
Keesokan harinya, suasana ruang perawatan Dinda semakin ramai dengan kedatangan para sahabatnya. Ada Rinaya dan Andi yang tiba lebih dulu, tak berselang lama kemudian Elisa dan Farrel menyusul.
Kedua orangtua Dinda dan Adit memilih keluar dan pergi ke kantin rumah sakit, meninggalkan para anak muda itu bercengkerama melepaskan kerinduan mereka pada Dinda.
"Selamat datang kembali, Din. Aku sangat bahagia saat kemarin mendengar kabar dari Adit."
Rinaya memeluk erat sahabatnya dengan wajah yang basah oleh airmata. Wanita anggun itu menangis di pelukan sahabatnya membuat Dinda turut menangis karena terharu.
Adit dan Andi membiarkan dua sahabat itu berpelukan cukup lama.
Setelah Rinaya melepaskan pelukannya, Andi bertukar posisi dengan istrinya lalu merentangkan tangannya dan menatap Dinda.
"Bolehkah aku memeluk adikku yang sudah membuat semua orang khawatir dan cemas ini?"
Adit dan Rinaya hanya tersenyum karena mereka tahu jika Andi sudah menganggap Dinda seperti adiknya sendiri dan sangat menyayanginya.
"Tentu saja boleh, mas Andi."
Dan mereka pun berpelukan. Tampak Andi meneteskan airmata namun langsung dihapusnya dengan segera. Demikian pula dengan Dinda.
"Terima kasih karena mas Andi selalu menjadi malaikat penolongku di saat aku hampir kehilangan nyawa, bahkan hingga dua kali. Kamu juga, Rin. Terima kasih untuk kalian berdua."
Asisten Adit itu mengusap lembut kepala Dinda sebelum melepaskan pelukannya, lalu kembali merapat di samping Rinaya yang menyambutnya dengan pelukan erat di pinggangnya.
Tiba-tiba pintu dibuka dengan cepat dan masuklah ibu hamil dengan perut yang sudah besar tetapi tetap bertingkah lincah, didampingi suaminya yang selalu tenang pembawaannya.
Wanita itu berteriak memanggil nama Dinda seraya menghambur memeluknya.
"Selamat bertemu kembali denganku, Din! Aku sangat rindu padamu. Sebenarnya aku ingin berkunjung kemarin, tapi pak suami tidak memberi ijin, karena aku baru saja pulang dari pemeriksaan kandungan."
Pelukan hangat Elisa dengan perut bulatnya membuat Dinda tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya yang selalu heboh itu.
"Tidak apa-apa, Sa. Bagaimana kandunganmu? Calon keponakanku sehat, kan?"
Dinda merenggangkan pelukannya lalu mengusapi perut Elisa dan merasakan pergerakan halus di dalamnya.
"Eh, dia bergerak, Sa! Ah, aku jadi teringat pada kehamilanku sendiri. Dulu Cinta sangat aktif di dalam perutku, sama seperti ini."
Dinda masih merasakan gerakan di perut Elisa.
"Sepertinya dia turut bahagia menyambutmu kembali, Din. Makanya dia aktif sekali saat tanganmu menyentuhnya." Kata Elisa membuat Dinda mengangguk dan terus menatap perut sahabatnya.
__ADS_1
"Selamat datang kembali, Din. Dan selamat atas kelahiran Cinta."
Farrel mengulurkan tangannya ke arah Dinda dan Adit yang langsung disambut oleh keduanya dengan ucapan terima kasih.
Lama mereka bertukar kabar dan berbagi cerita, sekaligus temu kangen. Tiba-tiba terdengar lenguhan kecil yang dilanjutkan dengan tangisan sang putri kecil, dan semua mata pun sontak mengalihkan pandangan ke arah kereta bayi yang berada di samping tempat tidur.
"Nah..., ini dia si makhluk mungilnya sudah bangun...!" Seru Elisa girang karena bisa melihat Cinta bangun dan membuka mata.
"Suaramu yang membuatnya terbangun, Sa. Suara Tante heboh yang paling cetar tiada tara..." Balas Rinaya membuat semua tertawa ceria.
Adit segera menghampiri kereta si kecil dan membuka kelambunya. Terlihat bayi mungil itu bergerak lincah merentangkan kedua tangannya dan mengangkat kedua kakinya menendang ke udara.
Sepasang mata beningnya mengerjap dengan bola mata hitamnya yang berpindah ke kiri dan ke kanan, lalu menatap tepat ke depan, seolah melihat sang papa yang hendak meraih tubuhnya, yang siang itu terbebas dari belenggu bedong.
"Uuuhh.., cintanya papa bangun ya, sayang? Sebentar papa lihat dulu popoknya ya.." Adit membuka sedikit bagian samping popok Cinta dan dia tersenyum simpul.
"Uummm..., ternyata sudah penuh. Pantas saja kamu protes, Nak!" Ucap Adit sambil mengganti popok putrinya dengan cekatan, membuat yang lainnya memperhatikan dengan rasa kagum.
"Wah, kamu sudah terampil sekali, Dit. Baby honey, nanti kamu juga harus lihai seperti Dimas ya, biar kita bisa berbagi tugas seperti mereka."
Elisa tampak antusias dan bermanja di lengan suaminya yang hanya mengangguk mengiyakan permintaan istri bawelnya.
"Yang ada justru Farrel yang lebih jago mengurus bayi kalian, Sa. Kamunya saja banyak gaya dan heboh sendiri, bayimu malah takut kamu pegang nanti..." Adit meledek Elisa yang mana membuat wanita itu memanyunkan bibirnya, tapi langsung ditutupi oleh tangan Farrel.
"Dit, biar aku yang membawanya kepada Dinda."
Adit pun segera bergeser dan memberi jalan pada Rinaya untuk mengambil alih putri kecilnya, diikuti Andi yang turut mendampingi.
Rinaya sudah berdiri di samping kereta kecil itu. Wajahnya terlihat sangat bahagia melihat bayi mungil yang menggemaskan tersebut. Dengan hati-hati dia mengangkat tubuh si bayi dan merengkuhnya dalam dekapan tangannya.
"Hai, baby Cinta. Panggil kami Bibi Aya dan Paman Andi. Kami berdua sangat menyayangimu, cantik!"
Diciumnya pipi gembul bersemburat merah itu, bergantian dengan Andi yang tak lepas memeluk pinggang istrinya.
"Jadilah anak yang sholehah dan penuh kebahagiaan, sayang!" Tambah Andi seraya mengusap lembut kepala bayi berambut hitam lebat itu.
"Halo, baby Cinta. Di sini ada Tante El dan Om Farrel, lho. We love you, mungil...!" Elisa melambaikan tangannya dari sisi seberang dibarengi senyuman hangat di wajah suami pendiamnya.
"Kamu juga sudah luwes, Rin. Sudah sangat siap kelihatannya. Semoga segera menyusul aku dan Elisa, ya." Dinda menepuk lembut lengan Rinaya.
"Aamiin..!!! Makasih, Din. Doakan kami selalu, mudah-mudahan Allah segera mempercayakannya kepada kami." Andi membalas ucapan dan doa dari Dinda diikuti yang lainnya.
__ADS_1
Rinaya lalu memberikan sang putri kecil kepada mamanya. Dia terlihat mulai kehausan, terlihat dari gerakan mulutnya yang terus mencecap dan mengeluarkan lidahnya, mencari-cari sesuatu yang biasanya dia hisap dengan lahap.
Akhirnya dengan penuh pengertian, para lelaki menawan itu melanjutkan obrolan mereka di luar ruangan, karena Dinda akan menyusui sang buah hati.
Bersamaan dengan itu, Bunda Nina dan Mama Indri masuk ke dalam ruangan untuk mengambil tas dan berpamitan. Kedua orangtua Adit dan Dinda memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah, selagi ada para sahabat yang menemani Dinda dan Adit di rumah sakit.
Melihat waktu yang sudah mendekati saatnya makan siang, Rinaya berinisiatif untuk memesan makanan secara online untuk mereka semua. Sepertinya, hari ini mereka akan menghabiskan waktu di rumah sakit sampai sore, karena masih ingin berlama-lama berkumpul bersama.
"Kamu pesan apa, Rin?" Tanya Elisa yang sudah bergoyang lidah menikmati bekal camilan yang dibawanya dari rumah sebagai pengganjal rasa lapar yang semakin sering dirasakannya.
"Aku pesan makanan Jepang. Juga beberapa kue kecil untuk kamu, Sa." Jawab Rinaya sambil mengirim pesan pada Andi dan memberitahu jika dia sudah memesan makan siang untuk semuanya.
"Aah.., dirimu sungguh pengertian sekali, Rin. Tahu saja kalau aku tidak bisa menahan lapar.."
"Aku bukan pengertian sama kamu, Sa. Tapi aku kasihan sama keponakanku di perutmu kalau tidak kamu beri makan yang cukup." Balas Rinaya dengan gelaknya.
Dan mereka bertiga pun tertawa bersama, sampai lupa jika sang puteri kecil masih asyik minum dalam dekapan Dinda.
.
.
.
Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐๐๐
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
๐Author๐
.
__ADS_1