
Enam bulan berlalu begitu cepat. Aku bersyukur, skripsiku dan skripsi Adit rampung dalam satu semester, sesuai target awal kami.
Kini kami hanya tinggal menunggu saatnya wisuda yang akan dilaksanakan minggu depan.
"Sayang, nanti malam kita jadi keluar kan..?" Adit mengingatkan aku tentang ajakannya kemarin.
"Sudah lama sekali, aku kangen jalan berdua sama kamu.." Adit merajuk membuatku tertawa melihat mimik mukanya yang penuh pengharapan.
"Jangan terlalu drama ah.., bukannya tiap hari kita juga jalan bareng terus. Jalan bareng tapi bawa bahan skripsi ke mana-mana. Jalan bersama tapi pikiran ke mana-mana, hahaa..." Jawabku terus menggodanya sambil mengingat masa-masa ribet kami saat menyelesaikan skripsi kemarin.
Kulihat Adit tertawa kecil, mungkin dia juga sedang mengingat perjuangan kami menuntaskan skripsi.
"Ya udah, selesai makan aku antar kamu pulang dulu. Nanti malam aku jemput lagi."
Kami pun menghabiskan makan siang kami dan segera beranjak meninggalkan kantin kampus. Hari ini kami ke kampus sebentar untuk mengambil baju toga.
Malam harinya, Adit sudah menjemputku dan langsung membawaku untuk makan malam. Tak biasanya, dia hanya diam sepanjang perjalanan. Hanya fokus melajukan mobilnya melewati keramaian kota, hingga kami sampai di sebuah rumah. Rumah berarsitektur modern dengan konsep minimalis, tampak megah walau tidak terlalu besar.
Adit mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah itu, dan berhenti tepat di depan garasi.
Setelah mematikan mesin mobil, dia bergegas turun, berjalan memutari mobil dan segera membukakan pintu mobil untukku.
"Ayo, keluarlah.."
Adit membuka suara dengan senyum di bibirnya, mengulurkan tangannya mengajakku keluar dari mobil. Aku menerima uluran tangannya yang langsung digenggamnya sangat erat.
"Sayang, kita di rumah siapa ini..?" Tanyaku padanya yang hanya dijawab dengan tatapan matanya yang teduh itu.
"Nanti kamu juga tahu sendiri.." Dia membawaku menuju pintu depan rumah itu. Membuka kuncinya kemudian membuka pintu lebar-lebar.
"Selamat datang, calon istriku tercinta..." Senyum semakin merekah di wajah Adit. Sementara aku masih dipenuhi tanda tanya besar. Dia menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah.
"Jangan bicara apa pun dulu, ikuti saja aku, ayo.."
Ruang pertama yang ku lihat adalah ruang tamu yang sudah dilengkapi dengan furniture sederhana namun berkesan mewah.
Selanjutnya Adit membawaku masuk ke ruang tengah yang terhubung langsung dengan dapur dan ruang makan.
__ADS_1
Sementara sejajar dengan ruang tamu tadi, terdapat dua kamar masing-masing di sisi kiri dan kanan yang menghadap ke ruang tengah.
Dan di sisi belakang, ada satu kamar utama yang berukuran lebih besar dari kedua kamar sebelumnya. Kamar itu mempunyai dua pintu, satu pintu utama yang juga menghadap ke ruang tengah, dan satu pintu lagi di ujung kamar yang mengarah langsung ke teras belakang yang dilengkapi sebuah taman kecil beralaskan rumput hijau.
"Kamu suka rumah ini, sayang..??" Adit berdiri di hadapanku, di dalam kamar utama yang masih kuperhatikan dengan seksama.
"Rumah yang indah. Sangat cantik.."
Jujur aku akui keseluruhan rumah ini sangat sempurna menurutku, dan sepertinya di desain khusus sesuai karakter pemiliknya.
"Secantik penghuninya nanti..." Tambah Adit melengkapi jawabanku.
"Benarkah..?"
"Secantik kamu, yang akan tinggal di rumah ini bersamaku.."
Seketika aku tertegun mendengar ucapan Adit.
"Aku..?! Apa maksud kamu..??"
Adit yang berdiri di hadapanku memajukan langkahnya lebih mendekatiku. Memegang kedua tanganku dan menggenggamnya lembut.
Glekk..! Mendadak nafasku tercekat. Tak percaya, itu yang kupikirkan.
"Kamu tidak percaya, ya? Tapi sungguh aku tidak berbohong.." Seperti peramal saja, Adit bisa membaca pikiranku.
"Kamu tahu sayang, rumah sederhana ini.., dan mobil tak mewah yang selalu ku bawa pergi bersamamu itu.., keduanya adalah hasil kerja kerasku selama ini, yang sengaja aku persiapkan sejak lama untuk kamu, untuk masa depanku bersamamu.."
Mataku mulai terasa basah dan pedih hingga memburamkan pandanganku. Masih coba ku tahan agar tidak jatuh menetes.
"Aku minta maaf, karena hanya ini yang bisa aku persiapkan untuk mengawali kehidupan baru yang akan kita jalani sebentar lagi.."
"Aku minta maaf, jika semua ini masih sangat kurang untuk membuatmu bahagia bersamaku.."
"Tapi aku yakin, dengan adanya kamu selalu di sampingku, aku pasti bisa berusaha lebih baik lagi, agar aku bisa memberimu kebahagiaan yang lebih indah dan lebih banyak lagi.."
Aku menyerah. Akhirnya tumpah sudah air mata yang sedari tadi aku tahan, mengalir deras tak lagi terbendung.
__ADS_1
"Jadi..." Adit menahan ucapannya dan melepaskan genggamannya. Dia berlutut di depanku dan mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku celananya.
"Maukah kamu menikah denganku..?"
Adit memegang sebuah cincin yang diulurkannya ke arahku. Dan aku tak ingin memikirkan hal lain lagi, segera aku menjawabnya.
"Iya, aku mau. Aku mau menikah denganmu..!"
Adit tersenyum lega dengan raut bahagia terlihat jelas di wajahnya. Dia sematkan cincin yang dipegangnya tadi ke jari manisku.
"Terima kasih, sayang.." Kulihat matanya berkaca-kaca.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Ku tatap cincin yang telah melingkar indah di jariku.
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Aku sangat bahagiaaa..."
Hanya itu yang bisa kusampaikan padanya, dengan ditemani air mata yang masih saja membasahi wajahku tiada henti.
Adit kembali berdiri tepat di depanku.
"Jangan menangis lagi.."
Tangannya memegang kedua pipiku, dan dengan kedua ibu jarinya, dia menghapus seluruh air mataku. Kemudian dia menarik pelan tanganku, keluar dari kamar utama, menuju sofa di ruang tengah.
Dia mengambil beberapa lembar tisu di atas meja dan memberikannya padaku.
"Bersihkan itu ingusmu! Seperti anak kecil saja menangis sampai ingusnya keluar semua..." Sambil tertawa pelan dan tetap menatapku.
Seketika aku malu semalu-malunya mendengar ucapan Adit. Kuterima tisu darinya dan segera membersihkan seluruh wajahku.
Adit..., kamu merusak momen romantis kita..!! Aku berteriak kencang dalam hati.
Dan akhirnya, malam ini kami tutup dengan memesan makan malam melalui aplikasi online, kemudian menikmatinya bersama di teras depan.
Sama halnya dengan lamaran kilat nan darurat kala itu, lamaran kedua kalinya ini pun tak akan pernah terlupakan..
.
__ADS_1
.
.