
~Di saat ikhlasmu tak lagi berbatas tapi, di sanalah kebahagiaan sejatimu bermula abadi...~ (Aisha Bella)
.
.
.
Diiringi senyum perpisahan di bibirnya, sembari mendekap erat Cinta putri kecilnya, Adit mundur beberapa langkah menjauh dari tubuh Dinda yang terbaring pucat di pembaringannya, dan berhenti sesaat di ambang tirai pembatas.
"Bismillah, di sini aku melepaskanmu demi kebaikan dan kebahagiaanmu, sayang. Kembalilah dengan tenang, bertemu dengan Sang Pemilik dirimu yang sesungguhnya..."
Setelah memuaskan pandangan terakhirnya, Adit memejamkan matanya sejenak untuk berserah diri pada Yang Maha Kuasa.
Selanjutnya dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan Dinda dengan senyum yang masih ditampakkannya sembari menatap wajah sang putri kecil yang sangat mirip dengan ibunya, menuruni kecantikan Dinda.
Bayi mungil itu menggeliat pelan dan membuka matanya, seolah sedang memandang sang ayah yang terus menatapnya. Senyum kecil terlihat di bibir mungilnya, seakan memberi kekuatan pada papanya bahwa semua akan baik-baik saja. Sesaat kemudian, Cinta kembali terlelap dengan tenang dalam pelukan hangat papanya.
"Kita kuat ya, Nak. Kita berdua akan selalu bersama. Papa akan selalu mencintai dan menyayangimu, menjaga dan melindungimu..."
Sampai di depan meja jaga perawat, Adit menyerahkan putri kecilnya kepada seorang perawat yang sebelumnya membawa Cinta dari ruang perawatannya.
"Suster, ini bayi saya. Tolong dibawa kembali ke ruangannya. Kasihan dia sudah terlalu lama di sini. Terima kasih."
Perawat itu segera berdiri dan menerima Cinta dari tangan Adit. Setelah itu dia segera pamit dan membawa bayi kecil itu keluar dari ruang ICU.
Setelah bayinya dibawa oleh perawat, Adit menghadap perawat lain yang di sana.
"Suster, saya ingin bertemu dengan dokter untuk meyampaikan sesuatu yang penting." Ucapnya tanpa keraguan. Hatinya telah yakin sepenuhnya, keputusan inilah yang terbaik.
"Baik, Pak. Mari saya antarkan ke ruangan dokter."
Seorang perawat lain dengan sigap segera berdiri dan meminta Adit untuk mengikutinya. Mereka berjalan keluar ruangan melalui pintu yang berbeda dari pintu yang sebelumnya Adit masuki.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah ruangan berukuran sedang, yang di dalamnya terlihat dokter jaga yang kebetulan termasuk dalam tim dokter yang menangani Dinda, tengah sibuk dengan berkas perawatan pasien yang bertumpuk di atas meja.
Setelah terlebih dahulu mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, perawat diikuti Adit menghadap sang dokter.
"Permisi, Dokter. Ada yang ingin bertemu dengan Anda." Perawat yang mengantarkan Adit menyampaikan tujuannya.
Dokter menutup laporan yang sedang dibacanya lalu melihat ke arah depan mejanya. Melihat ada Adit di sana, dokter pun segera mempersilakan Adit duduk, sementara sang perawat pamit untuk kembali ke ruang ICU.
"Ya, Bapak? Bagaimana?" Tanya Dokter dengan ramah namun tetap menunjukkan keseriusan sikapnya.
__ADS_1
"Saya telah mengambil keputusan, Dok. Saya..." Adit menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
Bersamaan dengan Adit yang sudah membuka mulutnya hendak kembali berucap, seorang perawat lain masuk ke dalam ruangan tanpa permisi dan menyela pembicaraan antara Adit dan sang dokter.
"Maaf, Dok. Mohon segera ke datang ke ruang ICU. Pasien atas nama Adinda harus segera ditangani..."
Spontan Adit berdiri menegang mendahului sang dokter yang turut berdiri dengan cepat dan bergegas keluar dari ruangannya dengan setengah berlari menuju ruang ICU yang tak jauh jaraknya.
Adit yang semula diam mematung, tersadar dan buru-buru mengikuti langkah cepat sang dokter yang telah cukup jauh meninggalkannya. Hingga saat dirinya keluar dari ruang dokter, dokter tersebut telah menghilang di balik pintu ruang ICU bagian samping, yang khusus diperuntukkan para dokter dan petugas kesehatan.
"Bapak sebaiknya menunggu di pintu depan. Nanti dokter akan menemui Bapak di sana." Kata seorang perawat yang hendak masuk ke dalam ruangan.
Adit menganggukkan kepala lalu melangkahkan kedua kakinya yang terasa bergetar, dengan dada yang masih terus berdebar keras. Jantungnya berdetak sangat cepat, terngiang-ngiang ucapan sang perawat di ruangan dokter beberapa saat yang lalu.
"Apakah kamu sudah pergi, sayang? Bahkan aku belum sempat mengatakan keputusanku kepada dokter..." Meskipun telah ikhlas sepenuhnya, tidak bisa dipungkiri hati Adit terus berdesir perih merasakan kehilangan yang luar biasa.
Seluruh keluarga terkejut melihat kedatangan Adit dari arah luar. Sepengetahuan mereka, satu jam yang lalu Adit masuk ke ruang ICU bersama Cinta putrinya, tetapi sekarang Adit datang dari arah lain dan sudah tidak bersama putrinya lagi.
"Ada apa, Dit? Apa yang terjadi?" Mama Indri menatap putranya yang datang dengan wajah tegang dan terdiam tanpa sepatah kata.
"Di mana Cinta?" Tanya Ayah Arya yang terus memeluk istrinya yang masih tersedu.
Adit menghela nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Jika tadi hatinya telah tenang dan lega setelah mengambil keputusan yang terbaik, entah mengapa sekarang perasaannya kembali berkecamuk tak menentu.
"Dari ruangan Dinda, aku langsung pergi menemui dokter dan diantarkan oleh perawat melalui pintu samping yang lebih dekat dengan ruangan dokter."
"Kamu sudah mengambil keputusan?" Tanya Papa Satrio hati-hati.
Adit mengangguk dan menatap mereka yang duduk di hadapannya satu per satu. Dia harus menyampaikan keputusannya.
"Aku tidak ingin memberatkan langkahnya, jika memang sekarang sudah waktunya dia untuk kembali kepada pemiliknya..."
Papa Satrio berdiri dan menghampiri putranya. Dipeluknya Adit disertai beberapa kali tepukan ringan di bahunya. Dia menguatkan sang putra.
Adit membalas pelukan papanya dengan erat. Tak lama kemudian dia melepaskan pelukan Papa Satrio untuk beralih menghampiri kedua orangtua Dinda yang duduk di samping mamanya.
Lelaki itu menurunkan tubuhnya, duduk bersimpuh di antara kedua pasang kaki orangtua Dinda seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Maafkan saya, Ayah, Bunda. Maafkan saya....."
Tak kuasa menahannya lagi, akhirnya tangisan Adit tumpah di hadapan Ayah Arya dan Bunda Nina, yang turut berlinangan airmata.
Papa Satrio telah kembali duduk dan memeluk Mama Indri yang kembali terisak lirih.
__ADS_1
Waktu hampir menuju subuh, saat seluruh keluarga larut dalam kesedihan yang terdalam dan teramat sangat. Seorang perawat keluar dari dalam ruangan dan mencari keberadaan Adit.
"Bapak Aditya, anda diminta dokter untuk segera masuk ke dalam." Kata sang perawat.
Adit bangkit dari posisinya lalu melangkahkan kaki menuju pintu ruangan. Begitu Adit sampai, perawat segera membukakan pintu dan mempersilahkan Adit masuk lebih dulu.
Adit berjalan ke arah pembaringan Dinda yang dibatasi oleh tirai berwarna hijau seperti warna baju steril yang dikenakannya saat ini.
Dokter berdiri menunggunya di ujung pembatas yang sedikit terbuka. Raut wajahnya datar membuat Adit tak bisa menebak apa yang sudah terjadi di balik tirai itu.
Namun keikhlasan dan keputusannya semula, membuat dirinya telah menyiapkan hati dengan baik dan sekuat mungkin untuk menghadapi kenyataan yang terjadi.
"Silahkan masuk, Pak Aditya." Dokter memberi ruang bagi Adit untuk kembali menemui sang istri.
Adit melanjutkan langkahnya melewati sang dokter. Untuk kedua kalinya dia memasuki ruangan tersebut. Dia telah sampai di tepi pembaringan Dinda.
Pandangan matanya menangkap ada hal yang berbeda dari sebelumnya. Sebagian peralatan medis yang semula masih terpasang di tubuh Dinda sudah tak terlihat lagi. Alat bantu pernafasan yang tadinya masih menutupi bagian hidung dan mulutnya juga sudah tidak ada lagi.
Hati Adit serasa melayang tiada arah. Usai sudah kisah cinta sejatinya bersama Dinda, wanita pertama dan terakhir yang akan selalu dicintainya.
Matanya terpejam rapat menahan bulir bening yang hampir lolos dari sudut matanya. Dia mengatur nafasnya setenang mungkin, agar tidak terlihat lemah di hadapan istri tercintanya.
Terlintas jelas bayangan wajah Dinda dalam pejaman kedua matanya. Wajah cantiknya, senyumnya yang menawan dan kemanjaannya yang selalu membuat rindu. Semua hal tentang Dinda selalu penuh keindahan bagi dirinya.
Adit masih terus melayangkan ingatannya pada satu per satu kenangan yang tercipta sepanjang kebersamaannya dengan Dinda selama lebih dari lima tahun ini.
Namun mendadak dirinya tersentak dan membuka matanya dengan segera, ketika telinganya mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Mas........."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.