
Siang ini Adit mengajak Andi makan siang di Gerai Bertiga. Saat berangkat tadi Dinda sudah berpesan agar mengajak Andi karena hari ini dia memasak makan siang di gerai.
Mereka sudah sampai di gerai dan langsung masuk menuju meja paling belakang pas di depan ruangan Dinda.
Adit mempersilahkan Andi menunggu di meja sementara dia masuk ke ruangan Dinda.
"Sayang, aku sudah kelaparan.." Adit menghampiri Dinda dan mencium keningnya.
Dinda tersenyum melihat kedatangan Adit. Dia mengajak Adit keluar menuju dapur. Mereka berdua membawa makan siang yang sudah disiapkan Dinda ke meja yang ditunggui Andi tadi.
"Saya tidak membantu malah merepotkan numpang makan di sini mbak Dinda.." Andi tampak sungkan karena dia seperti bos yang sedang dilayani dengan hormatnya.
"Santai saja mas Andi, kan saya yang mengundang mas Andi untuk bergabung bersama kami di sini." Jawab Dinda ramah.
"Oya mas Andi, tolong jangan panggil saya mbak, saya lebih muda lho.., panggil Dinda saja, jangan protes, oke..!?!" Pinta Dinda.
"Sudah ikuti saja maunya mas, dari pada dia ngambek, nanti kita tidak jadi makan siang di sini.." Kata Adit sambil melirik Dinda yang masih mengatur menu yang terhidang di meja.
"Betul itu, mas Andi." Dinda mengiyakan perkataan suaminya dan mereka bertiga pun tertawa bersama.
"Baiklah, saya yang mengalah saja, sudah terlanjur sampai sini, masak tidak jadi kenyang.." Guraunya membuat si bos dan istrinya kembali tertawa.
"Sayang, di mana Elisa dan Rinaya, kok belum turun juga?" Tanya Adit.
"Elisa sudah keluar makan siang dengan Farrel. Kalau Rinaya, mungkin sebentar lagi dia turun." Jawab Dinda lalu meraih ponselnya, hendak melakukan panggilan ke nomor Rinaya.
Belum juga menekan tombol panggilan, sosok cantik nan anggun terlihat berjalan pelan menuruni tangga.
"Nah itu dia yang ditunggu sudah datang.." Dinda mengarahkan pandangan ke tangga di ujung depan meja mereka, diikuti Adit dan Andi.
Deggg...!!! Andi tertegun melihat wanita cantik yang kini sudah berjalan menuju meja yang ditempatinya.
Ada debaran aneh di dadanya saat pertama kali melihat paras rupawan itu.
"Dia seperti bidadari.." Gumamnya dalam hati.
"Rin, ayo cepat buruan duduk di sini, tinggal menunggu kamu dari tadi.." Ajak Dinda sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Andi.
"Maaf ya agak telat, tadi ada telepon dari supplier."
Suara lembut Rinaya yang sudah duduk di samping Andi, membuat hatinya berdesir.
"Rin, kenalin ini mas Andi, yang membantu pekerjaanku di kantor."
"Mas Andi, kenalin juga ini Rinaya, salah satu sahabat Dinda yang sering aku ceritakan."
Adit memperkenal keduanya bersamaan.
Andi dan Rinaya yang duduk bersebelahan saling menoleh dan mengulurkan tangan. Mereka berjabat tangan mengawali perkenalan.
Andi tampak salah tingkah dan segera melepaskan tangannya sebelum getaran-getaran di hatinya semakin tak terkendali.
Rinaya masih menatap wajah Andi, dia serasa tersihir oleh tatapan mata yang teduh itu.
"Ada apa denganku..?!?"
Namun dia segera menepis perasaannya sendiri.
Tanpa menunggu lagi, mereka berempat menyantap makan siang yang disiapkan oleh Dinda.
Berhubung masih jam makan siang, cafe pun ramai didatangi pembeli silih-berganti.
Dinda yang melihat beberapa meja masih belum diantarkan pesanannya, segera berdiri untuk membantu karyawannya.
"Maaf, aku tinggal dulu ya. Aku mau membantu menyiapkan pesanan pembeli." Dinda pamit untuk meninggalkan yang lain.
"Kalau begitu aku ke musholla depan bersama mas Andi ya, sayang. Meja ini biar bisa dipakai kalau ada yang datang lagi." Adit juga berdiri diikuti Andi.
__ADS_1
"Biar aku yang membereskan mejanya." Rinaya juga beranjak dari duduknya, bersiap membantu Dinda.
Mereka pun berpencar dengan aktivitas masing-masing.
.
.
.
Kembali dari musholla, Adit dan Andi bermaksud untuk kembali ke kantor.
Sementara Adit mencari Dinda di dalam ruangannya, Andi menunggu di salah satu meja yang kosong.
Baru saja duduk, dia melihat Rinaya keluar dari dapur cafe hendak menaiki tangga.
Andi segera mengejarnya dengan cepat..
"Rinaya.." Panggilnya.
"Ya, mas Andi..?" Rinaya menghentikan langkahnya.
"Mmmm.., apa aku bisa minta nomor ponselmu?" Andi langsung pada intinya.
"Oh ya mas.." Jawab Rinaya pendek. Sebenarnya dia masih ragu karena mereka baru saja bertemu. Tapi karena tahu jika Andi bekerja di kantor yang sama dengan Adit, dia pun membuang keraguannya.
Andi menyodorkan ponselnya kepada Rinaya yang langsung diterima Rinaya. Dia menuliskan nomor ponselnya dan mengembalikan ponsel Andi.
"Terima kasih, Rinaya." Andi menyimpan nomor itu di kontak ponselnya.
"Saya tinggal ke atas dulu, mas Andi." Rinaya tersenyum dan berlalu menaiki tangga, meninggalkan Andi yang masih terpukau dengan paras dan tutur kata wanita cantik itu.
"Ya Allah, mengapa hatiku terus berdebar seperti ini..??"
Andi masih memaku pandangannya kepada Rinaya, memperhatikan langkah kaki wanita itu menaiki satu demi satu anak tangga, sampai tubuh itu tak lagi terlihat oleh jangkauan matanya.
"Sayang, aku kembali ke kantor dulu ya. Tunggu aku nanti sore." Andi mencium ujung kepala dan juga kening Dinda.
"Saya juga pamit, Dinda. Terima kasih untuk makan siangnya yang sangat enak." Ucap Andi dengan pujian tulusnya karena masakan Dinda benar-benar nikmat dan memanjakan lidahnya tadi.
"Sama-sama, mas Andi. Kapan-kapan kita makan siang bersama lagi di sini.." Balas Dinda.
Mereka bertiga berjalan keluar beriringan. Dinda melepas kepergian Adit dan Andi yang sudah masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan gerai.
.
.
.
Sampai di kantor, Adit dan Andi masuk ke ruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Berbeda dengan Adit yang langsung fokus dengan pekerjaannya, Andi hanya duduk diam di depan layar laptopnya, tatapannya kosong, pikirannya menerawang jauh ke tempat lain.
Sesekali dia mencoba berkonsentrasi pada tugasnya, tapi masih belum bisa. Dia masih memikirkannya. Memikirkan wanita cantik bagai bidadari yang baru saja ditemuinya di cafe Dinda. Dia merasa hatinya telah terpikat pada pandangan pertama.
Sudah lama sekali Andi tidak pernah merasakan hatinya seperti ini. Sejak kepergian kekasihnya yang meninggal karena sakit lima tahun yang lalu.
Dan hari ini, hatinya seakan menemukan pijarnya kembali, setelah sekian lama gelap dan hampa tanpa dimiliki.
Meski dia belum tau apa pun tentang wanita itu, hatinya tak mau peduli. Hatinya memberi isyarat bahwa rasa itu telah hadir kembali dengan indah.
.
.
.
__ADS_1
Usai jam kantor, Andi melajukan mobilnya menuju Gerai Bertiga. Entah apa yang akan dia lakukan di sana, dia sendiri tidak tahu. Dia hanya mengikuti kata hatinya.
Dia menghentikan mobilnya di depan ruko yang sudah tutup, tak jauh dari gerai. Dilihatnya mobil Adit masih terparkir di halaman gerai.
Tak berapa lama tampak Adit dan Dinda bergandengan tangan keluar dari gerai. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan berlalu menjauh meninggalkan gerai.
Andi mengambil ponselnya dari kursi di samping kemudi. Dia mengirim pesan untuk seseorang di dalam gerai.
"Assalamualaikum, Rinaya. Aku Andi, asistennya mas Adit."
Harap-harap cemas dia menanti adakah balasan dari Rinaya.
Satu menit, lima menit, sepuluh menit.., akhirnya ponselnya berdering. Satu pesan dari Rinaya masuk.
"Waalaikumsalam, mas Andi. Ada apa, mas?"
Hati Andi bergetar lagi meski hanya membaca sebuah pesan, seolah Rinaya sendiri yang mengatakan di hadapannya.
Di saat yang sama di lantai tiga gerai, Rinaya memegang ponselnya setelah membalas pesan dari Andi.
"Mengapa hatiku jadi semakin resah setelah menerima pesan dari mas Andi..?" gumamnya dalam hati.
Sedari siang tadi, dia mencoba melupakan perasaannya yang tidak menentu ini, tapi tidak bisa.
Sekarang ditambah lagi ada pesan dari Adit, hatinya semakin gelisah.
"Apa kamu sudah pulang dari gerai..?"
Andi mengirim pesan lagi.
Di sana, Rinaya membaca pesan itu dan membalasnya.
"Belum. Tadi mobilku aku tinggal di bengkel. Dan sampai sekarang belum diantarkan ke sini."
Andi tersenyum, sepertinya dia mempunyai satu kesempatan sore ini.
"Bolehkan aku mengantarmu pulang?"
Terkirim satu pesan lagi.
Rinaya yang membacanya merasa nafasnya tercekat. Sama seperti Andi, dia pun sudah cukup lama tidak berhubungan dekat dengan seorang pria. Dan hari ini, ada pria yang baru dikenalnya beberapa jam, menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Dia masih ragu untuk memberikan jawaban.
Tapi dia kembali ingat jika Andi adalah asisten Adit. Tidak mungkin Andi akan melakukan hal buruk padanya.
"Boleh mas, jika tidak merepotkan." Terkirim sudah balasannya.
Andi tersenyum senang membaca balasan dari Rinaya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik ini.
"Bersiaplah di depan. Sebentar lagi aku sampai."
Buru-buru Rinaya berkemas, berpamitan pada karyawannya, lalu turun ke lantai dua pamit pada Elisa yang masih menunggu Farrel.
Kemudian dia berjalan turun, melewati cafe dan menuju ke teras ruko.
Dari tempatnya, Andì sudah melihat wanita cantik itu berdiri sambil memegang ponsel di tangannya.
Dia segera menyalakan mesin mobilnya dan menyetir pelan ke arah gerai, menghentikan mobilnya tepat di depan Rinaya.
Dengan hati berdebar kencang, Andi keluar menghampiri Rinaya yang juga terlihat gugup.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak, mas. Aku baru saja turun kok." Rinaya juga merasakan getar-getar lembut di hatinya.
Andi mengajak Rinaya masuk mobil. Dia membukakan pintu, mempersilahkan Rinaya masuk dan menutup pintu dengan hati-hati. Dia segera berjalan memutari mobil, masuk dari sisi kemudi.
Sebelum mobil berjalan, tanpa sengaja mereka bertemu pandang, saling menatap sesaat lalu memalingkan wajah ke arah yang berbeda.
__ADS_1