fokus melajukan mobilnya dengan tenang, tapi entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Sepertinya pikiran kami masih sama-sama berkutat pada topik di rumah Adit tadi.


Aku pun sama, tak menyangka secepat ini kami membicarakan tentang hal yang sangat penting, yaitu pernikahan.


"Sayang.."


Setengah jam perjalanan akhirnya Adit bersuara. Dalam hati aku merasa lega Adit tidak berlama-lama diam.


"Ya..?"


Belum juga aku mengatupkan mulutku, tiba-tiba Adit sudah menggenggam tangan kananku, tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya masih ke arah depan, tetap fokus untuk menyetir.


Aku merasakan genggaman tangannya semakin erat, hingga membuat debaran-debaran di dadaku semakin kencang.


Kutatap wajah Adit selekat mungkin, aku tersenyum memandangnya. Menikmati lekuk-lekuk wajahnya, helai demi helai rambutnya yang sedikit teracak, sorot matanya yang tajam menatap jalanan.


Seketika hatiku menjadi hangat hanya dengan memandanginya. Aku membalas genggaman tangannya, mencoba mengalirkan kehangatan yang sama untuknya. Kupererat genggamanku sambil terus menikmati raut wajahnya.


Adit tersenyum, meski pandangannya masih lurus ke depan. Sepertinya, senyum itu menyiratkan sebuah kebahagiaan.


"Terima kasih, sayang. Aku butuh genggaman ini untuk menguatkan hatiku.." Ucapnya dengan sangat lembut.


Adit melepaskan genggamannya, kemudian dia menepikan mobil dan menghentikannya tepat di deretan sawah hijau yang terhampar di sisi kiriku.


Selesai mematikan mesin mobil dan membuka kaca jendela, dia kembali menggenggam tanganku dan menatapku dengan pandangan teduhnya.


"Sayang, rasanya baru kemarin kita menjalani hubungan ini. Dan tiba-tiba hari ini kita sudah mulai membicarakan tentang pernikahan.."


Aku tersenyum dan kembali membalas genggamannya.


"Sejujurnya tadi aku sangat kaget Dit.."


Tangan kanan Adit merapikan sebagian rambut yang menutupi wajahku karena sapuan angin dari luar jendela mobil.


"Aku juga kaget, sayang. Terlebih lagi, sekarang akulah yang harus menyampaikan hal ini pada orangtuamu.."


Helaan nafas yang panjang keluar dari mulut Adit. Aku tahu, dia tengah gusar, mungkin takut, atau ragu. Aku pun merasakannya.


"Ada aku bersamamu.." Kucoba meyakinkannya. Seulas senyum nampak di bibirnya.


Tak jauh dari tempat kami, nampak sebuah kedai minuman. Adit keluar dari mobil, berjalan menuju kedai tersebut.


Tak lama dia kembali dengan beberapa botol minuman dingin di tangannya dan memberikan satu botol untukku.


Orange juice..! Kali ini aku tersenyum bukan pada Adit, tapi karena sebotol orange juice di tanganku dan memori lama tentangnya..


Cintaku Berawal Dari Sebotol Orange Juice, seperti itu kira-kira kalau jadi judul FTV, hahaa...

__ADS_1


Atau, Romansa Dalam Sebotol Orange Juice, hihii..


"Sayang.." Suara Adit membuyarkan fantasiku, kembali ke alam nyata.


"Kalau nanti orangtuamu sependapat dengan keinginan orangtuaku tadi, kita bagaimana..?" Pembicaraan kami mulai serius kembali.


"Mau kamu gimana..??" Kubalikkan pertanyaan padanya, kebiasaanku.


"Secepat ini ternyata, orangtua kita merespon hubungan kita. Aku bahkan belum menyiapkan diriku sendiri untuk menghadapi ayahmu dan membicarakan tentang pernikahan kita.."


Kali ini kulihat wajah Adit benar-benar terlihat tegang. Ada gurat kekhawatiran dan juga ketakutan di sana.


"Adit yang aku kenal bukan Adit yang seperti ini.."


Aku berusaha mencari kata demi kata yang tepat untuk mengembalikan kepercayaan dirinya.


"Adit yang aku sayangi, adalah Adit yang selalu bisa menguasai keadaan, tidak hilang akal untuk tetap menghidupkan suasana.."


"Adit yang aku cintai, adalah Adit yang bertanggung jawab, Adit yang menjaga cintanya hanya untuk satu orang di hatinya, dan dia pasti bisa memenangkan cinta itu dengan caranya sendiri..!!"


"Jadilah Adit yang aku cintai, sayang.."


Entah datang dari mana keberanianku ini, hinga kata cinta dan sayang terucap begitu saja mewakili rasa di hatiku.


Aku bertahan untuk tidak meneteskan air mata. Saat ini aku hanya ingin berbagi kekuatan untuk Adit, bukan menambah bebannya dengan sifat cengengku. Aku tahu, Adit paling tidak bisa melihatku menangis.


Adit tertegun tak percaya mendengar aku menyatakan perasaanku. Sebelumnya kuakui, aku tidak pernah mengumbar kata sayang atau cinta padanya. Tapi kali ini aku tahu, saat ini Adit membutuhkan itu..!!!


"Katakan sekali lagi, sayang..! Aku tidak salah dengar kan..?" Pintanya penuh asa.


Aku tersenyum, aku tarik kedua tangannya, aku menggenggamnya erat-erat.


"Tak hanya sekali, aku akan terus mengatakannya, kalau itu bisa membuatmu lebih tenang dan selalu memberimu kekuatan.."


"Aku mencintaimu, sayang. Jadi jangan kecewakan aku..!"


Hanya dengan satu kalimat cintaku, sudah bisa mengembalikan senyum Adit yang sebelumnya pudar. Melihat senyumnya kembali merekah, aku merasa lega. Aditku telah kembali..


Dalam hati, ku pikir-pikir kalimat cintaku bisa juga jadi jurus sakti andalanku untuk menghadapi Adit nih. Kayaknya dia takluk banget dengan kalimat cintaku, ahaa..


"Terima kasih banyak, sayang. Aku tidak akan mengecewakanmu, aku janji...!" Senyum lebar terkembang di wajah Adit.


Dengan penuh semangat Adit bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami. Setelah menutup kembali kaca jendela dan hendak menyalakan mesin mobil, Adit kembali terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu.."


Nada suaranya meminta ijinku. Dan segera ku anggukkan kepala, siap mendengarkannya.


"Aku tahu, mungkin masih lama untuk kita sampai pada pernikahan yang sesungguhnya. Karena kita masih harus menyelesaikan kuliah kita dulu."

__ADS_1


"Tapi karena hari ini, orangtuaku sudah memintaku untuk menyampaikan hal penting ini pada orangtuamu, aku pikir aku pun harus menyampaikan ini padamu terlebih dahulu.."


Aku menyimak setiap kalimat yang diucapkan Adit. Dia pasti akan mengatakan suatu hal yang di luar dugaanku, dan benar saja...


"Sayang, maukah kamu menikah denganku..?"


Tanpa kusadari, kedua tanganku sudah berada dalam genggaman tangan Adit, terasa hangat dan lembut...


Heiii Dinda.., kamu dilamar..!!! Dilamar di tepi jalan di siang bolong seperti ini.. Oohhh.., sungguh tak ku percayaaa..., tak romantis sama sekali...!!! Pekikku dalam hati...


Aku menahan tawaku sendiri, tapi tak bisa. Adit pun melihat ekspresi mulutku yang sudah menggembung ingin meledakkan tawa.., dan akhirnya terlepas juga tawaku...


"Kenapa kamu malah tertawa, sayang..?!?"


Ekspresi bengong di wajah Adit pun tak pelak membuatku semakin tergelak. Sesegera mungkin aku hentikan tawaku walau terasa sangat sulit..


"Maaf.., maafkan aku. Aku hanya merasa kalau kita adalah pasangan terunik di dunia ini, sayang.." Aku masih sedikit tergelak.


"Memangnya kenapa..?!" Adit masih tak mengerti juga.


"Lihatlah kita ini, sayang. Lihat sekitar kita..."


"Apa kamu tidak menyadarinya.., kamu melamarku, di dalam mobil di tengah perjalanan dengan cuaca panas seperti ini. Kamu benar-benar tidak romantis, sayang.."


Aku kembali tergelak lebih keras setelah mengatakannya. Sementara Adit yang mulai menyadarinya, mulai ikut tertawa juga sambil garuk-garuk kepala. Akhirnya kami berdua tergelak bersama-sama...


"Maafkan aku, sayang. Hari ini semuanya terjadi dengan tak terduga. Maafkan kalau aku harus melamarmu dengan keadaan seperti ini.."


Tawa kami sudah mereda, menyisakan senyum di antara tatapan mata kami berdua.


"Aku memaafkanmu.., tapi aku minta kamu melakukannya lagi, nanti di waktu dan suasana yang tidak seperti ini lagi. Kamu mau kan..?"


"Aku akan mengulanginya dengan lebih istimewa lagi, sayang.."


"Tapi tadiii.., kamu belum menjawabnya??"


Ooopss, aku lupa, tadi aku terlalu syok hingga langsung meluapkan tawaku tanpa menjawabnya.


"Ok.., aku akan menjawabnya sekarang."


Aku terdiam sejenak, menarik nafas dan...


"Ya sayang, aku mau. Aku mau menikah denganmu.."


Kami berdua tersenyum dengan aura bahagia yang sama, dengan cinta yang sama, dengan keyakinan yang sama. Rasanya saat ini, kebahagiaan hanya milik kami berdua.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2