
Setelah Dinda lebih tenang, Adit keluar dari ruangan Dinda untuk menemui yang lain.
"Mas Andi, sepertinya saya tidak bisa kembali ke kantor. Baru saja teman lama Dinda meninggal saat sedang melakukan video call dengannya. Saya tidak bisa meninggalkannya karena dia masih syok."
Sontak semua yang mendengarnya terkejut bukan main. Elisa dan Rinaya bergegas masuk ke ruangan Dinda dan menemui sahabat mereka yang masih menangis terisak seorang diri.
"Dinda.." Elisa dan Rinaya memeluk Dinda dari kedua sisi. Mereka larut dalam kesedihan sahabatnya, meskipun belum tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya.
Tapi ketika mendadak harus menyaksikan sendiri kematian seseorang yang kita kenal, pasti hal itu akan sangat mengguncang jiwa dan pikiran. Itulah yang dirasakan Dinda saat ini.
Di luar ruangan, Adit masih berbicara dengan Andi dan Farrel.
"Hari ini juga saya akan menemani Dinda takziah ke rumah temannya. Sekalian kami akan menginap di rumah orangtua Dinda. Jadi untuk satu dua hari ke depan saya tidak bisa masuk kantor dulu, mas Andi."
Andi menganggukkan kepala dan mengerti. Dia memaklumi situasi Adit saat ini.
"Ya, mas Adit. Tidak perlu khawatir. Untuk urusan kantor biar saya yang menyelesaikannya untuk sementara waktu ini."
"Farrel, apa aku bisa minta tolong, untuk mengantarkan mas Andi kembali ke kantor? Karena tadi kami kemari menggunakan mobilku."
"Iya, Dit. Tidak masalah. Kantor kita kan satu arah juga. Nanti aku antar mas Andi sampai ke kantor."
"Terima kasih, Rel. Maaf kalau merepotkanmu." Adit memeluk Farrel dan juga Andi.
"Sama sekali tidak, Dit. Bukankah kita semua adalah saudara, seperti kata Dinda tadi." Farrel tersenyum tulus.
.
.
.
Sore hari menjelang petang, Dinda dan Adit sampai di pemakaman di mana Bimo akan dikebumikan. Mereka langsung ke sana karena dari info yang Dinda dapat di grup chat teman sekolahnya, Bimo akan langsung dimakamkan hari ini juga.
Mereka berdua sampai tepat bersamaan dengan jenazah Bimo diturunkan dari mobil ambulance yang membawanya langsung dari rumah sakit.
Dinda dan Adit langsung bergabung dengan beberapa teman sekolah Dinda dulu. Karena kabar meninggalnya Bimo sangat mendadak dan akan langsung dimakamkan, hanya beberapa teman sekolahnya saja yang bisa datang sore ini.
Setelah semuanya siap, proses pemakaman jenazah Bimo pun segera dilaksanakan. Dari keluarga Bimo terlihat mama dan papanya juga Siska kakak Bimo serta beberapa kerabat dekatnya.
Pemakaman selesai menjelang maghrib. Dinda bersama Adit dan teman-temannya mendekati keluarga Bimo untuk berpamitan.
Orangtua Bimo tampak tidak peduli saat menyalami teman-teman Bimo. Namun semua memakluminya karena sejak dulu sudah banyak yang tahu jika orangtua Bimo memang tidak terlalu memperhatikan anaknya apalagi seputar pergaulannya.
Hanya Siska yang terlihat ramah dan bersikap hangat kepada mereka. Saat Dinda berpamitan, Siska memegang tangannya lebih lama.
__ADS_1
"Dinda, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang ke sini. Bimo pasti sangat senang dengan kedatanganmu."
"Iya, mbak. Maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau Bimo sakit. Beberapa bulan yang lalu saat kami bertemu, dia terlihat sehat dan baik-baik saja."
"Dia memang tidak ingin ada yang tahu tentang sakitnya." Kata Siska.
"Oya, besok bisakah kamu datang ke rumah kami? Ada titipan dari Bimo yang harus aku sampaikan kepadamu."
Dinda menatap Adit sebelum memberikan jawaban. Adit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baik, mbak. Besok aku akan ke sana." Jawab Dinda kemudian.
Kemudian mereka semua berlalu pergi meninggalkan makam Bimo diiringi rintik hujan di penghujung senja hari ini.
.
.
.
Dinda dan Adit telah sampai di rumah orangtuanya. Sebelumnya mereka sudah memberi kabar jika akan menginap untuk beberapa hari ke depan.
Mereka sudah selesai mandi dan berjamaah sholat maghrib di kamar Dinda. Setelah makan malam bersama ayah bunda, Adit dan Dinda kembali ke kamar untuk beristirahat sejenak.
Apa yang terjadi seharian tadi membuat badan, hati dan pikiran mereka merasa cukup lelah.
"Sudah kewajibanku untuk selalu di sampingmu. Jangan bicara seperti itu lagi." Adit merengkuh kepala istrinya dan mencium ujung kepalanya.
Dinda mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat. Tapi begitu dia menutup matanya, bayangan kejadian detik-detik saat Bimo meninggal tadi siang kembali hadir seolah nyata di hadapannya.
"Astaghfirullahaladzim..!" Dinda membuka matanya kembali dan terduduk dengan dada berdebar-debar. Wajahnya mendadak pias dan gugup.
"Ada apa, sayang?" Adit ikut bangun dan duduk di samping istrinya. Melihat perubahan di wajah istrinya, Adit tahu dia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku teringat kejadian tadi siang. Tiba-tiba semuanya terbayang saat aku memejamkan mata.." Dinda mencoba mengatur nafasnya pelan-pelan.
Adit menghela nafas panjang. Dia bisa merasakan kecemasan dan ketakutan istrinya.
"Ada aku di sini, sayang. Pikirkan saja hal yang lain agar kamu lebih tenang."
Adit keluar kamar mengambilkan air putih untuk istrinya. Dia langsung memberikan gelas yang dibawanya pada Dinda yang segera meminumnya sampai habis.
"Cobalah untuk melepaskan apapun yang kamu rasakan saat ini. Ikhlaskan semuanya."
Adit duduk bersandar pada headboard sambil tangannya menarik tubuh Dinda untuk mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Ingat saja hal-hal indah yang kamu miliki. Tepiskan semua ingatanmu tentang kejadian tadi." Adit memeluk tubuh istrinya dan mencium keningnya dengan lembut.
Dinda menyandarkan kepalanya di dada sang suami dan melingkarkan tangannya membalas pelukan Adit.
"Jangan pernah lelah untuk terus berada di sampingku. Aku selalu membutuhkanmu, sayang. Jangan tinggalkan aku karena aku tidak bisa hidup tanpamu."
"Apakah aku pernah melakukannya? Tidak pernah, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Menjaga dan melindungimu adalah tugas dan kewajibanku sebagai suamimu."
Waktu sholat isya telah tiba.
"Kita sholat dulu. Lalu kita doakan Bimo bersama-sama."
Adit mengajak Dinda beranjak dari tempat tidur untuk menunaikan kewajiban mereka dan mendoakan Bimo. Bagaimanapun juga, hanya doa yang dibutuhkan oleh seseorang yang telah meninggal dunia untuk melapangkan alam kuburnya.
Selepas sholat, lantunan doa terus dipanjatkan oleh Dinda dan Adit dengan khusyuk untuk Bimo. Doa-doa terbaik untuk mengantarkan kepergian seorang teman kembali kepada Sang Pencipta, menuju kehidupan abadinya di sisi Illahi.
Setengah jam lebih Adit dan Dinda membacakan doa-doa untuk Bimo. Adit mengakhiri doanya dan menaruh buku kecil yang dipegangnya ke atas meja.
Saat akan beranjak dari kursi, Adit baru menyadari ternyata Dinda telah tertidur di sampingnya masih dengan memegang buku yang sama dengan Adit tadi. Kepalanya lunglai bersandar pada punggung kursi.
Adit tersenyum melihat istri cantiknya yang terlelap saat mereka berdoa bersama.
"Kamu pasti sangat lelah, sayang. Semoga malam ini tidurmu nyenyak." Gumam Adit sambil memindahkan tubuh sang istri ke atas tempat tidur dengan hati-hati, lalu menyelimutinya dengan penuh kasih.
"Aku mencintaimu, sayangku." Adit mengusap kepala Dinda dan mencium kening istrinya dengan segenap perasaannya.
.
.
.
Novel baru kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1