Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
82 SURAT DAN PAKET


__ADS_3

Hari kedua kaburnya Sinta, belum ada tanda-tanda dia mendekati Adit dan Dinda. Beberapa rekaman cctv hari kemarin dari beberapa lokasi yang berbeda juga belum menampilkan keberadaan Sinta di sekitar mereka.


Pagi hari seperti biasanya, Adit mengantarkan Dinda ke cafe. Semenjak istrinya hamil dia akan menemani Dinda di cafe hingga para karyawannya datang dan cafe dibuka, barulah dia meninggalkan istrinya untuk pergi ke kantor.


"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku atau jika mendesak segeralah meminta bantuan pada para karyawan." Pesan Adit panjang lebar sembari mengelus-elus perut istrinya.


"Iya, mas. Aku dan bayi kita baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkan kami di sini. Kamu juga harus berkonsentrasi pada pekerjaanmu di kantor."


Adit tersenyum mengiyakan ucapan istrinya meskipun dalam hati dia begitu takut dan khawatir akan keselamatan istri dan calon anaknya.


Kemudian dia berlutut di depan perut Dinda dan berpamitan pada calon anaknya.


"Sayang, Papa berangkat kerja dulu ya. Jangan rewel, jadilah anak yang baik, jagain mama ya, kesayangan papa mama." Adit mencium perut istrinya lama untuk memanjatkan doa keselamatan bagi istri dan calon anak mereka.


Saat selesai berdoa tiba-tiba dia merasakan tendangan keras mengenai pipinya yang menempel di atas perut Dinda. Dia tersenyum lebar dan kembali menempelkan sebelah pipinya yang lain, berharap mendapatkan hal yang sama. Dan dia benar-benar mendapatkan tendangan lagi dari dalam perut istrinya.


" Terima kasih, nak. Papa senang sekali. Kamu mencium kedua pipi papa dengan keras, membuat papa semakin semangat untuk bekerja demi kalian berdua, kamu dan mama kamu."


Adit kembali menghujani perut Dinda dengan ciuman di semua bagian perutnya, lalu berdiri dan memeluk singkat istrinya disertai ciuman hangat di kening Dinda.


"Aku berangkat sekarang. Tunggu aku nanti siang, sayang. Aku mencintaimu.." Adit mengusap lembut kepala istrinya.


"Aku juga mencintaimu, mas. Kami berdua mencintaimu, papa." Dinda memeluk perutnya sendiri seraya melepaskan kepergian sang suami dengan senyuman di bibirmya.


Dia tidak mengantar Adit sampai keluar cafe, hanya di depan ruangannya sesuai permintaan sang suami. Setelah melihat suaminya berlalu dengan mobilnya, Dinda berjalan ke dapur dan membantu para karyawannya.


.


.


.


Di ruangannya, Adit mengamati tiga buah surat bersampul putih di atas meja kerjanya. Hanya tertulis nama dan alamat kantornya di bagian depan tanpa ada nama pengirim dan keterangan apapun lainnya.


Dia menelepon bagian resepsionis di lantai bawah untuk menanyakan perihal ketiga surat itu. Seorang resepsionis yang menerima telepon menjelaskan bahwa surat tersebut dikirimkan bersama surat dan dokumen yang lainnya melalui kurir sebuah ekspedisi yang biasa mengirimkan dokumen ke perusahaan mereka.


Setelah menutup telepon dilihatnya Andi masuk ke ruangannya membawa beberapa laporan. Suami Rinaya itu melihat Adit memegang tiga buah surat dan hendak membukanya.


Wajah Adit berubah merah padam dan menegang setelah membuka dan membaca isi surat yang pertama. Buru-buru dia melanjutkan membuka dan membaca isi surat yang kedua dan ketiga yang membuatnya semakin memperlihatkan raut amarah dan kecemasan luar biasa.

__ADS_1


"Ada apa, mas Adit?" Tanya Andi hati-hati saat melihat perubahan di wajah atasan yang juga sudah dianggapnya sebagai adik itu.


Adit menunjukkan ketiga surat yang dihempaskannya ke atas meja. Andi mengambil dan membacanya satu per satu.


"Aku ingin kamu. Hanya kamu." Isi surat pertama.


"Kamu hanya milikku. Bukan miliknya!" Isi surat kedua.


"Aku akan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangiku." Isi surat yang terakhir.


Andi sangat terkejut setelah membaca isi ketiga surat bernada ancaman itu. Mereka berdua berpandangan dan memikirkan hal yang sama dan satu nama yang sama.


Andi mengambil ponsel dari saku celananya dan segera menghubungi istrinya di gerai. Setelah sambungan telepon tersambung dia segera meminta Rinaya untuk menemani Dinda di ruangannya dan mencegah Dinda agar jangan menyentuh surat atau paket apapun yang mungkin terkirim untuknya hari ini. Setelah itu dia mengikuti Adit pergi ke ruangan direktur utama untuk melaporkan tentang ketiga surat yang baru saja diterimanya.


Sampai di ruangan Papa Satrio, Adit dan Andi melihat ketegangan yang sama di wajah sang direktur yang baru saja menerima telepon dari seorang polisi yang terlibat mengurusi kasus Sinta.


"Ada apa, Pa? Apa papa mendapatkan informasi tentang Sinta?"


Adit duduk di hadapan papanya sambil meletakkan ketiga surat kaleng yang telah diterimanya. Sementara Andi memilih duduk di sofa untuk menyimak pembicaraan.


"Ada rekaman cctv yang melacak keberadaan Sinta kemarin siang di sebuah agen pengiriman paket tak jauh dari kantor kita." Kata Papa Satrio.


"Surat-surat itu yang dia kirimkan, Pa." Adit menunjuk ketiga surat yang sudah berada di hadapan papanya.


Papanya segera mengambil dan membuka satu per satu surat itu lalu membacanya. Tak lama setelah itu beliau menghubungi polisi yang baru saja menghubunginya tadi dan menceritakan tentang surat yang Adit terima.


"Aku khawatir Dinda juga menerima surat serupa, Pa. Aku tidak mau dia mengetahui tentang kaburnya Sinta." Adit mengusap kasar wajahnya yang sudah kusut sejak menerima surat bernada ancaman itu.


"Rinaya belum memberi kabar apapun. Semoga saja belum ada dan tidak ada ancaman yang ditujukan lansung pada Dinda, mas." Andi berusaha menenangkan Adit meskipun dia sendiri juga mengkhawatirkan Dinda.


Papa menelepon sekretarisnya dan memberinya beberapa tugas tambahan berupa limpahan dari pekerjaan yang seharusnya diselesaikan oleh Adit dan Andi hari ini.


"Sebaiknya kalian menemui Dinda sekarang. Sekaligus mengecek apakah hari ini ada ancaman atau apapun itu yang ditujukan untuk Dinda." Saran Papa yang segera dituruti oleh Adit dan Andi.


.


.


.

__ADS_1


Di cafe gerai, Adit dan Andi dicegah oleh seorang karyawan cafe sebelum menuju ke ruangan Dinda.


"Maaf, mas Adit. Tadi ada kurir yang mengantarkan paket ini untuk mbak Dinda. Tetapi saya tidak berani memberikannya karena ingat pesan dari mas Adit. Jadi tadi saya menyimpannya dulu di laci saya."


Seorang karyawan laki-laki itu lalu mengajak Adit dan Andi ke arah dapur. Lalu dia mengambil satu paket kecil yang masih terbungkus plastik pengaman dari agen pengirimannya.


"Terima kasih. Apapun yang terjadi di cafe terutama hal-hal yang sekiranya mencurigakan tolong segera sampaikan kepada saya, mas." Dan karyawan itu menganggukkan kepala tanda mengerti.


Adit dan Andi urung menuju ke ruangan Dinda. Mereka memilih kembali ke dalam mobil untuk membuka paket tanpa nama pengirim itu, sama seperti ketiga surat yang dikirimkan ke kantor Adit.


Sesampainya di dalam mobil, Adit segera membuka paket seukuran kardus ponsel kecil tersebut. Adit dan Andi terkejut melihat benda yang ada di dalam kotak itu. Sebuah pisau lipat yang terbungkus kertas putih dengan ceceran darah kering dan bertuliskan pesan singkat yang mereka pastikan akan membuat Dinda syok jika dia yang membacanya.


"Aku akan menyingkirkanmu. Dia hanya milikku. Bukan milikmu."


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2