Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
2.3. RASA YANG SAMA


__ADS_3

Pada dua sudut kota yang berbeda, di tempat yang terpisah jarak dan ruang, dua anak manusia masih terjaga dalam lamunan mereka.


Mereka mengingat pertemuan pertama mereka, pandangan pertama, jabat tangan perkenalan, sapaan pertama, makan siang bersama, saling berbalas pesan hingga akhirnya pulang bersama.


Masih teringat jelas senyum di antara mereka, bertemu pandang dalam diam, getaran di hati mereka, debaran di dada mereka, salah tingkah, resah, gelisah, semua rasa menyatu hingga saat memikirkannya mata mereka pun enggan terpejam, meski malam telah kian larut.


"Apakah aku telah jatuh cinta kepadanya ...??"


Hati mereka sama-sama bertanya. Mencoba mengartikan semua yang mereka rasakan tentang seseorang di sana.


"Apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku ...??"


Hati mereka sama-sama meragu. Tak ingin semua ini hanya harap semata, tak rela jika rasa ini tak terbalas dan sia-sia belaka.


Mereka ingin menyapa, meski hanya lewat sebuah pesan. Tapi mereka takut, takut untuk memulainya. Mereka tak tahu, apakah yang di sana akan membalasnya atau mengabaikannya.


Namun ingin ini tak lagi terbendung. Berharap segera menemukan jawabannya. Jika tak mencoba, bukankah selamanya tak akan tahu apa balasannya..?!?


Di ruangnya masing-masing, mereka menggenggam ponsel dengan hati bergetar. Menuliskan sebuah pesan yang sama dengan tangan gemetar.


"Selamat malam ...."


Mereka mengirimkan pesan yang sama, di waktu yang sama. Dan di waktu yang bersamaan pula mereka menerima sebuah pesan dengan isi yang sama.


Rinaya terkejut mendapati pesan yang sama berbalik padanya. Di seberang sana, Andi pun tak percaya, membaca pesan yang sama yang terkirim untuknya.


Mereka berdua tertegun di tempat masing-masing.


Mereka memikirkan kesimpulan yang sama, bahwa mereka merasakan dan melakukan hal yang sama.


Rinaya diam, tak berani membalas pesan itu. Sementara Andi, menunggu lama tak ada pesan baru untuknya, dia tak lagi bisa bersabar, hatinya menginginkan kepastian.


"Bisakah aku meneleponmu sekarang?" Akhirnya lelaki itu mengirim pesan kedua dan kembali menunggu balasan.


Rinaya tersenyum menatap layar ponselnya. Dibacanya pesan dari Andi yang membuatnya hatinya berdebar.


"Iya." Rinaya membalasnya dengan cepat, secepat ritme jantungnya saat ini.


Tanpa menunggu lagi, Andi segera menekan tombol panggilan setelah mendapatkan ijin dari Rinaya.


Dering nada panggilan di ponselnya memecah kesunyian malam di kamarnya. Rinaya langsung menerima panggilan itu, menggeser tombol hijau dengan tangan bergetar.


Dan kedua telepon itu kini telah tersambung.


"Ya ...."


Panggilan dari pria di ujung sambungan sana, terdengar sangat merdu di telinga Rinaya. Dia senang dengan panggilan nama itu.


"Iya, Mas ...." Suara Rinaya bergetar saat menjawabnya.


"Aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Apakah kamu juga memikirkan aku?"


Andi bertanya dengan nafas menderu serta dada yang berdegup begitu kencang.

__ADS_1


Rinaya merasakan hatinya bagai kembang api yang telah tersulut dan kini memercikkan pijar-pijar indah.


Dia merasa bahagia, hingga lupa menjawab pertanyaan Andi.


"Ya, tolong jawab pertanyaanku."


Andi berkata dengan pelan, tak sabar menunggu jawaban dari Rinaya.


"Iy-iya, Mas." Rinaya menjawab dengan singkat, hampir tak terdengar suaranya.


Di ujung sana, Andi tersenyum bahagia. Dia telah mendengar jawaban yang diinginkannya.


"Terima kasih, Ya. Sekarang sudah sangat larut. Tidurlah. Besok pagi aku akan menghubungimu lagi." Andi berkata pelan, di tengah heningnya suasana malam.


"Baik, Mas. Mas Andi juga harus segera tidur. Selamat malam." Rinaya menjawab lirih.


"Selamat malam, Ya." Andi mengakhiri percakapan mereka.


Dua hati itu kini tengah berbahagia bersama. Mereka mulai memejamkan mata dengan perasaan tenang. Seulas senyum tersungging di bibir mereka, menemani lelap tidur mereka malam ini.


.


.


.


Pagi menjelang, Rinaya terbangun dengan hati berbunga indah. Perasaannya sangat bahagia sekaligus malu mengingat kejadia semalam, saat Andi meneleponnya di tengah malam yang sunyi.


"Halo, Ya."


Rinaya masih berdebar menerima telepon dari Andi.


"Iya, Mas Andi."


"Jam berapa kamu berangkat ke gerai?" tanya Andi.


"Gerai fashion buka jam sembilan. Aku biasanya juga datang di jam yang sama, Mas," jawab Rinaya.


"Baiklah, nanti aku akan mengantarmu ke gerai. Tidak apa-apa kan, Ya?" Andi bertanya lagi.


"Tapi bukannya mas Andi masuk kantor jam delapan, sama seperti Adit?" Rinaya tahu jam kantor di Nature Furniture karena Dinda sudah pernah mengatakannya.


"Hari ini aku bisa meminta ijin sebentar. Kamu tunggu aku, aku akan ke rumahmu sebelum jam sembilan," janji Andi dengan pasti.


"Baik, Mas. Aku akan menunggu," jawab Rinaya.


Wanita itu tersenyum sendiri membayangkan akan bertemu lagi dengan Andi. Lelaki bermata teduh yang tatapannya telah menggetarkan hatinya pada pandangan pertama mereka bertemu dan berkenalan.


Di kamarnya, Andi juga tersenyum bahagia karena akan segera menemui Rinaya, pujaan hati yang baru ditemuinya kemarin siang.


Dia segera menelepon kantor untuk meminta ijin datang terlambat, selanjutnya menelepon Adit untuk memberitahu jika dirinya akan datang terlambat.


.

__ADS_1


.


.


Jam delapan pagi, Andi sudah sampai di depan rumah Rinaya. Dia keluar dari mobil dan menyandarkan tubuhnya di pintu mobil, mnghadap ke arah pagar rumah Rinaya. Dia segera melakukan panggilan telepon untuk Rinaya.


"Ya, aku sudah berada di depan rumahmu."


Di dalam kamarnya, Rinaya tersenyum menerima panggilan telepon dari Andi.


"Iya, mas. Tunggu sebentar, ya."


Suara lembut Rinaya di ujung telepon membuat hati Andi berdesir.


"Apa aku perlu masuk ke dalam untuk menjemputmu?"


"Untuk sekarang tidak perlu, Mas. Mas Andi tunggu di depan saja, aku akan segera keluar."


"Baiklah, Ya. Aku mengerti."


Andi sadar diri, mereka bahkan baru saling mengenal kemarin siang. Dia menahan dirinya.


Setidaknya semalam dia sudah tahu bahwa Rinaya merasakan hal yang sama dengannya. Hal itu sudah sangat membahagiakan hatinya.


Sambil menunggu Rinaya, lelaki itu mengingat kembali percakapan singkat mereka semalam. Dia tidak menyangka, dirinya dan Rinaya mempunyai perasaan yang sama secepat ini.


Mereka sama-sama tidak bisa tidur dan saling memikirkan satu sama lain. Mereka seperti telah memiliki ikatan hati yang sangat kuat. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.


Tak berapa lama kemudian, Andi melihat wanita cantik nan anggun itu keluar dari pagar rumahnya. Andi terpana menatap ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna di hadapannya itu. Dadanya kembali berdentum, nafasnya tertahan dengan sendirinya.


Rinaya menghampiri Andi dengan hati penuh getaran. Sejak dari kamar tadi, jantungnya terus berdegup dengan sangat kencang.


"Selamat pagi, Mas Andi." Sapaan pelan Rinaya dengan suara lembutnya membuat hati Andi berdesir halus.


"Pagi, Ya." Andi membalas dengan senyum terbaiknya, sebaik suasana hatinya saat ini.


Andi membukakan pintu dan mempersilahkan Rinaya masuk ke dalam mobil. Dia pun segera masuk dan siap melajukan mobilnya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2