Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
06 PERUBAHAN STATUS


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tahun pun telah berganti semenjak pengakuan kami malam itu. Tidak ada yang berubah dari hubungan kami. Hanya rasanya semakin hari kami menjadi lebih terbuka satu sama lain. Sama sekali tak ada lagi yang ditutupi di antara kami berdua.


Sesekali pernah lah kami bertengkar, hanya kerikil-kerikil kecil saja dalam sebuah hubungan. (Hubungan.., entah apa namanya hubungan kami ini..)


Dan setiap kali marah-marahan, pasti Aditlah yang selalu mengalah untuk mengakhiri pertengkaran. Entah dia yang salah atau pun tidak, selalu dia yang lebih dulu meminta maaf dan mengajakku rujuk kembali.., eh baikan maksudnya.


"Din, Adit mana..?" Elisa celingukan bingung karena aku datang sendiri ke kelas. Biasanya meskipun sedang melakukan gencatan senjata, kami tetap datang dan pulang kuliah bersama walau masih saling diam..


Aku hanya mengangkat bahu, "Dari semalam tidak ada kabar. Ponselnya juga gak aktif sampai sekarang."


Rinaya pun tampak heran. Tidak biasanya memang Adit tiada kabar begini. Dia mencoba menghubungi nomor Adit dengan ponselnya, namun nihil juga hasilnya. "Cuma suara kereta api lewat, tut tut tutt.."


"Hei, kalian berantem lagi ya...??" Selidik Elisa menatap tajam padaku. Aku langsung menggeleng cepat.


"Kemarin sore dia masih nganter aku pulang. Sesampai dia di rumahnya, dia juga masih nelpon aku kok. Tapi malemnya, aku kirim pesan, ponselnya sudah tidak aktif.." Seketika hatiku merasa cemas. Khawatir terjadi sesuatu pada Adit. Tidak biasanya dia seperti ini.


Hingga kuliah pertama dimulai pun, Adit tidak nampak sama sekali. Bahkan sampai kuliah terakhir usai, tetap tak terlihat keberadaannya.


"Aku anter kamu pulang yuk, Din." Ajak Rinaya, melihatku melangkah keluar kelas dengan gontai tak bergairah.


"Eehh jangan pulang dulu, yang ada entar kalau Dinda di rumah sendirian mikirin Adit, bisa makin manyun dia Rin..!!" Elisa buru-buru mencegah tawaran Rinaya untuk Dinda.


Aku hanya diam dalam langkahku, mendengarkan dua sahabatku berdebat kecil demi mencoba menghiburku.


"Ya udah, kalau gitu sebelum pulang kita ke cafe seberang kampus aja yuk, sekalian nanya ke anak-anak di sana, kali aja ada yang tau. Biasanya Adit kan juga suka nongkrong di sana tuh.." Usul Rinaya.


Karena Elisa pun setuju, mau tak mau aku ikuti saja kemauan mereka.


Sambil terus berjalan menuju gerbang kampus, aku mencoba menghubungi Adit lagi. Tapi ponselnya masih saja tidak aktif.


"Ya Allah, kok rasanya kangen banget ya sama Adit. Di mana kamu Dit.." Pekik kecilku dalam hati.


Biasanya, walau pun tidak bertemu beberapa hari dengannya, komunikasi kami tetap intens. Baru kali ini saja aku lost contact sama sekali.


Tak berapa lama kami sampai di cafe. Hanya beberapa pengunjung yang tengah bersantai di serambi depan cafe, sekedar bercengkerama melepas penat usai perkuliahan.


Elisa menarik tanganku masuk ke dalam cafe, diikuti Rinaya yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Elisa memilih tempat paling ujung, dekat jendela kaca yang mengarah ke taman samping.

__ADS_1


"Aku pesenin minum dulu ya, seperti biasa aja kan..?" Elisa bangkit dari duduknya bersiap menuju meja pesanan di bagian depan. Aku dan Rinaya hanya mengangguk tanda setuju.


"Eh, tunggu Sa, sekalian aku ambil mobilku dulu, masih di parkiran kampus. Biar aku bawa ke sini aja, entar kita tinggal cusss dari sini, oke..!" Rinaya mengejar Elisa keluar.


Tinggallah aku duduk sendiri menunggu mereka kembali. Termangu menatap luar jendela, dengan pikiran masih tentang Adit.


"Ada apa denganmu, Dit? Apa aku ada salah sama kamu sampai kamu gak ngasih kabar gini.." Kutulis satu pesan lagi untuk Adit, meski kulihat pesan-pesanku sebelumnya belum juga terbaca olehnya.


"Apa kamu sakit, Dit..? Sampai kuliah pun kamu tinggalin.." Aku kirim lagi pesan untuknya.


Kutengok ke arah depan cafe, mencari sosok Elisa dan Rinaya.


Sudah sepuluh menit berlalu, mereka belum juga kembali.


Seorang pramusaji datang ke mejaku, membawa satu gelas orange juice.


"Lho mas, bukannya temanku tadi pesannya tiga minuman ya..?!"


"Mbaknya tadi cuma pesan satu ini untuk mbak. Trus saya liat mereka nyebrang masuk ke kampus lagi mbak.." Jelas mas itu padaku. Aku menganggukkan kepala padanya.


Sebelum pergi mas pramusaji mengambil secarik kertas dari saku baju, diserahkannya padaku.


"Oya mbak, ini tadi ada titipan buat mbak, bener mbak Dinda ya..?" Dia memastikan kalau tidak salah orang.


"Iya mas, saya Dinda. Ini tadi dari siapa ya, mas?" Tanyaku sambil menerima kertas yang masih terlipat rapi darinya.


"Maaf mbak saya juga gak tau, tadi yang nerima bukan saya. Saya cuma dititipin sm teman saya, tapi dia sudah pulang kerja, mbak."


"Saya permisi dulu ya mbak, masih ada pesanan yang lain.." Mas pramusaji permisi dengan sopan.


Sendirian, kubuka lipatan kertas yang baru saja aku terima. Begitu melihat tulisan tangannya, hatiku sontak berubah bahagia tak terkira.


Dear Dinda,


Maaf kalau hari ini aku telah membuatmu sedih dan gelisah.


Tapi tahukah kamu, di sini aku juga sedih dan gelisah, menanti kedatangan seseorang. Seseorang yang ku harap akan bersedia menemuiku di sini.

__ADS_1


Seseorang yang selama dua tahun ini selalu mengisi dan menemani hariku, berdua menguntai kebersamaan yang penuh warna. Ada suka, duka, tangis, tawa, sedih dan bahagia.


Seseorang yang selama dua tahun ini selalu aku sebut dalam doa-doaku, karena aku sangat menyayanginya dan selalu ingin membuatnya bahagia dengan semua yang bisa aku lakukan untuknya.


Seseorang yang aku tahu, dia juga menyayangiku sama seperti aku menyayanginya.


Tapi aku belum tahu.., akankah seseorang itu bersedia menerimaku lebih dari selama ini.


Akankah dia bersedia untuk tetap bersamaku, di saat aku menawarkan kebersamaan yang lebih dari selama ini.


Sejujurnya aku takut.., takut jika setelah ini, aku tak bisa lagi bersamanya seperti dulu.


Aku takut dia akan menjauh dariku, setelah aku meminta lebih padanya.


Tapi apapun keputusannya nanti.., aku ingin dia tahu bahwa aku akan tetap bersamanya seperti selama ini.


Aku ingin dia tahu, tidak akan ada yang berubah meskipun dia tidak bisa memberiku lebih dari selama ini.


Dinda..,


Ingatkah kamu tentang hari ini?


Hari ini, tepat dua tahun yang lalu aku mengenalmu untuk pertama kali.


Saat aku melihat dirimu memasuki ruang ujian dan ku dengar suaramu untuk pertama kalinya.


Sejak saat itulah hatiku telah memilihmu.., memilihmu sebagai satu-satunya yang akan menempati ruang terbaik dan teristimewa di dalam hatiku. Dulu, sekarang dan akan selamanya..


Dinda..,


Jika kamu berkenan untuk memberitahu padaku apapun itu keputusanmu, aku tunggu kamu di sini ..


Apapun keputusanmu, aku ada di sini untuk mendengarnya..


Aku yang menyayangimu dan mencintaimu,


Adit.

__ADS_1


__ADS_2