Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
14 HARI BAHAGIA


__ADS_3

Prosesi wisuda baru saja usai. Aku dan Adit segera menghampiri kedua orangtua kami yang sedari awal kedatangan tadi, sudah duduk bersama mengikuti seluruh rangkaian acara.


"Sekali lagi selamat untuk kalian berdua.." Ucap Ayah sambil memeluk aku dan juga Adit.


"Akhirnya wisuda juga, selamat.." Diikuti Om Satrio, papanya Adit.


"Selamat sayang.." Bunda memberikan pelukan hangatnya kepada kami berdua, bergantian dengan Tante Indri, mamanya Adit.


"Selamat.."


Setelah berbincang sejenak dan berbaur dengan keluarga Rinaya dan Elisa serta beberapa keluarga lainnya, kami pun menuju rumah orangtua Adit untuk beristirahat dan melanjutkan perbincangan.


Dan usai makan siang, kami semua berkumpul untuk membahas acara pernikahan kami bulan depan.


"Ok, wisuda sudah selesai. Saatnya fokus pada hari H pernikahan kalian.." Om Satrio membuka perbicaraan.


"Secara keseluruhan semua persiapan sudah hampir selesai. Tinggal membagikan undangan saja minggu depan.." Lanjut Om Satrio.


"Kalian berdua santai saja, tidak perlu ikut memikirkan segala macam acara dan persiapannya. Kami sudah atur semuanya. Yg lebih penting adalah kesiapan fisik dan mental kalian.." Tambah Ayah yang


diamini oleh semuanya.


.


.


.


Tibalah hari pernikahan yang dinanti-nanti.


Pagi hari yang mendebarkan. Di sebuah ruangan rias tempat acara akan berlangsung, aku sudah siap dengan gaun pengantin putihku. Aku mematutkan diri di cermin besar di hadapanku.


Sebentar lagi aku akan menyandang status baru sebagai seorang istri. Menjadi Nyonya Aditya Ah, aku tersipu sendiri membayangkannya..

__ADS_1


Tiba-tiba Elisa dan Rinaya masuk dengan wajah ceria mereka.


"Hai..haiii..., kami datanggg.." Elisa yang heboh langsung berputar mengelilingiku sambil terus mengomentari penampilanku.


"Ckk..ckk..cckk..., cantiknya calon pengantin ini.. By the way, gaunnya pasti mahal nih ya, kerennya gak kira-kira.., bikin aura calon pengantin makin bersinar.."


"Seminggu dipingit makin cantik aja kamu, Din. Entar pas ketemuan pasti Adit makin klepek-klepek.., hahaaa.." Rinaya pun ikut berkomentar dengan pujian dan godaannya.


"Gak usah mikirin yang nanti-nanti deh, yang sekarang dulu aja. Ini aku deg-degan banget, grogi parah, gugup akut..." Sahutku sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Deg-degan buat entar malam juga gak..??" Si kocak Elisa melihatku dengan kedipan mata genitnya yang langsung disahut oleh Rinaya.


"Husshh.., jangan digodain. Entar malam sudah ada yang godain dia dengan jurus tendangan mautnya.." Jawab Rinaya.


Ada saja tingkah kedua sahabatku ini, membuatku selalu terhibur dan bahagia.


"Emm.., apakah kalian tadi melihat Adit?" Tanyaku pelan.


"Eciee.., ada yang gak sabar nih pengen ketemuu.. Ooh suamiku.. Ooh istriku.." Elisa kembali kalap dengan godaannya padaku, sambil berlari kecil mengitariku dengan gaya seolah ingin memeluk seseorang.


Aku mengecek jam di ponselku. Sebentar lagi prosesi akad akan segera dimulai.


Sesuai arahan dari Wedding Organizer kami semalam, aku akan turun setelah Adit mengucapkan ijab qobulnya.


Jadilah aku masih di dalam ruangan, menunggu dan mendengarkan prosesi berlangsung dari sini.


Tak lama kemudian mulai terdengar suara pembawa acara mengawali acara.


Elisa dan Rinaya yang nantinya akan menemaniku keluar menuju tempat acara berlangsung, mulai bersiap dan merapikan baju serta riasan mereka.


"Rin, ayo kita foto dulu sama Dinda, sebelum


kita keluar nanti, yuk.." Elisa menarik tangan Rinaya berjalan mendekatiku yang masih duduk gugup di dekat jendela.

__ADS_1


"Ayo Dinda, cheese dulu.., biar gak tegang.."


Lalu kami bertiga cekrak-cekrek dengan bermacam pose, hingga aku bisa sedikit rileks dan melupakan kegugupanku.


Terdengar dari ruanganku, akad akan segera dimulai. Penghulu sudah meminta Ayah dan Adit untuk berjabat tangan, memulai prosesi ijab qobul.


"Bismillahirrahmanirrahim.." doaku dalam hati.


Sesaat kemudian..


"Aditya Wibowo bin Satrio Wibowo, saya nikahkan dan saya kawinkan anak perempuan saya Adinda Paramitha binti Arya Pratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Paramitha binti Arya Pratama, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..!" Ku dengar lantang suara Adit menjawab Ayah dengan satu tarikan nafasnya.


"Sah..?" Suara penghulu bertanya pada saksi yang diikuti jawaban dari kedua saksi.. "Saahhh..!!" Dan diiringi riuh tamu yang menyaksikan berucap "Alhamdulillah.."


Tanpa sadar, mataku berkaca-kaca mendengarnya. Akhirnya, aku sudah dilepas Ayah untuk diserahkan pada pria pilihanku, Adit.


"Selamat, Nyonya Aditya.." Peluk Elisa dan Rinaya bersamaan. Sesaat kami saling berpelukan bak adegan Teletubbies minus si Poo..


Rinaya menyeka sedikit air bening di pelupuk mataku, dan memanggil kakak perias yang sejak mereka datang tadi masih sibuk membereskan peralatannya.


"Mbak, minta tolong ini dirapiin lagi riasannya ya, maaf tadi kebawa haru jadi kena air mata.."


Rinaya memintanya dengan sopan dan kakak perias pun segera menghampiriku untuk merapikan penampilanku secara keseluruhan, karena bersamaan telah terdengar juga panggilan dari sang pembawa acara untuk membawaku ke tempat acara, bertemu suamiku..


Aku keluar didampingi Elisa dan Rinaya, berjalan pelan menuju tempat akad di mana Adit telah menantiku dengan pandangan matanya yang seolah tak berkedip terus menatapku.


Aku sampai di sampingnya, segera aku cium tangannya sebagai tanda baktiku kepada suami, yang dibalas dengan ciuman Adit di keningku sebagai bukti tanggung jawabnya atas kehidupanku setelah ini bersamanya.


Beberapa waktu kemudian kami masih disibukkan dengan rangkaian acara penandatanganan surat dan dokumen nikah, nasehat pernikahan serta doa penutup dari penghulu. Hingga akhirnya kami bisa melanjutkan acara resepsi di atas pelaminan, hingga usai saat tengah hari menjelang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2