Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
16 MALAM PERTAMA - PART 1


__ADS_3

Mereka berdua duduk berhadapan di meja makan. Menyantap pesanan makanan yang telah datang dengan lahap, karena mereka benar-benar kelaparan. Selesai membereskan makan malam, Dinda buru-buru membuat coklat hangat yang tadi terbengkalai gegara gangguan mesra dari suaminya.


Dia membawa minuman yang dibuatnya ke ruang tengah, bersamaan dengan Adit yang keluar dari kamar, setelah menaruh ponselnya di dalam sana, karena tak mau lagi terganggu dengan dering ponsel seperti tadi.


"Kamu sudah mengantuk..? Hari ini pasti sangat melelahkan, apa lagi kamu harus dirias sedari pagi sekali.." Tanya Adit sambil menyeruput coklat hangatnya.


"Sedikit. Tapi aku belum ingin tidur.." Dinda menyandarkan kepalanya ke sofa, masih dengan memegang cangkirnya.


"Terus mau apa..?" Adit kembali bertanya, lalu menghabiskan minumnya dan meletakkannya kembali di meja.


"Mau kamu apa..??" Kebiasaan lama sang istri muncul lagi, membalikkan pertanyaan. Dalam hatinya berharap, sang suami mengerti maksudnya..


Adit yang ditanya hanya diam. Dia ingin..., tapi belum berani mengatakannya, apa lagi meminta pada istrinya. Perasaannya beradu sendiri, membuatnya menghela nafas panjang.


Diambilnya cangkir yang masih dipegang Dinda dan ditaruhnya di meja.


Lalu segera merengkuh tubuh istri di sampingnya ke dalam dekapannya. Diraihnya kepala Dinda dan disandarkan di bahunya. Diusap dan diciumnya ujung kepala istri yang sangat dicintainya itu.


Hanya seperti itu saja, hatinya sudah bergejolak parah. Dasar pria penakut..., dia mengumpati dirinya sendiri.


Dinda pasrah dalam dekapan hangat suaminya. Dia bahagia, Adit mulai berinisiatif sendiri. Tangannya kemudian melingkar memeluk erat tubuh sang suami. Dia semakin membenamkan kepalanya di atas dada bidang Adit, hingga dia bisa mendengar jelas degup jantung dan deru nafasnya yang mulai memburu tak menentu.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Adit saat tahu Dinda membalas memeluknya dan bersandar di dadanya. Dia lelaki normal. Sudah pasti gairahnya memuncak. Apa lagi dia belum pernah menyentuh dan disentuh wanita secara berlebihan.

__ADS_1


Dalam situasi seperti ini, naluri lelakinya sungguh diuji. Walau sebenarnya sah-sah saja baginya jika dia ingin melakukan apa pun juga, toh mereka sudah menjadi suami istri.


Tapi rasa takut selalu saja menghampirinya. Rasa takut yang berlebihan mungkin.. Takut membuatnya menangis, takut membuatnya marah, takut membuatnya sedih, takut membuatnya tak nyaman.., dan semua ketakutan itu terbungkus menjadi satu.., dia takut menyakiti hatinya.


"Sayang, kamu kenapa..?" Dinda coba mencari tahu sesuatu dari diri suaminya. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh Adit.


Adit menarik nafas sedalam mungkin, lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya dia memang harus bercerita pada istrinya, agar tidak ada kesalahpahaman atas sikapnya.


"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, sayang.." Akhirnya Adit merasa yakin untuk terbuka pada istrinya.


"Dengan senang hati aku akan mendengarkannya.." Dinda melepaskan pelukannya, begitu juga Adit.


Kini mereka saling berhadapan, sama-sama duduk bersila di atas sofa.


Adit mengenggam kedua tangan Dinda. Ditatapnya lekat-lekat wajah istrinya. Seolah mencari kekuatan dari sorot mata penuh cinta itu.


"Sewaktu SMA dulu, aku punya teman.., sahabat perempuan. Kami sudah seperti saudara, karena selain teman sekolah, kami juga bertetangga. Dia anak yang sangat baik, ceria, penyayang, pandai bergaul dan teman yang menyenangkan.." Dinda melihat jelas ada gurat kesedihan di wajah Adit saat dia memulai ceritanya.


"Sampai pada suatu ketika.., dia punya seorang pacar. Aku tidak begitu mengenalnya, karena pacarnya beda sekolah dengan kami. Yang aku tahu dari ceritanya padaku, pacarnya sangat baik dan santun, dan dia sangat menyayanginya. Orangtuanya pun sangat menyukai pacarnya. Sampai pada suatu hari..."


Adit memutus kalimatnya. Matanya menjadi sayu mengingat sesuatu..


"Dia bercerita padaku, kalau pacarnya mulai meminta hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Mulai dari pelukan, ciuman, sampai rabaan yang berujung pemaksaan. Aku memintanya untuk menolak jika dia memang merasa tidak suka dan tidak nyaman dengan perlakuan pacarnya itu. Tapi dia tidak bisa menolak karena takut pacarnya akan marah dan semakin memaksanya.. Dan akhirnya pada siang itu.."

__ADS_1


Mata Adit memerah seperti menyimpan amarah.., Dinda semakin mempererat genggaman tangannya untuk Adit.


"Sepulang sekolah aku pergi ke rumahnya karena hari itu dia tidak masuk sekolah tanpa kabar. Tapi yang aku temukan siang itu..." Adit kembali berhenti dan diam.


Seolah mengerti, Dinda segera beranjak mengambilkan segelas air putih untuk suaminya, dan dengan segera pula Adit langsung meminumnya cepat sampai habis.


"Kamu gak apa-apa sayang? Gak usah dilanjutkan lagi kalau kamu belum bisa..." Dinda khawatir melihat Adit tampak pucat. Tapi Adit menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin meyelesaikan ceritaku. Ini pertama kalinya dan mungkin juga yang terakhir kalinya aku bercerita tentang ini. Aku hanya ingin berbagi cerita ini denganmu saja, sayang.." Dinda mengangguk pelan dan kembali mendengarkan Adit melanjutkan ceritanya.


"Siang itu rumahnya sepi, aku bunyikan bel beberapa kali pun tidak ada jawaban. Biasanya kedua orang tuanya pulang kerja menjelang sore, dan kakaknya pun kuliah sampai sore. Aku sudah akan berbalik pulang ketika tiba-tiba aku mendengar suara tangisan lirih dari dalam rumahnya.."


"Aku mencoba melihat dari celah jendelanya, pintu kamarnya terbuka. Saat aku akan mencoba membuka pintu rumahnya, bersamaan itu pula Ayahnya datang karena mendapat telepon dari seorang tetangga yang curiga melihat pacarnya keluar terburu-buru dari rumahnya. Kemudian kami berdua masuk ke dalam rumah dan.., aku melihatnya di sana, di dalam kamarnya..."


Mata Adit yang semula sudah memerah, kini mulai meneteskan air mata..


"Dia terbaring lemah di tempat tidurnya, hanya menangis lirih, tidak mampu bergerak karena banyak luka di tubuhnya yang saat itu tidak tertutup sehelai benang pun.. Dia diperkosa pacarnya.. Dia tidak mampu melawan karena diancam bahkan juga dianiaya sedemikian rupa.."


"Aku yang saat itu masih SMA, melihat dengan mata kepalaku sendiri kejadian buruk seperti itu dan dialami oleh sahabatku sendiri.., perasaanku mendadak seperti membeku, mati begitu saja..."


Dinda ikut menangis mendengar cerita Adit, bahkan dia pun tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika dia berada di posisi Adit.


"Dan yang membuatku semakin sedih dan ikut terluka, dia hamil karena peristiwa kelam itu, dan itu membuatnya semakin syok, trauma luar dalam, jiwanya terguncang hebat, tidak kuat lagi menghadapi kenyataan yang semakin pahit.."

__ADS_1


"Akhirnya, dia dirawat di rumah sakit jiwa dan melahirkan di sana. Pacarnya berhasil ditangkap dan dipenjara. Kemudian keluarganya memutuskan untuk pindah rumah dan merawat anak yang dilahirkannya.."


Adit menyelesaikan ceritanya sambil mengusap wajahnya, menghapus sisa air matanya. Dia bernafas lega karena akhirnya bisa membuka kisah ini pada Dinda.


__ADS_2