
Resepsi pernikahan Andi dan Rinaya telah usai. Kedua keluarga pun sudah kembali ke rumah masing-masing.
Untuk keluarga Om Ihsan, mereka masih menginap satu hari lagi di rumah Andi. Sedangkan keluarga besar yang lain memilih untuk langsung pulang ke kampung halaman Andi.
Sejak datang dua hari yang lalu, Andi memang meminta keluarga Om Ihsan untuk menginap di rumahnya. Sementara dia menginap di hotel tempat acara diselenggarakan.
Hari ini, dia dan istrinya masih menginap lagi di hotel. Besok pagi, barulah mereka akan pulang ke rumah Andi, karena keluarga Om Ihsan juga akan kembali ke desa.
Setelah mengganti baju pengantin dengan pakaian mereka sendiri di ruang rias, Rinaya dan Andi pergi ke kamar pengantin yang telah disiapkan oleh pihak hotel khusus untuk malam pertama pernikahan mereka sekaligus malam terakhir mereka menginap di sana.
Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar. Rinaya langsung menuju meja rias untuk membersihkan make up nya sebelum mandi. Sementara Andi masuk ke kamar mandi, bergantian dengan Rinaya.
Selesai mandi dan sholat dhuhur, mereka duduk berpelukan bersama di sofa depan ranjang pengantin yang ditaburi bunga mawar merah.
"Kamu lelah sekali, Ya?" Tanya Andi sambil terus mengusapi ujung kepala wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
"Aku lelah tapi bahagia, mas."
Rinaya semakin merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya. Wajahnya kian membenam di atas dada Andi. Hatinya mulai berdesir.
Andi menciumi kepala Rinaya dengan mata terpejam. Dadanya berdebar kencang dan dirasakan oleh Rinaya yang wajahnya masih menempel di di atas dada suaminya.
"Ya..."
Andi merenggangkan pelukannya membuat wajah Rinaya terangkat dari dadanya lalu menatapnya dengan sendu.
Tanpa berkata apapun lagi, Andi mencium kening Rinaya lama. Setelah itu matanya langsung turun dan tertuju pada bibir mungil istrinya yang begitu menggoda.
Perlahan-lahan bibirnya mendekati bibir itu, dengan nafas yang tanpa sadar sudah sangat memburu dan menuntut. Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya bibir Andi menyentuh bibir Rinaya.
Kehangatan tercipta seketika. Seperti sengatan listrik yang begitu dahsyat, tubuh mereka bereaksi. Menghangat dan menegang membuat Andi dengan gerakan lembut mulai menuntun Rinaya untuk saling berbagi kenikmatan.
Bibir mereka beradu tanpa putus. Berawal dari satu sentuhan kecil, kini mulai berubah menjadi ciuman yang saling berbalas tanpa batas. Bermula dari permukaan yang tipis dan manis, kini bergerak masuk semakin dalam dan semakin hangat menyapu seluruh bagian yang ada di sana tanpa terkecuali.
Mereka berdua sangat menikmati ciuman pertama mereka hingga tak ingin berhenti sama sekali. Kedua bibir itu terus menerus menyatu, saling menguasai dan saling berbagi sensasi, hingga nafas keduanya mulai habis.
Untuk sesaat mereka saling melepaskan agar bisa memulihkan nafas keduanya.
"Mas...."
Suara Rinaya terdengar lirih dan mendesah membuat Andi semakin kehilangan konsentrasi. Dia segera memindahkan tubuh Rinaya, membawanya ke atas ranjang yang luas.
Andi mengunci tubuh istrinya di bawah tubuhnya sendiri. Dia menatap wajah Rinaya yang memerah dengan penuh gairah.
Sebelum kesadarannya hilang dan dia akan larut dengan gairahnya, dia bertanya pada istrinya terlebih dahulu.
"Ya, apa kamu mau kita melakukannya sekarang?"
Matanya sudah mulai meredup terkalahkan oleh kabut gairah yang kian menguasai.
__ADS_1
"Lakukan apapun yang kamu mau, mas. Kecuali yang satu itu..."
Andi mengangguk pelan dan memahami maksud istrinya. Sebelumnya mereka telah sepakat untuk melakukan malam pertama mereka di rumah Andi, rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka berdua setelah menikah.
Rinaya ingin menyerahkan miliknya yang paling berharga di rumah mereka. Dia ingin mengukir kenangan indah awal penyatuan cinta mereka di kamar pribadi mereka, bukan di tempat lain yang bukan milik mereka sendiri.
"Kita istirahat dulu, sayang..."
Pada akhirnya Andi mengalah. Dia tidak ingin mengecewakan istrinya. Lagipula saat ini mereka baru saja memulai semuanya. Dia tidak ingin terburu-buru dan membuat Rinaya tidak nyaman saat ini.
"Tapi, mas. Kamu sudah......"
Rinaya tahu Andi masih menginginkan hal yang lain. Gairah itu terlihat sangat jelas olehnya.
"Tidak apa-apa, Ya. Masih ada waktu nanti malam."
Andi mencium kening istrinya dengan lembut. Lalu dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Rinaya.
Dia memeluk tubuh istrinya dengan erat dan penuh kasih membuat Rinaya merasakan kenyamanan yang tak terkira. Dia segera membalas pelukan suaminya, dan merebahkan kepalanya di atas dada Andi. Akhirnya mereka mulai terlelap dalam tidur pertama mereka sebagai sepasang suami istri.
.
.
.
Sore harinya mereka terbangun bersama, saat mendengar ketukan di pintu kamar. Andi mencium kening istrinya terlebih dahulu sebelum turun dari ranjang hotel yang mewah itu. Rinaya mengikuti suaminya turun tetapi dia berjalan masuk ke kamar mandi.
"Maaf jika saya mengganggu, Pak. Saya mengantarkan hidangan sore."
Andi mempersilakan masuk dan menunggu hingga pelayan tersebut menyelesaikan tugasnya. Setelah meletakkan makanan dan minuman di atas meja sofa, pelayan itu kemudian pamit dengan sopan.
"Jika ada yang dibutuhkan lagi, Bapak bisa menghubungi pihak restoran melalui telepon. Saya permisi dulu."
Andi mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu kembali mengunci kamar.
Rinaya keluar dari kamar mandi dan tersenyum saat melihat suaminya menuju ke arahnya.
"Mas, kita sholat dulu. Aku tunggu di sini."
Andi membalas senyum manis istrinya dan masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dan menghampiri Rinaya yang sudah menunggu dan menyiapkan keperluannya di samping sofa untuk berjamaah.
Usai menunaikan kewajibannya, Rinaya membuka pintu penghubung ke balkon dan berjalan hingga di ujung balkon. Dia menikmati suasana sore dengan angin semilir yang menyapa tubuhnya. Dia menikmati pemandangan kota di sore hari dari lantai tiga kamar yang mereka tempati.
Andi menyusul istrinya ke balkon dan memeluknya dari belakang. Kedua tangannya melingkari pinggang Rinaya dengan kepalanya bertopang di atas bahu istri tercintanya.
"Mas..."
Rinaya spontan meletakkan kedua tangannya di atas tangan suaminya yang memeluk erat tubuhnya. Dia menoleh ke samping dan mendapatkan ciuman dari Andi di pipinya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, sayang.."
Rinaya kembali menatap ke depan dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Dia senang mendengar Andi memanggilnya sayang.
"Aku pun mencintaimu, mas..."
Andi memutar tubuh Rinaya sehingga mereka berdiri berhadapan. Tangannya tetap melingkar di pinggang istrinya, sementara Rinaya mulai berani mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Akhirnya kita menikah, Ya."
Andi tak henti memandangi wajah cantik yang kini akan selalu ditemuinya sepanjang waktu.
"Apakah aku pernah mengatakan padamu, bahwa kau sangat cantik?"
Andi bertanya dengan mata tak berkedip menatap Rinaya.
"Hmm.., pernah sih, tapi jarang, mas. Kamu lebih sering diam saat sedang menatapku.."
"Kalau begitu sekarang dengarkan aku lagi. Rinaya istriku, kamu cantik sekali. Saat pertama kali melihatmu, aku seperti melihat seorang bidadari yang turun dari khayangan."
Rinaya merona antara malu dan tersanjung. Dan sebelum dia kembali sadar dan ingin membalas pujian untuk suaminya, tiba-tiba bibir Andi sudah menyatu dengan bibirnya.
Matanya bereaksi spontan menutup rapat. Semakin terasa debaran di dadanya bercampur detak jantung yang berpacu cepat dan membuat nafasnya mulai memburu tak menentu.
Tangan Andi memeluknya semakin erat bersamaan dengan bibirnya yang mulai bergerak menuntun bibir Rinaya untuk menari bersamanya.
Sore yang begitu indah, ditemani oleh seseorang dengan paras terindahnya. Berdua saling memberi dan menerima sentuhan cinta yang terindah.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1