Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
55 MENYEMBUHKAN DIRINYA - PART 2


__ADS_3

Adit bertekad untuk segera menyembuhkan rasa trauma dalam diri Dinda. Menurutnya ketakutan yang dialami istrinya pasca beberapa peristiwa yang menimpanya itu, masih dalam batas kewajaran.


Dinda masih melakukan semuanya aktivitasnya dengan baik. Baik di rumah maupun di gerai, dia tetap menunjukkan kesehariannya seperti biasa.


Dia hanya masih menghindari satu hal, yaitu panggilan video di ponselnya. Mungkin dia masih dibayangi kejadian saat kepergian Bimo waktu itu.


Namun setelah mendapatkan penjelasan dari Putri, Adit akan mencoba untuk membiasakan Dinda dengan panggilan video seperti dulu, agar tidak ada endapan ketakutan di dalam dirinya karena terus menghindari kegiatan tersebut.


"Sayang, apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang?"


Adit sedikit membungkuk untuk memeluk istrinya dari belakang, saat Dinda masih merapikan rambutnya di depan meja riasnya. Dinda tersenyum dan menatap suaminya dari pantulan cermin di depannya.


"Aku baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku."


"Tapi sayangku, setiap hari tidurmu masih terus terganggu oleh mimpi buruk yang berulang. Setiap hari aku mendapati dirimu terbangun dengan kondisi seperti itu, aku yang tidak tega melihatmu tersiksa terus-menerus."


Adit memutar tubuh Dinda menghadap kepadanya, lalu dia berlutut di depan sang istri sambil memegang kedua tangan Dinda.


"Dengarkan aku. Aku ingin kamu sembuh. Bisa tidur dengan nyenyak, bermimpi indah, dan terbangun dengan wajah penuh senyuman. Hanya itu yang aku inginkan, sayang."


Mata Dinda berkaca-kaca mendengar semua ucapan Adit. Dia menarik tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat. Adit bisa merasakan isakan istrinya.


"Menangislah. Keluarkan saja semua yang ada di hatimu. Kesedihanmu, ketakutanmu, apapun itu yang mengganggu pikiranmu. Lepaskan semuanya melalui tangisanmu."


Adit membalas pelukan Dinda. Dia mencium kepalanya, keningnya, dan mengusap punggung istrinya dengan lembut dan penuh perasaan.


Bersamaan dengan itu, Dinda tak lagi bisa membendung air matanya. Tangisnya tumpah membasahi baju Adit. Dia keluarkan semua beban yang mengganjal di hatinya.


Adit membiarkan Dinda melampiaskan seluruh perasaannya lewat tangisan yang menganak sungai. Memberi waktu pada istrinya untuk menenangkan diri dalam dekapan hangatnya yang penuh kasih.


Hampir setengah jam Dinda masih terus menangis di dalam pelukan suaminya. Sementara Adit, dia sudah tidak peduli lagi dengan kakinya yang terasa kebas lantaran terlalu lama berlutut dan menahan tubuh Dinda dalam pelukannya.


Apapun akan dia lakukan agar Dinda segera pulih dan terlepas dari bayang-bayang ketakutannya. Dia sangat mencintai istrinya dan ingin Dinda selalu bahagia bersamanya.


"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu lama menangis.."


Dinda melepaskan pelukannya. Dia sudah tidak menangis lagi. Air matanya sudah terkuras habis bersamaan dengan beban di hatinya yang telah jauh berkurang.


"Terima kasih karena dirimu selalu menjadi apapun yang aku butuhkan. Bahumu adalah tempat terbaik untuk aku menyandarkan segala lelah hatiku. Dadamu adalah tempat ternyaman untuk aku melepaskan gundah jiwaku. Dan pelukanmu adalah satu-satunya tempat terhangat yang aku cari untuk menenangkan diriku dari semua masalah yang datang silih berganti."


Adit menarik tubuh Dinda untuk berdiri bersama. Kini mereka saling berhadapan dengan isyarat mata yang penuh arti untuk keduanya. Dan tanpa suara, Adit memajukan kepalanya, dengan penuh perasaan dia mencium kening istrinya cukup lama, lalu turun untuk mengecup bibirnya. Setelah itu kedua tangannya meraih bahu Dinda dan dengan cepat menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Dinda yang mendapatkan sentuhan dan pelukan dari suaminya segera membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Adit, membalas pelukannya dengan lebih erat. Kepalanya bergerak menurun, mencari tempat ternyamannya di dada bidang sang suami. Dia membenamkan wajahnya di sana, sambil sesekali menciumi bagian tubuh suaminya itu.


"Jangan lelah untuk terus mengerti aku dan menemaniku melalui semua masa-masa sulitku. Maafkan aku jika masih saja merepotkanmu dan menjadi beban di pikiranmu."


Adit menggelengkan kepalanya meskipun tak terlihat oleh Dinda yang masih tenggelam dalam pelukan sang suami.


"Tidak pernah, sayang. Kamu adalah tanggung jawabku. Dan kita akan selalu melewati semuanya, apapun itu bersama-sama."


Dinda menganggukkan kepalanya dan terus mempererat pelukannya.


.


.


.


Malam yang sama, sepasang kekasih tengah menanti makan malam mereka di sebuah cafe. Mereka tampak semakin dekat dari hari ke hari. Senyuman yang mengembang, tawa yang kian lepas, dan mata yang saling menatap dengan sorotan teduh dan penuh kasih, semakin menyatukan perasaan cinta di antara keduanya.


Di atas meja makan, tangan mereka saling menggenggam, mengalirkan kehangatan rasa yang menyusup jauh ke dalam relung kalbu.


"Ya.., maafkan aku karena seharian tadi tidak memberi kabar padamu. Bahkan tadi sore pun aku terlambat menjemputmu."


"Tidak apa-apa, mas. Asal kamu tidak melupakan aku dan aku tetap ada di hatimu, itu sudah cukup untukku."


Andi tersenyum memperhatikan Rinaya yang duduk disampingnya. Satu tangannya menopang pipinya dengan tumpuan sikunya di atas meja. Dengan sedikit memiringkan wajahnya, dia menjadi lebih leluasa memandangi wajah cantik calon istrinya itu.


"Jangan melihatku seperti itu, mas. Aku malu.."


Wajah Rinaya merah merona karena rasa malunya. Meskipun sudah terbiasa dengan tatapan mata teduh itu, dirinya masih saja merasakan getaran hangat yang menggelitiki hatinya, setiap kali kekasihnya memakukan pandangan ke arahnya.


Andi menyudahi posisi romantis mereka ketika seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


Setelah pelayan itu pergi, Andi dan Rinaya segera menikmati minuman dan hidangan makan malam mereka dengan tenang hingga selesai.


"Ya, apa kamu melihat ada yang berubah dari diri Dinda setelah kejadian terakhir itu?"


Andi merujuk pada peristiwa di ruangan Dinda saat menerima panggilan video dari seorang temannya.


"Tidak ada, mas. Aku lihat dia baik-baik saja dan aktivitasnya di cafe juga seperti biasanya saja."


"Hanya saja, wajahnya selalu terlihat lesu. Tidak sesegar dulu dan jika lebih kuperhatikan lagi, dia sedikit pucat. Matanya juga terlihat seperti kurang tidur.."

__ADS_1


"Apakah ada sesuatu yang terjadi lagi, mas?"


Andi menggelengkan kepalanya dan menoleh ke arah kekasihnya.


"Tidak ada. Tapi efek dari kejadian itu masih mempengaruhi perasaan Dinda. Dia mengalami trauma yang menghantuinya sampai saat ini."


Kemudian Andi menceritakan semuanya kepada Rinaya. Tentang seluruh cerita Adit, kekhawatiran Adit, dan tentang kepergiannya bersama Adit untuk menemui seorang psikiater yang merupakan temannya.


Rinaya menunjukkan keterkejutannya. Dia tidak menyangka jika sahabatnya sedang mengalami hal buruk yang membuat jiwanya lemah dan tak berdaya.


"Karena itu aku menawarkan bantuan untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater. Dia adalah tunangan dari teman kuliahku. Aku dan mas Adit menemuinya siang tadi di tempat prakteknya."


Rinaya baru menyadari jika keadaan Dinda saat ini masih cukup memprihatinkan. Jika dia masih terus-menerus mengalami mimpi buruk itu, raga dan juga jiwanya pun akan semakin lemah dan rapuh. Dan itu bisa membuatnya jatuh sakit.


"Jika sedang di gerai, sering-seringlah menemaninya bersama Elisa. Jangan biarkan dia terlalu lama sendirian di ruangannya meskipun di sana dia sedang mengerjakan pekerjaannya. Ajaklah dia berbicara dan bercerita tentang hal-hal yang ringan dan menyenangkan, agar hati dan pikirannya tidak bisa tersentuh oleh rasa traumanya itu."


"Mas Adit memang tidak meminta kita melakukannya. Tapi alangkah lebih baik jika kita bisa mendukungnya dan membantunya untuk memulihkan kondisi Dinda."


"Iya, mas. Nanti aku akan membicarakannya dengan Elisa. Semoga dengan dukungan kasih sayang dan perhatian dari kita semua, akan mempercepat pemulihan kesehatan Dinda."


Andi meraih tangan kekasihnya dan mengajaknya untuk meninggalkan meja makan malam mereka. Mereka berjalan bergandengan tangan dan saling melempar senyuman dengan tatapan mesra menuju mobil Andi di area parkir depan cafe.


.


.


.


Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1



__ADS_2