Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
32 MENCURI WAKTU


__ADS_3

Andi menghentikan mobilnya di tepi jalan yang tidak terlalu ramai dan mematikan mesinnya.


Dia menatap Rinaya penuh kasih, begitu pun Rinaya yang membalasnya dengan tatapan cinta yang sama. Mereka terdiam bersama, larut dalam perasaan yang tengah merajai hati mereka.


"Aku berharap kita berdua akan selamanya seperti ini, Ya. Merasakan cinta yang sama dan menjaganya bersama-sama." Ucap Andi pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Rinaya.


"Iya, mas. Aku juga menginginkan hal itu. Aku ingin selalu bersama mas Andi." Rinaya masih tetap bertahan dengan tatapan lembutnya pada lelaki yang telah dicintainya itu.


"Ya, apa yang membuatmu merasa yakin kepadaku, sementara kita baru saja saling mengenal?"


"Cinta bisa pergi dengan banyak alasan. Tapi cinta datang tanpa ada alasan, mas. Di saat dia sudah menemukan tempat ternyamannya, selamanya dia akan menetap di dalamnya." Jawab Rinaya dengan mantap.


"Seperti itukah yang kamu rasakan padaku?" Tanya Andi lagi. Rinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Andi sungguh merasa sangat dicintai.


"Apakah mas Andi mempunyai alasan atas perasaan mas kepadaku?" Tanya Rinaya.


Andi menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Aku hanya mengungkapkan apa yang hatiku rasakan, dan melakukan apa yang hatiku inginkan."


.


Sesederhana itu cinta. Hanya seperti itu.


.


Andi kembali melajukan mobilnya, mengantarkan Rinaya pulang.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Rinaya.


"Mas, besok aku bawa mobil sendiri ya." Kata Rinaya sebelum turun.


Andi mengangguk walau sebenarnya hatinya tak rela.


"Tapi nanti di saat semua orang sudah mengetahui hubungan kita, aku yang akan menjemput dan mengantarkan kamu." Jawab Andi.


"Iya, mas. Terima kasih karena dua hari ini sudah merepotkan mas Andi." Rinaya tersenyum pada Andi.


"Jangan bicara seperti itu lagi. Aku hanya ingin lebih banyak waktu untuk bersamamu dan saling mengenal satu sama lain." Andi membalas senyum kekasihnya, lalu beranjak keluar mobil dan membukakan pintu untuk Rinaya.


"Aku pulang dulu." Kata Andi sebelum kembali ke dalam mobil.


"Iya, mas. Mas Andi hati-hati ya." Balas Rinaya.


Andi pun berlalu meninggalkan Rinaya yang segera memasuki pagar rumahnya.


.


.


.


Dua minggu berlalu.


Menjelang jam makan siang, Rinaya turun ke cafe untuk mengambil minuman dingin. Sesampainya di bawah, dilihatnya Dinda baru saja menerima kiriman makanan dari seorang driver ojek online.


"Pesan makanan buat siapa, Din?"


Dinda menoleh ke asal suara.


"Oh ini, aku pesan makan siang untuk Adit, sekalian untuk mas Andi. Karena biasanya mereka makan siang bersama, jadi aku bawakan dobel buat jaga-jaga kalau mas Andi belum ada makan siangnya."


Rinaya tersenyum merencanakan sesuatu dalam hatinya.


"Yaaahh, aku makan sendirian lagi deh. Kamu mau pergi, Elisa juga mau pergi sama Farrel." Rinaya memasang wajah sedihnya di hadapan Dinda.

__ADS_1


"Ikut aku aja gimana, Rin? Kita makan siang di kantornya Adit. Kebetulan aku juga belum pesan taxi online." Dinda mengajak Rinaya untuk pergi bersamanya.


Rinaya menahan senyumnya. Rencananya berhasil.


"Aku sih mau-mau aja, Din. Tapi nanti aku jadi gangguin kalian dong.." Rinaya masih pura-pura menolak.


"Emangnya aku di sana mau kencan sama Adit? Kita cuma mau makan siang ya, Rin. Udah gak usah banyak tanya lagi. Siap-siap berangkat yuk." Jawab Dinda.


"Eh tapi nanti makan siangnya kurang dong ini.." Kata Dinda melihat isi pesanannya tadi.


"Aku bawa dari cafe aja biar cepat." Rinaya segera membeli beberapa makanan siap saji yang ada di cafe lalu membayarnya.


Meskipun mereka pemilik gerai, tapi masalah transaksi jual-beli mereka tetap disiplin dan membayar sebagaimana pembeli yang lain.


"Ya udah, aku ambil tas ke atas dulu. Kamu tunggu di depan, Din." Rinaya bergegas ke atas untuk mengambil tas dan ponselnya sekalian pamit kepada karyawannya.


Tak berapa lama mereka berdua sudah berangkat menggunakan mobil Rinaya. Rinaya sudah tahu letak kantor Adit, tapi belum pernah pergi ke sana.


Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di depan kantor Adit. Lalu mereka segera masuk ke dalam kantor. Tak lupa Dinda menemui papa Satrio di ruangannya dulu, sebelum menuju ruangan Adit.


Sampai di depan ruangan Adit, Dinda mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah terdengar suara Adit dari dalam, mereka segera membuka pintu dan masuk ke ruangan Adit.


"Kamu sudah datang, sayang." Sapa Adit setelah melihat siapa yang datang.


"Lho, Rin. Kamu ikut ke sini juga?" Adit menyapa Rinaya sambil berjalan menghampiri Dinda dan mencium keningnya.


Rinaya tampak biasa dengan pemandangan itu karena setiap hari dia sudah sering melihat kebiasaan Adit itu setiap kali menjemput Dinda di gerai.


"Aku ajak dia, dari pada sendirian di gerai, sayang." Jawab Dinda, sambil mengeluarkan makanan yang dibawanya dan menatanya di atas meja, dibantu oleh Rinaya.


"Oya, kalau mas Andi belum ada makan siangnya, kamu ajak ke sini aja." Kata Dinda, sementara Rinaya hanya diam menyimak pembicaraan.


Adit segera menghubungi Andi melalui sambungan telepon kantor di atas meja kerjanya.


Beberapa menit kemudian, pintu diketuk dari luar. Adit segera mempersilahkan masuk.


"Selamat siang semuanya.." Dia tersenyum pada Adit dan Dinda, lalu pandangannya terhenti saat melihat ada Rinaya di ujung sofa yang tengah menatap ke arahnya.


Deg..degg...Deeggg...!!! Pandangan mereka bertemu. Jantungnya berdetak kencang dan dadanya dipenuhi gemuruh cinta.


Rinaya sendiri walau pun tidak terkejut tapi tetap saja hatinya berdebar melihat Andi. Apalagi Andi kemudian duduk tak jauh darinya.


"Ayo buruan dimakan..!" Ajak Dinda memecah suasana. Dan mereka pun mulai menyantap makan siang yang ada dengan tenang. Sesekali Andi dan Rinaya saling mencuri pandang diam-diam dan menahan senyum ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu.


Selesai menghabiskan makan siangnya, Andi pamit kembali ke ruangannya.


"Maaf semuanya, saya kembali ke ruangan saya dulu. Masih ada beberapa pekerjaan yang tertunda tadi." Ucap Andi sopan.


Adit tidak keberatan dan mengiyakan saja.


"Dinda, terima kasih sudah ditraktir makan siang lagi."


Dinda membalas dengan anggukan kepala karena mulutnya masih dipenuhi makanan.


Setelah semua hidangan habis, Dinda dan Rinaya membereskan semua sampah yang tersisa dan membersihkan meja.


Tiba-tiba ponsel Rinaya berbunyi. Dilihatnya ada sebuah pesan dari Andi. Dia tersenyum kecil membaca pesan itu.


"Keluarlah. Aku ada di depan ruangan mas Adit."


Rinaya melirik sekilas, dilihatnya Adit dan Dinda sedang berbincang berdua.


"Din, aku keluar dulu. Ada urusan sebentar." Pamit Rinaya sambil menggenggam ponselnya.


Dinda mengiyakan saja, karena dia berpikir ada supplier yang menghubungi Rinaya dan biasanya pembicaraan mereka akan berlangsung cukup lama.

__ADS_1


Rinaya bangkit dari duduknya dan buru-buru keluar dari ruangan Adit.


Sesampainya di luar ruangan, tangan Rinaya ditarik pelan oleh Andi yang sudah menunggunya.


Dia mengajak Rinaya masuk ke dalam ruangannya yang berseberangan dengan ruangan Adit.


Di dalam ruangan Andi, mereka berdua masih berdiri berhadapan di balik pintu. Jarak yang dekat membuat mereka kembali gugup dan berdebar-debar.


"Ya..." Suara Andi pelan.


"Iya, mas?" Rinaya pun membalasnya dengan lirih.


"Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu akan datang kemari?" Tanya Andi.


"Aku ingin memberikan kejutan untuk mas Andi." Jawab Rinaya.


"Dan aku benar-benar terkejut, Ya..." Andi menatap lekat wajah Rinaya yang sangat dekat dengannya, membuat wajah Rinaya seketika merona malu.


Rinaya menundukkan kepalanya tak kuasa melihat tatapan mata Andi yang teduh dan membuatnya salah tingkah.


"Ayo duduk.." Andi mengajaknya duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya, karena di ruangannya tidak ada sofa seperti di ruangan Adit.


Pertemuan yang tak direncana membuat mereka masih terus menatap dalam diam. Namun tak lama kemudian suasana sudah mulai hangat dengan obrolan-obrolan ringan mereka berdua.


Di ruangan yang lain, Adit dan Dinda masih duduk berdua di sofa.


"Rinaya kalau menerima telepon urusan pekerjaan lama ya? " Tanya Adit.


"Kalau dari supplier biasanya cukup lama sayang, bisa sampai lima belas menitan." Jawab Dinda.


Adit tersenyum lalu tiba-tiba dia mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Aku rindu istriku.." Lalu melanjutkan ciumannya di bibir Dinda yang hanya bisa pasrah dan membalas ciuman suaminya.


Perlahan ciuman itu semakin dalam dan penuh gairah. Mereka sudah saling merapatkan badan mereka dengan tangan yang saling meraba dan menelusuri.


Tangan Adit memeluk erat pinggang istrinya sedangkan tangan Dinda mengalung di leher suaminya.


Mereka terus berciuman dengan mesra, menikmati waktu yang tak lama untuk melepaskan hasrat mereka walau pun sejenak.


Di ruangan Andi, Rinaya melihat jam di ponselnya.


"Mas, sudah hampir lima belas menit aku di sini. Aku kembali ke ruangan Adit dulu ya. Setelah ini kami juga harus kembali ke gerai."


Andi mengiyakan dan mereka pun berdiri bersamaan.


Rinaya berjalan menuju pintu diikuti oleh Andi.


"Terima kasih Ya, sudah memberiku kejutan yang menyenangkan ini." Andi tersenyum bahagia.


"Sama-sama, mas. Selamat bekerja kembali." Rinaya menatap Andi dan melepaskan senyum perpisahan.


"Ya..." Andi kembali memanggil membuat Rinaya menoleh ke arahnya.


"Aku mencintaimu.." Satu ciuman mendarat mesra di pipi kanan Rinaya, membuatnya terkejut dan kembali merona. Dia menunduk menahan malu.


Tangannya hendak membuka pintu tapi masih ditahan oleh Andi.


"Katakan juga untukku, Ya..." Andi meminta dengan lirih.


Rinaya mengangkat kepalanya lagi. Menatap Andi dengan malu dan memberanikan dirinya untuk menjawab.


"Aku juga mencintaimu, mas.."


Andi tersenyum bahagia dan masih terus menatap kekasihnya, membuat Rinaya kembali menunduk semakin malu.

__ADS_1


Kemudian Andi membukakan pintu, memastikan tidak ada orang di sekitarnya lalu mengantarkan Rinaya ke depan ruangan Adit.


Setelah Rinaya masuk, dia pun pergi ke musholla kantor dengan perasaan sangat bahagia.


__ADS_2