
Pagi harinya, Dinda sudah dipindahkan ke ruang perawatannya semula. Tak terkira bahagianya seluruh keluarga yang dari semalam terombang-ambing perasaan kehilangan yang teramat menyayat, karena akhirnya putri dan menantu kesayangan mereka telah kembali di antara mereka semua.
"Selamat datang kembali, Nak. Hampir saja kami semua kehilanganmu..." Bunda Nina memeluk dan menciumi putri semata wayangnya dengan linangan air mata bahagia.
Semua mengikuti, memeluk Dinda satu per satu. Ayah Arya, Mama Indri dan Papa Satrio. Semua larut dalam kebahagiaan yang sama.
Raut bahagia yang lebih bersinar terus terpancar di wajah Adit yang merasakan separuh jiwanya yang hilang melayang telah kembali menyatu dalam dirinya. Dindanya telah kembali, kembali bersamanya, ke dalam pelukannya.
Lelaki itu hampir tak pernah meninggalkan istrinya sebentar saja, kecuali saat ada panggilan dari dokter untuk menemuinya dan saat diminta untuk menjemput bayi mungilnya.
Hari ini, tepat bersamaan dengan kembalinya Dinda dari tidur panjangnya, Cinta putri kecil mereka sudah diijinkan untuk dibawa dan dirawat dalam satu ruangan bersama sang ibu.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya ruang perawatan Dinda dibuka dari luar. Dari balik pintu Adit terlihat masuk dengan menggendong Cinta dalam dekapannya.
Sementara di belakangnya, seorang perawat mengikuti dengan mendorong sebuah kereta tidur bayi lengkap beserta peralatan sang putri kecil. Setelah menyerahkan semuanya pada pihak keluarga, perawat itupun pamit untuk keluar.
"Assalamualaikum, semua. Cinta datang..." Adit tersenyum lebar sembari terus melangkah hingga berhenti tepat di samping tempat tidur Dinda, yang sudah menantinya dengan penuh rasa haru.
Untuk pertama kalinya dia benar-benar bertemu dengan putri kecil mereka, bayi mungil yang telah dilahirkan dari rahimnya, di tengah perjuangannya melawan maut.
Ayah membantu mengatur posisi tempat tidur agar Dinda bisa berbaring nyaman dengan tubuh lebih tegak menyerupai duduk.
Perlahan dan hati-hati, Adit menyerahkan Cinta ke dalam pangkuan kedua tangan Dinda. Air mata terus mengalir membasahi wajah cantik sang ibu saat bertemu, melihat dan bersentuhan untuk pertama kalinya dengan putri kesayangannya.
"Cinta... Cinta putri kecilku..." Lirih Dinda menyapa sang putri dengan suara bergetar menahan haru yang menyelimuti seluruh hati dan jiwanya.
"Akhirnya, Mama bisa bertemu denganmu, Nak. Bertemu bidadari cantiknya Mama dan Papa..."
Dengan rasa bahagia yang membuncah Dinda mencium kening sang putri. Hangat. Lembut. Memberikan limpahan kasih sayang yang tertunda selama sepekan kemarin.
Sekarang, dia ingin memuaskan diri memeluk dan menghujani putri kecilnya dengan seluruh cintanya. Cinta seorang ibu. Cinta tanpa batas. Cinta tanpa balas. Hanya ingin terus memberi, memberi dan memberi.
"Maafkan Mama yang terlalu lama tertidur hingga tidak bisa segera menemuimu, Nak. Tapi Mama janji, setelah ini, Mama akan selalu menyayangi, menjaga dan melindungimu. Mama hanya akan bersamamu, bersama Papa, kita bertiga akan selalu bersama."
Wajah Cinta yang merah menggemaskan itu, terus dihujani ciuman bertubi-tubi dari sang ibu yang terlalu merindukannya, hingga akhirnya bayi mungil itu terbangun dari lelap tidurnya.
__ADS_1
Menggeliat pelan dengan ruang gerak yang terbatas karena bedong yang membungkus hangat tubuhnya, sang putri kecil mulai membuka kedua matanya. Mengerjapkannya dengan teratur bagai kerlip bintang nan indah, mata itu seolah tengah menatap sosok yang sedang memeluknya dengan penuh kasih.
"Assalamualaikum, Cinta..."
Si mungil itu menarik bibirnya dan membentuk senyuman kecil yang membuat siapa pun yang melihat turut membalas senyuman sang bidadari cantik.
"Waalaikumsalam, Mama sayang..."
Adit membalaskan sapaan Dinda untuk tuan putri mereka. Dan mereka berdua pun saling memandang dengan senyuman penuh cinta.
Adit memberikan ciuman di kening si bayi mungil, lalu beralih pada kening sang istri tercinta. Kemudian tangan kiri lelaki itu merengkuh bahu sang istri sedangkan tangan kanannya menyentuh lembut pipi tuan putri kecil.
Sebuah potret keluarga bahagia, yang tak lupa untuk segera diabadikan oleh Papa Satrio dengan kamera di ponselnya.
"Aku menyayangi kalian berdua. Papa mencintai Mama dan Cinta."
.
.
.
Kedua orangtua Adit dan Dinda sudah pulang ke rumah Papa Satrio untuk beristirahat. Esok hari mereka akan kembali ke rumah sakit untuk menemani anak, menantu dan cucu pertama mereka.
"Sayang, kamu pasti sangat lelah, tidurlah dulu. Cinta juga sudah terlelap."
Dinda merapikan kancing pakaiannya. Dia baru saja selesai memberikan ASI untuk Cinta hingga bayi mungil itu tertidur dengan nyamannya dalam dekapan sang ibu. Sore tadi, dibantu oleh seorang perawat, Dinda sudah mulai belajar untuk menyusui bayinya.
Adit menutupi kereta tidur putri kecilnya dengan kelambu. Lalu memposisikan kereta tersebut agar tetap terjangkau oleh pandangan Dinda dari atas tempat tidur. Wanita itu tak ingin jauh-jauh dari bayi mungilnya.
Adit berpindah ke sisi yang lain lalu duduk di samping istrinya yang terus memandangi Cinta yang tidur pulas di balik kelambunya. Posisi tempat tidur Dinda masih setengah tegak sehingga Adit pun bisa turut menyandarkan tubuhnya.
Sebelah tangannya menyelinap ke belakang pinggang istrinya, memeluk dengan lembut. Sementara Dinda yang merasakan tangan suaminya sudah mengusapi sisi pinggangnya, mulai menyandarkan kepalanya di bahu Adit.
Tangan Adit yang lain sudah melingkar di bagian atas tubuh istrinya. Lalu dia mencium kening Dinda, seperti kebiasaannya selama ini.
__ADS_1
"Aku sudah terlalu lama tidur dan meninggalkanmu, mas. Sekarang biarkan aku terus terjaga bersamamu, menikmati setiap detik waktuku bersamamu..."
Karena di tangan kirinya masih tertancap jarum infus yang terhubung dengan selang kecil yang mengalirkan cairan vitamin dari kantong yang tergantung di sampingnya, Dinda tidak bisa membalas pelukan Adit, tetapi tangan kanannya masih bisa bergerak untuk menyentuh wajah suaminya.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat wajah tampan suamiku ini. Aku sangat merindukanmu, mas." Ucap Dinda dengan tatapan mata yang lembut, terus memuaskan diri memandangi wajah Adit dari jarak yang sangat dekat.
Adit memejamkan mata, mencoba menikmati sentuhan tangan sang istri yang sudah lama tidak dirasakannya. Dia mempererat pelukannya di tubuh Dinda, namun tetap lembut mengingat istrinya masih dalam masa pemulihan.
"Aku lebih merindukanmu, sayang. Kamu tahu, selama satu minggu kemarin hidupku benar-benar berantakan karena tak ada dirimu di sampingku. Ragamu memang masih terlihat oleh mataku, tapi jiwamu pergi berkelana entah ke mana..."
"Maafkan aku, mas...."
Dinda menarik kepalanya dari bahu suaminya lalu mencium pipi Adit, membuat lelaki itu tersenyum lalu membalas ciuman tersebut.
Wajah mereka masih berdekatan, saling menatap dalam diam, kemudian sama-sama memejamkan mata dan menciptakan ciuman hangat yang selembut mungkin.
Belum ada satu menit setelahnya, terdengar lenguhan sang buah hati yang berlanjut menjadi tangisan yang mengakhiri aktivitas yang baru dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Kedua orangtua baru itu tertawa bersama menyadari gangguan dari sang putri kecil yang membuyarkan keintiman mereka yang tengah menyatukan bibir dengan sepenuh perasaan.
"Akan selalu seperti ini nantinya, sayang. Kemesraan kita akan sering terganggu oleh tangisan manja dari tuan putri kecil. Dan kita harus membiasakan diri mulai dari sekarang."
Adit segera beranjak melangkah memutari tempat tidur dan menghampiri sang putri yang terbangun karena popoknya telah penuh. Dengan cekatan Adit mengganti popok bayi mungilnya kemudian mengangkat putri kecilnya dari dalam kereta dan memberikannya pada Dinda untuk ditidurkan dalam pelukannya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.