
Mama Indri membelalakkan matanya, tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Kilatan amarah terpancar dalam tatapan tajam beliau yang tertuju lurus pada sosok yang sekarang berdiri di hadapannya, bersama dua orang polisi di sampingnya.
Sebelum sampai di depan ruangan Dinda, seseorang yang kini berdiri lemah itu berjalan terseok-seok setengah terseret, dengan kedua tangan terkunci borgol di balik punggungnya dan lengan yang dipegang erat oleh kedua polisi yang membawanya.
Saat kepalanya terangkat teratas dan melihat wanita yang mulai berumur itu, dia mencoba tersenyum sembari menahan luka tembak di kaki kanannya.
"Tante, di mana Adit? Di mana Aditku? Mengapa kedua orang ini melukaiku, Tante?"
Plaakkk..!!!
Satu tamparan keras dari Mama Indri mendarat cepat di pipi orang itu hingga wajahnya terpaling ke samping.
"Kamuu...!!" Mama Indri yang sudah geram, masih mencoba menahan luapan amarahnya.
"Apa salahku, Tante? Mengapa Tante juga ikut menamparku? Sakit, Tante..." Bekas memerah tampak jelas di pipinya disertai gurat kesakitan di wajahnya. Dia meringis menahannya.
"Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih bertanya apa salahmu..??"
Tak bisa lagi menahan diri, Mama bersuara dengan keras membuat Adit yang masih berada di dalam ruangan Dinda terkejut mendengar suara tinggi sang mama yang tidak biasanya.
Setelah mencium lembut kening istrinya, dia bangkit dari duduknya di samping Dinda, lalu bergegas menuju pintu dan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Sinta...!!!"
Sorot mata Adit berubah tajam dan murka. Kedua telapak tangannya mengepal kencang disertai rahangnya yang mengeras dengan mulut mengeram menahan emosi.
Wajah Sinta berubah cerah begitu melihat lelaki yang menjadi obsesinya berdiri di depannya. Dia ingin mendekati Adit tetapi lengannya tertahan oleh cengkeraman tangan polisi di sampingnya.
"Adit..! Aku kangen kamu, Dit. Kamu ke mana saja, Dit? Kamu bilang kamu akan selalu bersamaku, tapi kamu malah pergi, kamu menjauhi aku..."
Hiks.. Hiiks... Hiiiks...
Sinta menangis seperti anak kecil. Wajahnya berubah murung dan penuh kesedihan.
"Aku lelah, Dit. Aku lelah menunggumu. Aku lelah mencarimu..."
Tubuhnya lemas, merosot jatuh terduduk di lantai, tak peduli lagi dengan rasa sakit di kakinya.
"Tapi kamu selalu bersamanya. Kamu selalu melindunginya. Aku benci, Dit! Aku benci dia...!!"
__ADS_1
Sinta mengangkat wajahnya, menatap Adit dengan sorot mata penuh amarah, sama halnya yang ditunjukkan oleh Adit kepadanya.
Adit sama sekali tidak mempedulikan ucapan Sinta. Dia tetap diam di tempatnya berdiri, sekuat tenaga menahan emosi yang sebenarnya ingin dilampiaskannya pada wanita itu.
Bayangan istrinya yang terbaring lemah dan masih tak sadarkan diri di dalam ruangan, membuatnya mengingat semua kejadian buruk yang menimpa Dinda dan menyebabkan putri kecil mereka harus dilahirkan sebelum waktunya. Dan semua itu disebabkan oleh Sinta. Sintalah yang telah melakukan semua kejahatan terhadap Dinda.
"Pak, bagaimana kejadiannya sampai dia bisa ada di sini?"
Adit lebih memilih untuk berbicara dengan polisi yang menangkap Sinta, daripada harus menanggapi apapun kata-kata Sinta yang ditujukan untuk dirinya.
Lalu kedua polisi itu pun menceritakan semuanya. Bermula dari salah satu pengunjung rumah sakit yang bertanya di mana ruang perawatan Dinda, sedangkan pihak rumah sakit sudah tahu jika Dinda berada dalam perlindungan polisi.
Karena gerak-geriknya yang mencurigakan, bagian informasi rumah sakit pun segera menghubungi polisi yang berjaga di sana melalui ponsel. Namun saat diminta untuk menunggu lebih dulu, pengunjung tersebut justru bergegas masuk mengabaikan ucapan pegawai yang mencoba menahan dan mengulur waktu.
Kedua polisi berpakain preman yang berjaga di depan ruangan Dinda segera mengambil langkah cepat untuk menunggu kemungkinan Sinta bisa menemukan ruangan Dinda.
Mereka berjaga di ujung koridor tepat di persimpangan antar koridor, satu-satunya jalan untuk menuju ke ruangan Dinda, sambil menunggu bantuan personil datang.
Tak lama kemudian, polisi melihat gelagat tidak wajar dari seorang wanita yang berjalan terburu-buru dengan mata yang terus mencari-cari di setiap ruangan.
Setelah memastikan bahwa wanita tersebut adalah Sinta, target pencarian mereka, kedua polisi tersebut segera menghentikan pergerakan Sinta dan hendak menangkapnya. Tetapi Sinta berhasil berbalik arah dan berusaha lari saat polisi mendekatinya, sehingga mereka terpaksa menghentikannya dengan tembakan di sebelah kakinya.
Beberapa orang polisi datang bersama Papa Satrio. Mereka langsung bergerak merapat ke rumah sakit setelah mendapatkan informasi dari polisi yang bertugas di sana. Kehadiran polisi yang berpakaian seragam membuat suasana menjadi sedikit riuh karena beberapa pengunjung di sekitar mereka merasa penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi.
"Bawa dia pergi dari sini, Pak. Dan pastikan dia menerima hukuman yang seberat-beratnya..!!"
Adit sudah tidak menghiraukan Sinta lagi. Dia tidak mau memikirkan siapa Sinta, masa lalu mereka, kedekatan mereka ataupun kebersamaan mereka dulu. Yang dia tau dan dia ingat sekarang hanya satu hal saja, wanita itulah yang selama ini selalu menggangu hidupnya dan terus melakukan penyerangan terhadap Dinda istrinya.
"Dit, tolong aku..! Aku tidak mau pergi, Dit. Aku hanya ingin bersama kamu. Adit..!!"
Sinta berusaha berontak saat tubuhnya ditarik untuk berdiri lagi meskipun dengan kaki yang masih terluka. Mulutnya tak berhenti berteriak memanggil nama Adit. Namun Adit tak bergeming, dia tetap memalingkan wajahnya, sama sekali tak mau lagi melihat Sinta, sahabat masa lalunya.
"Tolong bawa dia ke ruang IGD lebih dulu, agar kakinya bisa diobati, sebelum kalian bawa ke kantor polisi."
Papa Satrio masih memiliki rasa iba. Dia tidak tega melihat bekas luka tembak di kaki Sinta yang masih terbuka dan mengeluarkan darah. Setidaknya, biar luka itu diberi pertolongan pertama dan tertutup perban agar tidak bertambah parah.
Polisi menuruti permintaan Papa Satrio. Mereka pergi dari depan ruang perawatan Dinda dan meninggalkan dua orang polisi berpakaian seragam yang masih berjaga di sana.
Teriakan Sinta masih terdengar hingga tubuhnya tak terlihat lagi. Adit bernafas lega dan mengusap wajahnya dengan pelan. Satu beban masalah terbesarnya telah usai.
__ADS_1
Ancaman yang beberapa hari ini masih dia khawatirkan bisa terjadi lagi, akhirnya selesai sudah. Sinta sudah tertangkap dan akan mempertanggungjawabkan kembali perbuatannya.
Adit segera masuk ke ruangan Dinda, diikuti Mama Indri. Sementara Papa Satrio dan Pak Jo yang turut mengantar masih berada di luar ruangan bersama dua orang polisi yang bertugas.
Adit langsung menghampiri istrinya yang masih tak sadarkan diri dan belum menunjukkan respon apapun. Diciumnya kening Dinda, lalu kedua pipinya dan satu kecupan singkat di bibir pucat sang istri.
"Bangunlah, sayang. Semuanya sudah berakhir. Tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu. Cepatlah sembuh, kami menunggumu..."
Adit duduk di samping Dinda dengan tangan yang mengenggam erat tangan lemah istrinya. Diciuminya berulang-ulang punggung tangan itu, dengan iringan doa-doa permohonan dalam hatinya.
Mama Indri yang melihatnya tersenyum haru dan bahagia. Beliau pun bersyukur karena Sinta sudah ditangkap dan akan segera menjalani hukumannya. Setelah memastikan Adit tenang dan bisa menemani istrinya sendiri, Mama Indri memutuskan untuk keluar ruangan.
Belum ada satu jam berada dalam suasana yang telah tenang, tiba-tiba kedua orangtua Adit masuk ke dalam ruangan dengan wajah tegang kembali.
"Dit..." Panggil Papa Satrio.
Adit menatap kedua orangtuanya bergantian dengan pandangan bingung.
"Ada apa, Pa? Ma?"
Papa dan mamanya saling berpandangan kemudian menatap wajah Adit dengan ragu untuk menyampaikan sesuatu.
"Sinta, Dit. Dia....."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
__ADS_1