Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
11 (BUKAN) PERJODOHAN - PART 1


__ADS_3

Sampai di halaman rumah kesayanganku. Sudah ku bayangkan nyamannya tidur di kamarku, akan bisa ku nikmati setelah ini.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.."


Aku sudah bersiap untuk keluar dari mobil tapi ku lihat Adit masih diam terpaku di belakang kemudi. Aku urungkan niatku semula. Aku hanya tetap duduk di sampingnya, tanpa suara, menunggunya.


Mungkin dia butuh waktu untuk menyiapkan diri menghadapi Ayah. Aku tetap diam menunggunya, hingga akhirnya Adit menyadari aku masih di sisinya.


"Kenapa tidak segera turun?"


"Menunggu kamu, calon suamiku.."


Ahaa.., dalam hati aku tertawa geli sendiri setelah mengucapkannya. Muka Adit yang semula sedikit suram seketika menjadi berbinar.


"Terima kasih, calon istriku tercinta..."


Aku semakin terkekeh dalam hati, seperti dialog dubbing dalam drama-drama televisi saja kami ini.


"Sayang, bolehkah aku minta ijin untuk memelukmu sebentar?" Adit sepertinya ragu mengucapkannya.


Selama ini dia memang sangat menjagaku, tidak ingin membuatku tak nyaman, sehingga dia selalu memastikan apa pun yang dia lakukan tidak akan membuatku marah atau pun kecewa.


Aku diam menatapnya. Tak kujawab pertanyaannya. Hanya kubuka kedua tanganku terulur ke arahnya.., dengan degup jantung yang mulai tak normal lagi, dengan nafas yang mulai tertahan pelan-pelan seakan ingin berhenti.


Adit segera mendekatkan tubuhnya ke arahku dan dengan satu gerakan, aku sudah terengkuh dalam pelukannya yang hangat.


Tubuh kami menyatu dalam kebisuan, hening. Pelukan Adit semakin erat dan aku beranikan diri untuk membalas, memeluknya dengan erat.


Aku bisa merasakan degup jantungnya, debaran di dadanya, juga tarikan nafasnya yang semakin dalam. Hatiku merasakan kehangatan itu, kehangatan cinta. Hanya cinta, bukan nafsu..


Tak lama, hanya sebentar seperti pintanya tadi, Adit sudah melepaskan pelukannya.


"Terima kasih, sayang.."


Wajahnya sudah tenang sekarang. Hanya ada senyum manis di bibirnya dan tatapan teduh di matanya.


Berdua kami turun dari mobil, menuju pintu depan yang masih tertutup. Saat melewati teras ku lihat sepintas mobil Ayah sudah terparkir di garasi.


"Ayah sudah pulang.." Bisikku pada Adit.


Dia hanya tersenyum dan berucap, "Bismillahirrahmanirrahim.."


Ku buka pintu mengajak Adit masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara aku langsung masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, Bunda, Ayah. Dinda sudah sampai."


"Waalaikumsalam.."


Terdengar jawaban serentak Ayah dan Bunda dari ruang tengah dan dapur. Ku hampiri Ayah kemudian Bunda, cium tangan mereka, selanjutnya aku menuju kamarku untuk membereskan beberapa bawaanku.


"Oya Ayah, Adit ada di ruang tamu. Aku mau ke kamar sebentar.." Pamitku melanjutkan langkah masuk ke kamarku.


.

__ADS_1


.


.


Ayah beranjak dari duduknya, setelah beradu pandang dengan Bunda dan saling melemparkan senyum, kemudian keluar menuju ruang tamu.


Di sana Adit masih duduk sendiri, diam, mencoba menata hati sebaik mungkin.


"Assalamualaikum, Om.." Segera diucapkannya salam begitu melihat Om Arya, ayahnya Dinda keluar menemuinya.


Dia berdiri menyambut, dan mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk mencium tangan Om Arya, yang dibalas dengan anggukan dan tepukan pelan di bahunya.


"Waalaikumsalam. Apa kabar..?" Tanya Ayah.


"Alhamdulillah, sehat Om. Om dan Tante juga sehat kan?"


Ayah hanya membalas dengan anggukan kepala lagi. Terdiam sejenak, kemudian Adit memberanikan diri memulai pembicaraan.


"Oya, tadi Papa dan Mama titip salam untuk Om dan Tante.."


"Oh yaa, terima kasih. Sampaikan kembali salam dari kami untuk Papa dan Mama kamu ya.." Jawab Ayah ramah dan senyum penuh arti.


"Siap, Om..!"


.


.


.


"Dinda, tolong ini semua kamu siapkan di meja makan. Kalau sudah, segera ajak Ayah dan Adit makan siang ya. Bunda bereskan dapur sebentar.."


Aku segera merapikan meja makan dan menata semua hidangan masakan Bunda. Tak butuh waktu lama, semuanya telah siap.


Aku berjalan ke arah ruang tamu. Ku lihat Ayah dan Adit duduk berhadapan dan saling senyum. Mungkin mereka habis mengobrol, pikirku..


"Ayah, makan siang sudah siap. Kita makan dulu yuk.."


Ayah segera beranjak masuk menuju ruang makan sembari mengajak Adit yang juga langsung berdiri dan mengikuti.


Bunda muncul dari dapur. Segera Adit menghampiri dan mencium tangan Bunda.


"Assalamualaikum, Tante Nina.., sehat Tante?" Sapa Adit


"Waalaikumsalam Adit. Tante sehat. Ayuk, langsung duduk aja, kita makan siang dulu.."


Kami pun segera duduk bersama, menikmati makan siang buatan Bunda yang nikmatnya selalu kurindukan.


Selesai makan siang dan sholat Dhuhur, kami ngobrol bersama di ruang tamu. Sepertinya, inilah saat yang paling mendebarkan untuk Adit dan juga aku.


Kulihat Adit. Dia nampak tenang, walau aku tahu di dalam hatinya pasti sudah berdetak hitungan mundur bom waktu yang makin mendekati saatnya meledak.


"Om dan Tante.., sebelumnya Adit minta ijin, ada yang ingin Adit sampaikan pada Om dan Tante.." Suara Adit terdengar tenang disertai senyum kecil di bibirnya.

__ADS_1


"Ayoo Adit, kamu pasti bisa..!" Supportku dalam hati.


"Silahkan Adit. Ada hal apa?" Ayah pun masih terlihat tenang, menanti Adit menyelesaikan maksudnya.


Adit menoleh ke arahku sebentar. Aku tahu, dia butuh aku di sisinya saat ini. Segera aku berpindah tempat duduk ke sampingnya, karena sebelumnya aku masih duduk di samping Bunda.


"Begini Om, Tante.., Adit ingin membicarakan tentang hubungan kami, hubungan Adit dan Dinda.."


Ayah dan Bunda masih diam dan terus menyimak, menunggu keseluruhan maksud dari Adit.


"Kami berdua berencana, untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Segera setelah kuliah kami selesai, kami ingin menikah. Saya mohon ijin dan restu dari Om dan Tante untuk menikah dengan Dinda.."


Sungguh, walaupun Adit yang menyampaikan, tapi rasanya aku yang sekarat menahan nafasku sendiri.


Dan apa yang diucapkan Adit barusan sempat membuatku terkejut juga, karena dia membawa dirinya sendiri, mengatasnamakan dirinya sendiri dan aku tentunya, padahal sebenarnya yang meminta kami menyampaikan hal ini adalah orangtua Adit.


Dalam hati aku terharu, tak menyangka Adit sanggup mengutarakan semuanya dengan tenang dan penuh percaya diri, tanpa ada persiapan apa pun sebelumnya.


"I'm proud of you, Adit. I love you..!!" Seruku dalam hati.


Fokusku berpindah pada Ayah dan Bunda. Mereka masih diam. Tak sepatah kata pun terucap sedari awal tadi. Ayah kembali sibuk dengan ponselnya, sedangkan Bunda pun tetap membisu. Aku mulai cemas...


Beberapa menit berlalu. Ayah akhirnya meletakkan ponselnya di meja. Menatap kami satu per satu, siap melakukan interograsi.


"Dinda, apa kamu benar-benar yakin dengan Adit? Kamu sudah siap untuk menikah dengan dia?" Cecar Ayah dengan raut sangat serius.


Aku mengangguk cepat. "Ya, Ayah."


Pandangan Ayah berpindah pada Adit. Lurus menatap Adit yang masih tampak tenang tanpa gentar.


"Adit, apa kamu yakin dan serius dengan Dinda? Kamu siap menikahinya dengan segala kewajiban dan tanggung jawabmu nanti, sebagai suami dan imamnya Dinda?"


Aku yang mendengarnya saja takut. Kok kayaknya berat banget ya beban Adit sebagai suami nanti. Ah, aku jadi merasa kalau selama ini aku sudah banyak membebani dia juga. Maafin aku ya Dit, eh.., sayang...


"Insyaallah saya siap, Om..!" Jawab Adit lantang penuh keyakinan.


"Apa kamu juga sanggup untuk menafkahi Dinda sepenuhnya, menghidupi dia dengan layak dan tidak akan menelantarkannya?? Ingat, dia anak kami satu-satunya, anak kesayangan kami.." Tegas Ayah dalam pertanyaannya.


"Insyaallah saya juga sanggup, Om..!" Adit masih menunjukkan keseriusannya tanpa takut sedikit pun.


"Bagaimana kamu bisa menghidupinya, sekarang saja kamu masih kuliah.. Apa kamu mau mengandalkan harta orangtua kamu saja..?" Kejar Ayah lagi.


"Saya sudah lama punya penghasilan sendiri, Om. Sebelum melanjutkan kuliah saya sudah bekerja. Saya juga kuliah dari hasil jerih payah sendiri Om, tidak meminta orangtua saya.." Adit menjawab dengan lebih percaya diri.


Tapi kali ini justru aku yang terkejut dengan pengakuannya barusan. Adit sudah bekerja? Punya penghasilan sendiri? Membiayai kuliahnya sendiri..? Adit, ini kamu sedang berbohong atau bercanda sih..?!


Aku langsung menoleh ke arahnya. Dan dia hanya tersenyum padaku. Duh, Adit. Tolong jangan main-main di saat situasi genting kayak gini deh...!!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2