
Pagi hari seperti biasa, Andi menjemput Rinaya untuk berangkat bekerja. Karena belum sarapan, mereka mampir ke warung soto Pak Man. Setelah kencan pertama mereka waktu itu, Andi dan Rinaya menjadi sering sarapan bersama di sana sambil mengingat momen manis awal hubungan mereka.
"Selamat pagi, Pak Man."
Rinaya menyapa lebih dulu dengan sopan. Andi mengikutinya dengan senyum ramahnya.
"Eh, pasangan serasi kesayangan Pak Man sudah datang."
Pak Man yang masih sibuk menyiapkan pesanan, membalas sapaan mereka seperti biasanya.
"Duduk saja dulu di dalam. Nanti saya antar pesanannya. Satu soto daging, satu soto babat dan dua teh hangat. Benar kan?"
"Iya, Pak. Tapi pagi ini saya minumnya wedang jeruk saja ya, Pak." Ralat Rinaya yang langsung diiyakan oleh Pak Man.
Setelah itu mereka berdua duduk menunggu pesanan di salah satu meja. Suasana yang masih cukup ramai membuat kehadiran Andi dan Rinaya menjadi pusat perhatian para pembeli yang lain.
Dalam pemikiran orang-orang itu mereka kagum, sepasang lelaki dan perempuan yang sama-sama menawan dan terlihat berpenampilan bukan seperti orang biasa, dengan tenang dan santainya sarapan di warung sederhana seperti itu.
Sedangkan dua orang yang menjadi pusat perhatian itu tetap duduk berdua tanpa rasa risih dan terganggu. Kesederhanaan mereka tidak perlu diragukan lagi. Kedewasaan Andi dan dan didikan luar biasa dari orangtua Rinaya, membuat mereka selalu nyaman berada di manapun.
Seandainya ada yang tahu bahwa wanita cantik itu adalah putri sulung pengusaha media ternama yang sangat disegani masyarakat, pastilah suasana di sana menjadi heboh dan warung Pak Man akan mendadak viral karenanya.
Tak lama kemudian pesanan mereka sudah datang. Pak Man mempersilakan mereka menikmati sarapannya dan segera kembali keluar untuk melayani pembeli yang lainnya.
"Kalau soto buatan Pak Man ini kita jadikan salah satu hidangan di pernikahan kita, pasti banyak yang menyukainya, mas. Dan warung Pak Man juga akan semakin ramai dan berkembang.
"Hmm.., kamu itu, selalu saja memikirkan hal-hal baik untuk orang lain, Ya."
Andi mengusap lembut kepala Rinaya dengan penuh kekaguman. Hatinya memang tidak salah memilih calon istri.
"Kalau bukan kita, siapa lagi, mas? Bukankah jika kita ingin diperlakukan baik oleh orang lain, terlebih dahulu kita harus menjadi baik dan bisa memperlakukan orang lain dengan baik..?"
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rinaya, ingin sekali rasanya Andi segera memeluk erat wanita itu dan menunjukkan kepada dunia bahwa dialah calon istri yang sangat dicintainya.
"Aku sangat mencintaimu, Ya."
Akhirnya hanya itulah yang bisa Andi ucapkan untuk meluapkan rasa bangga dan bahagianya.
"Hah? Apa, mas?"
Rinaya terperangah karena tiba-tiba Andi mengucapkannya di saat mereka sedang menyantap sarapan. Dia menatap ke arah Andi dengan wajah bingung.
"Aku mencintaimu, dirimu, hatimu, sifatmu, kepribadianmu dan semua yang ada padamu. Aku sangat mencintaimu, calon istriku."
Andi sudah memegang tangan Rinaya dan mengusapinya. Pandangannya sangat teduh menatap mata Rinaya yang mulai berkaca-kaca. Wanita itu begitu terharu mendengar ungkapan cinta calon suaminya.
"Terima kasih, mas. Bertemu denganmu adalah anugerah terbaik yang aku dapatkan dalam penantian cintaku. Terima kasih sudah memberikan hati emasmu yang luar biasa itu untuk aku miliki."
__ADS_1
Mereka saling melempar senyuman, kemudian melanjutkan sarapan mereka.
Serelah menyelesaikan sarapannya, Andi dan Rinaya bersiap untuk keluar menemui Pak Man.
Tapi saat beranjak dari duduknya, suara seseorang memanggil nama calon suami Rinaya.
"Mas Andi..."
Seorang perempuan berparas cantik sudah berdiri di depan meja yang baru akan ditinggalkan Andi dan Rinaya.
"Audi..."
Perempuan bernama Audi itu hendak mendekat dan memeluk Andi tapi dengan cepat Andi bergeser ke samping Rinaya untuk menghindar, membuat Audi berhenti dan menahan kembali rasa rindunya.
Rinaya yang masih menatap perempuan yang tampak seumuran dengannya itu kemudian mengalihkan pandangannya ke wajah Andi yang masih tertegun di sebelahnya. Ternyata Andi mengenal perempuan itu.
Andi yang menyadari tatapan mata Rinaya padanya, segera memperkenalkan keduanya.
"Audi, kenalkan ini Rinaya, calon istriku. Dan Ya, ini Audi, dia adalah adik dari Aulia."
Rinaya tetap tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun Audi masih diam menyimpan tangannya. Dia melihat Rinaya dengan pandangan tidak suka.
Andi mulai menengahi keadaan agar tidak semakin canggung. Apalagi posisi mereka bertiga berdiri, sehingga membuat beberapa orang pembeli lainnya memperhatikan mereka.
"Audi, aku harus segera berangkat ke kantor. Maaf tidak bisa menemanimu sarapan di sini."
"Aku minta nomor ponselnya, mas. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mas Andi."
Andi menghela nafasnya lalu cepat-cepat menganggukkan kepala. Audi mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Andi. Andi menerimanya dan segera mengetikkan nomor ponsel miliknya, kemudian mengembalikan ponsel Audi.
"Kalau begitu aku tinggal dulu, Audi. Selamat makan."
Andi menarik pelan tangan calon istrinya dan berjalan meninggalkan Audi yang masih menatap kepergiannya dengan sebuah senyuman penuh rencana.
Andi membayar pesanannya kepada Pak Man dan sekalian membayari pesanan Audi. Dia menyerahkan selembar uang merah dan meninggalkan kembaliannya untuk Pak Man.
Di dalam mobil, Rinaya masih memikirkan tentang Audi. Ternyata dia adalah adiknya Aulia, kekasih Andi yang telah meninggal dunia. Tentang Aulia, Andi sudah menceritakannya sejak awal dulu. Tetapi dia tidak pernah bercerita mengenai keluarga Aulia, termasuk tentang Audi.
"Ada apa, Ya?"
Andi menatap sekilas ke arah Rinaya yang masih terdiam sejak mereka meninggalkan warung Pak Man. Karena masih fokus mengemudi, dia tidak bisa memperhatikannya terlalu lama.
"Apa mas Andi dulu juga mempunyai hubungan dengan Audi, mas?"
Rinaya tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya. Ada yang terasa mengganjal di hatinya ketika melihat raut wajah dan sikap Audi terhadap Andi tadi.
"Tentu saja tidak, Ya. Dia adalah adiknya Aulia. Aku menganggapnya sebagai adikku juga."
__ADS_1
"Tapi yang aku lihat, dia menaruh hati padamu, mas."
Andi tersenyum dan kembali memalingkan wajahnya untuk melihat mimik muka Rinaya. Kata-katanya menunjukkan perasaan tidak suka atas apa yang dilihatnya tadi.
"Kamu cemburu ya?"
Andi mengelus-elus ujung kepala kekasih hatinya. Dalam hati dia senang, melihat Rinaya menunjukkan perasaannya.
"Sikapnya memperlihatkan kalau dia menyukai mas Andi. Mas lihat sendiri tadi dia tampak sangat senang bertemu dengan mas bahkan ingin segera memeluk mas Andi."
Rinaya membuang pandangannya keluar jendela. Ada rasa sesak yang menyakitkan di dalam dadanya. Dia ingin menangis tapi sebisa mungkin ditahannya agar tidak mengeluarkan airmata.
Namun Andi telanjur mengetahuinya. Dia memperhatikan tubuh Rinaya yang bergerak cepat mengikuti nafasnya yang memburu tapi terputus-putus. Dia juga melipat bibirnya ke dalam untuk menahan tangisnya.
Andi menepikan mobilnya dan berhenti. Dia segera menarik tubuh Rinaya ke dalam pelukannya.
"Menangislah, Ya. Jangan ditahan lagi. Keluarkan saja semua yang mengganjal di hatimu."
Berada dalam pelukan Andi dan mendengarkan ucapannya membuat Rinaya langsung menumpahkan tangisannya.
"Aku minta maaf karena sudah membuatmu bersedih seperti ini, Ya. Maafkan aku."
Andi mencium mesra kepala Rinaya di sela-sela pelukannya. Dia membiarkan Rinaya menuntaskan tangisannya dan melepaskan semua rasa takutnya. Andi mengerti jika calon istrinya itu cemburu karena takut kehilangan dirinya.
Rinaya masih terus menangis dalam pelukan Andi. Baru kali ini dia merasakan rasa sakit di hatinya. Sakit karena teramat sangat mencintai Andi dan begitu takut akan kehilangan lelaki tercintanya.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1