Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
44 BELUM MENYERAH


__ADS_3

Setelah empat hari dirawat, Dinda sudah diperbolehkan pulang dan beristirahat di rumah. Namun demi kebaikannya, untuk sementara Adit dan Dinda akan tinggal di rumah orangtua Adit.


Mereka sampai di rumah menjelang siang. Sementara orangtua Dinda dari rumah sakit juga sudah langsung bertolak pulang.


Adit membawa Dinda untuk beristirahat di kamarnya. Dia masih sangat protektif terhadap istrinya. Dinda tidak boleh turun dari tempat tidur, kecuali ke kamar mandi.


"Sayang, jangan mengurung aku di kamar terus dong. Ini sama saja dengan di rumah sakit, hanya tiduran dan tidak boleh keluar kamar.."


Dinda merajuk pada suaminya yang hanya dibalas dengan senyuman.


"Boleh kok, sayang. Tapi harus selalu bersamaku, oke..!"


"Baiklah, terserah kamu saja. Aku mengantuk, sayang."


"Tidurlah dulu. Nanti aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya makan siang dan minum obat."


Adit merapatkan selimut istrinya, mengatur suhu pendingin ruangan, lalu ikut berbaring di samping Dinda.


"Lho, kamu ikut tidur juga? Nanti siapa yang akan membangunkan aku?"


"Alarm di ponsel sudah aku nyalakan, sayang. Mana mungkin aku akan melupakan jadwal makan siang dan obat untuk istriku tercinta." Adit mencium kening Dinda.


"Kamu pasti sangat kecapekan ya, mengurusi aku terus-menerus, sering begadang dan tidak bisa tidur di tempat yang nyaman selama di rumah sakit. Maafkan aku sudah banyak merepotkanmu.."


Dinda mendekatkan tubuhnya ke samping Adit. Dia merindukan pelukan hangat suaminya.


Adit merengkuh tubuh Dinda dan memeluknya dengan erat. Dia juga rindu pelukan itu.


"Kamu adalah milikku dan tanggung jawabku. Sudah kewajibanku untuk selalu menjaga dan melindungimu. Jangan bicara apapun lagi. Tidurlah, sayang..!"


Dan mereka berdua pun mulai terlelap dengan saling memeluk satu sama lain.


.


.


.


Sebelum alarm berbunyi, Adit sudah terbangun oleh suara adzan Dhuhur. Dia bangkit dari tempat tidur dan mematikan alarm. Kemudian dia melangkah ke kamar mandi untuk bersuci dan menunaikan kewajibannya.


Setelah selesai, Adit menyiapkan obat yang harus diminum Dinda dan diletakkannya di atas meja. Dia berjalan keluar kamar hendak mengambilkan makan siang untuk sang istri.


"Kalau Dinda masih tidur, lebih baik kamu makan dulu, Dit. Baru setelah itu kamu bangunkan istri kamu." Kata Mama.


"Iya, Ma. Ini aku mau makan dulu. Kasihan juga kalau dibangunkan sekarang, dia masih tidur pulas sekali." Jawab Adit.


"Papa mana, Ma?"


"Papa ke kantor polisi. Katanya ada laporan cctv terbaru yang merekam keberadaan Sinta di sekitar Gerai Bertiga tadi pagi.."


Adit langsung menghentikan makannya.


"Jadi dia masih ada di sekitar sana, Ma? Apakah mungkin dia masih mengincar Dinda lagi..?"

__ADS_1


Seketika hati Adit diliputi rasa gelisah dan tidak nyaman, takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi.


"Kita tunggu saja kabar dari Papa, Dit."


"Selesaikan makanmu, dan segera siapkan makan siang untuk Dinda."


Adit menuruti ucapan mamanya. Dia menyelesaikan makannya dan segera membawa makan siang untuk Dinda ke dalam kamar.


Sampai di dalam kamar, dilihatnya sang istri sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Kamu sudah bangun, sayang. Maaf tadi aku keluar kamar untuk makan dulu sekalian aku menyiapkan makan siangmu." Adit meletakkan makan siang dan minuman Dinda di atas meja.


"Aku mau cuci muka dulu, biar segar.." Dinda berdiri hendak menuju kamar mandi dan dengan cepat Adit membantu sang istri berjalan pelan menuju kamar mandi, menunggunya dan membawanya kembali duduk bersandar di atas tempat tidur.


"Sekarang sayangku makan dulu, terus minum obatnya, supaya cepat sembuh dan sehat..!"


Adit dengan sabar menyuapi Dinda hingga makanannya habis tak bersisa. Suasana rumah membuat hati Dinda lebih tenang dan nyaman sehingga bisa makan dengan lahap.


Kemudian Adit mengambil obat yang telah disiapkannya tadi, memberikan pada Dinda beserta segelas air putih.


"Sayang, aku ingin keluar kamar. Kalau di sana aku bisa ngobrol dengan Mama, jadi aku tidak akan bosan." Pinta Dinda.


"Baiklah. Tunggu sebentar, aku mengembalikan piring dan gelas ini ke dapur dulu, setelah itu aku akan membawamu ke ruang tengah."


Adit keluar membawa piring dan gelas kotor ke dapur dan segera kembali untuk mengantarkan Dinda ke ruang tengah.


"Siang, Ma. Mama kok belum istirahat?" Dinda menyapa Mama Indri yang sedang mencuci piring dan peralatan makan di dapur.


Sementara Adit duduk tak jauh dari Dinda. Dia memangku laptopnya, menyelesaikan beberapa pekerjaannya di sela-sela waktunya menjaga sang istri tercinta.


Setengah jam berlalu, saat bel pintu berbunyi. Adit menutup laptopnya dan meletakkannya di atas sofa.


"Aku saja yang membuka pintunya, Ma." Adit mengira papanya yang datang. Dia membawa langkahnya ke depan untuk membuka pintu.


Begitu pintu terbuka dan terlihat sosok Adit yang berdiri di sana, seseorang yang baru saja mengetuk pintu dan menunggu di depannya itu, langsung memeluk tubuh Adit dengan wajah bahagia.


"Adit..!!" Suara itu terdengar sangat manja.


Wajah Adit merah padam seketika. Dengan sekuat tenaga dia menarik seseorang itu menjauh dari tubuhnya dan mendorongnya dengan sangat kasar sampai ke ujung teras.


"Sintaaa...!!!"


Suara Adit terdengar begitu keras di dalam rumah, seolah memberitahu bahwa yang selama ini dicari keberadaannya sudah ada di depan rumah mereka.


"Adit, jangan marah padaku. Aku tidak bersalah, Dit."


Sinta yang hampir jatuh, tetap menatap Adit dengan sorot mata memelas.


"Kamu sudah mencelakai istriku, dan kamu bilang tidak bersalah??"


Terlihat Adit sudah semakin geram dengan sikap Sinta. Tapi dia mencoba menahan diri.


"Aku hanya ingin mengambil milikku dari dia, tapi dia yang menghalangiku, Dit. Dia yang jahat, sudah mengambil kamu dari aku, Dit."

__ADS_1


Sinta mulai melangkah maju lagi, berusaha untuk kembali mendekati Adit.


"Stop..!!! Jangan bergerak lagi atau aku akan bertindak kasar kepadamu..!" Adit berteriak lagi.


Sinta menghentikan langkahnya, dia melihat seseorang muncul di belakang Adit dan memegang lengan Adit dengan erat di depan matanya.


"Kamu..!! Jangan kamu sentuh Adit! Dia Aditku..!! Dia milikku..!"


Tanpa menoleh, Adit tahu bahwa Dinda yang sudah berdiri di sampingnya. Matanya tetap waspada menatap Sinta. Dia hanya menggerakkan kedua tangannya dan membawa Dinda ke dalam pelukannya.


Dinda menepis ketakutannya dengan memeluk tubuh Adit sekuat yang dia mampu. Dia tiďak mau Adit menghadapi Sinta sendirian. Karena itu dia keluar untuk menemani suaminya, meski Mama Indri sudah melarangnya.


Sinta yang melihat Adit dan Dinda berpelukan di depan matanya, semakin emosi. Dia tidak terima diabaikan oleh Adit begitu saja. Matanya memerah, tubuhnya memanas, darahnya serasa mendidih menyaksikan kemesraan itu.


Adit mencoba mengulur waktu dengan tetap diam dan hanya mengawasi setiap pergerakan Sinta. Dia tahu mamanya pasti sudah menghubungi papa yang berada di kantor polisi. Dia hanya perlu menunggu sebentar sampai semuanya datang.


"Adit, mengapa kamu tidak mau bersamaku? Mengapa kamu tidak ingin kembali padaku?"


"Dia! Pasti dia yang sudah mempengaruhimu. Dia yang membuatmu berubah sikap padaku...!!"


Tangan Sinta menunjuk lurus ke arah Dinda dengan mata merahnya yang penuh kebencian.


Adit tidak menjawab. Dia sudah tidak ingin meladeni Sinta. Dia memilih diam dan waspada, sampai bantuan datang.


Melihat Adit hanya diam, Sinta mulai kehilangan kesabaran. Tangannya bergerak ke bagian pinggangnya seakan ingin berkacak pinggang. Diam-diam tangan kanannya masuk ke dalam saku celana panjangnya. Matanya beralih menatap Dinda. Dengan sangat perlahan, kakinya bergerak maju sedikit demi sedikit.


Adit bukan tidak tahu jika Sinta mulai bergerak lagi. Tapi dia tetap diam, melihat dan membiarkan Sinta melakukan apa yang dia inginkan. Matanya terus mengawasi Sinta. Sementara Dinda mengedarkan pandangannya ke halaman, menunggu dan terus berdoa dalam hati.


"Apa kamu belum puas dengan lukamu itu? Apakah aku harus menmbahnya lagi, agar kamu mau melepaskan Adit?" Sinta bergerak sangat pelan ke arah Dinda.


"Diam, Sinta..! Jangan pernah kamu menyakiti istriku lagi..!!!"


"Bagaimana jika aku melakukannya lagi..??"


Adit semakin waspada mendengar ancaman Sinta.


Tiba-tiba dengan gerakan cepat Sinta maju ke arah Dinda dengan tangan memegang pisau lipat yang sudah terbuka.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..πŸ™πŸ’œπŸ™


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2