Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
81 ANCAMAN BAHAYA


__ADS_3

Adit terhenyak mendengar apa yang baru saja disampaikan papanya di ruangan direktur utama. Tubuhnya mendadak lemas dan rebah di sandaran sofa. Hanya satu yang ada di dalam pikirannya saat ini. Keselamatan istrinya dan bayi di dalam kandungannya, yang satu bulan lagi akan lahir dan hadir di tengah-tengah mereka.


"Kita harus waspada, Dit. Mengingat apa yang sudah diperbuatnya dulu, papa merasa kaburnya dia masih ada hubungannya denganmu."


Papa Satrio sama khawatirnya dengan putra semata wayangnya. Beliau juga memikirkan menantu dan calon cucu pertamanya.


"Kapan dia kabur, Pa?" Tanya Adit gusar.


"Semalam. Entah bagaimana caranya dia bisa keluar dari kamarnya yang terkunci lalu melarikan diri melalui pintu belakang rumah sakit yang saat itu minim penjagaannya."


Pagi tadi, Papa Satrio mendapat kabar dari orangtua Sinta bahwa semalam anaknya kabur dari rumah sakit jiwa. Pihak rumah sakit menghubungi keluarganya agar memberi informasi kepada mereka jika menemukan Sinta atau jika Sinta pulang ke rumahnya.


Namun sampai sekarang, Sinta belum juga diketahui keberadaannya sehingga orangtuanya berinisiatif untuk memberitahu Papa Satrio karena merasa khawatir kalau anaknya akan bertindak nekat seperti sebelumnya dan melakukan hal buruk kepada Adit dan istrinya.


"Saran Papa, Dinda jangan sampai tahu masalah ini! Karena itu bisa mempengaruhi kondisinya, baik fisiknya maupun psikologisnya. Biarkan dia hanya fokus dengan kehamilannya dan persiapan persalinannya."


Adit mengangguk tegas, membenarkan ucapan sang papa. Pikirannya kembali kalut. Ada saja masalah yang datang di saat semuanya sudah terlihat baik-baik saja.


Baru beberapa waktu mereka berdua bahagia karena kehamilan Dinda yang tak terduga, lalu mereka menjalani hari-hari yang indah selama kehamilan istrinya, sekarang di saat mendekati waktu kelahiran sang bayi yang dinantikan, justru datang kabar yang tidak bisa diabaikan begitu saja karena bisa mengancam keselamatan mereka semua.


"Bagaimana kalau dia tak kunjung ditemukan, Pa?"


Adit memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia tidak mau lengah dan kecolongan lagi seperti kejadian sebelumnya.


"Papa sudah minta bantuan pihak kepolisian untuk melindungi Dinda dengan cara penyamaran. Laporan kita yang dulu masih ada di dalam arsip mereka, jadi Papa bisa minta bantuan keamanan dari mereka."


Adit sebenarnya masih ragu untuk langsung bekerja sama dengan pihak kepolisian. Masih ada sedikit rasa kasihan pada Sinta, apalagi mengingat awal tragedi yang membuat wanita itu menjadi bertindak jahat seperti ini juga sangat mengenaskan.


Keterpurukan Sinta adalah awal perubahannya menjadi wanita yang terobsesi pada Adit dan ingin menghancurkan semua yang menghalangi keinginannya untuk memiliki teman masa remajanya dulu.


"Jika kamu ragu dengan langkah Papa, ingat saja keselamatan istri dan calon anak kalian. Papa tidak mau sedikit pun membahayakan mereka, Dit. Seharusnya kamu juga berpikir demikian."


Seolah tahu keraguannya, Papa meyakinkan Adit bahwa langkah beliau untuk segera melibatkan pihak kepolisian adalah langkah yang terbaik untuk mengutamakan keselamatan keluarga kecilnya.


Tiba-tiba pintu ruangan Papa Satrio terbuka. Mama Indri masuk dengan tergesa dan wajah panik. Beliau baru mengetahui kabar tentang Sinta setelah suaminya berangkat ke kantor, karena Papa Satrio juga baru menerima telepon dari orangtua Sinta dalam perjalanannya ke kantor tadi.


"Pa, Dit. Bagaimana ini? Mama tidak mau Dinda dan kandungannya kenapa-kenapa lagi..!" Mama terlihat sangat tidak tenang dan begitu khawatir.


Bayangan kejadian yang dulu, saat Dinda jatuh tertabrak hingga harus merelakan kehamilan pertamanya berakhir lantaran keguguran, membuat wanita berumur itu tidak akan mengampuni Sinta jika wanita nekat itu sampai mencelakai menantu dan calon cucunya lagi.


Belum lagi ditambah insiden berikutnya saat Sinta datang ke rumahnya dan hendak menusuk Dinda hingga akhirnya putra semata wayangnya yang terluka karena sabetan pisau wanita gelap mata itu.


"Mama tenang dulu, Ma. Papa sudah menghubungi pihak kepolisian. Mereka akan melakukan pengawalan ketat untuk Dinda dan juga Adit."

__ADS_1


"Syukurlah Papa bisa bertindak cepat. Mama sampai tidak bisa berpikir apapun lagi karena paniknya."


Mama bernafas lega dan duduk di sofa, di sebelah Adit. Sementara Papa masih tetap duduk di belakang meja kerjanya.


"Tolong jangan sampai Dinda tahu masalah ini ya, Ma." Pinta Adit sama halnya dengan papanya.


Mamanya mengangguk pelan. Dia tahu maksud mereka. Saat ini keselamatan Dinda dan kandungannya adalah prioritas utama.


"Apa perlu kalian tinggal bersama kami untuk sementara waktu?"


"Tidak perlu, Ma. Nanti Dinda akan curiga jika kita terlalu banyak mengaturnya." Cegah papa.


"Biarkan seperti biasanya saja. Mulai hari ini Papa akan meminta beberapa orang untuk melakukan penjagaan diam-diam di rumah kalian dan di gerai Dinda." Lanjut Papa Satrio.


Adit sendiri bermaksud untuk memberitahu Andi dan Rinaya tentang hal ini, agar mereka bisa bekerja sama untuk menemani dan menjaga Dinda.


.


.


.


Siang harinya saat Adit dan Andi datang ke gerai untuk makan siang, Papa Satrio kembali mendapat kabar dari pihak kepolisian yang sudah mencari informasi dari rumah sakit, bahwa Sinta sempat mengambil tas salah seorang perawat di sana yang berisi ponsel dan sejumlah uang tunai.


"Mas Andi, tolong beritahu Rinaya tentang masalah ini. Mulai sekarang akan ada beberapa orang dari kepolisian dan orang pilihan papa yang akan menjaga Dinda dan juga gerai ini."


Andi mengangguk tanda mengerti dan menepuk pelan bahu Adit.


"Iya, mas Adit. Semoga Dinda baik-baik saja dan apa yang kita khawatirkan tidak akan terjadi."


"Aamiin. Terima kasih, mas."


"Sama-sama. Aku langsung ke atas dulu menemui Rinaya."


Andi berjalan ke arah tangga lalu menaikinya dengan tenang menuju lantai tiga untuk mendatangi istrinya. Sementara Adit segera menyapa para karyawan istrinya kemudian masuk ke ruangan Dinda.


"Sayang.." Dilihatnya sang istri masih memeriksa laporan kas di layar laptopnya.


"Mas, sudah datang." Dinda berdiri dan menyambut suaminya dengan wajah sumringah.


Adit mendekati Dinda dan langsung memeluknya dengan sangat erat. Matanya terpejam membuat kelebat-kelebat kejadian lama itu muncul lagi di pikirannya.


Dia mencium lama kening istrinya sambil mengucapkan doa panjang dalam hati, memohon keselamatan untuk istri dan bayi di dalam kandungannya.

__ADS_1


"Mas, jangan terlalu kencang peluknya, yang di dalam perut sudah semakin besar lho.." Dinda mengingatkan.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya sangat rindu dan ingin terus memelukmu." Adit merenggangkan pelukannya.


Adit mencium sekilas bibir istrinya lalu menurunkan tubuhnya dan berdiri dengan kedua lututnya untuk memeluk perut bulat Dinda yang semakin membesar.


"Maafkan papa, sayang. Papa rindu sama mama juga kamu, nak. Kamu yang sehat ya, dan jangan merepotkan mama. Papa sangat menyayangi kalian berdua."


Adit menciumi perut Dinda dari segala arah, lalu merebahkan kepalanya di perut istrinya. Tanpa sadar dia meneteskan air mata. Rasa takut itu muncul lagi semakin besar.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Dinda.


Adit segera membersihkan wajahnya dan menahan airmatanya agar tidak menetes lagi.


"Tidak apa-apa, sayang. Hanya terharu saja karena aku sangat mencintai dan menyayangi kalian." Dia berdiri lalu kembali memeluk istrinya.


Dinda membalas pelukan suaminya. Dia sangat bahagia dengan semua perhatian Adit padanya selama ini. Tak ada sedikit pun pikiran bahwa ada bahaya yang sedang mengancam dirinya dan calon buah hati kesayangan mereka.


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2