Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
41 KEHILANGAN


__ADS_3

"Dindaaa...!!!"


Adit berteriak sangat keras melihat kejadian di depan matanya. Dia berlari tanpa mempedulikan sekitarnya lagi. Bahkan beberapa mobil pun terpaksa berhenti mendadak melihat Adit berlari kencang menerobos keramaian jalan raya.


Andi susah-payah mengejar Adit hingga akhirnya mereka berdua sampai di halaman gerai.


"Dinda..!!! Sayangg..!!!" Adit mendapati tubuh istri tercintanya tergeletak tak bergerak dengan darah segar di samping kepalanya.


Rinaya yang sedari awal menyaksikan kejadian itu berlari menghampiri Andi.


"Mas Andi, Dinda mas.." Andi memeluk Rinaya sejenak untuk menenangkan kekasihnya yang terus menangis.


"Tolong bukakan pintu mobilku, Ya." Andi melepaskan pelukannya lalu menyerahkan kunci mobil kepada Rinaya.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang, mas Adit!"


Dia membantu Adit membopong tubuh Dinda masuk ke dalam mobilnya. Adit memangku tubuh istrinya di kursi belakang. Lalu Andi dan Rinaya duduk di bagian depan. Andi segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.


.


.


.


Sesampainya di rumah sakit, Dinda langsung dibawa ke ruang instalasi gawat darurat untuk ditangani.


Sementara Adit ditemani Andi dan Rinaya menunggu di luar ruangan dengan cemas.


Adit terduduk lemas di lantai rumah sakit. Tanpa disadarinya, air mata sudah mengalir membasahi wajahnya yang terlihat kusut diliputi kesedihan dan kecemasan akan kondisi istrinya. Dia sudah tidak bisa memikirkan hal yang lain lagi selain istrinya.


Rinaya yang duduk di bangku tak jauh dari Adit pun masih terus terisak. Tangannya sibuk dengan ponselnya. Dia meminta bantuan para karyawan gerai untuk membereskan dan menutup gerai untuk sementara waktu serta meminta bantuan security ruko untuk mengamankan gerai dan membantu pihak kepolisian yang datang ke lokasi.


Andi sendiri sejak tadi juga berjalan mondar-mandir tidak tenang menanti kabar dari dokter yang menangani Dinda. Dia sudah menghubungi papa Satrio dan mengabarkan kejadian yang dialami Dinda saat ini.


Satu jam berlalu, seorang dokter dan salah satu perawat keluar dari ruang IGD. Secara bersamaan ketiga orang yang menunggui Dinda itu langsung merapat mendekati dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" Tanya Adit tak sabar.


"Kondisi istri anda saat ini sangat stabil. Tapi kami harus melakukan operasi kecil di bagian kepalanya dan kami membutuhkan tambahan darah yang sesuai dengan golongan darah pasien, yaitu AB." Dokter menyampaikan penjelasannya dengan sabar dan menanti jawaban Adit.


"Golongan darah saya O, Dok. Apakah stok darah di PMI tersedia yang sesuai untuk istri saya, Dok?" Adit menjawab dengan kecewa karena tidak bisa mendonorkan darahnya untuk Dinda.


Dalam waktu bersamaan, Andi dan Rinaya maju dan berkata kepada Dokter.


"Golongan darah saya AB, Dokter!"


Mereka berdua saling menatap tak percaya. Bahkan golongan darah mereka pun sama..


"Ya, biar darahku saja yang diambil. Aku tidak mau tubuhmu menjadi lemas setelah ini. Kita masih butuh tenaga untuk menunggui Dinda dan menemani mas Adit di sini." Kata Andi penuh perhatian. Dan Rinaya akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala menuruti kemauan kekasihnya.


"Saya yang akan mendonorkan darah, Dok." Ucap Andi kemudian.


"Baik. Silahkan ikut bersama perawat untuk proses pengambilan darah."


"Oya, pasien sudah kami pindahkan ke ruang operasi melalui pintu penghubung di dalam ruangan. Jadi setelah ini, silahkan untuk menunggu pasien di luar ruang operasi."

__ADS_1


Kemudian dokter tersebut segera kembali ke dalam, sedangkan Andi mengikuti perawat ke ruang pengambilan darah.


Adit dan Rinaya pun bergegas ke ruang operasi untuk menunggui Dinda yang sedang berjuang di dalam sana.


.


.


.


Papa Satrio dan Mama Indri sudah tiba di depan ruang operasi. Mereka tampak sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya. Adit dan Rinaya segera mencium tangan mereka bergantian.


"Dit, bagaimana kondisi Dinda?" Tanya Mama.


"Operasi kecil di kepalanya, Ma. Tapi kata dokter kondisinya sangat stabil." Jawab Adit.


"Papa sudah mengabari ayah dan bundanya. Mereka sudah dalam perjalanan ke sini." Kata Papa.


"Terima kasih, Pa. Aku sampai tidak bisa memikirkan hal yang lainnya." Ucap Adit.


"Oya, di mana Andi? Tadi dia yang mengabari Papa." Papa tampak mencari Andi yang tidak terlihat.


"Mas Andi sedang mendonorkan darahnya untuk Dinda, Om." Jawab Rinaya.


"Bagaimana sebenarnya kejadian tadi? Andi belum menceritakakan apapun tadi." Tanya Papa.


"Sinta. Ini semua karena Sinta." Adit sangat marah saat menyebutkan nama itu. Papa dan mamanya juga terkejut mendengar Adit menyebut nama Sinta.


Rinaya mendekati Papa Satrio dengan membawa ponselnya.


"Saya tidak kenal dengan wanita itu, Om. Tapi tadi, begitu melihat mereka berdua keluar cafe, saya mengikuti dan merekam semuanya."


Andi berjalan pelan ke depan ruang operasi. Badannya masih agak lemas dan sedikit pusing. Rinaya yang melihatnya langsung menghampiri dan memegang lengannya, membantunya duduk dan menemaninya.


"Seharusnya mas Andi beristirahat dulu di sana, mas. Jangan dipaksakan."


Andi malah tersenyum melihat wajah cemas Rinaya. Dia merasa senang karena ada yang memperhatikan dan mengkhawatirkannya.


"Aku tidak apa-apa, Ya. Sebentar lagi juga sembuh. Tadi di sana aku sudah minum susu dan vitamin."


"Terima kasih sudah mencemaskan aku."


Adit dan papa mamanya sudah selesai melihat rekaman video tadi. Dia menghampiri Andi dan Rinaya.


"Tolong kirimkan video tadi ke ponselku ya, Rin" Adit mengembalikan ponsel Rinaya.


"Mas Andi, terima kasih sudah menolong Dinda. Maaf jadi merepotkan." Dengan tulus Adit mengungkapkan rasa terima kasihnya.


"Sama-sama, mas Adit. Kita sudah seperti saudara bukan. Dinda sudah saya anggap seperti adik saya sendiri." Jawab Andi dengan wajah penuh senyum.


Papa mama juga menghampiri Andi. Andi hendak berdiri memberi salam tetapi dicegah oleh Papa Satrio.


"Sudah, duduk saja Andi." Kata Papa.


"Iya. Selamat sore, Pak Satrio, Ibu." Ucapnya dengan hormat dan sungkan terhadap atasannya.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, dokter yang sama tadi keluar dari ruang operasi dan segera dihampiri oleh Adit.


"Bagaimana operasinya, dokter? Apakah luka di kepala istri saya parah?" Tanya Adit tak sabar.


"Operasinya sudah selesai, Pak. Luka di samping kepalanya agak dalam sehingga kami perlu melakukan jahitan di bagian dalam dan bagian luar. Secara keseluruhan kondisi istri Anda baik-baik saja. Hanya kondisi psikisnya saja yang perlu dipulihkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter mencoba menjelaskannya dengan serinci mungkin.


"Alhamdulillah.." Adit mengucap syukur karena Dinda baik-baik saja.


"Masih ada satu berita lagi yang harus saya sampaikan, Pak." Dokter berbicara lagi.


"Ya, Dok?"


"Kehamilan istri Anda tidak bisa dilanjutkan lagi. Pasien mengalami keguguran di usia kandungan enam minggu. Dan tadi juga sudah dilakukan tindakan kuretase untuk membersihkan rahimnya."


Semua yang ada di sana spontan menatap ke arah dokter dengan tidak percaya.


"Apa? Istri saya hamil? Dan keguguran..??" Adit mendadak merasakan tubuhnya sangat lunglai. Papa dan Andi segera menopangnya agar tidak terjatuh.


"Penyebabnya sendiri lebih dikarenakan kondisi kandungan yang sangat lemah. Dan untuk masalah ini, nanti bisa Anda lanjutkan konsultasinya dengan dokter kandungan yang tadi menangani istri Anda."


"Apakah saya sudah bisa menemui istri saya, Dok?" Adit rasanya ingin segera memeluk dan menemani Dinda di dalam sana.


"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Silahkan menunggu dulu. Saya permisi, terima kasih."


"Terima kasih banyak, Dokter." Adit dan Papa mengucapkan terima kasih lagi.


Mama memeluk Adit dan menepuk punggungnya pelan.


"Kamu yang sabar, sayang. Mungkin memang belum waktunya Allah mempercayakannya kepada kalian. Berbaik sangkalah agar hatimu menjadi lebih tenang."


"Iya, Ma." Adit masih terus memikirkan istrinya. Dia bingung harus bagaimana menyampaikan kabar suka sekaligus duka ini pada Dinda.


Pintu ruang operasi kembali terbuka. Dua orang perawat mendorong sebuah tempat tidur keluar ruangan. Terlihat di atasnya, Dinda terbaring dengan mata terpejam.


Adit segera menghampiri dan memanggil istrinya pelan-pelan.


"Sayang.., ini aku." Adit bersuara lirih.


"Maaf, Pak. Pasien masih belum sadarkan diri karena pengaruh bius operasi tadi. Mohon ditunggu dulu beberapa saat lagi. Kami akan membantu mengantarkan ke kamar pasien."


"Baik, Suster. Terima kasih." Kata Adit.


Lalu semua mengikutinya ke kamar perawatan.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

__ADS_1


Salam cinta dari kami..


Author


__ADS_2