Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
30 BERSAMA DIAM-DIAM


__ADS_3

Pagi menjelang, Andi tak sabar untuk segera menghubungi Rinaya.


Dia sudah melakukan panggilan ke nomor Rinaya.


"Halo, Ya."


Rinaya masih berdebar menerima telepon dari Andi.


"Iya, mas Andi."


"Jam berapa kamu berangkat ke gerai?" Tanya Andi.


"Gerai fashion buka jam sembilan. Aku biasanya juga datang di jam yang sama, mas." Jawab Rinaya.


"Baiklah, nanti aku akan mengantarmu ke gerai. Tidak apa-apa kan, Ya?" Andi bertanya lagi.


"Tapi bukannya mas Andi masuk kantor jam delapan, sama seperti Adit?" Rinaya tahu jam kantor di Nature Furniture karena Dinda sudah pernah mengatakannya.


"Hari ini aku bisa meminta ijin sebentar. Kamu tunggu aku, aku akan ke rumahmu sebelum jam sembilan." Janji Andi.


"Baik, mas. Aku akan menunggu." Jawab Rinaya. Dia tersenyum sendiri membayangkan akan bertemu lagi dengan Andi.


Andi juga tersenyum bahagia karena akan segera menemui Rinaya.


Dia menelepon kantor untuk meminta ijin datang terlambat, selanjutnya menelepon Adit untuk memberitahu jika akan datang terlambat.


.


.


.


Adit meletakkan ponselnya lalu menyusul Dinda yang masih mencuci piring sarapan mereka barusan.


Dipeluknya tubuh Dinda dari belakang.


"Sayang, kok belum siap-siap." Kata Dinda sambil menyelesaikan pekerjaannya, lalu berbalik menghadap ke arah suaminya.


Adit tetap memeluk erat pinggang istrinya dan menciumi wajah Dinda tiada henti. Semakin hari dia semakin gemas saja dengan istrinya. Inginnya selalu dekat dan menyentuh Dinda setiap saat.


"Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini manja banget.." Kata Dinda.


"Entahlah, sayang. Aku hanya ingin selalu bersamamu saja.." Adit terus menyerbu wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubi. Tak ingin menyudahinya meski tahu dia harus segera pergi ke kantor dan mengantarkan Dinda ke gerai.


"Buruan mandi, sayang. Nanti kamu terlambat!" Dinda melepaskan pelukan Adit. Adit menatapnya dengan raut sedih, tak rela melepaskan pelukannya.


"Apa aku harus memberimu semangat yang lain, agar kamu mau bersiap-siap..?!?" Tanya Dinda dengan senyumnya.


Adit hanya diam, tak ingin melepaskan tangan Dinda yang masih digenggamnya erat-erat.


Dinda memajukan wajahnya mendekati wajah suaminya yang masih tertekuk lesu. Tanpa menunggu lagi, dia mencium bibir Adit dengan penuh cinta. Terus menciumnya hingga sang suami menunjukkan reaksinya.


Adit terkejut atas ciuman istrinya. Bibir yang selalu ingin disentuh dan dinikmatinya, meski semalaman dia telah melakukannya tanpa henti.


Adit pun membalasnya lebih hangat, semakin dalam dan semakin lama. Dinda membiarkan suaminya menikmati sepuasnya. Sampai Adit melepaskan sendiri ciumannya dengan senyum kepuasan.


"Terima kasih, cintaku. Kamu selalu mengerti aku." Adit mencium lembut kening Dinda.


"Mas Andi akan datang terlambat dan aku harus menyelesaikan banyak laporan. Aku butuh semangat lebih untuk hari ini."


Dinda membalasnya dengan ciuman yang sama.


"Aku mencintaimu, sayangku."


"Aku selalu berdoa untuk kesehatanmu dan kelancaran pekerjaanmu. Jangan lupa untuk beristirahat sesibuk apa pun itu."


Mereka berdua kembali ke kamar. Menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor dan ke gerai dengan hati yang bahagia.


.


.


.

__ADS_1


Jam delapan pagi, Andi sudah sampai di depan rumah Rinaya. Dia keluar dari mobil, menyandarkan tubuhnya di pintu mobil, mnghadap ke arah pagar rumah Rinaya. Dia segera meneleponnya.


"Ya, aku sudah berada di depan rumahmu."


"Iya, mas. Tunggu sebentar." suara lembut Rinaya di ujung telepon membuat hati Andi berdesir.


"Apa aku perlu masuk ke dalam untuk menjemputmu?"


"Untuk sekarang, tidak perlu mas. Mas Andi tunggu di depan saja."


"Baiklah, Ya. Aku mengerti."


Andi sadar diri, mereka bahkan baru saling mengenal kemarin siang. Dia menahan dirinya. Setidaknya semalam dia sudah tahu bahwa Rinaya merasakan hal yang sama dengannya.


Sambil menunggu Rinaya, dia mengingat kembali percakapan singkat mereka semalam. Dia tidak menyangka, dirinya dan Rinaya mempunyai perasaan yang sama secepat ini.


Mereka sama-sama tidak bisa tidur dan saling memikirkan satu sama lain. Mereka seperti telah memiliki ikatan hati yang sangat kuat. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.


Tak berapa lama kemudian, Andi melihat wanita cantik itu keluar dari pagar rumahnya. Andi terpana menatap ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna di hadapannya itu. Dadanya kembali berdentum, nafasnya tertahan dengan sendirinya.


Rinaya menghampiri Andi dengan hati penuh getaran.


"Selamat pagi, mas Andi." Sapanya pelan dengan suara lembut.


"Pagi, Ya." Andi membalas dengan senyum terbaiknya, sebaik suasana hatinya saat ini.


Andi membukakan pintu dan mempersilahkan Rinaya masuk ke dalam mobil. Dia pun segera masuk dan siap melajukan mobilnya.


"Kamu sudah sarapan, Ya?"


Rinaya menganggukkan kepala.


"Kita mampir ke warung makan sebentar tidak apa-apa? Aku belum sarapan.."


"Iya, mas. Tidak apa-apa."


Sepuluh menit kemudian, Andi menghentikan mobilnya di sebuah warung soto langganannya. Dia mengajak Rinaya turun lalu berjalan bersama memasuki warung yang sudah mulai lengang.


Begitu melewati pintu mereka disambut Pak Man, pemilik warung itu.


"Iya, Pak. Minta soto dagingnya satu ya pak. Sama teh hangatnya dua." Jawab Andi ramah lalu mengajak Rinaya duduk bersama di salah satu meja di sudut ruangan.


Tak lama kemudian pesanan sudah datang. Pak Man mempersilahkan Andi menyantapnya.


"Mas Andi, calon istrinya cantik sekali. Cocok sama mas Andi yang ganteng. Pasangan serasi." Puji Pak Man sambil melihat ke arah Rinaya.


Mereka berdua spontan saling bertatapan, sama-sama kaget dengan ucapan Pak Man.


Rinaya menundukkan kepalanya menahan malu.


Andi hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Man.


Lalu dia pun menghabiskan sarapannya.


Rinaya yang duduk di samping Andi, menatap lelaki itu tanpa berkedip. Benar kata Pak Man, Andi memang tampan, dilihat dari sisi mana pun. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri menikmati ketampanan itu.


"Ya..." Suara Andi mengagetkannya. Dia buru-buru membuang pandangannya dari wajah Andi, meski lelaki itu sudah mengetahuinya.


"Tadi malam, kamu berterima kasih untuk apa?" Andi mulai membahas pesan di antara mereka semalam.


Rinaya sendiri tidak tahu mengapa dia mengirimkan pesan terima kasih itu. Saat itu dia tidak bisa tidur karena terus-menerus memikirkan Andi.


"Emmhm.., tidak usah dibahas lagi, mas." Pinta Rinaya dengan wajah yang memerah.


"Aku ingin tahu, Ya." Andi masih menunggu jawabannya.


"Hanya ingin berterima kasih lagi, karena sudah mengantarkan aku pulang, mas." Rinaya mulai salah tingkah di hadapan Andi.


Andi tahu sebenarnya bukan karena alasan itu. Tapi dia tidak mau memojokkan Rinaya lagi.


"Aku juga tidak tahu mengapa aku mengirim pesan terima kasih itu. Aku hanya ingin tahu, apakah kamu masih terjaga, sama sepertiku. Aku memikirkanmu sepanjang hari kemarin. Apakah kamu juga demikian, Ya?"


"Iya, mas." Akhirnya Rinaya mengakuinya tanpa berani menatap Andi.

__ADS_1


"Aku jatuh cinta padamu, Ya. Sejak pertama kali aku melihatmu kemarin, hatiku langsung terpikat padamu." Andi mengakui perasaannya pada Rinaya.


Rinaya menatap Andi. Tak percaya lelaki itu akan mengungkapkan perasaannya secepat ini.


"Aku ingin tahu, apakah kamu juga merasakannya, Ya?" Tanya Andi.


Rinaya hampir saja menjatuhkan gelasnya mendengar pertanyaan Andi. Dia gugup. Dia diam. Takut untuk mengatakannya. Malu untuk mengakui perasaannya sendiri.


"Katakan padaku, Ya. Aku ingin mendengarnya darimu."


Rinaya bimbang. Haruskah dia mengakuinya sekarang? Atau dia sembunyikan saja perasaan ini? Tapi percuma juga, Andi sudah bisa menebaknya.


"Ya...?" Andi memanggilnya, menunggu dengan penuh harap. Walau pun sudah ada titik terangnya, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari wanita yang dicintainya itu.


Rinaya menghela nafas panjang, mencari kekuatan untuk mengungkapkan semuanya.


"Aku juga menyukaimu, mas. Aku merasakan apa yang mas Andi rasakan.." Rinaya menyembunyikan wajahnya setelah mengatakan semua itu.


Wajah Andi berubah cerah, secerah hatinya saat ini, yang sudah ada pemiliknya.


"Terima kasih, Ya." Kali ini Andi benar-benar mengucapkannya dari hati, karena cintanya telah terbalaskan.


Dilihatnya Rinaya masih menunduk menyembunyikan wajahnya. Dia memiringkan kepalanya mencoba menengok ke arah wajah Rinaya.


"Ya.., kamu tidak apa-apa?"


Pelan-pelan Rinaya mengangkat kepalanya, wajah cantiknya tampak sedikit berair di bagian matanya.


"Ya, kamu menangis??"


Ingin rasanya Andi mengusap titik-titik air mata itu dengan tangannya, tapi dia belum berani melakukannya.


Dia mengambil sapu tangan di sakunya, diulurkannya pada Rinaya.


Rinaya menerimanya dan membersihkan wajahnya dari sisa air mata yang masih menggenang.


Dia tersenyum menatap mata Andi yang masih mengkhawatirkannya.


"Aku hanya bahagia, mas"


Andi tidak menyangka, wanita yang dicintainya memiliki hati yang sangat lembut dan mudah tersentuh. Seketika dia menjadi semakin mencintainya.


Mereka terdiam, saling menatap lekat. Masih dengan getar-getar cinta dan debar-debar indah di hati mereka.


"Ya, bisakah kita memulai hubungan ini? Agar kita bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain?"


"Aku mencintaimu, Ya. Apakah kamu mau menerima cintaku..??"


Hati Rinaya kembali berbunga-bunga mendengar ungkapan cinta Andi.


Senyumnya merekah begitu indah menghiasi wajah cantiknya.


"Iya mas, aku mau..."


Andi sangat lega dan bahagia. Pagi ini dia sangat bahagia. Dia memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya.


"Mas, bisakah kita menjalani hubungan ini berdua dulu?" Pinta Rinaya.


"Maksudmu?" Andi belum mengerti maksud Rinaya.


"Aku ingin menikmati awal hubungan kita ini hanya berdua denganmu, mas. Aku ingin kita menikmati setiap prosesnya bersama dan berdua saja. Sepertinya akan lebih membahagiakan dan lebih romantis jika kita melewati awal kisah ini hanya berdua, aku dan kamu.." Rinaya mengungkapkan permintaannya dengan lirih menahan malu.


Andi yang mendengarnya merasa semakin bahagia dan dicintai. Dia memahami maksud Rinaya. Biarlah masa perkenalan ini menjadi milik mereka berdua saja.


Justru akan sangat mengagetkan jika orang lain segera mengetahui hubungan mereka yang secepat kilat ini. Lebih baik mereka bersama dalam diam dulu, menikmati semuanya berdua hingga saatnya nanti mereka akan memberitahukan kabar bahagia ini kepada semua orang.


"Iya, Ya. Aku mengerti. Kita akan melewati masa-masa ini hanya berdua saja, aku dan kamu.." Andi menatap Rinaya dengan penuh cinta. Rinaya membalasnya dengan wajah yang diselimuti kebahagiaan.


"Sudah hampir jam sembilan. Aku antar ke gerai sekarang?" Ajak Andi.


"Iya, mas. Tapi nanti aku turun di ruko sebelah saja, agar tidak ada yang melihat kamu mengantarkan aku." Jawab Rinaya yang diiyakan oleh Andi.


Mereka berdua berpamitan kepada Pak Man setelah Andi membayar pesanannya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, senyum tak pernah hilang dari wajah Andi dan Rinaya. Hari ini mereka telah memulai sebuah hubungan yang indah. Seindah cinta yang kini telah hadir menautkan dua hati yang telah sekian lama menantinya dalam kesendirian.


__ADS_2