
"Ibu..! Arka..!"
Audi benar-benar terkejut saat melihat ibu dan calon suaminya ada di sampingnya.
"Ibu, Arka. Kenalkan ini Rinaya, calon istri saya."
Rinaya segera maju dan mengulurkan tangannya untuk memberi salam dan mencium tangan ibunya Audi, kemudian berpindah tangan bersalaman dengan Arka. Dia tersenyum dengan tulus. Andi mengikuti melakukan hal yang sama setelah Rinaya.
"Cantik sekali calon istrimu, Andi. Kapan kalian akan menikah?"
Ibu Audi tersenyum kagum sambil mengusap pelan kepala Rinaya.
"Bulan depan kami akan menikah. Mohon doa restunya ya, Bu."
Andi menjawab pertanyaan ibu Audi dengan sopan. Namun jawabannya membuat Audi kaget bersamaan dengan rasa hatinya yang mendadak sesak dan sedih. Dia menatap Andi berusaha untuk mencari kebenaran dari ucapannya barusan.
"Nanti akan kami antarkan undangan untuk Ibu. Semoga Ibu, Audi dan Arka berkenan untuk hadir di pernikahan kami."
Andi menatap Rinaya yang terdiam di sampingnya. Tangannya bergerak pelan tapi pasti, merangkul bahu calon istrinya dengan lembut.
Audi masih terus memperhatikan dua orang yang berdiri berdekatan di hadapannya. Dalam hati dia mengagumi kecantikan dan kelembutan Rinaya.
"Silakan duduk dulu, Bu. Arka juga. Maaf saya tinggal sebentar." Rinaya pamit.
Setelah tamunya duduk yang juga diikuti oleh Andi, Rinaya berjalan menuju meja pemesanan. Kemudian dia masuk ke dalam dapur dan membantu karyawan cafe untuk menyiapkan suguhan untuk tamu Andi.
Sementara di meja sebelumnya, Arka duduk di samping Audi. Dia memandang calon istrinya dengan penuh cinta. Tidak terlihat sedikit pun kekecewaan atau kemarahan atas sikap Audi yang masih mengejar dan menemui Andi.
Dia benar-benar tulus menyayangi dan mencintai Audi. Bahkan jika seandainya cintanya tak berbalas pun, dia akan tetap berada di sisi Audi, menemani, menjaga dan melindunginya.
"Dari mana kamu tahu aku di sini, Ka?" Tanya Audi.
"Aku selalu tahu ke mana pun kamu pergi, Di." Jawab Arka dengan tenang.
"Saat kamu melihat dan mengejar mas Andi di rumah sakit waktu itu, aku juga tahu." Lanjut Arka.
Audi menoleh ke arah Arka, dia kaget. Ternyata Arka selalu mengikutinya. Bukan untuk menyampuri urusannya atau mengekangnya, tetapi untuk menjaganya. Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak di hatinya. Dia merasa bersalah karena sering mengabaikan Arka yang berstatus calon suaminya.
Sejak Andi menghindarinya dan menjauh setelah Arka melamarnya dua tahun yang lalu, sebenarnya Audi sudah berusaha bersikap lebih baik dan membuka hatinya untuk menerima Arka seutuhnya.
__ADS_1
Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia juga mencintai Arka teman masa kecilnya. Cinta yang sama seperti yang Arka rasakan untuknya. Arka adalah cinta pertamanya, kala dia masih remaja sekolah dulu.
Namun perpisahan itu dan pertemuannya dengan Andi membuatnya merasakan cinta yang lain. Hatinya mendua. Mencintai orang lain tanpa bisa melupakan cinta lamanya.
Audi merasa telah memiliki cinta dari Arka, tetapi dia masih berusaha untuk mendapatkan cinta dari Andi. Cinta yang sangat egois. Ingin memiliki cinta yang lain tapi tak ingin kehilangan cinta sebelumnya.
Arka bukannya tidak mengetahui hal itu. Dia tahu semua tentang Audi. Dia tidak ingin menyalahkan Audi karena dia juga menyadari bahwa perpisahan mereka dulu telah membuatnya jauh dari Audi sebelum dia sempat menyatakan perasaannya pada gadis kecilnya itu.
Andi sendiri memang sengaja menjauh dari kehidupan Audi, agar perempuan yang dianggapnya sebagai adik itu tidak lagi mengejarnya dan menuntut cinta darinya. Apalagi Audi sudah mempunyai calon suami yaitu Arka. Namun sesekali dia masih menghubungi Arka sekedar menanyakan kabar ibu juga tentang hubungannya dengan Audi.
"Andi, ibu minta maaf atas sikap Audi hari ini. Tolong maafkan dia. Ibu juga merasa tidak enak dengan calon istrimu."
Suara lemah lembut ibu Audi memecah keheningan di meja itu, di mana semuanya tengah larut dalam pikiran masing-masing.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya juga senang bisa bertemu kembali dengan Ibu dan juga Arka. Maaf karena selama ini saya tidak pernah berkunjung lagi."
Andi selalu menaruh hormat kepada siapa pun yang lebih tua darinya, entah yang dia kenal atau tidak. Apalagi beliau yang di hadapannya ini adalah ibu dari wanita yang dulu pernah mengisi hatinya.
Lagi-lagi dia teringat pada Aulia. Ingatan akan masa lalu yang indah bersamanya. Hanya itu saja. Bukan karena rasa yang masih ada atau kerinduan yang masih menghampiri. Karena sekarang, segala yang ada pada dirinya sepenuhnya telah dia berikan untuk wanita terkasihnya, calon istri tercintanya, Rinaya.
Bola mata Andi bergerak mencari-cari keberadaan Rinaya. Dan seolah berjodoh, Rinaya muncul dari arah dapur membawa nampan berisi minuman dan beberapa kue.
"Mari Ibu, Audi, Arka, silakan dinikmati seadanya."
Dengan sopan dan ramah Rinaya mempersilakan para tamunya untuk menikmati hidangan yang disiapkannya dari cafe gerai.
Ibu segera mengambil minumannya dan mencicipi beberapa kue kecil. Arka juga mengambil satu gelas minuman dan diberikan kepada Audi yang masih mematung dengan pikirannya sendiri.
"Ini, Di. Minumlah."
Kedua mata Audi mengerjap seketika, tersadar dari lamunannya tentang Arka. Dia menatap Arka yang masih menatapnya dan menyodorkan gelas minuman untuknya. Ada rasa haru menyelimuti hatinya, menyadari perhatian Arka yang tiada pernah habis untuk dirinya.
"Terima kasih, Ka."
Dia menerima gelas dari tangan Arka. Untuk sesaat tangan mereka bersentuhan. Audi merasakan getaran aneh di hatinya. Sebuah desiran halus yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Mendadak dia bertingkah gugup dan menundukkan wajahnya yang terasa memanas, menghindari pandangan Arka kepadanya. Arka tersenyum memperhatikan Audi yang salah tingkah.
Setelah puas menikmati hidangan yang disajikan, Ibu, Audi dan Arka berpamitan untuk pulang. Mereka semua saling berjabatan tangan. Tak lupa Andi dan Rinaya mencium tangan ibu Audi.
__ADS_1
Ibu berjalan keluar lebih dulu, diikuti Arka yang menggandeng tangan Audi. Audi diam dan tidak menolaknya. Andi dan Rinaya mengikuti mereka semua dan mengantarkan hingga masuk ke dalam mobil Arka. Audi pun turut bersama Arka dan ibu, karena tadi dia datang menggunakan taxi online.
Setelah mobil Arka berlalu, mereka berdua masuk ke dalam cafe. Rinaya melihat karyawan cafe sudah mulai membersihkan meja yang mereka tempati tadi. Rinaya mengucapkan terima kasih kepada mereka, lalu masuk ke dalam ruangan Dinda untuk mengambil tas dan ponselnya di sana.
Andi pun masuk mengikuti calon istrinya. Dia memandangi Rinaya yang tengah mengambil tas dan ponselnya, serta merapikan kembali ruangan Dinda sebelum mereka pergi.
Saat Rinaya selesai dan membalikkan badan ke arah pintu, Andi menarik tangannya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Rinaya pasrah dan membalas pelukan calon suaminya. Dia merebahkan kepalanya di atas dada lelaki itu, dan semakin erat melingkarkan tangannya memeluk Andi.
Sebenarnya sudah sejak tadi dia ingin melakukannya. Memeluk Andi dan melepaskan seluruh beban hatinya di tempat ternyamannya, dalam dekapan hangat sang kekasih hati.
"Terima kasih, Ya. Aku sangat mencintaimu."
Andi mencium ujung kepala Rinaya dengan lembut dan lama. Rinaya merasakan ciuman itu, terasa begitu hangat dan penuh cinta. Dia tersenyum bahagia di dalam pelukan Andi.
Info 🙏💜🙏
Sebelum sampai pada part pernikahan Andi dan Rinaya, di beberapa part ke depan akan kami khususkan pada kisah kemesraan Adit dan Dinda yang sedang mengulang kenangan masa-masa indah saat mereka kuliah dulu.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1