Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
64 PANGGILAN BARU


__ADS_3

Sebelum sampai pada part pernikahan Andi dan Rinaya, di part ini dan beberapa part ke depan akan kami khususkan pada kisah kemesraan Adit dan Dinda yang sedang mengulang kenangan masa-masa indah saat mereka kuliah dulu.


Beberapa episode ke depan akan mengenang awal kebersamaan Adit dan Dinda , jadi akan berhubungan dengan cerita di episode-episode awal novel ini, bisa dibaca ulang lagi ya ..🙏💜


.


.


.


"Mas..." Panggil Dinda manja sambil merebahkan kepalanya di bahu suaminya.


"Ya, sayang?" Jawab Adit yang masih sibuk dengan pekerjaan di laptopnya.


Sore itu sepulang bekerja dan setelah mandi, mereka duduk berdua di sofa ruang tengah. Dinda mulai asyik menikmati hiburan musik di televisi sedangkan Adit masih menyelesaikan sedikit pekerjaannya.


"Eeh.., apa katamu tadi? Mas..?!"


Telinga Adit menangkap ada yang berbeda dari panggilan istrinya tadi. Dia menatap ke arah wajah istrinya yang masih bersandar nyaman di bahunya.


Dinda mengangkat wajahnya dan membalas tatapan mata suaminya. Senyum mengembang di bibirnya.


"Iya, mas sayang..."


Dinda mengulanginya lagi membuat Adit meletakkan laptop di atas meja lalu kembali menatap wajah istrinya yang tersenyum malu.


"Mulai sekarang aku ingin memanggilmu mas, boleh kan?"


Dinda menarik kepalanya dari bahu Adit. Sekarang mereka duduk bersandar dengan wajah saling berhadapan.


"Hhmm.., aku tidak keberatan, sayang. Apapun itu asalkan kamu senang saja. Tapi katakan, mengapa kamu ingin memanggilku mas? Apa kamu iri dengan Rinaya dan mas Andi?"


Adit bertanya sambil merapikan helaian anak rambut di wajah Dinda dan menyelipkannya di balik telinga sang istri.


"Hahaa.., tentu saja aku tidak iri, mas. Banyak pasangan yang memanggil mesra suaminya dengan sebutan mas. Lagipula kamu memang lebih tua dariku, wajar kalau aku panggil mas. Terdengar lebih sopan dan menghormatimu sebagai suami dan imamku."


Adit tersenyum mendengar Dinda kembali memanggilnya mas.


"Baiklah, aku akan membiasakan telingaku ini untuk mendengarkan panggilan mesramu itu, sayang. Katakan sekali lagi.."


"Aku mencintaimu, mas."


Dinda membalas senyum Adit dan mencium pipi suaminya, membuat Adit menghangat dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Dia terus memandangi bibir manis Dinda yang setiap saat selalu menggoda hasratnya untuk menikmati kelembutan dan kehangatan rasanya.


Saat wajah keduanya tak lagi berjarak, dengan segera Adit melepaskan ciuman singkat di bibir istrinya.


"Aku juga mencintaimu, sayang."


Lalu Adit melanjutkan ciumannya, semakin lama dan semakin hangat hingga tubuh mereka pun semakin merapat dan saling memeluk.


Dinda membalas ciuman suaminya dengan hati bahagia. Mereka mulai saling berbagi kehangatan dan kenikmatan dengan ciuman yang lebih dalam namun tetap lembut dan perlahan.

__ADS_1


Sebelum mereka larut dalam gelora yang lebih panas, Adit melepaskan ciumannya dengan nafas yang masih memburu, begitu juga Dinda.


"Kita lanjutkan nanti malam, sayang. Sekarang sudah hampir maghrib. Kita bersiap untuk berjamaah dulu, setelah itu kita akan keluar untuk makan malam."


Dinda menganggukkan kepala kemudian beranjak dari sofa dan mendahului suaminya menuju ke kamar. Sementara Adit menyelesaikan sisa pekerjaannya dan segera menutup laptopnya lalu menyusul sang istri ke dalam kamar.


.


.


.


"Mas, boleh tidak aku minta motor lama kamu itu dibawa ke rumah kita?"


Adit belum mengerti maksud Dinda. Dia hanya melihat sekilas ke arah istrinya lalu kembali fokus mengemudikan mobil untuk makan malam di luar rumah.


"Motor lamaku? Bukankah sekarang juga sudah ada satu motor di rumah kita, sayang? Itu juga jarang dipakai."


"Iya, motor sport merahmu. Aku kangen ingin pergi berduaan dan berboncengan sama kamu pakai motor itu."


"Seperti saat kita kuliah dulu?" Tanya Adit.


"Hu'um. Aku kangen masa-masa itu, mas."


Dengan pikiran yang sama, Adit dan Dinda mulai membayangkan kembali masa-masa awal kebersamaan mereka dulu.


Saat pertemuan pertama mereka ketika Dinda terlambat mengikuti ujian masuk. Juga ketika Adit mulai mengantarkan Dinda kembali ke rumah kostnya sepulang kuliah. Dan yang paling berkesan adalah ketika mereka pergi berdua di malam hari dan Adit mengutarakan rasa sayangnya pada Dinda di taman kota.


Tanpa saling menyadari, keduanya tersenyum mengingat momen indah tersebut. Saat berhenti di lampu merah, Adit mengalihkan pandangannya ke samping, menatap wajah istrinya yang tengah tersenyum sendiri dengan lamunannya.


"Teruslah tersenyum seperti ini, sayang. Dan tetaplah bahagia bersamaku. Aku sangat mencintaimu.." Adit bergumam dalam hati.


Tiba-tiba Dinda menoleh ke arah Adit yang masih menatapnya.


"Ada apa, mas? Mengapa melihatku seperti itu?"


Adit tersenyum dan mengulurkan tangannya meraih kepala Dinda. Dia mengusap ujung kepala istrinya dengan lembut.


"Tidak apa-apa, sayang. Sepertinya aku sudah jatuh cinta lagi kepadamu." Goda Adit.


"Ah, kamu gombal, mas."


"Biar saja aku gombal. Aku jatuh cinta lagi padamu. Kita akan berkencan seperti dulu. Berboncengan mengendarai motor sport merahku. Kamu mau?"


Adit bertanya sambil melajukan kembali mobilnya karena lampu hijau yang telah menyala. Dinda tersenyum semakin lebar mendengar ajakan kencan dari suaminya.


"Iya, aku mau, mas. Jangan lupa, traktir aku wedang ronde di taman kota."


Dan mereka pun tertawa bersama mengingat momen wedang ronde di taman kota saat malam itu.


Tak lama kemudian, Adit menghentikan mobilnya di area parkir sebuah rumah makan masakan jawa. Adit dan Dinda keluar bersamaan lalu bergandengan tangan masuk ke dalam rumah makan.

__ADS_1


Sampai di dalam ruangan, mereka mengambil tempat di samping pintu masuk. Seorang pramusaji segera datang dan mencatat pesanan Adit dan Dinda, kemudian berlalu meninggalkan meja mereka.


Sambil menunggu makan malamnya siap, mereka melanjutkan obrolan ringan tentang kegiatan yang telah dilakukan seharian.


"Ada kabar apa di gerai hari, sayang?"


"Hmm.., tadi aku lebih banyak di ruangan, karena ada rekapan di file yang belum selesai untuk minggu ini."


"Oya, mas. Tadi pagi Elisa muntah-muntah terus di atas. Kebetulan tadi pagi aku sempat ke lantai dua membeli ikat rambut karena ikat rambutku ketinggalan di rumah. Sampai dia memesan teh hangat dua kali lho, mas. Tapi saat pulang tadi aku lihat dia sudah baikan, hanya wajahnya saja yang masih pucat."


Adit terdiam mendengarkan cerita istrinya. Dia tidak ingin menanggapi apapun karena tak ingin menyinggung perasaan Dinda. Di dalam hati, sebenarnya dia berpikir tentang kemungkinan kehamilan Elisa.


"Tapi aku kok berpikir, sepertinya Elisa hamil, mas. Satu mingguan ini aku perhatikan dia sering terlihat pucat dan lemah."


Adit menatap wajah Dinda, memperhatikan mimik mukanya setelah bercerita tentang Elisa. Dia takut istrinya menjadi sedih dan terbawa perasaan. Namun dilihatnya, Dinda bersikap biasa saja, wajahnya juga tampak tenang.


"Kita berdoa saja yang terbaik, sayang. Lagipula Elisa juga belum bercerita apapun kan? Kalau ada apa-apa, pasti dia juga akan mengatakannya pada kamu dan Rinaya."


Adit menggenggam tangan istrinya di atas meja dan mengusapi punggung tangannya. Dinda tersenyum dan tiba-tiba mencium pipinya dengan hangat.


"Iya, mas. Kita juga harus lebih giat berusaha dan tetap berpikiran positif, supaya Allah pun segera mempercayakan amanah kehamilan untuk kita berdua."


Adit merasa terharu mendengar ucapan Dinda. Perkiraannya ternyata salah. Istrinya sekarang sudah bisa menerima dengan ikhlas semua yang telah terjadi.


"Terima kasih, sayang. Insyaallah kita akan segera memperoleh amanah itu."


Adit mencium kening Dinda seraya memanjatkan doa dalam hati, semoga harapan dan ikhtiar mereka berdua segera dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.


.


.


.


Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~


.


__ADS_1


__ADS_2