
"Kamu sudah sarapan, Ya?" tanya Andi setelah mobil melaju keluar dari komplek perumahan.
"Sudah, Mas."
Rinaya menjawab seraya menganggukkan kepala. Hatinya terus bergetar karena kembali hanya berdua bersama seorang lelaki yang baru kemarin siang dikenalnya, namun sudah sangat memikat hatinya.
"Kita mampir ke warung makan sebentar tidak apa-apa? Aku belum sarapan."
"Iya, mas. Tidak apa-apa." Rinaya tersenyum ke arah Andi, membuat lelaki itu salah tingkah.
Sepuluh menit kemudian, Andi menghentikan mobilnya dia sebuah warung soto langganannya. Dia mengajak Rinaya turun lalu berjalan bersama memasuki warung yang sudah mulai lengang.
Begitu melewati pintu mereka disambut oleh Pak Man, sang pemilik warung itu.
"Pagi, Mas Andi. Tumben agak siangan sarapannya." Pak Man sudah sangat hafal dengan kebiasaan Andi yang sering mampir sarapan sebelum jam delapan pagi.
"Iya, Pak. Minta soto dagingnya satu ya, Pak. Sama teh hangatnya dua," jawab Andi ramah lalu mengajak Rinaya duduk bersama di salah satu meja di sudut ruangan.
Tak lama kemudian pesanan sudah datang. Pak Man mempersilahkan Andi untuk menyantapnya.
"Mas Andi, calon istrinya cantik sekali. Cocok sama Mas Andi yang ganteng. Pasangan serasi," puji Pak Man sambil melihat ke arah Rinaya.
Mereka berdua spontan saling bertatapan, sama-sama kaget dengan ucapan Pak Man.
Rinaya menundukkan kepalanya menahan malu. Sementara Andi hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Man. Lalu dia pun menghabiskan sarapannya.
Rinaya yang duduk di samping Andi, diam-diam menatap lelaki itu tanpa berkedip. Benar kata Pak Man, Andi memang tampan, dilihat dari sisi mana pun. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri menikmati ketampanan lelaki sampingnya itu.
"Ya ...." Suara Andi mengagetkannya. Buru-buru Rinaya membuang pandangannya dari wajah Andi, meski lelaki itu sudah telanjur mengetahuinya.
Rinaya meminum teh hangatnya dengan gugup karena sempat ketahuan tengah memperhatikan Andi. Wajahnya terasa menghangat karena menahan rasa malu.
"Tadi malam, maaf sudah mengganggumu di tengah malam." Andi mulai membuka perbincangan tentang mereka semalam.
"Dan tentang pesanmu semalam, apa kamu juga tidak bisa tidur?"
Rinaya sendiri tidak tahu mengapa dia mengirimkan pesan ucapan selamat malam itu. Semalam dia tidak bisa tidur karena terus-menerus memikirkan Andi, hingga akhirnya timbul keinginan untuk melakukan hal itu
.
"Mmm ... tidak usah dibahas lagi, Mas," pinta Rinaya dengan wajah yang sudah memerah.
"Mengapa, Ya?" Andi masih menunggu jawabannya.
"Aku hanya ingin menyapa dan berterima kasih lagi, karena sudah bersedia mengantarkan aku pulang, Mas."
Rinaya mulai salah tingkah di hadapan Andi. Dan lelaki itu tahu sebenarnya bukan karena alasan itu. Tapi dia tidak mau memojokkan Rinaya lagi.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu mengapa aku mengirimkan pesan itu. Aku hanya ingin tahu, apakah kamu masih terjaga, sama sepertiku. Aku memikirkanmu sepanjang hari kemarin. Apakah kamu juga demikian, Ya?"
"Iya, Mas." Akhirnya Rinaya mengakuinya tanpa berani menatap Andi.
"Aku jatuh cinta padamu, Ya. Sejak pertama kali aku melihatmu kemarin, hatiku langsung terpikat padamu." Andi mengakui perasaannya pada Rinaya.
Rinaya menatap Andi. Tak percaya lelaki itu akan mengungkapkan perasaannya secepat ini.
"Aku ingin tahu, apakah kamu juga merasakannya, Ya?" tanya Andi.
Rinaya hampir saja menjatuhkan gelasnya mendengar pertanyaan Andi. Dia gugup. Dia diam. Takut untuk mengatakannya. Malu untuk mengakui perasaannya sendiri.
"Katakan padaku, Ya. Aku ingin mendengarnya darimu."
Rinaya bimbang. Haruskah dia mengakuinya sekarang? Atau dia sembunyikan saja perasaan ini? Tapi percuma juga, Andi sudah bisa menebaknya.
"Ya ...?" Andi memanggilnya, menunggu dengan penuh harap. Walau pun sudah ada titik terangnya, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari wanita yang dicintainya itu.
Rinaya menghela nafas panjang, mencari kekuatan untuk mengungkapkan semuanya.
"Aku merasakan apa yang Mas Andi rasakan. Aku merasakan sesuatu yang berbeda sejak kita bertemu kemarin."
Rinaya menunduk menyembunyikan wajahnya setelah mengatakan semua itu. Senentara wajah Andi berubah cerah, secerah hatinya saat ini, yang kini sudah ada pemiliknya.
"Terima kasih, Ya."
Dilihatnya Rinaya masih menunduk menyembunyikan wajahnya. Dia memiringkan kepalanya mencoba menengok ke arah wajah Rinaya.
"Ya, kamu tidak apa-apa?"
Pelan-pelan Rinaya mengangkat kepalanya, wajah cantiknya tampak sedikit berair di bagian matanya.
"Ya, kamu menangis?"
Ingin rasanya Andi mengusap titik-titik air mata itu dengan tangannya, tapi dia belum berani melakukannya. Dia mengambil sapu tangan di sakunya dan diulurkannya pada Rinaya.
Rinaya menerimanya dan membersihkan wajahnya dari sisa air mata yang masih menggenang. Dia tersenyum menatap Andi yang masih mengkhawatirkannya.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Aku hanya merasa sangat bahagia hingga terharu."
Andi tidak menyangka, wanita yang dicintainya memiliki hati yang sangat lembut dan mudah tersentuh. Seketika dia menjadi semakin mencintainya.
Mereka terdiam, saling menatap lekat. Masih dengan getar-getar cinta dan debar-debar indah di hati mereka.
"Ya, bisakah kita memulai hubungan ini? Agar kita bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain?"
"Aku mencintaimu, Ya. Apakah kamu bersedia menerima cintaku?"
__ADS_1
Hati Rinaya kembali berbunga-bunga mendengar ungkapan cinta Andi. Senyumnya merekah begitu indah menghiasi wajah cantiknya. Tak menyangka secepat ini semuanya terjadi.
"Iya mas, aku mau."
Andi merasa sangat lega. Pagi ini dia teramat sangat bahagia. Akhirnya dia memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya dalam waktu yang begitu singkat.
"Mas, bisakah kita menjalani hubungan ini berdua dulu?" pinta Rinaya.
"Maksudmu?" Andi belum mengerti maksud Rinaya.
"Aku ingin menikmati awal hubungan kita ini hanya berdua denganmu, Mas. Aku ingin kita menikmati setiap prosesnya bersama dan berdua saja. Sepertinya akan lebih membahagiakan dan lebih indah jika kita melewati awal kisah ini hanya berdua, aku dan kamu."
Rinaya mengungkapkan permintaannya dengan lirih. Bukan karena dia merasa malu dengan hubungan baru ini. Hanya saja, dia masih ingin meyakinkan dirinya dan memantapkan hatinya lebih dulu, sebelum orang lain mengetahui hubungannya dengan Andi.
Andi yang mendengarnya merasa semakin bahagia. Dia memahami maksud Rinaya. Biarlah masa perkenalan ini menjadi milik mereka berdua saja. Justru akan sangat mengagetkan jika orang lain segera mengetahui hubungan mereka yang secepat kilat ini.
Lebih baik mereka bersama dalam diam dulu, menikmati semuanya berdua hingga saatnya nanti mereka akan memberitahukan kabar bahagia ini kepada semua orang.
"Iya, Ya. Aku mengerti. Kita akan melewati masa-masa awal ini hanya berdua saja, aku dan kamu."
Andi menatap Rinaya dengan penuh cinta. Rinaya membalasnya dengan wajah yang diselimuti kebahagiaan.
"Terima kasih, Mas."
Mereka saling melemparkan senyuman. Senyum kebahagiaan karena hati mereka telah saling menemukan dan saling menginginkan.
"Sudah hampir jam sembilan. Aku antar ke gerai sekarang?" ajak Andi.
"Iya, mas. Tapi nanti aku turun di ruko sebelah saja, agar tidak ada yang melihat Mas Andi mengantarkan aku," jawab Rinaya yang diiyakan oleh Andi.
Mereka berdua pun segera keluar, berpamitan kepada Pak Man setelah Andi membayar pesanannya.
Sepanjang perjalanan, senyuman tak pernah hilang dari wajah Rinaya dan Andi. Hari ini mereka telah memulai sebuah hubungan baru yang indah. Seindah cinta yang kini telah hadir menautkan dua hati yang telah sekian lama menantinya dalam kesendirian.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.