Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
94 KEMBALINYA CINTA SEJATI


__ADS_3

"Mas........."


Belum sampai mengangkat kepalanya, Adit kembali memejamkan mata dan tetap menunduk lesu. Dia sadar, dia hanya terbawa ilusi sesaat.


Adit masih diam dan terus memejamkan matanya. Dia begitu menikmati panggilan suara itu, seakan ingin mengingat dengan baik merdu dan manjanya suara itu saat memanggilnya.


"Bahkan suaramu pun masih terdengar jelas olehku seolah nyata, sayang." Gumam Adit dalam hati.


"Mas Adit......"


Suara itu kembali terdengar di telinganya lebih keras. Dan Adit pun tersenyum karenanya.


"Aku selalu menyukai suaramu yang menggemaskan itu, sayang. Suara yang membuatku jatuh hati padamu sejak pandangan pertama dulu..." Batinnya terus berbicara sendiri.


Adit semakin terbuai oleh suara serak yang semakin terdengar manja dalam pendengarannya. Dia semakin melebarnya senyumannya dengan mata yang terus terpejam.


Dia membayangkan saat mereka bangun pagi di mana Dinda selalu membangunkannya dengan sebuah ciuman dan panggilan dengan suara khas bangun tidurnya, seperti yang saat ini dia dengarkan.


"Mas, aku di sini..."


"Aku tahu, sayang. Kamu selalu ada di sini, di dalam hatiku. Di dalam setiap nafasku pun selalu ada dirimu. Di setiap langkah ke mana pun aku pergi, selalu ada dirimu. Di mana pun aku berada, selalu ada dirimu bersamaku, sayang..."


Adit belum ingin membuka matanya karena terbuai oleh kenangan demi kenangan yang memunculkan wajah cantik Dinda di dalam angannya tersebut.


Hingga akhirnya, dokter yang sedari tadi hanya berdiri di ambang pembatas melangkah mendekati Adit dan menepuk pundaknya pelan, untuk memulihkan kesadaran lelaki itu.


Dengan sedikit tersentak Adit membuka matanya dan melihat ke arah dokter yang sudah berdiri di sampingnya. Dokter itu tersenyum membuat Adit merasa tidak enak karena larut dalam rasa kehilangannya yang teramat sangat.


"Oh..., iya..., maafkan saya, Dok. Saya terlalu hanyut dengan begitu banyak kenangan bersama istri saya." Ucap Adit sungkan.


"Ada yang sudah menunggu Anda sedari tadi di sini." Tangan dokter itu terulur dan menunjuk ke arah pembaringan. Pandangan Adit pun serta-merta mengikuti dan mulai menguatkan hatinya untuk kembali menatap wajah cantik yang sangat dicintainya tersebut.


"Mas..."


Seluruh tubuh Adit menegang mana kala mendengar lagi dengan jelas suara itu, di saat matanya tak lagi terpejam. Dia melihat ke arah pembaringan dan menemukan sebuah pemandangan yang membuatnya semakin terkejut dan tak percaya.


Sepasang matanya membulat sempurna disertai tatapan yang masih ragu dan penuh kebingungan.


"Dokter..." Menoleh ke arah sang dokter, lelaki itu meminta penjelasan atas apa yang dilihatnya saat ini.


Dokter tersebut semakin melebarkan senyumannya dan sekali lagi menepuk pundak Adit.

__ADS_1


"Selamat, Pak Aditya. Istri Anda sudah kembali. Seperti yang Anda lihat sekarang."


Jawaban sang dokter sontak membuat Adit membawa kembali pandangannya ke arah pembaringan. Dilihatnya di sana, tubuh yang terbaring itu mengangkat tangan kanannya mengundang dirinya untuk mendekat.


Wajah yang semula pucat pasi itu mulai menampakkan semburat kemerahan yang membuatnya terlihat semakin cantik dan bersinar bahagia. Sorot matanya memancarkan kembali cahaya kehidupan yang semulai telah memudar dan hampir sirna selamanya.


"Dinda..."


Wanita yang dirindukannya itu mengangguk pelan, meyakinkan Adit untuk mempercayai semua yang dilihatnya saat ini.


"Sayang..." Mulutnya tercekat tak kuasa melanjutkan ucapannya lagi.


"Aku merindukanmu, Mas..."


Langkah Adit sudah sampai di tempat sebelumnya di mana dia berdiri bersama Cinta dalam dekapannya, memberikan salam perpisahan untuk terakhir kalinya kepada sang istri, beberapa waktu yang lalu.


Butiran bening di pelupuk matanya mulai luruh mengalir membasahi kedua pipinya. Pandangannya yang memburam tak mengurangi ketajaman penglihatannya untuk menatap wajah cantik yang terus menatapnya dengan senyuman yang terukir di bibir manisnya.


"Sayang..., kamu......"


Adit tak sanggup melanjutkan kata-katanya saat jemari tangannya mulai bersentuhan dengan jemari tangan yang telah terulur meraihnya dengan genggaman lembut yang seketika menghangatkan seluruh tubuh dan hatinya tanpa kecuali.


Kini, saat ini, dia serasa menemukan kembali cintanya yang hilang. Cinta pertama di hatinya yang telah menjadi cinta terakhir dalam hidupnya. Cinta yang hampir saja terpisahkan oleh takdir, namun ternyata Allah masih mengasihi dan menyatukan kembali cinta tulus mereka berdua.


"Alhamdulillah, Ya Allah...!!!" Seru Adit seraya menghambur memeluk tubuh Dinda di atas pembaringan.


Dinda menyambut pelukan itu dan membalasnya sekuat tenaga, melepaskan semua tangisannya dan meleburkan seluruh kerinduannya.


"Dinda sayang, kamu telah kembali..! Kamu benar-benar telah kembali...!!!"


Adit menarik tubuhnya untuk menatap wajah di hadapannya dengan seksama, sekali lagi ingin memastikan dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya adalah nyata, lalu dia kembali merapatkan pelukannya semakin erat dengan tubuh istri tercintanya.


"Maafkan aku, mas. Aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama..." Ucap Dinda di sela tangisan dan pelukan mereka yang tak ingin lepas sedetik pun.


Dokter beserta beberapa perawat yang menyaksikan peristiwa bahagia itu, menitikkan air mata karena begitu terharu dan larut dalam suka cita yang memenuhi ruang perawatan Dinda.


Mereka semua turut merasakan kebahagiaan atas bersatunya kembali cinta sejati yang dimiliki oleh dua insan di hadapan mereka. Cinta yang tulus suci dan penuh keikhlasan, sekalipun maut hampir saja datang untuk memisahkannya.


Karena pelukan itu tak kunjung usai, dokter memberi tanda kepada para perawatnya untuk meninggalkan mereka, membiarkan keduanya saling melepaskan kerinduan yang telah terpendam selama hampir sepekan ini. Kerinduan yang penuh dengan perjuangan dan air mata untuk sampai pada titik pertemuan terindah saat ini.


Setelah hanya tinggal mereka berdua di dalam ruangan yang bersekat tirai tersebut, perlahan Adit mengendurkan pelukannya.

__ADS_1


Masih dalam jarak tubuh yang berdekatan, tangannya mulai menyentuh wajah cantik Dinda yang kini benar-benar telah menghangat, lalu mengusapinya dengan punggung jemari tangannya, perlahan penuh perasaan, menyusuri setiap lekukan indah yang terpahat sempurna maha karya Sang Pencipta.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah berjuang untuk kembali bersamaku, bersama kami, aku dan Cinta putri kecil kita..!!"


Satu ciuman pembuka dari Adit menghangatkan kening Dinda, sembari mengusap lembut kepalanya, memejamkan mata diiringi lantunan doa penuh syukur atas keajaiban yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, mas. Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian, kamu dan Cinta putri kecil kita..."


Senyuman terindah yang mereka miliki telah merekah sempurna di bibir keduanya, menyempurnakan suasana penuh romansa di antara dua hati yang telah bertemu kembali menjadi satu cinta yang saling terikat erat satu sama lain, tak akan lagi terpisahkan.


Adit mencium dua kelopak mata Dinda bergantian, kemudian turun ke arah pipi kanan dan kiri, lalu pada ujung hidungnya, dan terakhir ciuman penuh kasih itu berlabuh di atas bibir tipis yang terus melukiskan senyuman bahagia.


"Aku mencintaimu, Mas..."


"Aku juga mencintaimu, sayang..."


Dan ciuman penuh kelembutan dan kehangatan itu terus berlanjut, semakin lama semakin dalam, menyatukan dua bibir yang telah lama saling mendamba untuk mengecap manisnya cinta berbalut kerinduan yang tak kunjung berujung.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2