
Minggu pagi, Adit dan Dinda sudah siap untuk pergi. Hari ini rencananya mereka akan menghabiskan waktu di luar rumah. Sekalian untuk mengantarkan Dinda menemui Bimo.
"Kamu sudah siap bertemu dengannya?" Tanya Adit memastikan.
Dinda menganggukkan kepalanya.
"Bukankah kamu yang bilang, dia sudah bukan Bimo yang dulu lagi..?" Giliran Adit yang mengangguk dengan senyumnya.
"Kalian bukan bertemu sebagai remaja lagi. Anggap saja kalian sedang melakukan reuni."
Mobil Adit pun melaju meninggalkan rumah. Tujuan pertama mereka adalah bertemu Bimo. Baru setelah itu mereka akan menghabiskan sisa waktu liburan ini dengan bersenang-senang berdua.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai. Di cafe yang sama tempat Adit dan Bimo bertemu kemarin. Mereka berdua turun dari mobil dan bergandengan tangan berjalan ke arah pintu masuk cafe.
Dari dalam cafe, masih di sudut yang sama dengan kemarin, Bimo yang sudah duduk menunggu, memperhatikan sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan dan sesekali saling melempar senyum penuh cinta.
Bimo tersenyum melihat pemandangan di luar cafe itu. Dari dalam hatinya menyeruak perasaan bahagia.., bahagia bisa melihat orang yang selama ini dicintainya juga begitu bahagia, meskipun bukan bersama dirinya.
Sesaat kemudian Adit dan Dinda sudah sampai di hadapan Bimo.
"Selamat pagi, Dinda, mas Aditya.." Sapa Bimo dengan ramah. Lalu mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
"Maaf, saya menunggu di meja bagian luar saja. Kalian silahkan berbincang dulu." Adit menolak dengan sopan. Dia mengusap lembut kepala Dinda dan tersenyum yang juga dibalas senyuman oleh Dinda.
Kemudian Adit melangkah keluar cafe, mengambil tempat di teras cafe, duduk membelakangi kaca pembatas cafe. Sengaja dia duduk menghadap ke luar, agar Dinda dan Bimo leluasa untuk berbicara, tanpa harus diawasi olehnya.
Setelah memesan minuman, dia sibuk dengan ponselnya, berbalas pesan dengan asistennya membahas persiapan untuk mulai masuk kerja lagi esok hari.
Sementara itu, di dalam cafe, setelah Adit berlalu Dinda segera duduk, berhadapan dengan Bimo. Sedikit canggung dia menyapa Bimo yang masih tersenyum kepadanya.
"Bagaimana kabarmu sekarang?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." Bimo sumringah membalas sapaan Dinda.
__ADS_1
"Hanya hatiku yang tidak baik-baik saja.." Tiba-tiba raut mukanya berubah sendu. Dinda terhenyak mendengarnya dan sempat melihat perubahan di raut wajah Bimo.
Namun seketika itu pula Bimo menyadari ucapannya, lalu melanjutkan lagi..
"Oh..ehh, maaf, lupakan ucapanku tadi. Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Tolong jangan salah paham." Bimo segera memasang wajah tenang disertai senyumnya kembali.
"Sepertinya kita tidak bisa berlama-lama di sini. Suami kamu juga menunggu di depan." Bimo mencoba mengawali perbincangan.
"Dinda, aku hanya ingin minta maaf sama kamu." Bimo langsung pada pokok tujuannya.
Sementara Dinda masih diam saja mendengarkan Bimo.
"Maafkan aku atas sikap burukku ke kamu dulu. Maafkan aku kalau aku terlalu tidak sopan waktu itu. Tolong maafkan semua kesalahanku dulu. Kesalahan seorang remaja nakal yang egois, yang selalu ingin dituruti, yang semena-mena kepada siapa pun bahkan kepada orang yang dicintainya juga..."
Sampai pada kalimat terakhir, Bimo memberanikan diri menatap wajah Dinda yang sedari tadi masih diam dan terus melihat ke arahnya.
Dan pandangan mereka pun bertemu, saling terdiam.
Bimo memanfaatkan kesempatan itu untuk menatap lekat-lekat wajah wanita di hadapannya. Wanita yang dicintainya, sangat dicintainya sejak dulu.
Dulu, dia hanya berfikir dia menyukai gadis cantik itu dan ingin memilikinya, itu saja. Tanpa dia sadari, saat waktu telah memisahkan mereka pun, dia masih menyimpan rasa suka itu, yang semakin lama membuatnya semakin merindu dan akhirnya dia baru menyadarinya bahwa dia telah jatuh cinta pada gadis itu, cinta yang terlalu dalam hingga tak lagi bisa dia hilangkan dari lubuk hatinya.
Sementara Dinda, dia masih tidak percaya jika pria di hadapannya saat ini adalah Bimo. Bimo yang dulunya seorang remaja berandal, yang semaunya sendiri, yang sering bolos pelajaran walau datang ke sekolah.
Bimo yang jadi langganan dipanggil guru BP, karena tiap hari ada saja ulahnya yang bikin onar di lingkungan sekolah. Setahu Dinda dari cerita teman-temannya, Bimo sebenarnya anak yang baik hati. Dia hanya kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya yang sibuk mengurusi bisnis mereka di luar negeri.
Kini di hadapan Dinda, dia melihat sosok Bimo yang lain. Sekarang dia melihat seorang Bimo yang sudah menjadi pria dewasa, tutur kata yang baik, sikap yang tenang, tidak ada lagi gurat amarah dan keras hati di wajahnya. Waktu memang bisa merubah seseorang, entah itu menjadi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk. Dan sepertinya waktu juga yang telah merubah Bimo kini menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
"Aku saja sudah tidak ingat dengan semua kejadian itu. Tapi jika kamu meminta maaf karenanya, tentu saja aku maafkan.." Dinda membalas permintaan maaf Adit kepadanya.
"Aku juga minta maaf kalau aku ada salah sama kamu atau sudah membuat kamu marah. Aku juga minta maaf atas tindakan kasarku dulu."
Bimo setengah tertawa mendengar kata-kata Dinda. Dia jadi teringat tragedi pertemuan terakhir mereka.
__ADS_1
"Hahahaa.., tamparan dan tendanganmu sepertinya
masih terasa sampai sekarang.."
Dinda jadi ikut tertawa kecil mengingat kejadian itu.
Beberapa saat suasana canggung di antara mereka berubah mencair, larut dalam sedikit canda tawa membahas masa-masa sekolah dulu.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya Bimo berinisiatif untuk menyudahi pertemuan yang membahagiakan dirinya itu.
"Emmm.., sepertinya sudah cukup lama kita di sini. Aku merasa tidak enak dengan suamimu jika menahanmu lebih lama lagi.."
Dinda mengerti maksud Bimo. Dia segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Lalu mengirim satu pesan kepada Adit.
Adit yang berada di luar pun langsung berdiri bersiap untuk masuk menjemput istrinya.
"Kalian sudah selesai?" Tanya Adit setelah sampai di sisi tempat duduk Dinda.
"Ya.." Dinda menganggukkan kepalanya. Dia pun segera bangkit dari duduknya, diikuti Bimo yang juga berdiri di tempatnya.
"Terima kasih atas waktunya. Terima kasih Dinda. Terima kasih juga mas Aditya sudah mengijinkan saya bertemu dengan istri anda. Maaf sudah mengganggu dan merepotkan kalian." Ucap Bimo tulus sambil mengulurkan tangannya ke arah Adit.
Adit tersenyum dan menganggukkan kepala, menyambut uluran tangan dari Bimo.
Pandangan Bimo berpindah ke arah Dinda. Tangannya pun terulur ke arah Dinda.
Dinda yang melihatnya menoleh ke arah Adit. Setelah Adit menganggukkan kepalanya, Dinda kembali menatap Bimo dan menerima uluran tangannya dengan senyum terkembang.
Seketika ada yang terasa hangat mengalir dari tangan Bimo saat bersentuhan menjabat tangan Dinda. Kehangatan itu menjalar ke hatinya, disertai debaran keras di dadanya yang membuatnya sedikit gugup.
Dinda melepaskan tangannya terlebih dahulu dan Bimo pun segera menguasai keadaan, memberikan senyum terbaiknya untuk melepas kepergian Dinda dan Adit.
Dia masih berdiri terpaku, menatap kedua orang yang berlalu dari hadapannya, semakin menjauh meninggalkannya kembali sendiri.
__ADS_1
"Terima kasih Dindaku. Terima kasih atas kesempatan yang sangat berharga bagiku ini. Bertemu kembali denganmu adalah sebuah kenangan terindah di akhir kisahku. Bisa berada dekat denganmu walau hanya sesaat, adalah kebahagian terbaik yang aku dapatkan setelah sekian waktu aku terbelenggu kesakitan tanpa dirimu bersamaku." Bimo masih terus tersenyum dan menikmati semua yang baru saja terjadi.
"Tetaplah bahagia, Dindaku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan terbesarku. Kebahagiaanmu akan selalu ku ingat di hatiku dan ku bawa ke manapun aku pergi. Aku mencintaimu dan akan selamanya mencintaimu. Akan ku bawa cerita cinta ini bersamaku. Akan ku bawa cinta ini hingga saatku menutup mata nanti."