Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
84 KEKUATAN CINTA


__ADS_3

"Bayinya harus segera dikeluarkan, sebelum terkena efek racun yang ada di tubuh ibunya..."


Salah satu dokter yang menangani Dinda menunggu ijin dari Adit untuk segera melakukan operasi sesar guna mengeluarkan bayi mereka.


Akan sangat riskan jika membiarkan kehamilan Dinda tetap dilanjutkan hingga waktunya melahirkan normal. Sementara kondisi Dinda sendiri masih kritis dan tak sadarkan diri akibat racun yang ada di tubuhnya.


"Lakukan saja yang terbaik, Dok. Apapun itu, yang penting istri dan anak saya selamat..!!" Pinta Adit setengah berteriak karena kondisinya yang kalut dan penuh kepanikan.


Dokter kembali masuk ke ruang operasi sedangkan Adit langsung mengikuti seorang perawat untuk menandatangani surat persetujuan tindakan penanganan darurat untuk istri dan anaknya.


Setelahnya, dia kembali ke depan ruang operasi di mana di sana ada Andi dan Rinaya yang sedari tadi bersamanya. Papa Satrio sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit karena harus menjemput Mama Indri lebih dulu.


Terlihat pula dua orang polisi yang turut menunggu, karena sesuai diagnosa awal tadi, dokter mengatakan bahwa Dinda mengalami keracunan yang berasal dari zat yang dicampurkan ke dalam minuman yang terakhir dikonsumsinya. Dengan kata lain, ada seseorang yang sengaja ingin meracuni Dinda melalui minuman yang dikirimkan atas nama suaminya.


Adit sendiri memang memesankan minuman untuk Dinda seperti biasanya. Dia langsung memesan melalui fitur pesan makanan dan hari ini dia memesan jus semangka dari kedai langganannya.


Padahal, yang pertama kali diterima Dinda di cafe dan sudah diminumnya tadi adalah orange juice. Setelah ditelusuri oleh pihak kepolisian, ternyata minuman tersebut dikirimkan melalui aplikasi online dengan fitur pengantaran barang dengan titik pengambilan di depan sebuah gang perumahan dengan mengatasnamakan Adit sebagai pengirimnya.


"Sinta! Pasti dia yang melakukannya..!!"


Adit menyisir kasar rambutnya ke belakang dengan kedua jemari tangannya hingga mengenai tengkuk. Wajah yang biasanya selalu terlihat tenang dan bisa mengendalikan emosi itu, sekarang tampak keruh dan penuh amarah.


"Kita percayakan saja penyelidikan ini kepada pihak yang berwajib, mas. Yang paling penting saat ini adalah istri dan anak mas Adit harus selamat..!"


Rinaya pun tak berhenti menangis sejak menemukan sahabatnya tak sadarkan diri di cafe. Dia juga yang menemani Adit dan Andi membawa Dinda ke rumah sakit dengan pengawalan polisi yang sebelumnya melakukan penyamaran dan berjaga di sekitar gerai.


Demikian pula halnya dengan Elisa. Wanita yang biasanya riang itu langsung menangis histeris melihat Dinda terkapar di lantai dengan wajah pucat dan sudut bibir yang mengeluarkan sedikit busa.


Dia juga ingin ikut ke rumah sakit, tetapi Rinaya melarangnya karena kondisinya yang juga sedang hamil. Akhirnya dia hanya bisa menunggu kabar di gerai ditemani oleh Farrel yang segera datang untuk menenangkan istrinya.


"Dit, bagaimana keadaan Dinda? Kenapa kita bisa kecolongan lagi sementara ada penjagaan di sekitar kalian..."


Mama Indri datang dengan wajah berurai airmata didampingi Papa Satrio yang berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Melihat Adit yang masih duduk terdiam di lantai rumah sakit, Andi menggantikannya menceritakan semua kejadian yang dia ketahui kepada kedua orangtua Adit yang juga atasannya tersebut.


"Saat ini dokter juga sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan anak yang dikandung Dinda, agar terhindar dari efek racun di tubuhnya.." Andi mengakhiri penjelasannya.


Tak berapa lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan menampakkan sosok seorang dokter yang keluar dari ruang operasi.


Adit segera berdiri dan menghampiri sang dokter diikuti yang lainnya. Dan sebelum ada banyak pertanyaan yang mendesaknya, dokter laki-laki itu sudah membuka suara.


"Operasi sesarnya sudah selesai. Alhamdulillah, bayi Bapak lahir dalam kondisi normal dan sehat. Perawat sedang membersihkannya dan setelah itu harus kami rawat dulu di ruang NICU untuk pengawasan dan pemeriksaan lanjutan oleh dokter anak, mengingat dia harus dilahirkan sebelum waktunya."


Ucapan syukur terdengar memenuhi koridor depan ruang operasi. Adit tampat tersenyum di antara wajah sedih dan mata sembabnya. Satu beban telah lepas dari bahu dan pikirannya. Buah hatinya bersama Dinda telah lahir dengan selamat meskipun dalam kondisi darurat di luar rencana.

__ADS_1


"Oya, bayi Bapak berjenis kelamin perempuan. Bapak bisa melihat dan mengadzaninya nanti setelah dokter dan perawat menyelesaikan pemeriksaan menyeluruh pasca kelahirannya."


Adit kembali mengucap syukur tiada henti. Sekarang dia sudah menjadi orangtua, menjadi ayah dari seorang bayi perempuan.


"Sayang, kuatlah dan bertahanlah. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu dari anak perempuan kita. Teruslah berjuang untuk kembali bersama kami berdua..." Adit terus berbicara sendiri dalam hati, seolah berusaha menyatukan ikatan batinnya dengan sang istri yang masih dalam penanganan dokter di dalam ruang operasi.


Bergantian semua yang berada di sana memberikan selamat kepadanya. Walaupun masih ada satu beban di dalam pikiran mereka, yaitu keselamatan Dinda istrinya.


"Selamat, Nak. Kamu sudah menjadi orangtua." Papa Satrio menepuk pundak anak semata wayangnya dengan rasa bangga dan bahagia.


"Selamat, sayang. Terima kasih sudah memberi kami seorang cucu." Mama Indri memeluk Adit dan menangis di pelukan anaknya. Tangis bahagia bercampur kesedihan yang belum usai.


Andi dan Rinaya juga memberi selamat kepada Adit. Setelah itu Rinaya mengirim pesan kepada Elisa dan memberitahukan tentang kelahiran anak Adit dan Dinda, meskipun kondisi Dinda belum bisa diketahui dengan pasti.


Seorang dokter yang berbeda keluar untuk menemui Adit dan keluarganya.


"Kondisi pasien saat ini masih kritis. Beberapa organ tubuhnya belum berfungsi dengan normal akibat paparan racun. Selain itu racun di dalam tubuhnya sudah masuk ke aliran darah dan dikhawatirkan akan semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. Untuk itu kami akan segera melakukan tindakan dialisis."


Wajah Adit kembali memucat dan semakin panik.


"Dan kami juga membutuhkan tambahan darah dengan segera, karena tiba-tiba pasien mengalami perdarahan pasca persalinan yang cukup banyak..." Lanjut dokter.


"Saya yang akan mendonorkan darah, Dok. Dulu saya juga sudah pernah memberikan darah saya untuk Dinda..!" Dengan cepat Andi menyahut ucapan dokter dan berdiri diikuti istrinya.


"Jika darah yang dibutuhkan banyak, saya juga siap, Dok. Golongan darah saya juga sama." Rinaya mengajukan diri untuk turut menyumbangkan darahnya.


"Ya Allah, hamba mohon lindungilah dan selamatkanlah istri hamba.." Adit menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya seraya menghadap ke atas. Matanya terpejam dengan airmata yang terus mengalir membasahi wajahnya.


Satu jam lebih telah berlalu, belum ada tanda-tanda pintu ruang operasi terbuka lagi. Adit masih menanti dengan penuh kecemasan.


Andi dan Rinaya telah kembali dengan membawa kantong plastik berisi makanan dan minuman untuk mereka semua. Setelah mendonorkan darah dan beristirahat sejenak, mereka melaksanakan sholat Dhuhur sekaligus membeli makan siang.


"Dit, ayo kita sholat Dhuhur dulu di musholla rumah sakit. Biar Andi dan istrinya yang menunggu di sini." Papa Satrio mengajak putranya untuk melaksanakan kewajiban mereka.


Adit menuruti ajakan papanya tanpa sepatah kata pun. Dia melangkah gontai mengikuti papa dan mamanya menuju musholla.


Selepas sholat, Adit memanjatkan doa-doa panjang dengan khusyuk, memohon kesembuhan dan keselamatan untuk istri tercintanya. Tak lupa dia pun mengucapkan syukur tiada henti atas kelahiran anak pertama mereka dengan sehat dan lancar kendati dalam situasi yang genting dan di luar dugaan.


Setengah jam kemudian, keluarga Adit sudah kembali menunggu di depan ruang operasi yang di dalamnya juga terhubung langsung dengan ruang penanganan lainnya.


Walaupun tidak berselera, mereka memaksakan diri untuk mengisi perut dengan makanan dan minuman yang sudah ada. Andi dan Rinaya tampak lega melihat Adit dan orangtuanya makan meski hanya sedikit.


Dari kejauhan, seorang perawat berjalan menghampiri tempat mereka berkumpul dan berbicara dengan Adit.


"Putri Bapak masih harus dirawat di ruang NICU untuk sementara waktu, sampai kondisinya benar-benar normal dan kuat. Untuk sekarang, Bapak bisa ikut saya untuk melihatnya dan mengadzaninya."

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu lagi, Adit berjalan mengikuti perawat itu ke ruang NICU yang masih berada dalam satu lantai yang sama.


Sesampainya di sana, Adit membersihkan diri lalu mengenakan pakaian steril yang sudah tersedia, barulah kemudian dia memasuki ruangan.


Perawat membawanya ke salah satu inkubator bayi yang dilengkapi dengan peralatan perawatannya.


"Ini bayi Bapak."


Kedua bola mata Adit menatap lekat-lekat bayi kecil yang diletakkan di dalam inkubator di sampingnya. Matanya terpejam dengan bibir kecil yang membentuk senyuman alami. Hidungnya mungil, rambutnya hitam lebat seperti milik ibunya.


Perawat membuka penutup inkubator bagian atas lalu pelan-pelan mengambil bayi itu dan menyerahkannya ke pangkuan tangan Adit yang seketika terangkat ke depan dadanya.


Bayi yang masih terlelap begitu manis itu telah berpindah ke dalam dekapan tangan Adit. Rasa haru bercampur takjub menyeruak menggetarkan hatinya. Kehangatan yang belum pernah dia rasakannya sebelumnya. Kehangatan kasih sayang yang terikat hubungan darah antara seorang ayah dan putri kecilnya.


"Anakku... Putriku...."


Bulir-bulir airmata menetes perlahan di kedua pipinya seiring senyum bahagia yang menghiasi bibir Adit, saat pertama kali dia mencium buah hatinya dengan sangat lembut dan penuh cinta.


"Cinta... Cinta putri kecil papa dan mama... Terima kasih sudah hadir dan menjadi penyejuk hati kami, menjadi kekuatan kami di tengah keadaan yang belum seharusnya kamu terlahir ke dunia ini... Teruslah menjadi kekuatan kami, kekuatan cinta papa dan mama... Kekuatan cinta yang sempurna... Seperti arti dari namamu..."


"Cinta Adira Paramitha..."


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2