Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
79 SALING MELEPASKAN


__ADS_3

Sementara itu di tempat yang berbeda, di waktu yang bersamaan, Adit menghentikan aktivitasnya yang tengah memeriksa dokumen penjualan di atas meja kerjanya.


Tiba-tiba hatinya berdebar cukup keras dengan pikiran yang langsung tertuju pada istri tercintanya.


"Dinda..."


Hatinya bergetar saat menyebut pelan nama istrinya, serasa baru jatuh cinta dan ingin terus bersama dengan sang pujaan hati.


Entah mengapa, dirinya begitu ingin bertemu istrinya dan ingin segera melampiaskan kerinduannya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu dan makan siang bersama.


Tanpa pikir panjang lagi, Adit merapikan semua berkas di meja kerjanya. Setelah itu dia bergegas keluar dari ruangannya dan turun meninggalkan kantornya, tanpa peduli jika waktu kerjanya masih tersisa satu jam lagi.


Kembali pada Bagus dan Dinda yang masih saling diam setelah Bagus mengungkapkan perasaan tersembunyinya selama ini.


"Aku minta maaf, Din. Karena baru sekarang aku berani mengakuinya. Tapi meskipun sekarang sudah terlambat untukku, setidaknya aku masih bisa berharap untuk tetap menjadi teman baikmu seperti dulu..."


Bagus kembali membuka suara. Dia merasa tidak nyaman dengan situasi yang baru saja dia ciptakan sendiri akibat pengakuannya.


Dinda bimbang. Dia kembali ragu untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Bagus. Dia takut itu akan membuatnya terjebak keadaan yang sulit bagi dirinya sendiri.


Namun dia kembali mengingat janjinya pada diri sendiri, bahwa dia harus segera menyelesaikan perasaan masa lalunya, agar ke depannya tidak ada lagi ganjalan yang mengganggu hati dan pikirannya yang hanya akan selalu ada Adit sang suami dan anak-anak buah cinta mereka nanti.


"Aku juga minta maaf padamu, Gus. Kalau pada akhirnya perasaan kita dulu tidak bisa kita satukan seperti harapan kita di masa lalu..."


Raut terkejut dan tidak percaya jelas terlihat di wajah Bagus. Sesaat kemudian sorot matanya mulai meredup menyiratkan sebuah penyesalan.


"Din..., jadi selama kita bersama dulu kamu juga......"


"Ya, Gus. Dulu aku juga mencintaimu dan sempat mengharapkanmu..."


Sebelum Bagus menyelesaikan pertanyaannya, Dinda telah menjawabnya dengan cepat. Secepat rasa sesal dan perih yang datang menyeruak seketika menyesakkan hatinya saat ini.


"Tapi tiba-tiba kamu pergi tanpa pamit dan tanpa kabar lagi, membuat aku dengan berat hati harus mulai belajar untuk melupakan dirimu dan cintaku padamu."


Bagus menarik tubuhnya bersandar ke belakang. Dia merasakan seluruh raganya begitu lemas tanpa daya. Jika ada ungkapan yang lebih menyakitkan dari pada penyesalan, itulah yang saat ini tengah dia rasakan dengan penuh kepiluan.


Tidak hanya sekedar menyesali keputusannya waktu itu, tapi dia juga merutuki kebodohannya dulu yang memilih menjadi pengecut yang memutuskan pergi menghindari perasaannya dari pada menjadi ksatria yang mencoba jujur dan memperjuangkan cintanya.


Dan di saat perasaan masa lalu mereka akhirnya terungkap kebenarannya, hanya tersisa nestapa yang semakin membuatnya terpuruk layaknya seorang pecundang.


"Maafkan aku, Din. Aku minta maaf..."


Hanya itu yang bisa Bagus ucapkan, meski sebenarnya lidahnya begitu kelu untuk mengatakan apapun.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Gus. Dan tidak ada yang salah di sini. Takdir yang memang tidak berpihak pada hubungan kita."


Dinda berusaha tersenyum agar tidak hanyut dalam perasaannya saat ini. Sejujurnya dia pun sedih mengetahui kenyataan ini, bahwa sebenarnya Bagus dan dirinya memiliki rasa yang sama, cinta yang sama. Cinta pertama yang sebenarnya saling bersambut namun tak pernah bisa bersatu.

__ADS_1


"Sudah saatnya kita menutup lembaran kisah masa lalu kita. Menyelesaikan seluruh perasaan yang pernah ada saat itu. Dan saling melepaskan rasa cinta di antara kita."


Dinda menunduk menatap perut buncitnya yang dipegang dan diusapinya sejak tadi. Dia tersenyum seolah ada wajah sang bayi di hadapan matanya.


Saat ini, bayi yang ada di dalam kandungannya adalah prioritas utamanya, selain sang suami. Mereka berdua adalah sumber kekuatannya. Kehadiran merekalah yang paling nyata dan paling utama dalam hidupnya.


"Gus, mari kita sama-sama melepaskan perasaan masa lalu kita. Biarlah kisah cinta kita dulu menjadi kenangan indah di dalam hati kita. Sekarang, kita bisa membuka kisah baru di antara kita. Kisah persahabatan yang lebih baik."


Mudah saja bagi Dinda mengatakannya karena dia telah memiliki Adit yang begitu mencintainya dan memanjakannya. Namun tidak demikian halnya dengan Bagus yang sampai saat ini masih menyimpan rasa cintanya pada Dinda.


Menyelesaikan perasaan masa lalunya? Melepaskan rasa cinta yang sudah menguasai hatinya bertahun-tahun lamanya? Bisakah dia melakukannya? Sanggupkah hatinya bertahan dalam kehampaan lagi?


"Sangat sulit bagiku untuk melakukannya, Din. Entahlah.., mungkin aku butuh waktu untuk menata kembali hatiku yang kembali kosong ini..." Bagus berkata jujur.


Dinda bisa melihat sorot kekecewaan di mata Bagus. Wajahnya pun terlihat murung, tak lagi cerah seperti saat pertama datang tadi.


Kenyataan yang dihadapinya memang sama, Dinda telah menjadi milik orang lain. Tapi hal lain yang baru saja diketahui tentang perasaan cinta Dinda padanya dulu, itulah yang kini sangat melemahkan hatinya.


"Demi kebersamaan kita dulu dan demi kenangan indah yang kita miliki, aku mohon berusahalah untuk melepaskan perasaanmu, Gus."


"Kamu lelaki yang baik, tampan dan mapan. Aku yakin kamu akan bertemu dengan wanita terbaik sebagai jodohmu nanti."


Bagus menampakkan senyum yang dipaksakannya. Di satu sisi dia tidak ingin membebani Dinda dengan perasaannya, walaupun di sisi lain dia masih belum bisa melupakannya secepat itu.


"Aku akan melakukannya, Din. Demi kamu." Ucap Bagus pasrah.


Bagus menganggukkan kepalanya pelan. Dia sudah kehilangan Dinda sebagai wanita yang dicintainya. Dia tidak ingin kehilangan lagi meski sekarang mereka hanya bisa bersahabat. Setidaknya dia masih bisa bersama dengan Dinda dalam hubungan yang berbeda.


Dari teras cafe, Adit melihat istrinya yang sedang berbicara berhadapan dengan Bagus. Sudah lima menit dia berdiri di sana, menahan sejenak langkahnya untuk memperhatikan mereka berdua. Matanya tak henti mengamati sikap Dinda yang tenang dan tetap tersenyum dengan kedua tangan mendekap perut bulatnya.


Setelah mempersiapkan hatinya dan menghela nafas panjang, Adit kembali berjalan memasuki cafe dan menuju meja yang ditempati oleh Dinda dan Bagus.


"Sayang..."


Dinda menoleh ke arah kedatangan Adit diikuti Bagus yang segera berdiri dan menampakkan senyumannya untuk menyambut suami Dinda.


"Sore, mas. Maaf saya telah mengganggu waktu Dinda sebentar."


Bagus mengulurkan tangan kanannya yang disambut oleh Adit disertai balasan senyumannya.


"Sore. Silakan dilanjutkan lagi jika belum selesai. Saya akan masuk ke dalam dulu."


Namun Bagus menggelengkan kepalanya.


"Ooh tidak, mas. Saya sudah selesai kok. Sudah cukup lama kami berbincang-bincang. Sebentar lagi saya juga harus ke rumah sakit. Jadi saya langsung pamit saja."


"Din, aku pergi dulu. Terima kasih atas waktunya hari ini. Oya, hidangan dari cafemu sangat enak lho." Bagus mengalihkan pandangannya kembali pada Dinda yang sudah menyusul berdiri dibantu oleh Adit.

__ADS_1


"Iya, Gus. Terima kasih sudah bersedia datang ke cafeku. Jangan lupa untuk memperkenalkan cafeku dan ajaklah teman-temanmu kemari."


Dinda tersenyum renyah sambil memeluk pinggang Adit yang mana semakin menambah perih hati Bagus yang berusaha agar terlihat baik-baik saja di hadapan sepasang suami-istri itu.


"Tentu saja, Din. Kabari aku juga jika keponakanku nanti lahir. Tapi sepertinya aku akan mengetahuinya sendiri karena rumah sakit kita sama." Jawab Bagus yang sekaligus mengakhiri pertemuan mereka.


Setelah berjabatan tangan dengan Dinda dan Adit, dokter muda itu mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan, meninggalkan sosok cinta pertamanya yang kini tinggal kenangan semata.


Setelah Bagus menghilang dari pandangan, Dinda mengajak Adit masuk ke dalam ruangannya. Sesampainya di dalam Adit mengunci pintu dan segera memeluk istrinya dan menciumi ujung kepalanya berkali-kali.


"Aku sangat merindukanmu, sayang. Aku hanya ingin bersamamu saja." Ucap Adit jujur.


Dinda mengalungkan kedua tangannya di leher Adit. Dia tersenyum membalas tatapan sayu suaminya yang dia tahu artinya.


"Aku juga rindu padamu, mas. Sangat rindu....."


Tanpa saling menunggu lagi, mereka menyatukan bibir mereka dengan segenap perasaan yang membuncah di hati. Saling memberi dan menerima ciuman lembut yang tak lama kemudian telah berubah menjadi panas dan penuh gelora. Saling merasakan nikmatnya gairah rindu berselimut cemburu yang membuat ciuman sore mereka semakin mengikat dan penuh hasrat.


Rindu dan cemburu memang terasa begitu menyiksa. Namun sama-sama terasa sangat indah jika telah bertemu dengan penawarnya, yaitu kebersamaan dan kehangatan cinta.


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2