Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
78 PENYESALAN DAN PENGAKUAN


__ADS_3

Dan di sinilah mereka berdua sekarang, Dinda dan Bagus. Atas ijin suaminya, Dinda memenuhi ajakan teman sekolahnya itu untuk bertemu di cafe milik Dinda.


Dinda yang menentukan tempat pertemuan mereka, karena dia tidak ingin menimbulkan pertanyaan dan prasangka orang lain, apabila dia bertemu dengan Bagus di tempat lain tanpa didampingi oleh suaminya yang masih sibuk bekerja di kantornya.


"Jadi di sini tempat usahamu, Din? Ruko tiga lantai dengan tiga jenis usaha. Hmm.., ide yang sangat cemerlang."


Bagus duduk berhadapan dengan Dinda di meja depan ruangan Dinda, tempat di mana biasanya Dinda dan Adit berkumpul bersama sahabat dan kerabatnya. Kedua bola matanya berputar ke sana kemari memperhatikan sekelilingnya, termasuk tangga menuju lantai dua yang terlihat jelas dari tempat mereka.


"Aku hanya menangani cafe ini. Untuk lantai dua dan tiga, masing-masing juga ditangani oleh dua sahabatku. Kami mengelola tempat ini bersama-sama."


Bagus menganggukkan kepala sambil mendengarkan cerita Dinda tentang usahanya juga tentang persahabatannya dengan kedua rekan usahanya.


Setelah Dinda selesai dengan cerita singkatnya, mereka sama-sama terdiam. Duduk berhadapan dengan meja yang tidak terlalu besar di antara mereka, membuat mereka bisa saling memperhatikan raut wajah masing-masing dengan cukup jelas.


Bagus menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Nafasnya tertahan sesaat mana kala tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Dinda yang tengah mengarah kepadanya.


"Ingat Gus, dia bukan lagi gadis yang masih bisa kau kejar. Dia sudah menjadi milik orang lain!" Bisik hatinya mengingatkan.


Dinda tersenyum pada Bagus membuat lelaki itu semakin kesulitan untuk menormalkan detak jantungnya yang terus berkejaran semakin cepat. Segera dia memutar wajahnya ke samping, berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan memandangi lalu-lalang kendaraan di luar cafe.


"Senyumnya masih seindah dulu. Senyum yang selalu aku rindukan, bahkan sampai detik ini." Bagus bergumam dalam hati.


"Jadi......" Ucap keduanya bersamaan, setelah hampir lima menit tanpa suara satu sama lain.


Dinda tertawa karena tingkah mereka. Dia tidak lagi merasa gugup dan canggung seperti pertemuan pertama mereka di rumah sakit. Perasaannya sudah tertata sedemikian rupa di hatinya sesuai porsinya masing-masing.


Sesekali memang masih ada getaran kecil menelusupi kalbunya saat melihat keberadaan Bagus di hadapannya. Tetapi sudah tidak ada lagi debaran di hatinya, juga dentuman keras di dadanya. Dia berusaha untuk memposisikan dirinya sebatas teman lama Bagus, bukan sebagai seseorang yang pernah menyimpan cinta pertama untuk lelaki itu.


Di sisi lain, berkebalikan dengan Dinda, Bagus masih belum bisa mengontrol perasaannya pada Dinda yang memang masih tersimpan apik di hatinya. Selama ini dia berharap masih bisa mengungkapkan rasa cintanya pada Dinda dan mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Namun ternyata, takdir tidak berpihak kepadanya. Di saat dia bisa bertemu dengan cinta pertamanya, wanita itu sudah menjadi milik orang lain, bahkan dia sedang mengandung buah cintanya dengan lelaki yang tak lain adalah suaminya.


"Kamu duluan, Gus..."


"No. Kamu. Ladies first..."


Lagi-lagi Dinda tertawa kecil melihat tingkah Bagus yang masih terlihat gugup menghadapinya. Bagaimana tidak gugup jika tingkah Dinda saja masih tampak seperti saat mereka berseragam putih abu-abu.


Selalu terlihat riang dengan gelak tawa yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Selalu menunjukkan sikap apa-adanya yang semakin menambah daya tariknya di mata Bagus. Dulu, dan juga sekarang.


"Mmm..., baiklah." Dinda berhenti sejenak dan mulai bersikap lebih serius.

__ADS_1


"Setelah wisuda kelulusan kita waktu itu, mengapa kamu tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dihubungi? Kamu juga tidak datang di acara perpisahan sekolah..."


Bagus tidak langsung menjawab pertanyaan Dinda. Dia meneguk kembali cappucino milkshake kesukaannya, yang sudah disiapkan oleh Dinda sejak awal kedatangannya tadi. Dia merasa sedikit tersanjung karena Dinda masih mengingat minuman favoritnya.


Kemudian dia melipat kedua tangannya di atas meja. Sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Dinda, akhirnya dia mengatakan kebenarannya.


"Aku hanya menghindari perpisahan langsung denganmu, Din. Aku tidak ingin mengenang pertemuan terakhir kita sebagai sebuah kesedihan karena kita akan berpisah dan tak lagi bisa bersama seperti hari-hari kita sebelumnya."


Dinda tertegun mendengar jawaban Bagus. Mengapa Bagus enggan berpisah darinya dan tidak ingin mengucapkan kata perpisahan dengannya?


"Kamu ingat pertemuan terakhir kita? Kita tertawa bahagia setelah prosesi wisuda. Saling memberi selamat atas keberhasilan kita menyelesaikan tiga tahun pendidikan dengan baik, disertai dengan kenangan indah masa-masa remaja sekolah yang tak terlupakan."


"Seperti itulah aku ingin mengenang kebersamaan kita, Din. Hanya ada tawa ceria dan kebahagiaan. Aku tidak ingin menyelipinya dengan kesedihan karena kata perpisahan yang terucap di antara kita."


Dinda tersenyum mendengarkan penjelasan Bagus. Dia tidak menyangka Bagus memiliki pemikiran sampai sejauh itu. Apakah itu karena dia menyimpan perasaan untuknya? Dinda mulai resah, bertanya dalam hati.


"Sekarang, bolehkah aku yang bertanya padamu, Din?" Bagus meminta gilirannya karena dia sudah menjawab pertanyaan Dinda.


Dìnda menganggukkan kepala dengan hati yang was-was takut jika pertanyaan Bagus berhubungan dengan perasaannya.


"Apa yang kamu rasakan setelah kita tidak bertemu lagi?"


Dinda menarik nafas panjang dan menghembuskannya sedikit demi sedikit. Tebakannya benar. Dan sekarang dia berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk memberikan jawaban.


Memberanikan diri untuk kembali menatap wajah Dinda, dia mendapati seulas senyuman di bibir wanita yang masih saja membuat perasaan hatinya menjadi tak karuan.


"Aku kehilangan kamu, Gus. Dan kamu tahu, itu membuatku merasa sangat bersedih dan sampai menangis..."


Rasanya jantung Bagus ingin meloncat jatuh dari tempatnya saat telinganya mendengar pengakuan Dinda yang tak diduganya.


Dia menghentikan kegiatannya di bawah meja dan membawa kedua tangannya kembali ke atas meja dengan menyelakan jari-jari tangan kiri dan kanannya satu sama lain hingga menjadi satu. Tubuhnya tertarik condong ke depan.


"Benarkah itu, Din?"


"Bagaimana aku tidak sedih jika kamu pergi begitu saja tanpa pertemuan dan kata terakhir untukku. Rasanya seperti kehilangan separuh semangat hidupku, karena sebelumnya setiap hari kita selalu menghabiskan waktu bersama..."


Kalau saja waktu bisa diputar, ingin rasanya Bagus mengganti keputusannya waktu itu, agar dirinya dan Dinda tidak jadi berpisah dan mungkin saja saat ini dialah yang menjadi pendamping hidup Dinda.


"Maafkan aku, Din..." Sesal Bagus terucap melalui lirih suaranya yang tercekat di tenggorokan.


"Maaf untuk apa?" Tanya Dinda dengan hati mulai berdebar lagi.

__ADS_1


Aura di sekitar mereka berubah sendu, seolah mendukung untuk saling mengungkapkan rasa yang tertunda di masa lalu.


"Maaf karena selama ini aku telah menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya.."


"Tentang apa?"


Aah.., Dinda menyesali pertanyaannya sendiri. Harusnya dia tidak perlu menanyakan itu, karena dia pun bingung akan mengatakan apa jika jawaban Bagus sesuai dengan dugaan di hatinya.


"Sebenarnya..., aku telah mencintaimu sejak dulu, Din. Dan sejujurnya, sampai saat ini rasa itu masih ada dan tidak pernah berubah..."


Tiba-tiba perut Dinda bergerak cukup keras. Calon bayinya di dalam sana seolah mengingatkan keberadaannya dan memberikan tendangan cinta yang terasa sakit namun membahagiakan hatinya.


Kedua tangan Dinda turun dari meja dan beralih dengan sendirinya mendekap serta mengusapi perut bulatnya dengan penuh kelembutan. Seketika itu pula, hatinya terasa begitu merindukan suaminya dan ingin memeluknya dengan segera.


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2