Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
45 AKHIR KISAH SINTA


__ADS_3

Tiba-tiba dengan gerakan cepat Sinta maju ke arah Dinda dengan tangan memegang pisau lipat yang sudah terbuka.


Tak kalah cepat, Adit langsung mendorong tubuh Dinda masuk ke dalam rumah.


"Sayang, masuk..!!!"


Pisau yang tadinya mengarah ke Dinda otomatis tertahan oleh tangan Adit yang baru saja mendorong tubuh istrinya.


Satu goresan mengenai lengan kanan Adit. Namun dengan segera tangan kirinya bisa meraih pergelangan tangan Sinta dan mengibaskannya dengan sangat keras sehingga pisau yang dipegangnya terjatuh ke lantai.


"Adit, lepaskan, sakiittt..!!" Sinta menjerit merasakan cengkeraman tangan Adit yang sangat kuat.


"Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan semua yang sudah kamu lakukan pada istriku, Sinta..!!!"


Andi dan Rinaya datang sesaat lebih dulu sebelum Papa dan beberapa polisi datang. Mereka berdua datang untuk mengantarkan berkas kantor kepada Adit, namun sesampainya di halaman rumah justru dikejutkan dengan kejadian antara Adit dan Sinta.


Sinta segera ditangani oleh tiga orang polisi yang langsung membawanya pergi dari rumah orangtua Adit dengan teriakan histeris yang memekakkan telinga. Sedang satu orang polisi masih tinggal dan berbicara dengan Papa Satrio yang sudah didampingi oleh Mama Indri.


Dinda menangis tersedu-sedu di pelukan Adit. Adit menghela nafas lega dan membalas pelukan istrinya sangat erat hingga dia meringis sendiri menahan rasa sakit di bagian lengannya.


"Mas Adit, sepertinya luka itu cukup dalam dan panjang. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, mas!" Ajak Andi sambil menutup luka Adit dengan sapu tangan miliknya.


Dinda yang baru menyadari kalau lengan suaminya terluka menjadi semakin panik karena darah masih terus keluar dari lengan Adit. Dia menggantikan Andi memegang sapu tangan yang menutupi luka suaminya. Dia tidak mempedulikan lagi rasa sakit di kepalanya yang juga masih terluka.


"Aku ikut, sayang. Aku harus ikut!"


Akhirnya karena tidak mau berdebat, Adit membiarkan Dinda menemaninya ke rumah sakit bersama Andi dan Rinaya.


.


.


.


Di rumah sakit, Adit segera ditangani oleh seorang dokter dan dua orang perawat. Meskipun hanya terkena sekali, namun luka di lengannya cukup dalam dan tergores agak panjang. Agar tidak menimbulkan infeksi, dokter harus memberinya banyak jahitan untuk menutup luka menganga di lengan Adit.


Setelah hampir satu jam, semua proses perawatan Adit selesai. Lengan kanannya kini terbalut perban yang melingkar penuh di bagian atas. Lengan bajunya dilipat hingga ujung bahu agar tidak mengenai luka yang baru saja ditutup rapat itu.

__ADS_1


Rinaya dengan cekatan segera mengambil obat di bagian farmasi serta menyelesaikan semua administrasi di bagian pembayaran, sementara Andi mengambil mobilnya untuk menjemput kekasihnya juga Adit dan Dinda di lobi rumah sakit.


Dalam perjalanan pulang, mereka sudah mulai tampak tenang, tidak seperti saat berangkat tadi yang penuh kepanikan dan tangisan Dinda yang tiada henti. Sekarang Adit dan Dinda sudah duduk tenang di kursi belakang.


"Kalian berdua ini memang pasangan yang serasi. Tapi lain kali, tolong serasinya jangan yang seperti ini lagi!" Adit mulai bersuara memecah keheningan di dalam mobil sambil melihat dari spion ke arah Adit dan Dinda.


"Apa maksud mas Andi?" Tanya Rinaya sambil menatap kekasih di sampingnya.


"Lihatlah pasangan di belakang itu, Ya. Yang satu luka di kepala, yang satunya luka di lengannya. Serasi yang sangat tidak menyenangkan, bukan..?!"


Rinaya menutup mulutnya menahan tawa. Sementara Adit dan Dinda saling memandang dan mulai tersenyum satu sama lain.


"Mas Andi bisa saja.." Balas Dinda.


"Siap-siap untuk aku repotin lebih banyak lagi, mas Andi.." Sahut Adit juga.


"Siap, mas boss..!!" Jawab Andi dengan tawa kecilnya.


"Dan kamu, Rin. Siap-siap kesepian karena ditinggal mas Andi lembur ya.." Adit menggoda Rinaya.


.


.


.


Sore harinya, Adit dan Dinda ditemani Papa pergi ke kantor polisi untuk menandatangani berkas laporan kejadian perkara. Apapun keputusannya nanti, Adit menyerahkan semua kepada pihak kepolisian.


Yang terpenting baginya, Sinta sudah ditangkap dan tidak membahayakan orang lain, termasuk Dinda dan dirinya.


Mereka bertiga tiba kantor polisi setempat. Saat berjalan memasuki ruangan, mereka berpapasan dengan beberapa orang berpakaian putih yang tengah membawa seorang wanita dengan tangan menyilang dan terikat ke belakang.


Adit terkejut begitu melihat dari jarak yang dekat, wanita yang akan dibawa menuju mobil ambulance itu tak lain adalah Sinta. Dia hanya berjalan diam dengan tatapan mata kosong, tubuhnya lemah lunglai tanpa tersisa sedikit pun kekuatan.


"Sinta..." Adit berdiri mematung di tempatnya.


Entah mengapa, Adit merasakan hatinya sedih saat melihat Sinta dalam kondisi seperti itu. Dinda yang mengetahui perubahan di wajah suaminya, segera mempererat genggamannya dan mengusap lembut punggung tangan Adit. Dia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Adit. Bagaimana pun juga, dulu Adit adalah sahabat baik Sinta.

__ADS_1


Adit masih terus memperhatikan langkah-langkah pelan Sinta menuju mobil. Kenangan demi kenangan antara dirinya dan Sinta di masa lalu, tiba-tiba melintas dengan jelas di dalam pikirannya.


Gadis remaja yang cantik, lincah dan periang. Itulah gambaran keseharian Sinta. Ditambah lagi dengan kepintaran, keramahan dan kebaikan hatinya, membuat Sinta terlihat sebagai remaja bahagia yang siap menatap dunia dengan semua pesona di dalam dirinya.


Satu per satu kebersamaan yang dulu dilaluinya dengan Sinta, juga muncul kembali dalam ingatannya saat ini.


Setiap hari, mereka menghabiskan banyak waktu bersama-sama. Sekolah, belajar dan mengerjakan tugas bersama. Bermain, berdua berjalan-jalan ke mana pun mereka suka. Tak ada hari yang tak mereka lewati tanpa kebersamaan mereka berdua. Semua kebersamaan itu, adalah kenangan indah yang dimilikinya. Kenangan tentang seorang sahabat masa lalu bernama Sinta.


Mobil ambulance telah berlalu meninggalkan halaman kantor polisi. Adit menghapus air mata yang tanpa dia sadari telah membasahi kedua pipinya. Dia menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan-lahan.


Dinda yang sedari tadi masih mendampinginya, sudah memeluk tubuhnya dari samping.


"Doakan dia, sayang. Dan maafkan dia. Bagaimanapun juga, dia adalah sahabatmu, pernah menjadi sahabat baikmu di masa lalu."


"Dan sekarang dia sedang sakit. Jadi berdoalah untuk kesembuhannya."


Dinda memberikan senyuman terbaiknya untuk menghibur sang suami yang masih terbawa suasana.


"Terima kasih, sayang. Aku selalu bangga dan bersyukur memilikimu sebagai istriku. Aku sangat mencintaimu..!" Adit mencium kening Dinda dengan segenap cintanya.


Kemudian mereka berdua melanjutkan langkah mereka masuk ke dalam kantor polisi, menyusul Papa yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2