
Beberapa episode ini akan mengenang awal kebersamaan Adit dan Dinda , jadi akan berhubungan dengan cerita di episode-episode awal novel ini, bisa dibaca ulang lagi ya ..🙏💜
Sepulang dari kampus, Adit dan Dinda segera membersihkan diri dan menunaikan kewajiban sholat dhuhur.
Setelah selesai, Dinda merebahkan diri di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Adit menyusul dan memeluknya.
"Kamu capek, sayang?"
"Tidak, mas. Cuma sedikit pegal di pinggangku. Mungkin karena sudah lama tidak membonceng motor, apalagi motor sport yang agak tinggi posisi boncengannya.."
Dinda membuka matanya dan mendapati Adit yang tidur miring menghadap ke arahnya.
"Berbaliklah membelakangiku. Akan aku pijat pinggangmu agar rasa sakitnya berkurang."
Dinda patuh dan mengikuti perintah suaminya. Dia segera memiringkan tubuhnya, dan Adit pun mulai memijat pinggangnya dengan dua tangan. Dia memijat dengan gerakan teratur dan tidak terlalu keras.
"Tidurlah, sayang. Semoga rasa sakitnya segera hilang."
Dinda menurut dan kembali memejamkan matanya. Dia mencoba untuk melelapkan dirinya tapi tidak berhasil. Walaupun matanya terpejam, pikirannya masih sepenuhnya sadar dan bisa merasakan setiap gerakan tangan Adit di pinggangnya.
Tiba-tiba perasaannya menghangat tanpa sebab. Dia mulai merasakan sentuhan tangan Adit seperti aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Hatinya semakin hangat, dadanya mulai berdebar tak menentu.
"Mas..."
"Ya? Kok kamu belum tidur? Apakah masih terasa sakit?"
Sejenak Adit menghentikan pijatannya namun tangannya tidak berpindah tempat.
"Sudah lebih baik, mas."
Dinda membalikkan tubuhnya sehingga kini mereka berbaring miring berhadapan. Kedua pasang mata mereka beradu pandang dalam diam. Adit merasa aneh dengan tatapan istrinya yang sangat dalam dan semakin sayu.
"Sayang, kamu kenapa?"
"A-Aku... Aku ingin..."
Adit terkejut dengan jawaban Dinda yang sudah dia pahami maksudnya. Selama ini, untuk hal yang satu itu istrinya tidak pernah memintanya lebih dulu.
"Kamu yakin ingin melakukannya?" Tanya Adit untuk memastikan.
"Aku ingin, mas..."
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Dinda dan akhirnya luruh ke pipinya setelah dia menjawab pertanyaan suaminya.
Adit buru-buru menghapus air mata itu dan menatap wajah Dinda dengan penuh kasih. Sebenarnya sejak pulang tadi dia pun menginginkannya. Namun setelah melihat Dinda merasa sakit di pinggangnya, dia segera menahan hasratnya dan memilih untuk memijat istrinya.
"Jangan menangis, sayang.."
Adit menarik tubuh Dinda merapat ke tubuhnya. Seketika kehangatan tubuh mereka berbaur menjadi satu. Adit mencium kening istrinya dengan segenap cinta dalam hatinya.
"Aku akan melakukannya..."
Dinda menampakkan senyum bahagia di bibirnya. Namun senyuman itu tak berlangsung lama karena bibir Adit telah menempel sempurna di atas bibirnya.
__ADS_1
Tangan Dinda menyentuh kedua pundak suaminya membuat Adit mulai melanjutkan ciumannya di bibir manis istrinya.
Diawali dengan penuh kelembutan, pada akhirnya kedua insan itu tak lagi menahan hasratnya untuk melakukan ciuman yang lebih dalam dan lebih menuntut satu sama lain.
Dengan satu gerakan cepat, kini tubuh Adit sudah berada di atas tubuh Dinda, membuatnya semakin leluasa untuk melakukan semuanya dengan lebih lepas. Tak disangkanya, sang istri tak mau kalah dan telah siap membalas semua serangannya dengan hasrat yang sama-sama telah memuncak.
Dinda yang di setiap permainan mereka biasanya selalu bersikap pasif dan hanya memberikan balasan yang wajar, kali ini dengan lebih berani dia selalu ingin turut menguasai satu per satu ciuman dan cumbuan yang tanpa sadar sudah membuat mereka bermain polos tanpa penghalang apapun lagi di tubuh mereka.
Adit yang melihat dan merasakan gairah istrinya yang begitu tinggi dan selalu mengimbangi gelora di dalam dirinya, semakin bersemangat untuk terus memacu hasrat mereka dengan gerakan dan tarian cinta yang begitu panas hingga akhirnya sama-sama mencapai puncak pelepasan yang sangat nikmat dan memuaskan satu sama lain.
"Terima kasih, mas.."
Kalimat itu terucap dengan nafas Dinda yang masih memburu tak beraturan. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil yang terlihat indah di mata Adit.
"Sama-sama, sayang. Kamu hebat.."
Adit mencium kening istrinya dengan lembut. Kali ini hatinya terasa lebih bahagia dari biasanya. Dinda yang mendengar ucapan suaminya tertunduk malu mengingat dia tadi begitu agresif.
"Beristirahatlah. Aku mencintaimu."
Aku juga mencintaimu, mas."
Dinda mulai memejamkan mata di pelukan suaminya. Karena lelahnya aktivitas mereka barusan, tak butuh waktu lama Dinda dan Adit sama-sama telah tertidur sangat pulas dengan senyum yang terulas di bibir mereka berdua.
.
.
.
Masih dalam rangka nostalgia masa kuliah mereka, ada satu permintaan istrinya yang belum Adit penuhi, yaitu pergi ke taman kota. Dan malam ini mereka akan pergi ke sana.
Tadinya Adit memaksa untuk menggunakan mobil saja karena takut badan Dinda akan sakit lagi jika kembali membonceng motor sportnya. Tetapi Dinda bersikeras dan terus mendesaknya untuk tetap memakai motor saja, bahkan wajahnya menjadi murung dan matanya mulai berair.
Akhirnya mereka pun pergi berboncengan motor seperti sebelumnya saat ke kampus seharian tadi. Setelah lima belas menit perjalanan yang lancar, tibalah mereka di taman kota.
Saat menunggu Adit memarkir motornya, pandangan Dinda tertuju ke seberang jalan di mana Gerai Bertiga berada. Dia juga melihat suasana cafenya yang cukup ramai pengunjung dan beberapa driver online yang tengah menunggu pesanannya sambil berbincang dengan sesama rekannya.
Dinda tersenyum senang, usahanya bersama dua sahabatnya sejauh ini berjalan sesuai harapan bahkan melebihi target awal mereka. Konsep one stop shopping yang mereka tawarkan berhasil menarik minat semua kalangan untuk berkunjung dan menikmati tiga macam usaha yang mereka buka dalam satu bangunan yang sama.
"Kamu senang melihat cafemu ramai, sayang?"
Adit yang sudah selesai memarkir motornya menghampiri Dinda dan merangkulnya dengan santai seperti sepasang anak muda yang sedang berkencan malam minggu.
"Bukan hanya cafe yang ramai, mas. Lihat di lantai dua dan tiga juga terlihat banyak pengunjungnya."
Mereka sama-sama melihat ke lantai dua dan tiga yang dikelilingi oleh kaca bening dengan pernak-pernik cantik yang menempel, membuat bangunan itu semakin tampak menarik.
"Kamu mau kita mampir ke sana?" Tanya Adit.
"Nanti saja, mas. Setelah kita puas menikmati suasana di sini, kita mampir sebentar ke gerai."
"Baiklah, sekarang ayo kita masuk ke taman. Kita cari bangku yang dulu kita tempati berdua untuk berbicara hati ke hati."
__ADS_1
Adit dan Dinda menyudahi pandangan mereka ke arah gerai. Mereka mulai berjalan menuju sisi taman di mana terdapat lapak pedagang kaki lima yang berjejer rapi dengan masing-masing makanan dan minuman yang mereka tawarkan.
Beruntung tempat yang mereka cari masih kosong. Sebuah bangku panjang yang menghadap ke arah sungai kecil yang melintasi tengah kota ini. Mereka segera duduk di sana setelah memesan dua mangkok wedang ronde, seperti waktu itu.
Berdua mereka terdiam memandangi warna-warni lampu kecil yang terangkai indah menghiasi tepian sungai, sehingga menampakkan riak-riak kecil yang mengalir tenang di permukaan sungai dengan pantulan kilau lampu di atasnya.
"Sayang, apa kamu masih ingat yang aku katakan malam itu?" Tanya Adit memecah kesunyian di antara mereka.
"Boleh tanya sesuatu..?" Jawab Dinda dengan pasti.
Adit tersenyum lebar, ternyata istrinya masih mengingatnya.
"Perasaan kamu ke aku kayak gimana sih..?"
Adit melanjutkan dialog antara mereka berdua kala itu. Dinda yang masih mengingat semuanya langsung menjawab pertanyaan suaminya.
"Memang perasaan kamu ke aku gimana..?!"
Mereka berdua saling menatap dengan mata yang disinari kebahagiaan.
"Dulu aku menjawab suka dan sayang. Tapi sekarang, aku akan menjawabnya dengan kejujuran hatiku saat ini."
Adit dan Dinda duduk dengan wajah berhadapan. Tangan mereka saling menggenggam dengan erat. Dinda menunggu apa yang akan dikatakan Adit dengan hati yang berdebar dan dada yang bergemuruh.
"Sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu dulu. Dan seiring berjalannya waktu, cinta itu semakin besar dan semakin dalam. Dulu, sekarang dan selamanya, aku akan selalu mencintaimu. Aku akan selalu bersamamu. Kita akan selalu bersama. Aku, kamu dan anak-anak kita nanti."
Dinda tak kuasa menahan air matanya yang telah mengalir deras membasahi seluruh wajahnya. Ini memang bukan pertama kalinya Adit mengungkapkan perasaan terdalamnya. Namun kali ini, entah mengapa hatinya begitu terharu oleh kalimat demi kalimat yang disampaikan suaminya.
Ada rasa yang berbeda saat dia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Adit. Kalimat yang sangat menyentuh hatinya dan membuatnya ingin membalasnya dengan segera.
"Aku juga sangat mencintaimu. Perhatianmu, kasih sayangmu dan seluruh cintamu adalah kekuatanku untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi dan menjadi yang terbaik untukmu dan untuk keluarga kita. Aku, kamu dan anak-anak kita nanti."
Tanpa kata lagi, Adit meraih tubuh Dinda dan memeluknya dengan erat. Dinda membalasnya dengan rasa bahagia yang tak terkira. Baginya, tak ada yang lebih indah dari kisah cinta mereka berdua.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
__ADS_1
.