
Lewat tengah malam, kondisi Dinda tiba-tiba memburuk. Dia segera dibawa kembali ke ruang ICU karena harus dipasangi beberapa peralatan medis darurat yang tidak disertakan ke ruang perawatannya.
Adit yang sendirian menjaga Dinda, terlihat begitu panik dan penuh ketakutan menyaksikan tubuh Dinda yang mendadak kejang parah diikuti bunyi alat monitoring di samping tempat tidur yang berdengung cepat dan kadang-kadang berhenti lama, membuat suasana hatinya semakin mencekam.
Satu orang kepercayaan Papa Satrio yang masih ditugaskan untuk berjaga di luar ruang perawatan Dinda, segera menghubungi atasannya dan memberitahu tentang kondisi terkini menantunya. Kedua orangtua Adit dan Dinda bergegas pergi ke rumah sakit dengan kecemasan luar biasa.
"Ayo, sayang. Bertahanlah! Teruslah berjuang!! Aku dan Cinta ada di sini menunggumu..!!!"
Adit berjalan mondar-mandir sendiri di depan ruang ICU. Bibirnya terus bergerak, melantunkan semua doa yang bisa dia panjatkan, memohon keajaiban dari Allah agar Dinda bisa selamat dan baik-baik saja.
Tiga puluh menit lebih telah berlalu tanpa tanda-tanda penanganan pada Dinda telah selesai. Suasana tengah malam yang sunyi semakin menambah aura mencekam dalam setiap detik yang berlalu begitu saja.
Adit mulai frustasi dan tak sabar lagi. Berkali-kali dia mendekati pintu ruang ICU dan menengok ke dalam melalui kaca kecil di bagian tengah pintu. Tetapi dia tidak bisa melihat apapun karena ada satu pintu lagi yang menghalangi ruang penanganan pasien agar tidak terlihat dari luar.
Terdengar suara langkah kaki beberapa orang beradu dengan lantai sepanjang koridor dan memecah keheningan malam yang telah berganti dini hari.
Kedua keluarga Adit dan Dinda tiba di depan ruang ICU yang hanya terlihat keberadaan Adit dan satu orang penjaga yang terus mengawal dari kejauhan. Beberapa keluarga pasien ruang ICU yang lain disediakan ruangan khusus di sisi samping untuk beristirahat selama menunggui anggota keluarganya yang tengah dirawat di dalam.
"Apa yang terjadi, Dit? Bagaimana keadaan Dinda?" Bunda Nina menghambur ke pelukan menantunya dengan isak tangis yang sedari tadi mengiringi kedatangannya bersama keluarga yang lain.
Adit menggeleng lemah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dokter belum ada satupun yang keluar, begitu juga para perawat. Semua masih mencoba melakukan upaya penyelamatan untuk istrinya yang tengah berjuang sendirian di dalam sana, antara hidup dan mati.
"Tadi Dinda sudah membuka matanya. Dia bisa melihatku dan tersenyum padaku. Tetapi belum sempat aku membalas dan melakukan apapun, tiba-tiba tubuhnya bergetar sangat hebat, matanya berbalik ke atas, setelah itu...." Adit hampir tak sanggup mengatakannya. Dia mencoba tenang dengan memejamkan matanya. Tetapi bayangan kejadian tadi hadir kembali dan membuatnya sangat ketakutan.
"Setelah itu Dinda tak sadarkan diri lagi dan alat monitoring sudah beberapa kali menunjukkan garis lurus yang menandakan bahwa....., bahwa detak jantungnya menghilang....."
Setetes kristal bening luruh dari sudut matanya, membasahi pipi kanannya. Pikirannya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Dia rapuh, tak sanggup membayangkan bila belahan jiwanya pergi meninggalkan dirinya dan Cinta putri kecil mereka.
Bunda Nina semakin terisak, lalu perlahan ditarik dan direngkuh ke dalam pelukan suaminya, Ayah Arya. Tak jauh beda, Mama Indri pun terisak sedih dalam pelukan Papa Satrio. Semua menangis, semua bersedih dan mulai merasakan aura kehilangan yang penuh kedukaan.
__ADS_1
Tubuh Adit melemah. Dia jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Kakinya terlipat ke atas dengan lutut sebagai tumpuan kepalanya yang menunduk, tenggelam dalam kesedihan berbalut ketakutan teramat sangat.
"Jangan pergi, sayang. Aku mohon, jangan pergi....." Gumamnya berulang-ulang dengan suara lirih teriris perih.
"Cinta membutuhkanmu. Akupun membutuhkanmu. Kami berdua membutuhkanmu di sini, sayang. Kita harus tetap bertiga, tidak boleh berpisah....." Tak peduli airmatanya yang mulai mengalir, Adit terus berbicara sendiri, seolah sang istri ada di sisinya.
Satu jam telah berlalu dari pertama kali Dinda dibawa ke ruang ICU. Pintu ruangan terbuka dan memunculkan seorang perawat dari balik pintu yang kembali tertutup rapat.
Sontak seluruh keluarga mengerumuni sang perawat, mencari informasi tentang kondisi Dinda di dalam sana.
"Suster, bagaimana kondisi istri saya??" Adit yang sudah bangkit dari lantai tak sabar untuk mengetahui kabar keadaan Dinda.
Perawat itu mengangkat bahu dan menggelengkan kepala, dengan sorot mata yang menyiratkan penyesalan dan permintaan maaf.
"Maaf, sebaiknya bapak mendengarnya langsung dari dokter. Sebentar lagi beliau yang mewakili tim dokter akan keluar untuk menemui bapak dan keluarga. Saya permisi dulu..." Dan perawat itupun buru-buru melanjutkan langkahnya yang tadi terhalang oleh banyak orang dan menghilang di ujung koridor.
Pikiran buruk langsung datang berkelebat-kelebat menambah kecemasan di hati Adit hingga memuncakkan ketakutannya. Kata-kata yang disampaikan oleh perawat tadi seperti sebuah firasat buruk yang akan segera menjadi kenyataan untuk dirinya. Inikah akhir kisah mereka?
Beberapa saat kemudian, seorang dokter laki-laki paruh baya keluar dan berdiri tepat di depan pintu. Mendapati kerumunan keluarga pasien dengan wajah panik tak terkecuali, beliau hanya bisa menghela nafas panjang kemudian membuka masker yang masih menutupi wajahnya setelah berkutat bersama rekan kerjanya yang lain untuk melakukan upaya penyelamatan pada pasien kritisnya.
"Kami mohon maaf....."
Ucapannya terhenti saat melihat tubuh Bunda Nina merosot jatuh tak berdaya dalam pelukan suaminya yang turut terjatuh karena menahan beban tubuh istrinya.
Sang dokter menunggu pihak keluarga menenangkan Bunda Nina dulu. Beberapa dari mereka duduk sambil menjaga para ibu yang terlihat syok, bahkan sebelum sang dokter menyelesaikan kalimat pertamanya.
Setelan semuanya lebih tenang, beliau melanjutkan penjelasannya.
"Kami sudah berusaha keras semaksimal yang bisa kami upayakan, tetapi mohon maaf..., kondisi pasien saat ini sudah berada dalam fase terminal di mana semua upaya pemyelamatan sudah kami lakukan tetapi pasien sama sekali sudah tidak meresponnya..."
__ADS_1
Semua wajah yang tampak di sana memucat seketika mendengar penuturan dokter. Adit merasakan dadanya terhantam palu besar dan nafasnya tercekat di tenggorokan. Dia merasa sangat sesak dan melemas.
"Tidak..., tidak mungkin seperti itu...! Pasti masih ada cara lain untuk menolong istri saya, Dok! Lakukan apapun itu. Saya mohon...!!!"
Dokter tersebut menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan saling menangkup di depan dada, tanda permohonan maafnya kepada pihak keluarga.
"Saat ini pasien hanya bergantung pada alat resusitasi yang masih kami pasang, karena secara medis jantung dan paru-parunya sudah berhenti bekerja. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan..."
"Kami serahkan keputusan kepada pihak keluarga, untuk segera melepaskan alat tersebut dari pasien atau tetap mempertahankannya dengan harapan hidup yang...., maaf, sudah tidak ada lagi....."
Tangisan Bunda Nina dan Mama Indri terdengar meraung-meraung memecah keheningan di ruangan terbuka tersebut. Sementara kedua suami mereka memberikan kekuatan dengan pelukan yang semakin erat, meskipun hati mereka juga merasakan kesedihan mendalam yang sama.
Adit masih tetap berdiri di hadapan sang dokter. Sekuat tenaga dia mencoba bertahan sekalipun tubuhnya telah terasa begitu ringan dan lemah.
Hatinya berusaha menerima dan memahami ucapan sang dokter, tetapi penolakan selalu menguasai pikirannya.
"Tidak! Ini tidak benar...!! Dinda tidak mungkin pergi begitu saja....."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.