
Selepas subuh, Adit berniat menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda semalam. Namun pikirannya tidak bisa tenang karena memikirkan Dinda dan Bagus.
Baru kali ini dia merasa tidak nyaman saat melihat Dinda bersama teman lelakinya. Sebelum-sebelumnya hatinya selalu tenang dan dia bisa bersikap biasa saja meskipun Dinda bersama lelaki lain selain dirinya.
Tapi kali ini, entah mengapa perasaannya berbeda. Entah apa namanya perasaan ini, yang jelas dia hanya merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
Adit memeluk erat tubuh Dinda sambil bersandar di kepala tempat tidur. Pikirannya masih menerawang ke mana-mana. Tubuhnya bereaksi atas kegelisahannya dan memunculkan gerakan-gerakan kecil yang terus berganti-ganti.
Dinda yang berada dalam pelukannya, bisa merasakan gerak tubuh Adit yang tidak tenang dari tadi.
"Mas, kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa, sayang."
Dinda tahu Adit tengah berbohong dan menutupi sesuatu. Dia berpikir mungkin saja ini ada hubungannya dengan Bagus. Karena bagaimanapun juga, dia juga sedang menutupi sesuatu tentang Bagus dari suaminya. Dan bisa jadi Adit merasakan hal itu.
"Mas, aku minta maaf ya, kalau aku ada salah sama kamu." Ucap Dinda dalam pelukan Adit.
"Apakah kamu merasa sedang melakukan kesalahan padaku?"
Dinda dam sejenak. Dia menimbang apakah harus menceritakannya sekarang atau nanti saja.
Saat sedang berpikir, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Adit yang berada lebih dekat dengan meja segera meraih ponsel Dinda dan memberikannya pada sang istri.
Saat ponsel itu dia pegang, dia melihat nama pengirim pesan yang tertera pada layar yang menyala terang itu.
"Bagus..." Gumamnya dalam hati.
Dinda menerima ponselnya dengan tangan kanan. Dia masih memeluk tuhuh suaminya dengan tangan kiri melingkar di pinggang belakang Adit.
Dengan satu tangan dia membuka dan membaca pesan dari Bagus. Kepalanya masih bersandar di dada sang suami, membuat Adit bisa ikut membaca isi pesan itu dari atas kepala Dinda..
"Selamat pagi, Din. Jalan pagi sangat baik untuk ibu hamil. Jangan malas berolahraga demi calon buah hati kalian."
Dinda tersenyum membaca pesan itu. Sebuah isi pesan yang manis dari seseorang yang pernah memberikan kenangan manis di hati Dinda, meski tak termiliki.
"Mas, Bagus memgirimiku pesan."
Kepala Dinda terangkat ke atas dengan tangan kanannya yeng mengulurkan ponselnya pada Adit.
"Ya, aku sudah bisa membacanya dari sini."
Adit tidak mengambil ponsel Dinda karena dia ikut membacanya dari atas dan sudah mengetahui isi pesan itu. Dia mempererat pelukannya pada tubuh istrinya dan menciumi ujung kepala Dinda dengan rasa gelisah yang masih menghinggapi hatinya.
"Bolehkah aku membalas pesannya, mas?"
Segala yang berhubungan dengan laki-laki lain, Dinda pasti selalu minta ijin pada Adit lebih dulu. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Ya." Adit menjawab singkat membuat Dinda merasa ada yang disembunyikan oleh suaminya.
"Mas, kalau kamu tidak ingin aku membalasnya, aku tidak akan membalas pesan dari Bagus. Tapi tolong jangan marah padaku..."
Adit hanya diam dan mengeratkan pelukannya seolah ingin menunjukkan bahwa hanya dia yang berhak memiliki Dinda.
__ADS_1
"Apakah aku berlebihan, jika kukatakan aku takut kehilangan kamu, sayang?"
Kedua mata Adit terpejam saat mengatakannya. Entah perasaannya saja ataukah memang kenyataan jika Dinda menyembunyikan sesuatu tentang dia dan Bagus, hanya Dinda yang bisa menjelaskannya.
Namun Adit enggan untuk menanyakannya. Dia memilih diam, membiarkan apa yang akan Dinda lakukan tanpa dirinya minta.
"Kamu bicara apa, mas? Aku tidak akan pergi ke mana pun dan aku tidak akan menjadi milik siapa pun selain kamu, mas."
Di dalam dada Dinda terasa desakan yang sangat keras, seakan begitu berat untuk ditahannya. Mendengar ucapan suaminya membuat dirinya merasa bersalah telah menyembunyikan sesuatu meski hanya semalam.
"Maafkan aku, mas..."
"Untuk apa kamu minta maaf?"
"Aku belum bercerita tentang Bagus kepadamu. Bukan karena apa-apa mas, tapi aku hanya ingin menyelesaikan perasaan masa laluku dulu, sebelum aku menceritakannya padamu. Namun sepertinya, aku akan menceritakannya sekarang agar kamu tidak salah paham, mas."
Akhirnya Dinda memutuskan untuk mengatakan semuanya sekarang, sebelum Adit semakin memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.
Adit tidak melepaskan pelukannya. Dia ingin mendengarkan cerita Dinda tetap dalam posisi mereka yang saling memeluk seperti itu. Dan Dinda pun tetap menyandarkan kepala di dada suaminya, menghela nafas perlahan lalu memulai ceritanya.
"Bagus adalah cinta pertamaku saat SMA dulu..."
Seketika Adit teringat tentang ucapan Dinda pada saat mereka menginap di rumah orangtua Dinda setelah melayat kepergian Bimo waktu itu.
Sore itu, di kamar Dinda, Adit menanyakan tentang seseorang yang mungkin disukai oleh istrinya di masa sekolahnya dulu.
Dan Dinda menjawab jika dia menyukai seseorang yang justru tidak pernah menyatakan perasaannya pada Dinda, di antara sekian banyak teman lelaki yang menyukainya.
"Diakah yang pernah kau ceritakan padaku? Cinta pertamamu yang terpendam di hatimu karena dia yang selalu diam dan tidak sekali pun menyatakan perasaan padamu?"
"Apakah sekarang kau masih menyimpan perasaan yang sama kepadanya?"
Adit bertanya terus terang karena itulah yang sedari tadi menganggu pikirannya dan membuat dia merasa takut kehilangan.
Dinda terdiam dan memejamkan matanya. Dia masih ragu untuk menjawab pertanyaan penting itu. Bukan karena dia masih menyimpan perasaan masa lalunya, tetapi karena dia tidak ingin larut dalam ingatan tentang indahnya masa lalu itu.
"Kebersamaanku dengan Bagus dulu memang sangat mengesankan hatiku. Masa-masa terindahku dan masa-masa terbaikku saat remaja adalah saat bersama Bagus."
Saat Dinda menyelesaikan kalimatnya, dia bisa merasakan tarikan dan hembusan nafas kasar Adit melewati wajahnya yang masih bersandar di atas tubuh suaminya.
"Kemarin saat bertemu dengannya, aku merasakan getaran kecil di hatiku. Aku juga gugup saat kami bertemu pandang beberapa kali......."
Adit semakin mempererat pelukannya hingga Dinda sedikit kesulitan untuk menghela nafasnya sendiri. Dada Adit begitu sesak mendengar pengakuan istri tercintanya. Ketakutan itu semakin nyata dia rasakan.
"Tapi itu bukan berarti aku masih mencintainya, mas."
Dinda melanjutkan kalimatnya yang tertunda akibat pelukan Adit yang terasa seperti cengkeraman karena begitu eratnya.
"Aku rasa itu hanyalah reaksi biasa ketika bertemu dengan seseorang dari masa lalu kita. Seseorang yang pernah hadir dan mengukir kisah indah di hati kita."
"Bertemu dan mengingat masa lalu, bukan berarti kita akan kembali kepadanya. Kita tidak bisa menghapus masa lalu dari hidup kita. Karena dari masa lalu itu kita bisa belajar menjadi lebih baik dan melangkah lagi menuju masa depan."
Adit mulai mencerna dan berusaha memahami kata per kata yang diucapkan Dinda dengan lembut dan sangat hati-hati.
__ADS_1
Dia tidak pernah menyukai apalagi mencintai wanita selain istrinya. Dinda adalah yang pertama dan telah menjadi yang terakhir di hatinya. Hanya dia, tiada yang lain selain dia.
"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu takut kehilanganmu. Karena hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Tak ada sebelummu dan tak akan ada setelahmu."
Dinda tersenyum lebar mendengar ungkapan hati suaminya. Dia merasa jauh lebih tenang setelah menceritakan semuanya pada Adit. Tidak ada lagi yang dia tutupi dan dia sembunyikan. Dan memang seperti itulah seharusnya.
Menarik tubuhnya dari pelukan sang suami dan duduk menghadap ke arahnya, Dinda kemudian memaku pandangannya pada wajah yang selalu dirindukannya siang malam.
Wajah yang selalu mengganggu konsentrasi pikirannya dan melemahkan daya kerja otaknya saat jauh darinya. Wajah dengan senyuman lembut penuh kesabaran yang selalu menenangkannya setiap saat.
"Dia hanyalah masa laluku, dan kamulah masa depanku, mas."
Perlahan, Dinda mendekatkan wajahnya pada wajah Adit yang sudah menampakkan senyum bahagianya ketika mendengar kalimat cinta dari istrinya.
"Aku mencintaimu, mas. Jangan lagi meragukanku."
"Aku juga mencintaimu, sayang. Hanya kamu yang aku cintai. Aku percaya padamu."
Adit menyambut hangat ciuman dari bibir istrinya yang kini telah menyatu dengan bibirnya. Melepaskan seluruh ketakutan yang sempat menghampirinya, dia mulai mencumbu istrinya dengan penuh hasrat.
Seolah ingin melupakan semua pikiran buruk yang menghantuinya semalaman, Adit mulai menguasai tubuh istrinya dan memberikan sentuhan cinta di setiap bagian tubuh Dinda. Gerakannya lembut, sangat lembut, penuh kelembutan. Karena ada yang harus mereka jaga di dalam sana, sang buah hati tercinta yang tak lama lagi akan hadir melengkapi kisah cinta mereka.
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, sehingga novel Terima Kasih Cinta Sejati telah lulus kontrak dan menjadi novel kontrak di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Mohon doa dan dukungannya juga untuk novel Menanti Cinta Untukku yang masih dalam proses review kontrak, agar secepatnya bisa lulus kontrak.
Aamiin..!!!
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1