
Di dalam ruangannya, Dinda menekuk wajahnya yang masih basah oleh sisa air mata. Dia memegang ponselnya tanpa melakukan apa-apa.
Dia masih merasa kesal dengan Adit karena menolak permintaannya. Entah dia akan datang atau tidak, Dinda sudah tidak mau memikirkannya.
Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian dia keluar dari ruangan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu kembali ke ruangannya.
Sementara itu, Adit yang sudah tiba di halaman gerai langsung masuk ke cafe. Setelah menyapa para karyawan, dia segera masuk ke ruangan Dinda dan melihat Dinda hendak mengambil mukena di laci meja.
"Sayang.." Panggil Adit sambil menutup pintu.
Dinda menoleh dan terkejut melihat Adit sudah ada di hadapannya secepat ini. Hatinya menghangat mengetahui suaminya bersedia menuruti keinginannya tadi.
Dia urung mengambil mukenanya dan menghambur ke pelukan Adit. Dia menangis seperti anak kecil yang manja, terisak lirih namun tak kunjung berhenti.
Adit memeluk Dinda dengan sayangnya. Dia mengusap punggungnya berkali-kali dan mencium ujung kepala istrinya dengan penuh perasaan.
"Mengapa menangis, sayang?" Tanyanya lirih di telinga Dinda.
"Sudah kubilang aku rindu.." Jawabnya masih dalam pelukan sang suami.
Adit tersenyum meski hatinya masih bertanya-tanya mengapa Dinda begitu merindukannya seperti ini.
"Aku sudah di sini. Masih rindu?"
Dinda menganggukkan kepalanya yang bersandar di bahu sang suami. Dia mempererat pelukannya dengan mata terpejam. Adit membiarkan Dinda memuaskan keinginannya dan menunggu tangisannya mereda agar hatinya menjadi tenang.
Tak lama kemudian Dinda melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya. Adit mengambil tisu di meja Dinda dan membersihkan sisa air mata di wajah istrinya. Setelah itu dia mencium kening Dinda.
"Sudah puas? Atau masih merindukan aku?"
Dinda memukul pelan dada Adit untuk menyembunyikan rasa malu yang telah memerahkan wajahnya. Adit tersenyum senang melihat tingkah istrinya.
"Kalau sudah puas, aku tinggal ke musholla dulu."
Adit mulai menggulung lengan bajunya dan berbalik akan membuka pintu. Tapi Dinda menarik tangannya dan menatap Adit.
"Aku ikut." Pintanya.
Adit kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Ayo, bawa mukenamu."
Dinda bergegas mengambil mukenanya lalu menyimpan tas dan ponselnya di laci dan menguncinya. Setelah itu dengan mata berbinar dan senyum mengembang dia memegang lengan Adit dan mengikuti langkahnya keluar ruangan.
.
.
.
Sampai kembali di ruangan Dinda, Adit pamit untuk kembali ke kantor, karena banyak berkas yang harus diselesaikannya di akhir pekan seperti ini. Saat di musholla tadi, Adit sudah mengirim pesan pada Andi jika dirinya pergi ke gerai sebentar untuk menemui istrinya.
"Sayang, aku kembali ke kantor dulu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum pulang nanti."
Wajah Dinda berubah muram. Dia sedang merasa bosan berada di cafe sepanjang hari. Sebenarnya dia ingin segera pulang dan beristirahat. Namun dia juga tidak bisa menahan Adit untuk tidak kembali ke kantornya.
"Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku. Setelah itu akan kembali menjemputmu, sayang. Jadi jangan pasang muka sedihmu. Aku tidak bisa meninggalkanmu jika wajahmu seperti ini."
Dengan berat hati akhirnya Dinda tersenyum. Dia tidak ingin menambah beban suaminya jika dirinya manja dan menghalangi pekerjaan Adit.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menunggumu." Jawab Dinda.
"Tapiii..."
Dinda memeluk tubuh Adit lalu mendekatkan bibirnya dengan milik suaminya. Adit mengerti maksud istrinya.
Dengan posisi yang tetap sama dia mengulurkan tangannya untuk mengunci pintu lalu membalas pelukan Dinda dengan erat dan menyatukan bibir mereka dengan awalan yang lembut.
Bermula dengan ciuman yang hangat, lambat laun ciuman mereka berubah semakin dalam dan panas. Tangan Dinda sudah beralih ke leher suaminya, sementara tangan Adit mulai berpindah dari pinggang merambat semakin ke atas dan sedikit bermain-main di sana.
Bibir Adit terus mengikuti gerakan cepat bibir Dinda yang sepertinya sangat menginginkan ciuman itu. Tanpa malu lagi, Dinda melakukan apa yang diinginkannya. Menguasai bibir suaminya hingga mereka saling beradu lidah di dalam mulut keduanya secara bergantian.
Setelah memuaskan keinginan istrinya selama hampir sepuluh menit, mereka menyudahi ciuman mesra itu. Dinda tersenyum dan mencium pipi Adit. Pipi itu menjadi basah karenanya.
"Terima kasih..."
Adit membantu membersihkan bibir istrinya yang masih basah dengan ibu jarinya, lalu sekilas mengecupnya.
"Sama-sama, sayang. Aku mencintaimu."
Adit mencium kening Dinda selembut biasanya. Setelah berdua merapikan pakaian dan penampilannya, Dinda mengantarkan Adit keluar sampai ke halaman gerai.
.
.
.
Kembali masuk ke cafe, Dinda bertemu dengan Rinaya yang baru saja turun dari tangga.
"Dari mana, Din?"
Rinaya memesan beberapa kue dan satu botol minuman dingin.
"Aku melewatkan makan siangku. Tadi ada beberapa telepon dari supplier."
Rinaya mengambil tempat yang biasa mereka gunakan saat makan bersama, di depan ruangan Dinda. Dinda mengingat sesuatu. Lalu masuk ke ruangannya dan keluar lagi membawa kotak berisi french fries yang belum dimakannya dan orange juice yang masih tersisa setengah kemasan.
"Aku temani, Rin. Tadi aku belum menghabiskan makan siangku."
Mereka berdua duduk berhadapan dan mulai menikmati makan siang dengan santai diselingi beberapa obrolan ringan.
Diam-diam Rinaya memperhatikan Dinda. Dalam hati dia senang karena satu minggu ini dia melihat wajah Dinda sudah lebih segar dan cerah dari pada sebelumnya. Kantung mata pandanya pun sudah tidak lagi terlihat menandakan istirahatnya telah cukup sehingga wajahnya tidak pucat lagi.
"Rin, bagaimana persiapan pernikahanmu?" Tanya Dinda.
"Kami masih mencari wedding organizer yang cocok, Din. Kami tidak ingin pesta yang terlalu besar dan mewah. Secukupnya saja. Hanya keluarga besar, kerabat dan sahabat dekat saja yang akan kami undang."
"Hhmm, meskipun tamu undangannya sedikit tetap saja pestanya akan menarik perhatian banyak orang, Rin. Aku yakin itu." Kata Dinda.
Dinda tahu keluarga Rinaya termasuk orang berada dan terpandang. Papanya adalah pemilik perusahaan media ternama yang selalu menjadi sorotan publik. Sekalipun mereka akan menggelar pesta yang sederhana, pasti akan tetap terlihat elegan dan berkelas.
"Mas Andi sudah meminta pada papa dan mamaku agar pernikahan kami tidak dipublikasikan di media. Mas Andi tidak ingin rumah tangga kami nantinya menjadi konsumsi publik hanya karena nama besar papaku. Sama halnya kehidupanku dan adikku yang selama ini tidak pernah tersentuh media."
Ya, Rinaya dan adiknya Rindia, selama ini hidup dan bergaul selayaknya orang biasa. Sejak kecil mereka sudah dibiasakan hidup sederhana dan mandiri.
Dinda dan Elisa sebagai sahabat terdekatnya saja baru mengetahui tentang keluarga Rinaya saat tahun terakhir perkuliahan mereka dulu. Bahkan saat mereka wisuda pun, papa dan mama Rinaya datang bukan sebagai orangtuanya, melainkan selaku tamu undangan atas nama perusahaan papanya.
"Aku bangga bisa menjadi sahabatmu, Rin. Kamu dan keluargamu sangat baik, sederhana dan tidak pernah membedakan status sosial orang lain."
__ADS_1
Dinda tulus memuji kepribadian Rinaya dan keluarganya. Dia merasa beruntung dan bersyukur bisa menjadi orang yang dekat dengan sosok seperti mereka sekeluarga.
.
.
.
Setelah sibuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, akhirnya Adit bisa pulang dan menjemput Dinda di gerai meskipun sedikit terlambat dari biasanya. Mereka sudah berdua di dalam mobil menuju ke rumah.
"Sayang besok pagi kita pergi liburan. Siapkan beberapa baju ganti untuk kita menginap sehari." Kata Adit.
Mata Dinda terbelalak kaget. Dia sangat gembira terlihat dari sinar matanya yang berbinar cemerlang.
"Benarkah? Liburan?" Dinda masih tak percaya.
"Iya. Kita akan menginap di villa di dekat bukit wisata." Jawab Adit sembari tersenyum dan mengusap kepala istrinya.
"Aaa.., terima kasih, sayang. Kamu selalu memberi kejutan yang tak terduga untukku." Dinda mencium pipi Adit yang membuat suaminya tersenyum semakin lebar.
"Apapun akan aku lakukan untukmu, sayang. Asalkan dirimu bahagia dan selalu sehat bersamaku." Gumamnya dalam hati.
.
.
.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN ATAS SEGALA SALAH DAN KHILAF
TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM
BARAKALLAHU FIIKUM
Author & Keluarga
🙏🙏🙏
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1