
Sepulang makan malam, Andi mengantarkan Rinaya pulang. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu dengan berkeliling kota terlebih dahulu. Namun kali ini Rinaya meminta diantar pulang dan Andi hanya mengikuti kemauan kekasihnya.
Sampai di depan rumah Rinaya, seperti biasa Andi hendak keluar lebih dulu membukakan pintu untuk Rinaya. Tapi Rinaya menahannya.
"Mas, ikut aku masuk ke dalam ya." Pinta Rinaya yang membuat Andi terkejut karena sebelum-sebelumnya Rinaya menolak jika dirinya ingin mengantarkan sampai ke dalam rumah.
"Sungguh, Ya?" Tanya Andi yang dijawab oleh Rinaya dengan anggukan kepalanya.
Segera Andi keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk sang kekasih. Setelah mengunci mobilnya, Andi pun mengikuti langkah Rinaya memasuki pagar rumahnya.
Pintu rumah Rinaya terbuka, tampak kedua orang tuanya duduk bersama di ruang tamu.
"Assalamualaikum, Pa, Ma." Salam Rinaya yang diikuti oleh Andi.
"Waalaikumsalam." Jawab papa mamanya.
Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, Rinaya memperkenalkan Andi kepada mereka.
"Pa, Ma, kenalkan, ini mas Andi."
"Selamat malam, Om, Tante." Sapa Andi sambil mencium tangan mereka dengan senyum dan santun.
"Malam. Beberapa kali Rinaya sudah bercerita tentang kamu kepada kami." Kata papa Rinaya.
"Tolong jaga Rinaya, bahagiakan dia, hanya itu saja."
Rinaya terharu mendengar ucapan papanya. Sementara mamanya tersenyum menangkap aura kebahagiaan yang terpancar di wajah Rinaya.
"Insyaallah saya akan selalu menjaga dan membahagiakan Rinaya, Om, Tante. Terima kasih atas kepercayaannya kepada saya." Andi menjawab dengan keyakinan dan penuh percaya diri.
"Baiklah, kami masuk ke dalam dulu." Papa dan mama Rinaya beranjak dari duduknya dan bersama-sama masuk ke dalam meninggalkan Andi dan Rinaya yang sudah duduk berdampingan.
"Terima kasih, Ya. Aku senang dan lega akhirnya bisa bertemu dengan orang tuamu." Andi tersenyum bahagia menatap wajah Rinaya di sampingnya.
"Sama-sama, mas." Jawab Rinaya.
"Ya, katakan padaku, apa reaksi orang tuamu saat kamu menceritakan tentang hubungan kita?" Tanya Andi. Mata teduh itu terus menatap sang kekasih yang duduk di sampingnya.
"Mereka senang, karena anaknya sudah tidak jomblo lagi.." Rinaya menjawab dengan sedikit gurau. Dia juga tertawa kecil.
"Aku bertanya serius, kamu malah bercanda, Ya."
"Aku juga serius, mas. Papa bilang, akhirnya aku bisa terlepas dari predikat High Quality Jomblo.." Rinaya masih tertawa kecil.
"Itu julukanku selama kuliah dulu, mas. Karena dari awal kuliah hingga wisuda, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun." Terang Rinaya.
Andi yang mendengar penjelasannya mulai tersenyum kembali. Di dalam hatinya dia sebenarnya juga heran, mengapa wanita secantik Rinaya bisa sendiri begitu lama.
"Berapa lama kamu menyendiri tanpa pasangan, Ya?" Tanya Andi lagi.
"Sejak kelas tiga SMA, mas. Sekitar lima tahun yang lalu." Jawab Rinaya.
__ADS_1
"Lima tahun? Aku juga sudah lima tahun sendiri. Masalah hati pun kita memiliki kesamaan, Ya." Kata Andi.
"Apakah mas Andi sangat mencintai dia? Atau masih belum bisa melupakannya?" Tanya Rinaya hati-hati.
Andi sudah pernah bercerita padanya tentang kekasihnya yang telah meninggal.
Andi segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menatap Rinaya.
"Tidak, Ya. Dulu aku memang begitu menyayanginya. Tapi kami memang tidak berjodoh, dan Allah memisahkan kami dengan kepergiannya."
"Dan selama ini aku tetap sendiri bukan karena itu, Ya. Aku tidak pernah menutup hatiku. Tapi setiap kali ada hati yang mendekat, aku tidak pernah merasakan apa-apa. Jadi untuk apa dipaksakan."
"Justru aku yang heran Ya, wanita secantik kamu bisa bertahan selama itu sendirian. Pasti banyak sekali lelaki yang berharap bisa mendapatkan hatimu bukan?" Andi bertanya dengan rasa penasaran.
Rinaya tersipu malu mendengar pujian yang diucapkan Andi secara tidak langsung.
Lalu dia tersenyum sendiri membayangkan kembali, sudah berapa banyak lelaki yang menyatakan perasaan kepadanya akan tetapi semuanya dia tolak.
"Aku tidak mau memberi harapan kepada mereka semua, mas. Aku memang tidak ada rasa sama sekali, jadi lebih baik aku mengatakan apa-adanya kepada mereka."
"Mengapa akhirnya kamu memilihku, Ya?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Andi.
"Bukan aku yang memilihmu, mas. Tapi Allah yang telah memilihmu untukku. Begitupun sebaliknya." Jawab Rinaya dengan tatapan tanpa keraguan.
"Di saat kita tidak saling mencari tetapi kita saling bertemu, itulah takdir kita untuk bersama." Ucap Andi menambah keyakinan di antara mereka.
Sejenak mereka terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Oya mas, tadi aku lupa memberitahu. Minggu depan Elisa dan Farrel akan menikah, mas."
Andi menganggukkan kepalanya. Rinaya melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin datang bersama mas Andi."
Andi menoleh ke arah Rinaya, menatap tak percaya.
"Kita..?!?"
"Iya, mas. Mas Andi mau kan, menemani aku datang ke pernikahan mereka?" Tanya Rinaya penuh harap.
"Ya, kamu serius, kita akan pergi bersama?" Andi masih memastikan hal yang sama. Karena selama hampir dua bulan ini, mereka belum membuka hubungan mereka kepada orang lain.
"Iya, mas." Jawab Rinaya dengan pasti.
"Mas Andi tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak, Ya. Aku sangat senang, akhirnya kita akan membuka hubungan kita apa-adanya."
"Terima kasih, Ya." Ucap Andi lirih dengan tatapan mata teduhnya.
"Terima kasih juga, mas. Terima kasih untuk pengertian dan kesabaranmu." Jawab Rinaya sepenuh hati.
__ADS_1
"Kamu tahu Ya, hari ini aku mendapatkan dua kejutan darimu. Kamu sudah membawaku bertemu orangtuamu, dan kamu akan membawaku bertemu teman-temanmu. Aku merasa sangat bahagia, Ya."
Andi terus-menerus menatap Rinaya penuh cinta.
"Apakah itu artinya kamu sudah benar-benar menerimaku, Ya?" Pertanyaan itu langsung dijawab Rinaya dengan senyum dan anggukan kepalanya.
"Aku mencintaimu, Ya. Aku sungguh sangat mencintaimu, bahkan sejak awal kita bertemu. Dan semakin hari perasaan itu semakin tumbuh dan berkembang semakin besar dan semakin dalam."
"Ijinkan aku terus bersamamu, di sisimu, Ya. Agar aku bisa selalu menjagamu, melindungimu. Aku ingin membahagiakan kamu, memberikan semua yang kamu minta, melakukan semua yang kamu mau."
Rinaya terharu dengan semua ucapan Andi. Tanpa sadar, dia meneteskan air mata.
Andi yang masih menatapnya menjadi serba salah. Dia takut ada ucapannya yang telah menyakiti hati kekasihnya sehingga membuatnya menangis.
"Ya, maafkan aku, maaf jika ada kata-kataku yang membuatmu sedih.." Secara spontan Andi membawa kedua tangannya ke wajah Rinaya dan segera menghapus air matanya.
Mata Rinaya mengerjap berusaha menekan air mata yang masih mengaburkan pandangannya, dan seketika itu pula tangan Andi kembali membersihkan sisa air matanya.
"Aku tidak apa-apa, mas. Aku hanya terharu mendengar ungkapan perasaanmu. Aku merasa betapa baiknya Allah kepadaku. Banyak yang berkata jika aku sangat beruntung memiliki segalanya. Tidak ada yang kurang dari diriku dan juga keluargaku. Dan sekarang, Allah menambahkan lagi kebahagiaan untukku yaitu kehadiran kamu, mas. Kamu membawa cintamu untuk melengkapi hidupku menjadi semakin sempurna. Aku bersyukur atas semua itu.."
Tak pelak, air mata berderai lagi membasahi wajah Rinaya.
Andi ingin menghentikan tangisan Rinaya tapi dia menahan dirinya untuk tidak memeluk wanita terkasihnya itu.
"Ya, tolong jangan menangis lagi..!" Pinta Andi sambil terus menatap sedih wajah sendu Rinaya.
Tak disangka, tiba-tiba Rinaya memeluk Andi dan semakin menumpahkan tangisnya di dada Andi.
Tubuh Andi seperti tersengat arus pendek aliran listrik, merasakan tubuh kekasihnya tak ada jarak lagi dengannya.
Tubuhnya menghangat, hatinya berdesir lembut dan syahdu, dadanya berdebar tak menentu, jantungnya berdetak tanpa irama pasti, nafasnya semakin memburu berkejaran tak tentu lagi arahnya.
Andi berusaha menguasai dirinya sendiri yang dipenuhi gejolak saat menyadari Rinaya benar-benar telah memeluknya. Dia merasakan isak tangis Rinaya dalam pelukannya. Pelan-pelan dia membalas pelukan sang kekasih, mencoba menenangkannya.
Tangannya memeluk tubuh Rinaya. Sesekali dia mengusap lembut punggung kekasihnya. Lalu mencium ujung kepala Rinaya dengan penuh perasaan.
"Jangan menangis lagi, Ya. Aku mencintaimu.."
Mendengar ucapan Andi, Rinaya mulai menyadari sikapnya. Dia ingin melepaskan pelukannya karena merasa malu. Namun Andi masih memeluknya dengan erat dan hangat.
Rinaya merasakan ketenangan dan kenyamanan di pelukan Andi. Hatinya terus berdesir halus. Tangisnya mulai mereda, tak ada lagi isak dan air mata. Dia merasa sangat bahagia.
"Terima kasih, mas. Terima kasih karena telah mencintaiku sebaik ini."
Andi melepaskan pelukannya.
"Aku akan selalu memberimu yang terbaik yang aku bisa, Ya."
"Berbahagialah bersamaku."
Andi meraih tangan Rinaya dan menggenggamnya. Tanpa ragu Rinaya membalas genggaman itu. Dan mereka berdua pun bergenggaman tangan sangat erat.
__ADS_1