
Malam harinya Adit sudah menjemputku untuk menemaninya mengambil ponselnya ke tempat servis. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pusat kota.
Ya, sudah cukup lama Adit memilih membawa mobilnya jika sedang pergi bersamaku saat malam hari. Supaya aku tidak kedinginan dan jatuh sakit, alasannya. Iihh, so sweet gak tuh...
"Sayang..." Panggilnya memecah kebisuan kami sedari berangkat tadi.
Duh, muka udang rebus mode on lagi nih..!
Dan kali ini Adit jelas melihat ronaku. Dia tersenyum menatapku sekilas sembari fokus menyetir.
"Kenapa muka kamu? Malu atau mau aku panggil begitu..?!" Huh, dia suka sekali menggodaku saat aku salah tingkah begini.
"Dua-duanya.." Jawabku asal yang justru membuatnya melepaskan tawa.
Sampai juga di tempat servis. Adit segera keluar dari mobil sementara aku memilih menunggu di dalam mobil saja. Tak lama kemudian, dia sudah kembali dengan ponsel di tangannya.
Setelah duduk, dia langsung membuka pesan-pesan yang menumpuk dari kemarin malam, termasuk pesan dariku yang entah berapa banyak jumlahnya.
Dia tersenyum sendiri saat membuka dan membaca rentetan pesan dariku.
"Ternyata kamu sangat mengkhawatirkan aku ya, karena aku gak ngasih kabar.."
Adit merubah posisi duduknya sedikit menghadap ke arahku, sambil terus membaca semua pesan yang aku kirim.
"Gimana rasanya..?!" Dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan pancaran bahagia di matanya.
"Apanya yang gimana..?" Aku mulai salah tingkah lagi.
"Kamu takut kehilangan aku ya?" Dia masih terus menggodaku.
"Apaan sih Dit.." Elakku.
"Ayo dong, sayang. Kasih tau gimana perasaan kamu waktu aku gak ada kabar gitu..?!" Cecarnya.
"Iya iyaa, aku khawatir. Aku bingung, aku takut kamu kenapa2. Aku sedih gak ketemu kamu, gak liat kamu di kampus. Kamu kan gak pernah kayak gini, aku sampai pengen nangis karena mikirin kamu terus..." Tak terasa mataku sudah basah dan mulai meneteskan air mata.
Adit yang melihatku menangis buru-buru menyeka air mataku dengan tangannya. Usapan lembut tangannya di pipiku membuatku semakin larut dalam tangis. Aku mulai terisak.
__ADS_1
"Sayang, jangan menangis.." Dia meraih kepalaku, dan dengan lembut menarikku ke dalam pelukannya.
Isakku semakin menjadi di dalam pelukannya. Dan Adit pun mempererat pelukannya dalam diam. Matanya pun ikut memerah menahan tangis, seolah ikut merasakan tersiksanya aku saat jauh darinya.
Cukup lama Adit memelukku erat, hingga tangisku sudah terhenti dan emosi di hatiku mereda.
Adit melepaskan pelukannya dan beralih menatapku yang juga sudah menatapnya dengan mata sembab.
"Jangan sedih dan menangis lagi ya, sayang.." Pintanya.
"Kamu juga, jangan bikin aku nangis kayak gini lagi.." Balasku memintanya.
Adit tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Kita cari makan malam dulu ya.." Kemudian dia merapikan kembali posisi duduknya di belakang kemudi.
Sebelum menyalakan mesin mobil, dia menoleh sebentar ke arahku, memastikan aku sudah baik-baik saja. Barulah kemudian dia melajukan mobilnya menuju sebuah tempat makan favorit kami berdua.
Selesai makan, Adit langsung mengantarku pulang. Selama ini dia sangat disiplin soal jam malamku. Tidak pernah sekali pun dia terlambat mengantarkan aku pulang. Itulah salah satu poin yang membuatku selalu nyaman bersamanya.
Sampai di depan pagar utama, Adit mematikan mesin mobilnya. Aku bersiap turun dan hendak berpamitan padanya. Namun tangan Adit lebih dulu menahanku untuk tidak turun dari mobil. Dia menarik pelan tangan kananku, digenggamnya erat-erat.
"Terima kasih untuk hari ini, sayang.." Tulus ucapannya melelehkan hati ini.
"Sama-sama.." Pelan suaraku menjawabnya, sambil menahan getar-getar rasa yang mulai tak menentu lagi dadaku.
"Emm, apa aku boleh menciummu?" Pintanya padaku tanpa basa-basi.
Dalam hatiku berpikir, ini makhluk beda amat yak, tiap mau apa-apa selalu meminta ijinku dengan tenang. Tidak seperti kebanyakan cowok lain, yang suka seenaknya sendiri asal comot asal sosor aja.
Duh.., aku bimbang mau menjawabnya, serba salah juga. (aku timbang-timbang, pikir-pikir, tapi gak jawab-jawab..)
"Kalau kamu gak mau, gak papa.." Lanjutnya.
Dia selalu saja mengalah kalau denganku, tidak pernah sekali pun memaksakan pintanya.
"Boleh.." Jawabku akhirnya. Tapi hati ini sudah gak bisa dikontrol lagi debarannya.
__ADS_1
Adit diam menatapku yang duduk tak tenang. Kepalanya mulai mendekat ke arah wajahku. Aku sudah tak berani lagi menatapnya. Aku merasakan hembusan nafasnya di wajahku.
Kini wajah kami sudah semakin dekat, hampir tak berjarak. Aku sudah pasrah apa pun yang akan terjadi.
Satu kecupan hangat ku rasakan mendarat di keningku. Hanya sekilas saja.
Adit memundurkan sedikit wajahnya, kembali menatapku bersamaan aku mencuri tatapan ke arahnya juga. Pandangan kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
Untuk kedua kalinya Adit mencium keningku, kali ini cukup lama. Aku pejamkan mataku, merasakan lembut dan hangatnya bibir Adit yang masih terus menempel di keningku.
Hening. Tanpa suara. Kami larut dalam perasaan masing-masing.
Adit melepaskan ciumannya. Menatapku yang baru mulai membuka mataku kembali. Melihatku tersipu menahan malu di hadapannya.
"Aku mencintaimu, sayang.." Bisiknya lembut di telingaku.
Dia pun melepaskan genggaman tangannya, tanda mengijinkanku keluar mobil. Aku segera beranjak turun dan menutup kembali pintu mobil lalu diam sejenak.
Melihatku diam tak bergerak, Adit menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Masuklah dulu.."
Dia melepaskan senyum terakhirnya malam ini, mengiringi langkahku memasuki gerbang hingga sampai di teras rumah, kemudian dia berlalu diiringi deru suara mobilnya yang semakin menjauh.
Segera aku membersihkan diri dan berganti pakaian, dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur.
Melepaskan semua lelah dan penatku hari ini.
Membuang semua kesedihan yang sempat hinggap di hatiku hari ini.
Melelapkan mataku menuju ke alam mimpi dengan membawa seluruh kenangan kejadian istimewa hari ini.
Dan menutup malam ini dengan rasa bahagia yang masih berselimut haru biru penuh cinta.
"Adit, aku juga mencintaimu..."
.
__ADS_1
.
.